Rekan rekan

Saya tidak pernah tidak menghormati MT Zen , baik
sebagaiguru maupun scientist , tetapi membaca tulisan-nya terakhir di
Kompas , saya agak tergelitik untuk memberikan komentar :
1. Saya
sependapat bahwa dua "terekan" itu jelas sangat berbeda situasi
dan kondisinya , sehingga tidak dapat diperbandingkan.
2. Apakah
beliau lupa (sebagai bagian dari Ode Baru )atau  tidak mengetahui
kendala kendala dalam hal berikut :
a. Pertamina BUKAN - lah suatu
bussines entity  (berdasarkan UU No 8 /1971)akan tetapi merupakan
organ pemerintah sebagai penjamin pasokan BBM yang murah , menjadi
pengawas kontrak kontrak migas , menjadi "tandem" dalam hal yang
bersifat non APBN.
Sebagai akibat ini , apakah mengherankan 
jika Pertamina sulit untuk tumbuh sebagai entity bisnis yang sehat
dan  maju ?
b. Sebagai salah satu Deputy di BPPT , sebenarnya
beliau yang seharusnya tahu bagaimana tekonologi harus dikembangkan dan
beliau jugalah yang tahu persis apa saja kendala yang dialami saat itu
sehingga teknologi tidak berkembang.

Saya kira sebagai mantan
yang justru ada dilingkaran dalam pada saat orde baru , dan sebentar
(kalau tidak slah masih) ode reformasi beliau seyogyanya memberikan
gambaran apa saja usaha usah beliau selama itu yang masih valid pada saat
sekarang,sehingga menjadi pemikiran  generasi yang sedang bekerja
saat ini.
3. Sebagai scientist non migas tidak heran kalau beberapa
gambaran dari beliau (seperti cadangan minyak di barat pantai Aceh ,
Pertamian belum melaksanakan nchanced oil ) kurang tepat.

Walaupun demikian saya yakin bahwa tulisan beliau mempuyai tujuan yang
positip dan kan memnggugah generasi yangsaat ini sedag aktif untuk
berkarya lebih giat lagi.


Si Abah

(bekas murid
pak MT Zen , bekas Pertamina, bekas ketua umum iagi).




> Sebenernya membandingkan teriakan dahulu dengan teriakan
sekarang
> bukanlah perbandingan yang pas. Kondisi dahulu dengan
saat ini jelas
> sangat berbeda. Dahulu kita export tentunya sedih
harga turun,
> sekarang kita net import ya mestilah menangis
ketika harga meningkat.
> Tetapi, menurut pendapat pribadi, kurang
pas membandingkan dua hal
> yang memang kontras.
> Its
more contrasting but not comparing ... both are in different
>
situation.
> 
> Saya stuju bahwa kita terlena dan tidak
ada pembelajaran dari
> perjalanan masa lalu dimana kita masih
bergelimang minyak. Saya
> pribadi tidak (belum) melihat adanya
sebuah "grand design" yang dibuat
> saat itu untuk
menyongsong abad 21. Apa yang saya bayangkan ketika
> kuliah di
tahun 1980 adalah kondisi dimana minyak masih buanyakk !!
> dan
eksplorasi masih rame dan produksi berlimpah.
> 
> Mungkin
kita perlu melakukan "mimpi bersama" tentang apa yang akan
> dihadapi Indonesia di tahun 2050 !!!
> 
>
"Facing the 2050 Project !"
> 
> RDP
>

