Ada beberapa blok yang diusulkan joint study (JS) di onshore, beberapa lalu 
saya lihat tidak ada lintasan seismik (dari ketersediaan data) di blok 
tersebut. tapi ada lintasan seismik yang mendekati blok tersebut, yang kemudian 
lintasan seismik tetangga blok sering dijadikan referensi interpretasi. 
Kemudian pengusul JS tersebut mempunyai komitment untuk survei geologi 
lapangan, dan itu telah dikerjakan dengan baik, termasuk sampling data 
geokimia, petrografi, sedimentologi, paleontologi, lenkap (ini dari pengusul 
yang memang OK berkomitment untuk up dating data geologi di blok tersebut). 
Tapi ada juga pengusul yang ogah-ogahan, cukup dengan lintasan seismik tetangga 
blok (hanya karena dalam satu basin, versi mereka). 
   
  pak Awang, sekalipun dalam tim penilai JS itu salah satu anggotanya adalah 
tim kampus, dan juga pelaksana JS adalah tim kampus, seperti nya kami melihat 
tugas utama kami tetap pembelajaran di kampus. Dan model JS ini sering kami 
pakai sebagai pembelajaran berbasis riset (JS). Kami tetap meninggalkan ruang 
rapat migas /JS, jika kami ternyata harus menguji ujian sarjana atau tugas 
kampus yang lebih kami utamakan. 
  Pernah, rapat penilaian JS selama 3 hari, ada kawan dari ITB, hanya bisa 2 
hari, karena yang 1 hari harus memberi kuliah dan menguji. Demikian saya, 
rencana 3 hari rapat migas / JS, kami terpaksa membolos rapat, karena harus 
menguji pendadaran 4 mhs (kebetulan bimbingan saya sendiri). Jadi kami yang 
dari kampus, tetap solid dengan tugas utamanya yaitu : pembelajaran (mengajar 
dan membimbing) di kampus. Tidak membela lho....
   
  salam
  Agus Hendratno
   
  

Bambang Satya Murti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Awang,
Waduh...itu true story ya?
Kalau misalnya, area yang mau di joint study (katakanlah di onshore), ternyata 
belum ada lintasan seismik-nya, kira-kira bisa diajukan nggak ya untuk joint 
study? Jadi, nantinya kajiannya berupa geologi lapangan? Kalau mau nembak spec 
survey didarat, kelihatannya prosedur-nya cukup panjang ya?
Hmm, ada nggak ya rekan-rekan dari DitJen Migas yang di mailing list ini?
Salam,
Bambang

----- Original Message ----
From: Awang Satyana 
To: [email protected]
Sent: Thursday, March 13, 2008 11:20:27 PM
Subject: [iagi-net-l] Blok Penawaran Langsung via Joint Study (was : Tindak 
Lanjut "Eksplorasi" ...)

Terima kasih atas tambahan info dari Pak Syaiful dan Pak Asep, infonya memang 
benar begitu.

Tetapi Pak Min, jangan salah mengartikan, pada prinsipnya tidak ada daerah 
overlapping seberapa persen pun overlapping-nya yang akan distudi oleh dua 
pihak. Jadi, joint study yang sedang berjalan pada satu blok tidak bisa 
dilakukan joint studi oleh company lain dengan perguruan tinggi lain pada blok 
yang sama, kecuali blok di dekatnya sekalipun berimpit asal jangan tumpang 
tindih. Company lain itu harus menunggu blok joint study itu memang pada 
akhirnya tidak ditawar langsung oleh company pelaksana studi (ini akan 
diketahui saat blok itu tidak ada dalam pengumuman tender).

Usulan joint study blok penawaran langsung yang masuk ke DitJen Migas akan 
dilihat oleh Migas apakah overlapping dengan usulan joint study lain. Bila 
overlapping, company pengusul akan diberitahu untuk mengubah areanya, atau area 
overlapping yang luasnya >25 % dari kedua area bersinggungan, maka area 
overlapping itu akan ditenderkan dalam tender umum bukan penawaran langsung, 
blok2 di luar overlapping yang boleh di-joint study (lihat info Pak Syaiful dan 
Pak Asep).

Saat ini banyak sekali proposal joint study yang masuk ke Migas. Company2 itu 
akan dipanggil satu per satu untuk presentasi teknis dan profil perusahaan, 
kemampuan finansial, dsb. Karena panjangnya antrian dan banyaknya urusan Migas, 
maka sejak memasukkan proposal sampai kontrak joint study ditandatangani itu 
bisa beberapa bulan. Presentasi teknis dan nonteknis pun bisa beberapa kali 
sebab banyak perusahaan baru bukan pemain minyak yang hanya presentasi 
teknisnya geologi regional saja dan selesai. Tentu company seperti ini akan 
diulang presentasinya. Tim penilai ingin mengetahui mengapa company ini 
tertarik dengan suatu blok padahal blok itu sudah ditinggalkan operatornya yang 
dulu. Banyak company menjawab : nanti kami akan tahu setelah joint study 
dilakukan. Hm..ganti saya yang bingung ---jadi mereka tertarik joint study 
tanpa tahu harus apa ?! Ya terpaksa mereka harus kembali untuk presentasi 
teknis. Ada juga company yang saking semangatnya ingin
joint study lalu
merambah koordinatnya masuk ke blok produksi aktif he2... Banyak company yang 
bukan pemain minyak tetapi mengambil area yang sangat berisiko tinggi, 
"hebat"...Tetapi setelah jadi operator blok, mereka keteteran gak bisa apa2...

Pengalaman saya jadi anggota tim penilai, banyak cerita lucu dan 
menegangkannya, saat menilai dokumen partisipasi mereka itu bisa sampai tengah 
malam berhari2. Satu demi satu perwakilan company dipanggil walaupun sampai di 
atas pukul 21.00. Saya ikut tegang saat mereka duduk di bangku seperti terdakwa 
dan diperlihatkan komitmen2 pesaingnya yang wah...ada bonus yang harus 
dinaikkan dari 1 ke 5 juta dollar misalnya kalau mau menang. Itu harus segera 
diputuskan, maka perwakilan yang datang mesti decision maker. Hm..banyak 
perwakilan yang terkaget2 atau pucat pasi ditodong mesti menaikkan komitmen 
bila mau menang (ini bagian dari keuntungan penawaran langsung - first right of 
refusal). 

Buat perguruan tinggi yang melakukan joint study bersama company itu ini adalah 
kesempatan yang istimewa secara teknis maupun finansial. Mereka sangat dibuat 
sibuk dengan banyaknya joint study ini. Kampus2 terang-benderang 24 jam 
mengerjakan joint study ini. Pesan saya kepada bapak/ibu dosen, jangan sampai 
menomorduakan kegiatan mengajar ya...

salam,
awang






____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke