Pak Awang, Trimakasih atas ulasannya mengenai Pak Yus Badudu. Beliau itu kan dulu sering membawakan acara Bahasa Indonesia di TVRI, juga menulis di majalah Intisari: Inilah bahasa Indonesia yang benar. Tulisannya hanya dua halaman tetapi isinya padat, informatif dan sangat bagus. Tulisan-2 ini juga sudah dibukukan lho, dan saya pernah membelinya beberapa untuk dihadiahkan kepada kawan, saudara yang menjadi guru Bahasa Indonesia di SMP dan SMA. Tentu saja mereka sangat gembira. Mas Edwin Latuihamalo, salah satu menantunya adalah teman saya ketika masih jadi mudlogger, karena dia sebagai teknisi lumpur pemboran. Saya pernah tanya, bagaimana kalau saya sowan dan minta tanda-tangan beliau pada buku yang saya miliki? Jawab mas Edwin, wah beliau pasti dengan senang hati. Bagi saya, beliau ini sangat konsisten dengan ilmu keahliannya. Walaupun sudah sepuh tetapi tetap rajin menulis dan tetap enerjik, seperti halnya para sesepuh kita di bidang Geologi yang telah Pak Awang sebutkan. Semoga setelah pulang dari Rig, saya dapat membeli buku beliau, lalu kalau dolan ke Bandung dapat sowan untuk minta tanda-tangan. Pokoknya alamat rumahnya di daerah Dago yha? Rasanya uraian Pak Awang benar sekali; walaupun kita sudah cukup umur, dan bekerja bukan di bidang bahasa, tetapi tetap harus belajar dan mencintai Bahasa Indonesia. Rasanya tidak enak kalau menulis tetapi susunan kata atau bahasanya masih "berlepotan". Saat ini saya sedang di lokasi sumur eksplorasi. Tentu saja saya sempat main ke perkampungan sebelah. Saya agak prihatin dengan kemampuan bahasa dan menulis anak-2 SD di sini. Kemarin ketika sempat pulang bbrp hari ke Jakarta, mereka saya bawakan buku-2 bacaan, cerita rakyat berbagai daerah dan majalah Bobo bekas. Mereka suka main ke belakang cabin saya; sekarang mereka mandi dan keramas dulu sebelum main :) Salam hangat, Sugeng
________________________________ From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Minggu 04/05/2008 2:03 To: Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS; Forum HAGI; IAGI Subject: [iagi-net-l] OOT : Cintailah Bahasa Indonesia (Teladan Konsistensi Yus Badudu) Saat saya seorang murid SMP pada tahun 1977-1980, sekitar 30 tahun yang lalu, saya menjadi penggemar acara Pembinaan Bahasa Indonesia yang ditayangkan satu-satunya stasiun televisi saat itu - TVRI. Guru Bahasa Indonesia saya memberikan tugas kepada murid-muridnya untuk memperhatikan acara televisi tersebut dan mencatatnya. Maka, setiap Selasa malam pukul 20.00 saya siap di depan televisi untuk meringkas pembahasan Yus Badudu -ahli Bahasa Indonesia kala itu - yang mengupas kesalahan penggunaan bahasa Indonesia. Tugas sekolah ini telah memupuk kecintaan akan Bahasa Indonesia. Sampai saat ini pun, di TVRI masih ada acara tersebut dalam format wawancara antara ahli bahasa Indonesia dengan pembawa acara Susan Bachtiar membahas persoalan-persoalan kebahasaan. Di mana Yus Badudu (Prof. Dr. Jusuf Syarif Badudu) sekarang ? Yus Badudu (82 tahun) sudah lama pensiun, tinggal bersama isterinya tercinta di Bandung di wilayah Bukit Dago, kini Yus Badudu adalah seorang kakek dengan 23 cucu dari 9 anak dan 9 menantu. Meskipun demikian, sebuah buku baru diterbitkannya seminggu yang lalu (!). Mengapa saya tiba-tiba menulis tentang Yus Badudu ? Saya mengagumi konsistensinya, itu dibuktikan dengan semua pekerjaan dan karya tulisnya dalam bidang bahasa Indonesia. Sebagai seorang pengagumnya, saya mengumpulkan hampir semua buku yang pernah ditulisnya (mengumpulkan dalam hal ini artinya adalah mengumpulkan buku-buku lama yang kebetulan saya temukan di tukang buku bekas) dan membeli semua buku baru yang ditulisnya. Saya barusan saja membeli buku barunya itu, sebuah buku yang berhasil ditulis dan diselesaikannya pada saat usianya 82 tahun. Buku baru ini baru saja (April 2008) diterbitkan Kompas. Judulnya adalah "Kamus Peribahasa : Memahami Arti dan Kiasan Peribahasa, Pepatah, dan Ungkapan". Hingga kini peribahasa masih dipergunakan dan diajarkan di sekolah. Tetapi, seringkali para pengguna hanya mampu mengerti arti kiasannya tanpa memahami arti sebenarnya kalimat yang dipergunakan. Dengan membaca buku ini, kita akan lebih memahami latar belakang dan arti peribahasa itu secara lebih mendalam, sehingga kita akan lebih yakin menggunakannya. Sebelum buku ini, lima tahun yang lalu saya pun membeli buku Yus Badudu yang saat itu baru diterbitkan (Maret 2003) oleh Kompas berjudul, "Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia". Buku ini diselesaikan Yus Badudu saat usianya 77 tahun. Buku ini akan menolong kita memahami kata-kata serapan asing dan menggunakannya secara benar. Saat membeli buku kamus kata serapan asing itu, saya pun membeli buku Yus Badudu paling tabal yang pernah ditulisnya "Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain" (Pustaka Sinar Harapan, 2001) setebal 1646 halaman. Kamus Badudu-Zain merupakan revisi besar atas "Kamus Moderen Bahasa Indonesia" susunan Sutan Mohammad Zain (1954). Disebut revisi besar karena jumlah lema (entry) menjadi bertambah sekitar dua kali (dari 12.645 lema menjadi 24.500 lema). Pewaris Zain, yaitu anaknya, meminta Yus Badudu merevisi kamus Zain ini dan menerbitkannya. Maka, Yus Badudu mengerjakannya selama 13 tahun dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2001 saat Yus Badudu berusia 75 tahun. Perlu diperhatikan bahwa Yus Badudu mengerjakannya seorang diri bukan tim seperti halnya penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 2007, edisi ketiga). Kamus Besar Bahasa Indonesia disusun oleh 38 ahli bahasa Indonesia dan memang luar biasa hasilnya sebab bisa mengumpulkan 72.000 lema kata bahasa Indonesia dalam edisi ketiganya. Kembali kepada Yus Badudu, dengan tiga karya utamanya yang dihasilkannya saat usianya 75-82 tahun itu jelas mencerminkan suatu konsistensi yang luar biasa. Sebuah teladan bagi kita semua bahwa siapa saja yang menggunakan akalnya dengan rajin, akan tetap terlatih, tajam sekalipun usianya sudah di atas 80 tahun. Dan saya pikir hanya cinta yang mendalam kepada bahasa Indonesia sajalah yang menyebabkan Yus Badudu tetap berkarya dalam bidangnya. Cinta memang penggerak utama banyak hal. Sekalipun Yus Badudu menjadi sarjana (S1) Bahasa Indonesia pada saat usianya sudah 37 tahun (Fakultas Sastra UNPAD, 1963) - termasuk terlambat daripada umumnya - sungguh bukan suatu keterlambatan sebab ia tetap berkarya sampai usianya di atas 80 tahun pun. Yus Badudu memang dilahirkan untuk menjadi guru. Ia telah menjadi guru selama 65 tahun. Sejak umurnya 15 tahun ia telah menjadi guru. Delapan tahun menjadi guru SD, 4 tahun guru SMP, 10 tahun guru SMA, dan 42 tahun menjadi dosen di Perguruan Tinggi (UNPAD dan UPI Bandung-dulu IKIP Bandung). Yus Badudu pun mengajar guru-guru bahasa Indonesia sampai ke pelosok-pelosok wilayah Indonesia dalam program penataran guru bahasa Indonesia. Rekannya, Prof. Dr. Anton Moeliono menggelarinya "Gurunya Guru Bahasa". Dan, siapa saja yang pernah membaca majalah bulanan Intisari, pasti pernah menemukan rubrik "Inilah Bahasa Indonesia yang Benar" asuhan Yus Badudu. Yus Badudu mengasuh rubrik itu selama 30 tahun. Hampir 60 buku bahasa Indonesia telah ditulis Yus Badudu untuk anak-anak SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, para ahli, dan masyarakat umum. Sebagai seorang ilmuwan dan pendidik, Yus Badudu pun telah membimbing dan menghasilkan 20 oarang doktor bidang linguistik (data sampai tahun 2003). Sebuah pengabdian hampir seumur hidup ini telah diganjar Pemerintah dengan tiga penghargaan : Satyalencana Karya Satya (1987), Bintang Mahaputra Nararya (2001), dan Anugerah Sewaka Winayaroha (2007). Nah, apa yang kita bisa teladani dari Pak Badudu ? Untuk saya, adalah kecintaan akan bahasa Indonesia dan konsistensi kepada profesi. Tak ada usia lanjut berapa pun yang akan membungkukkan seseorang yang mencintai profesinya. Dalam bidang geologi, kita pun punya teladan untuk itu, antara lain : Pak Katili, Pak Koesoemadinata, Pak Sukendar Asikin, Pak Mohammad Untung. Mari kita cintai bahasa Indonesia dengan cara mempelajarinya terus, menggunakannya dengan baik dan benar, dan mengajarkannya kepada anak-anak kita. Pertama kali, mari kita periksa : apakah di rak buku kita di rumah ada kamus bahasa Indonesia yang "serius" (misalnya dari Poerwadarminta, Wojowasito, Badudu-Zain, atau Kamus Besar Bahasa Indonesia); apakah kita memiliki buku pedoman EYD dan Pembentukan Istilah; dan apakah kita memiliki buku Tata Bahasa Indonesia. Belajar bahasa Indonesia bukan hanya tugas anak-anak sekolah, tetapi semua orang Indonesia. Bahasa Indonesia berkembang terus, siapa yang telah meninggalkan mempelajarinya suatu waktu nanti akan berhadapan dengan kesulitan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik artinya menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan keadaan, benar artinya menggunakan bahasa sesuai kaidah-kaidah ketatabahasaan yang berlaku. Yang lebih penting lagi adalah : jangan menganggap sepele bahasa Indonesia, jangan menganggap diri akan bisa berbahasa Indonesia secara benar dengan sendirinya karena kita orang Indonesia. salam, awang --------------------------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

