Gimana mnurut anda ?

---------- Forwarded message ----------
From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 24 Apr 2008 22:22:31 +0800
Subject: Re: [Geologi UGM] Re: Revitalisasi Paradigma Pendidikan Universitas
To: [EMAIL PROTECTED]

Apabila melihat brapa yg diserap kerjaan dari lulusan universitas
mestinya  dilihat lebih bijak.  Saat ini rendahnya daya serap tenaga
kerja lebih disebabkan oleh buruknya penyerapan. Bukan akibat buruknya
lulusan.
Jujur saja, lulusan jaman saiki aku lihat banyak yg pinter, smart,
cekatan. Self learner ... Wis pokoke aku lihat fresh grad jaman saiki
jempol deh !
Sayangnya memang penerimaaannya yg rendah. Perminyakan yg sedang
moncer saja menerima fresh grad cukup rendah kaena "keengganan"
mendevelope new grad. Takut akhire lari, ngeri kalau "rugi". Which is
mungkin wajar dalam indutri.
Jadi kurangnya daya serap lebih mengontrol faktor pengangguran.
Kualitas pendidikan kok aku yakin lulusan Indonesia masih ......
Yahuuuuud !!!!

Salam
Rdp

On 4/24/08, Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Jane nek mutune ki ora rendah cuma saingannya semakin berat , jamane Pakde
> Pakde mbiyen saingan durung koyo saiki , malah ono ukoro " geologi iku lbh
> susah cari pacar daripada cari kerjaan" , nek saiki kan kebalik soale sing
> mlebu geologi wis Ngganteng - Ngganteng......lan Ayu Ayu.......  bedo banget
> karo jamane Pakde , nek sing rodo moncer moncer yo  arsitek utowo sipil nek
> teknik .
> Sebagai contoh Jarene waktu Tes Medco  wingi di Bdg yang tahap pertama  200
> orang , lolos tahp pertma  50 thp 2 tinggal kira kira 34 an  dan tahap 4 (
> medical cek ) tinggal 23 ( terdiri dr GET 15 orang dan GGT 8 orang ) .
> Padahal mereka ini IP nya > 3 bahkan banyak yang mendekati 4 , lha jane kan
> Pienteer kabeh to kuwi......  cuma mungkin nasib wae sing bedo .......
> .....
>
> ISM
> ----- Original Message -----
> From: "rsulastama" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, April 24, 2008 4:09 AM
> Subject: [Geologi UGM] Revitalisasi Paradigma Pendidikan Universitas
>
>
> > Revitalisasi Paradigma Pendidikan Universitas
> > Kamis, 24 April 2008 | 14:46 WIB
> >
> > Oleh Wahyudi Akmaliah Muhammad
> >
> > Mengingat semakin dekatnya tahun ajaran baru, setiap universitas di negeri
> > ini mulai berlomba-lomba mempromosikan diri, semisal dengan mendatangi
> > beberapa sekolah menengah atas dan yang sederajat, atau melalui berbagai
> > macam iklan dengan menawarkan beberapa agenda menarik, yang berupa
> > pengajaran, keilmuan, fasilitas, infrastruktur kampus, dan lain
> > sebagainya.
> > Semua dibikin menarik dan memikat sehingga banyak siswa yang ingin
> > melanjutkan kuliah di universitas tersebut.
> >
> > Promosi yang paling berkesan bagi para siswa, terutama bagi orangtua siswa
> > yang banyak menentukan tempat di mana anaknya harus kuliah, adalah output
> > dari universitas tersebut yang mengumumkan langsung mendapatkan kerja dan
> > dapat bersaing di dunia global.
> >
> > Akan tetapi, ironisnya banyak sarjana-sarjana lulusan dari universitas
> > yang
> > berkobar-kobar mempromosikan diri ketika penerimaan mahasiswa baru
> > ternyata
> > lulusannya banyak yang menganggur, alias tidak punya pekerjaan dan karena
> > tidak menemukan tempat kerja. Hal itu dapat diketahui dari banyaknya para
> > penganggur lulusan universitas dalam dasawarsa terakhir ini.
> >
> > Jika didata, jumlah penganggur sarjana lulusan universitas setelah krisis
> > ekonomi 1997 tidak jauh beda dengan angka pengangguran tahun 1989 dan
> > 1995,
> > yakni 10,93 persen pada 1989 dan 12,36 persen pada 1995. Sedangkan data
> > Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menunjukkan bahwa dari tahun
> > 2000-2005 jumlah penganggur sarjana universitas cenderung mengalami pasang
> > surut, tetapi pada 2005 data pengangguran universitas semakin melonjak.
> >
> > Tercatat pada tahun 2000 jumlah penganggur sarjana lulusan universitas
> > mencapai 277.000 orang, 2001 meningkat sedikit menjadi 289.000 orang, 2002
> > menurun sedikit menjadi 270.000 orang, 2003 menurun lagi menjadi 245.000
> > orang, dan pada 2004 meningkat tajam jadi 348.000 orang, tahun 2005 lebih
> > meningkat lagi menjadi 385.418 orang. Angka pengangguran sarjana lulusan
> > universitas itu ditafsirkan akan mengalami peningkatan jika tidak ada
> > pembenahan dari berbagai segi di universitas itu.
> >
> > Asumsi paling mendasar yang menyebabkan banyaknya pengangguran alumni
> > universitas adalah disebabkan oleh rendahnya mutu pendidikan universitas
> > di
> > negeri ini. Hal itu memang sudah diakui di kalangan internasional, seperti
> > yang diumumkan oleh Majalah Time edisi November 2004, yang mengeluarkan
> > suplemen Pendidikan Tinggi yang memuat 200 universitas terbaik di dunia.
> > Tidak satu pun universitas Indonesia pada 2004 itu yang masuk dalam
> > kategori
> > 200 universitas terbaik di dunia. Indonesia kalah sama negara tetangganya,
> > yaitu Malaysia dan Singapura yang masing-masing punya dua universitas yang
> > masuk seleksi.
> >
> > Tahun 2005 dan 2006, angin surga menerpa dunia pendidikan tinggi di Tanah
> > Air. Situasi yang sebelumnya tidak mengenakkan itu kemudian sedikit
> > terhapus
> > ketika Majalah Time menerbitkan perangkingan lagi, Fakultas Ilmu Budaya
> > Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menduduki posisi ke-56 kategori Ilmu
> > Budaya dan Humaniora terbaik di dunia pada 2005. Setahun kemudian, masih
> > dalam versi Majalah Time, yaitu tahun 2006, UGM menempatkan tiga program
> > ilmu dalam 100 program terbaik di dunia. Ketiganya adalah kategori Ilmu
> > Sosial (ranking ke- 47), kategori Ilmu Budaya dan Humaniora (ranking
> > ke-73),
> > dan kategori Ilmu Biomedis (ranking ke-73).
> >
> > Terancam gulung tikar
> >
> > Kendati demikian, dalam pandangan Ki Supriyoko (2006), publikasi Majalah
> > Time belum menampakkan bahwa perguruan tinggi di Indonesia berada pada
> > jajaran "elite" pendidikan tinggi di dunia dalam ukuran konvensional
> > maupun
> > modern. Fakta menunjukkan masih sangat banyak lembaga perguruan tinggi
> > yang
> > belum maksimal dalam memajukan mutu akademiknya, berkutat pada perkara
> > manajerial dan pembiayaan. Bahkan, lebih dari 30 persen dari seluruh
> > jumlah
> > perguruan tinggi di Indonesia dewasa ini terancam gulung tikar.
> >
> > Dalam pandangan Agus Suwignyo (2007), yang merujuk ke salah satu pendiri
> > Mazhab Frankfurt, Herbert Marcuse, bahwa banyaknya pengangguran yang
> > terjadi
> > itu disebabkan oleh buramnya profil akademis dosen dan lemahnya disposisi
> > sikap mereka. Di samping itu, menurut Agus, jika merunut pada penganut
> > strukturalisme yang meyakini bahwa pencapaian misi sangat tergantung pada
> > keberhasilan kerja sistem, maka dalam konteks rendahnya mutu
> > intelektualitas
> > sarjana lulusan universitas itu tergantung pada sistem siklus input dan
> > "proses" serta output-nya. Selain itu pula, pada tataran lebih abstrak,
> > indikator kualitatif suramnya gambaran mutu universitas itu meliputi
> > lemahnya disposisi sikap mahasiswa. Disposisi sikap ini menyangkut antara
> > kesadaran tindakan dengan pengetahuan yang mendasari tindakan tersebut.
