Yth. Pak Pardan,
Sebelumnya mang Okim mohon maaf karena menembuskan email ini ke milis IAGI
mengingat di milis Bapak disebutkan nama Pak Awang yang tulisan-tulisannya
memang telah membuat banyak dari kita menjadi lebih terbuka dan lebih pinter.
Alasan lain karena Bapak lebih cepat mengetahui tentang kemungkinan keberadaan
meja " blue sapphire " yang salinan sertifikatnya belum difaks ke mang Okim.
Dengan demikian rekan-rekan Gem-Lovers bisa terus mengikuti perkembangan cerita
meja blue sapphire ini ( catatan : meja antik di rumah Ibu yang terbuat dari
jati belum tentu lebih murah dari meja " blue sapphire " lho ! ).
Mengenai forwarding tulisan mang Okim, jangan ragu kalau hal tersebut akan
memberikan manfaat. Bukankah semangat cinta bangsa seharusnya dapat terus
digelorakan ke relung hati setiap insan Indonesia ? Siapa lagi kalau bukan
kita-kita yang menggelorakannya ? Dan cerita tentang ibundanya April si penipu
rujak cingur rupanya belum akan berakhir karena mang Okim secara kebetulan
mendapatkan cerita yang sama dengan pelaku yang sama pula ( nanti mang Okim
ceritakan di kesempatan lain ).
Demikian dulu Pak Pardan, mohon rekan-rekan Gem-Lovers dapat diberikan
informasi seandainya Bapak mengetahui lebih detail tentang meja blue sapphire
tersebut.
Salam batumulia,
Mang Okim
----- Original Message -----
From: Supardan
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, May 05, 2008 8:58 AM
Subject: Blue Sapphire
Yth. Mang Miko,
Luarrr biasa, ada blue sapphire segede itu. Membaca cerita Mang Miko,
sepertinya meja tersebut berada tidak jauh dari kota Surabaya. Yah... jadi
kemungkinan saya bisa melihat meja yang mungkin luar biasa mahal itu. Saya
tertarik dengan mejanya, karena bentuknya persis meja yang ada di rumah ibu
saya (peninggalan kakek/ mbah), hanya sayang... yang di ibu saya - daun mejanya
hanya terbuat dari kayu jati, sama dengan kaki-kakinya. Ha...
Saya sempat beberapa kali rapat dengan arkeolog dari Balai Purbakala Trowulan
- Mojokerto, mengenai rencana pembangunan kampus terpadu Unair (Airlangga City)
di kaki G. Penanggungan, yang konon ingin mengulang kejayaan kerajaan
Majapahit. Waktu itu sempat saya bantah, karena kalau situs2 Majapahit di kaki
G. Penanggungan merupakan peninggalan akhir kerajaan Majapahit (menjelang
kerajaan Majapahit runtuh). Kalau ingin mengulang kejayaan kerajaan Majapahit,
mestinya Airlangga City dibuat di Trowulan. Namun... kalau harus di Trowulan,
tentunya sangat sulit untuk mencari lahan kosong. Waktu itu arkeolog Trowulan
malah hanya manggut2 saja, yang kemungkinan malah tidak tahu. Padahal saya
sendiri hanya tahu sebatas apa yang pernah ditulis pak Awang di milis IAGI-net.
Ha.... Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan di antara ahli kepurbakalaan
yang ada di sana, ahli juga di bidang batumulia, mungkin karena hobi "batu akik
", atau pernah mengikuti pendidikan khusus tentang itu.
Oh ya... beberapa hari yang lalu saya telah lancang mem-forward tulisan Mang
Miko tentang reuni SMPN I Sby ke anak saya yang sudah empat tahun lebih
mengembara di Jerman, karena dia juga alumnus SMPN I yang di Jl. Pacar itu. Ada
pesan Mang Miko tentang nasionalisme pada tulisan tersebut yang sangat menarik,
yang pada akhirnya membuat saya ingin meneruskannya ke anak saya. Selain itu,
tulisan Mang Miko tentang penipu yang memesan rujak cingur, juga telah
menginspirasi saya untuk mencoba rujak cingur yang di Jl. Ahmad Jais pada hari
Sabtu kemarin. Kebetulan pada hari itu saya harus mengantar anak yang harus
mengerjakan tugas sekolah di rumah temannya yang berada tidak jauh dari warung
rujak cingur tersebut. Wah... mak nyussss juga. Pada saat itu saya lihat ada
pasangan bapak-ibu yang sudah agak sepuh yang sedang nostalgia makan rujak
cingur juga, sepertinya dari luar kota, karena mereka datang dengan menggunakan
taksi. Ternyata benar, sepeninggal pasangan sepuh tersebut - si penjual rujak
cingur bilang bahwa bapak-ibu tersebut telah 40 tahun meninggalkan Surabaya.
Terlihat mereka sangat berbahagia, luar biasa....
Mohon maaf kalau tulisan ini saya sampaikan via japri, karena kalau saya
kirim via IAGI-net - rasanya kurang pas.
Wassalam,
Pardan - Suroboyo.