> On 5/29/08, Sulastama Raharja <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> Untuk Apa Punya
Minyak?
>>
>> Kamis, 29 Mei 2008 | 00:44 WIB
>>
>> MT Zen
>>
>> Dahulu, di
zaman Orde Baru, saya masih ingat sekali bahwa setiap kali
>>
ada berita tentang turunnya harga minyak di pasaran dunia, Pemerintah
>> Indonesia sudah berkeluh kesah. Pada waktu itu cadangan
terbukti
>> Indonesia tercatat 12 miliar barrel.
>>
>> Kini, pada masa Reformasi ini, lebih khusus lagi
selama kekuasaan Susilo
>> Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla,
pemerintah juga berteriak, berkeluh
>> kesah, dan panik apabila
harga minyak meningkat di pasaran dunia.
>>
>> Harga
minyak turun berteriak, harga minyak naik lebih berteriak lagi dan
>> panik. Jadi, apa gunanya kita punya minyak, sedangkan Indonesia
sejak
>> awal sudah menjadi anggota OPEC? Alangkah tidak masuk
akalnya keadaan
>> ini? Sangat kontroversial. Minyak itu tak
lain adalah kutukan.
>>
>> Cadangan tak tersentuh
>>
>> Hingga kini Indonesia secara resmi disebut masih
mempunyai cadangan
>> minyak sebesar 9 miliar barrel. Memang
betul, jika dibandingkan dengan
>> cadangan minyak
negara-negara Timur Tengah, 9 miliar barrel itu tidak
>> ada
artinya. Namun, jelas-jelas Indonesia masih punya minyak. Selain
>> cadangan lama, cadangan blok Cepu belum juga dapat
dimanfaatkan. Belum
>> lagi cadangan minyak yang luar biasa
besar di lepas pantai barat Aceh.
>>
>> Perlu
diketahui bahwa pada pertengahan tahun 1970-an Indonesia
>>
memproduksi 1,5 juta barrel per hari. Yang sangat mencolok dalam
>> industri minyak Indonesia adalah tik ada kemajuan dalam
pengembangan
>> teknologi perminyakan Indonesia sama sekali.
>>
>> Norwegia pada awal-awal tahun 1980-an mempunyai
cadangan minyak yang
>> hampir sama dengan Indonesia.
Perbedaannya adalah mereka tidak punya
>> sejarah pengembangan
industri minyak seperti Indonesia yang sudah
>> mengembangkan
industri perminyakan sejak zaman Hindia Belanda, jadi jauh
>>
sebelum Perang Dunia ke-2. Lagi pula semua ladang minyak Norwegia
>> terdapat di lepas pantai di Laut Atlantik Utara. Lingkungannya
sangat
>> ganas; angin kencang, arus sangat deras, dan suhu
sangat rendah; ombak
>> selalu tinggi.
>>
>> Teknologi lepas pantai, khusus mengenai perminyakan, mereka
ambil alih
>> dari Amerika Serikat hanya dalam waktu 10 tahun.
Sesudah 10 tahun tidak
>> ada lagi ahli-ahli Amerika yang
bekerja di Norwegia.
>>
>> Saya berkesempatan
bekerja di anjungan lepas pantai Norwegia dan
>> mengunjungi
semua anjungan lepas pantai Norwegia itu. Tak seorang ahli
>>
Amerika pun yang saya jumpai di sana sekalipun modalnya adalah modal
>> Amerika, terkecuali satu; seorang Indonesia keturunan Tionghoa
dari
>> Semarang yang merupakan orang pertama yang menyambut
saya begitu terjun
>> dari helikopter dan berpegang pada jala
pengaman di landasan. Dia
>> berkata sambil tiarap berpegangan
tali jala, "Saya dari Semarang, Pak."
>> Dia seorang
insinyur di Mobil yang sengaja diterbangkan dari kantor
>>
besarnya di daratan Amerika untuk menyambut saya di dek anjungan lepas
>> pantai bernama Stadfyord A di Atlantik Utara.
>>
>> Di sanalah, dan di anjungan- anjungan lain, saya diceritakan
bahwa
>> mereka tidak membutuhkan teknologi dari Amerika lagi.
Mereka sudah dapat
>> mandiri dan dalam beberapa hal sudah
dapat mengembangkan teknologi baru,
>> terutama dalam
pemasangan pipa-pipa gas dan pipa-pipa minyak di dasar
>>
lautan. Teknologi kelautan dan teknologi bawah air mereka kuasai betul
>> dan sejak dulu orang-orang Norwegia terkenal sebagai bangsa
yang sangat
>> ulet dan pemberani. Mereka keturunan orang
Viking.
>>
>> Ada satu hal yang sangat menarik.
Menteri perminyakan Norwegia secara
>> pribadi pernah
mengatakan kepada saya bahwa Norwegia dengan menerapkan
>>
teknologi enhanced recovery dari Amerika berhasil memperbesar cadangan
>> minyak Norwegia dengan tiga kali lipat tanpa menyentuh
kawasan-kawasan
>> baru. Ini sesuatu yang sangat
menakjubkan.
>>
>> Norwegia pernah menawarkan
teknologi tersebut kepada Indonesia, tetapi
>> mereka minta
konsesi minyak tersendiri dengan persyaratan umum yang sama
>>
dengan perusahaan lain. Ini terjadi pada akhir tahun 1980-an. Namun,
>> kita masih terlalu terlena dengan
"kemudahan-kemudahan" yang diberikan
>> oleh
perusahaan-perusahaan Amerika. Pejabat Pertamina tidak mau
>>
mendengarkannya. Gro Halem Brundtland, mantan perdana menteri,
>> menceritakan hal yang sama kepada saya.
>>
>> Contoh lain, lihat Petronas. Lomba Formula 1 di Sirkuit
Sepang
>> disponsori oleh Petronas. Petronas itu belajar
perminyakan dari
>> Pertamina, tetapi kini jauh lebih kaya
dibanding Pertamina. Gedung
>> kembarnya menjulang di Kuala
Lumpur. Ironisnya, banyak sekali
>> pemuda/insinyur Indonesia
yang bekerja di Petronas.
>>
>> Kenapa banyak sekali
warga Indonesia dapat bekerja dengan baik dan
>> berprestasi di
luar negeri, tetapi begitu masuk kembali ke sistem
>> Indonesia
tidak dapat berbuat banyak?
>>
>> Jika kita boleh
"mengutip" Hamlet, dia bekata, "There is something
>> rotten, not in the Kingdom of Denmark, but here, in the
Republic of
>> Indonesia."
>>
>>
Lengah-terlena
>>
>> Salah satu kelemahan Indonesia
dan kesalahan bangsa kita adalah
>> mempunyai sifat complacency
(perkataan ini tidak ada dalam Bahasa
>> Indonesia, cari saja
di kamus Indonesia mana pun), sikap semacam
>> lengah-terlena,
lupa meningkatkan terus kewaspadaan dan pencapaian
>> sehingga
mudah disusul dan dilampaui orang lain.
>>
>> Lihat
perbulutangkisan (contoh Taufik Hidayat). Lihat persepakbolaan
>> Indonesia dan PSSI sekarang. Ketuanya saja meringkuk di bui
tetap ngotot
>> tak mau diganti sekalipun sudah ditegur oleh
FIFA.
>>
>> Apa artinya itu semua? Kita, orang
Indonesia tidak lagi tahu etika,
>> tidak lagi punya harga
diri, dan tidak lagi tahu malu. Titik.
>>
>>
Ketidakmampuan Pertamina mengembangkan teknologi perminyakan merupakan
>> salah satu contoh yang sangat baik tentang bagaimana salah urus
suatu
>> industri. Minyak dan gas di Blok Cepu dan Natuna
disedot
>> perusahaan-perusahaan asing, sementara negara nyaris
tak memperoleh apa
>> pun. Dalam hal ini, Pertamina bukan
satu-satunya. Perhatikan benar-benar
>> semua perusahaan BUMN
Indonesia yang lain. Komentar lain tidak ada.
>>
>>
MT Zen Guru Besar Emeritus ITB
>>
>>
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/29/00441957/untuk.apa.punya.minyak
>>
> 
> 
> --
>
http://tempe.wordpress.com/
> Telling the truth is important
> Telling the positive is better !!!
> 
>
--------------------------------------------------------------------------------
> PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
> * acara utama: 27-28 Agustus
2008
> * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008
>
* pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
> * batas akhir
penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
> * abstrak / makalah
dikirimkan ke:
> www.grdc.esdm.go.id/aplod
> username:
iagi2008
> password: masukdanaplod
> 
>
--------------------------------------------------------------------------------
> PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
> * pendaftaran calon
ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
> * penghitungan suara: waktu PIT
IAGI Ke-37 di Bandung
> AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG
JUGA!!!
> 
>
-----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123
0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI
or others. In no event
> shall IAGI and its members be liable for
any, including but not limited to
> direct or indirect damages, or
damages of any kind whatsoever, resulting
> from loss of use, data
or profits, arising out of or in connection with
> the use of any
information posted on IAGI mailing list.
>
---------------------------------------------------------------------
> 
> 


-- 
_______________________________________________
Nganyerikeun hate
batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada
ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.

Kirim email ke