Saya agak terganggu dengan kutipan wawancara sbb: " *Ada pandangan, perusahaan minyak mengambil keuntungan yang terlalu banyak. *Pernahkah pemerintah memberi tahu publik berapa besar pemasukan yang disumbangkan industri minyak kepada negara? Tahun lalu, dari bisnis minyak, Medco mendapat keuntungan $135 juta. Berapa yang kami setor ke pemerintah? Sekitar $1 miliar. Bayangkan! Itu hampir sembilan kali keuntungan kami. Soal seperti ini mestinya diketahui oleh publik."
$1miliar buat negara yang berpenduduk 250jt $135juta buat satu perusahaan (berapa sih jumlah share holdernya? ) Dan jangan lupa isi pasal 33 UUD45. Seluruh kekayaan alam Indonesia sebenarnya cukup untuk memakmurkan rakyatnya. Tetapi tak akan pernah cukup untuk keserakahan korporasi-konglomerasi. On Fri, Jun 13, 2008 at 9:39 AM, OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > BusinessWeek Indonesia > Edisi 18 Juni 2008 > Hilmi Panigoro (Chairman Medco Energi Internasional Tbk.): > *Kita Butuh Satu Cepu Baru per Tahun* > > Di tengah kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak pada > akhir > bulan lalu, kembali mencuat pertanyaan mengapa Indonesia tak mampu > meningkatkan produksi minyaknya. Pemerintah dan pengamat—juga para setengah > pengamat—telah saling lempar pendapat serta argumen. Fakta yang disepakati: > penyebab utama penurunan adalah investasi untuk eksplorasi yang sangat > minim. Perusahaan-perusaha an minyak tampak enggan melakukan pengeboran. > > Survei terbaru yang dilakukan PricewaterhouseCoop ers (PwC) menunjukkan > para > pelaku industri perminyakan yang beroperasi di Indonesia sebetulnya berniat > meningkatkan belanja modal untuk mencari cadangan baru. Namun, mereka > mengeluhkan sejumlah masalah fiskal, hukum, dan birokrasi sebagai > penghambat > investasi. > > Untuk memahami persoalan produksi minyak dari kacamata pelaku industri, > BusinessWeek Indonesia berbincang dengan Hilmi Panigoro, Chairman PT Medco > Energi Internasional Tbk. Lelaki ini memiliki posisi yang dihormati di > kalangan perminyakan. Dari sisi keahlian, Hilmi diakui mumpuni karena > merupakan sarjana geologi dan telah berkarir panjang dalam industri > perminyakan. Dari sisi bisnis, alumnus Institut Teknologi Bandung ini > berhasil membangkitkan Medco dari lilitan utang saat krisis ekonomi 1997 > menjadi perusahaan minyak terdepan di Tanah Air. Berikut ini petikan > obrolan > di sore hari tersebut. > > > *Apa penyebab mandeknya produksi minyak Indonesia? > *Banyak pihak tidak mengerti persoalan engineering reservoir. Padahal, > masalah sebenarnya ada di situ. Ini merupakan masalah yang sangat teknis. > Karena banyak pihak yang sebetulnya tidak paham ikut bicara, terjadi > simpang > siur pendapat. > > > *Jadi, secara teknis, apa yang terjadi? > *Sekarang ini sekitar 95% lapangan minyak di Indonesia sudah masuk kategori > mature. Artinya, tingkat produksinya sudah menurun dibandingkan saat berada > di masa puncak. Bisanya, suatu sumur hanya berproduksi di masa puncak > selama > lima tahunan. Setelah itu menurun secara cepat dan kemudian penurunannya > melambat. > Di Indonesia, kebanyakan lapangan minyak sudah berumur di atas 15 tahun. > Jadi, > produksinya sudah rendah. Untuk sumur-sumur seperti ini, persoalannya bukan > menaikkan produksi melainkan membuat tingkat penurunan melandai. Upaya ini > dinamakan secondary recovery. Tetapi, untuk melakukan itu diperlukan biaya > tambahan karena, misalnya, kita mesti memasukkan bahan kimia guna menjaga > tingkat produksi. > Yang juga perlu dipahami, meski tingkat produksi turun, ongkos produksi > tetap. Sebab, di sumur tua ataupun muda, volume yang diangkat sama saja. > Tetapi, kadar minyaknya turun sementara kadar airnya bertambah. Begitulah > siklus hidup sumur minyak. Ini bisa dianalogikan sebagai manusia yang makin > tua semakin membutuhkan perawatan, vitamin, dan sebagainya. > > > *Jadi, kita harus membuka sumur baru? > *Ya. Kita harus menemukan ladang-ladang muda baru. Harus dilakukan > eksplorasi. Setiap tahun, perusahaan-perusaha an minyak telah menganggarkan > dana yang besar untuk eksplorasi. Tetapi, ke mana perginya investasi itu? > Mereka pergi ke tempat dengan faktor geologi dan ekonomi paling menarik. > Sayangnya, Indonesia bukan tempat terbaik untuk investasi eksplorasi. > Menurut survei PwC, pelaku industri minyak