> >
> > Menurut Agus Suwignyo, hal itu dikarenakan oleh tiga faktor utama.
> > Pertama,
> > pada tahap input, ada ketidaksinambungan kurikuler (curricular mismatch)
> > pendidikan pra-universitas dengan pendidikan universitas. Kedua, pada
> > tahap
> > proses, terjadi misorientasi pengelolaan pendidikan universitas. Sedangkan
> > misorientasi pada proses pendidikan di universitas itu masih menyimpan
> > tiga
> > potensi masalah.
> >
> > Pertama, keinginan meningkatkan daya saing lulusan di dalam pasar kerja
> > tidak disertai kajian mendalam tentang kualifikasi apa yang sesungguhnya
> > dituntut pasar kerja dari lulusan universitas. Kedua, upaya menyemaikan
> > ilmu-ilmu terapan kadang disertai asumsi bahwa kualifikasi-kualifikasi
> > dasar
> > keilmuan telah dimiliki mahasiswa secara merata dan pada kenyataannya
> > belum
> > tentu. Ketiga, inkonsistensi praktik pengelolaan program studi dengan
> > rumusan misi mengaburkan totalitas dan arah pendidikan universitas.
> >
> > Nah, dari beberapa paradoks yang telah disebutkan di atas, menuntut
> > universitas di negeri kita dewasa ini mampu menjawab berbagai macam
> > tantangan globalisasi dan relevansi di tengah berbagai tuntutan perubahan
> > zaman. Jangan hanya pintar mengiklankan pendidikan layaknya sebuah barang
> > komersial. Pendidikan pada saat ini, terutama di tingkat universitas,
> > harus
> > mampu membuktikan secara nyata output dari peserta didiknya. Bahwa mereka
> > benar-benar mampu memberikan yang terbaik bagi dirinya, bangsa, dan
> > negara.
> >
> > Jika hal itu sudah benar-benar terbukti, maka tidak mungkin pengangguran
> > akan bertambah di tengah ramainya promosi iklan pendidikan yang
> > akhir-akhir
> > ini semakin membeludak menjadi sebuah iklan kosong yang hanya demi
> > kepentingan komersial. Ironisnya, hal itu dilakukan dalam dunia pendidikan
> > yang menginginkan kejujuran dan kemajuan bangsa.
> >
> > Wahyudi Akmaliah Muhammad Pemerhati Sosial, Budaya, dan Agama, Tinggal di
> > Yogyakarta
> >
> >
> http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/04/24/14465911/revitalis
> > asi.paradigma.pendidikan.universitas.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > *****
> > Gabung Milis, email ke [EMAIL PROTECTED] isi subject
> > subscribe
> > Keluar, email ke [EMAIL PROTECTED] isi subject unsubscribe
> > Informasi Alumni di http://kumpulgeologi.wordpress.com
> >
> >
> >
> >
>
>
> *****
> Gabung Milis, email ke [EMAIL PROTECTED] isi subject
> subscribe
> Keluar, email ke [EMAIL PROTECTED] isi subject unsubscribe
> Informasi Alumni di http://kumpulgeologi.wordpress.com
>
>
>
>


-- 
http://tempe.wordpress.com/
No one can monopolize the truth !



-- 
http://tempe.wordpress.com/
No one can monopolize the truth !

--------------------------------------------------------------------------------
PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
* acara utama: 27-28 Agustus 2008
* penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008
* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
* batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
* abstrak / makalah dikirimkan ke:
www.grdc.esdm.go.id/aplod
username: iagi2008
password: masukdanaplod

--------------------------------------------------------------------------------
PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
* pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
* penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung
AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!!

-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke