Bung Andri,
Reportase anda mengingatkan saya kembali sewaktu tugas akhir di Kec. Gantung,
Belitung, tentang genesa timah primer. Untuk menambah referensi anda,
laporannya ada di Dept Geologi, mudah2an masih tersimpan baik.
Salam,
Wahjuadji
Andri Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sahabat dan rekan-rekan sekalian, para netter yang budiman,
Sekitar satu minggu yang lalu, saya dan teman-teman dari PPGL (Pusat Penelitian
Geologi Laut) berkesempatan melakukan survei geologi dan seismik di perarian
Bangka utara, tepatnya sekitar 4 mil dari Tanjung Belinyu. Bangka, selain top
dengan "martabaknya", juga terkenal sebagai penghasil timah yang paling
ekonomis di dunia. Dulu disekitar Tempilang, Pemali dan Kelapa Kampit menjadi
primadona penambang timah primer, yang disemprot langsung pada diding yang
mengalami alterasi greisen. Karena saking lunaknya zona alterasi ini, kasiterit
dan kuarsa langgsung berguguran dan tinggal mengumpulkan mineral beratnya. Kini
eksplotasi timah sangat marak di endapan-endapan aluvial didarat, pantai hingga
lepas pantai. Endapan timah lepas pantai tidak lain merupakan endapan yang
berasosiasi dengan chanel purba yang kini dibawah permukaan laut dan sebagian
ditambang oleh PT Timah Bangka. Yang menarik adalah " Dimanakah" hulu-hulu
sungai purba berasal ? Adakah yang tersisa ? Bangka,
Belitung dan Singkep serta pulau-pulau kecil sekitarnya ternyata telah
mengalami peneplenisasi lanjut, sehingga kepulauan ini tampak datar dan
sebagian dihiasi oleh bukit-bukit kecil yang landai. Disebagian pantainya bila
surut nampak dataran dan hamparan pasir kuarsa nan putih berkilometer jauhnya
hingga nampak tonjolan-tonjolan pulau kecil ditengah laut. Nah sebagian
tonjolan-tonjolan ini kami sempat kunjungi, dan ternyata ini merupakan
pulau-pulau granit dengan morfologi sangat unik. Dari dekat granit-granit ini
bewarna putih keabuauan dengan megakristal plagioklas dan biotit.Ciri
mineralisasi dan alterasi timah cukup kentara. Morfologinya juga tidak kalah
unik seperti patung atau menhir yang tersusun rapi. Salah satu pulau dapat
dicapai dari Blinyu sekitar 20-30 menit dengan perahu motor. Pulau-pulau ini
diduga merupakan "horst" granit yang tersisa setelah sekian lama dierosi dan
diendapkan sebagai alluvial di paparan sunda. Salah pulau terdekat dengan
Blinyu ini
dinamakan oleh nelayan setempat sebagai pulau Kelapa. Pulau ini tidak
bepenghuni, luasnya sekitar 5Ha. Mungkin menarik untuk menambah koleksi Geopark
!? Selain bisa ber"granit" ria, disana bisa mandi matahari dipasir putih dan
tentunya mancing ikan. Bagi yang berminat untuk oleh-oleh fotonya silahkan
lewat JAPRI.
Salam
Andri SSM
---------------------------------
Sent from Yahoo! Mail.
A Smarter Email.