menganggap faktor geologi > Indonesia masih menarik. > Memang, faktor geologinya masih menarik. Tetapi, bagaimana dengan faktor > lainnya? Saya beri satu contoh. Medco memiliki konsesi di Teluk Meksiko. Di > sana, kami hanya membayar royalti sebesar 16,7%. That's it! Selebihnya > untuk > kami semua. > > > *Ini di Teluk Meksiko bagian mana? Amerika Serikat atau Venezuela? > *Ini di bagian Amerika Serikat. Padahal, kita tahu, faktor stabilitas > politik di negara itu masih yang paling menarik. Jadi, geologinya menarik, > political stability-nya menarik, dan insentif fiskalnya bagus sekali. Nah, > kalau Anda menjadi perusahaan minyak besar dan memiliki dana $ 1 miliar > untuk eksplorasi, lokasi mana yang akan dipilih? Karena itu, menurut saya, > pemerintah mesti memberi insentif yang secara signifikan lebih bagus. > Sebagai gambaran, insentif di wilayah Afrika Barat, seperti Angola, sudah > lebih bagus dari kita. Di Yaman juga demikian. > Yang juga harus diingat, potensi minyak terbesar Indonesia saat ini ada di > wilayah Timur. Kita tahu, di sana infrastrukturnya belum established dan > lautnya sangat dalam. Eksplorasi satu sumur bisa menelan $40-50 juta. Angka > seperti itu bukan bagian perusahaan sekelas Medco. Itu bagiannya the major > players. > > > *Kembali ke survei PwC, para pelaku industri pesimistis akan terjadi > perbaikan iklim investasi. > *Akibatnya, kita akan melihat produksi minyak terus menurun. I can > guarantee. > > > *Bukankah ada Cepu? > *Itu tidak ada artinya. > > > *Bukankah cadangannya besar? > *Sekarang ini Indonesia memproduksi sekitar 900.000 barel per hari. Angka > itu akan turun sekitar 5% per tahun. Berapa tahun diperlukan untuk > mengembangkan Cepu hingga berproduksi? Tiga atau empat tahun? Karena > produksi yang lain turun dengan kecepatan 5% per tahun, kehadiran Cepu > hanya > cukup untuk menahan supaya tidak turun lebih tajam. Ya, nilainya mungkin > akan naik sedikit dan kemudian turun lagi. Agar produksi Indonesia naik > secara sustainable dalam jangka panjang, harus ada beberapa Cepu. Setiap > tahun harus ada Cepu baru. > > > *Mengapa pemerintah tak berstrategi melakukan eksplorasi sendiri? Contohnya > ada. Di Rusia, mereka mengajak Schlumberger dengan bayaran berupa fee yang > tetap, bukan bagi hasil. > *Itu berarti pemerintah Rusia mau mengambil risiko. Kalau gagal, ternyata > sumurnya tak menghasilkan, mereka menanggung 100% sementara Schlumberger > harus tetap dibayar. > Tetapi, inilah seni dari eksplorasi. Ada unsur risiko. Dalam sistem > pembiayaan oleh investor, kalau sukses, diberlakukan sistem bagi hasil. > Kalau gagal, seluruhnya ditanggung investor. > Tentunya, pemerintah bisa mengambil pilihan seperti di Rusia. Besar uang > subsidi yang dialihkan menjadi bantuan langsung tunai kira-kira Rp14 > triliun. Kalaulah kita ambil Rp2 triliun dari uang itu untuk eksplorasi, > jumlahnya sudah banyak sekali. Kalau di darat, paling tidak ia bisa > mengebor > 10 sumur di tempat yang sulit. Kalau di laut dalam, bisa empat sumur. > > > *Bagaimana dengan probabilitas keberhasilannya? > *Ya, itulah persoalannya. Apakah pemerintah mau mengambil risiko? Ini kan > soal hilang-hilangan. Sebagai gambaran, di Myanmar kami mengebor tiga sumur > dan habis uang sekitar $20 juta. Ternyata, semua sumur itu tak > menghasilkan. > Di Kazakhstan, kami pernah melakukan akuisisi perusahaan minyak. Ternyata, > kami salah menghitung political risk dan perusahaannya terpaksa dilepas. > Kami rugi $50 juta. Tetapi, di Libia, kami mengebor 10 sumur dan 7 > menghasilkan. Secara umum, tingkat keberhasilan Medco kira-kira 30%, dari > tiga sumur yang dibor, satu berhasil. > > > *Ada pandangan, perusahaan minyak mengambil keuntungan yang terlalu banyak. > *Pernahkah pemerintah memberi tahu publik berapa besar pemasukan yang > disumbangkan industri minyak kepada negara? Tahun lalu, dari bisnis minyak, > Medco mendapat keuntungan $135 juta. Berapa yang kami setor ke pemerintah? > Sekitar $1 miliar. Bayangkan! Itu hampir sembilan kali keuntungan kami. > Soal > seperti ini mestinya diketahui oleh publik. > > > *Menyangkut harga minyak dunia yang melambung gila-gilaan, apa yang > sebetulnya terjadi? > *Ini disebabkan ketidakpastian. Seandainya hari ini pasar merasa > comfortable, yakin supply minyak akan stabil dalam 5, 10, 15, atau 20 tahun > ke depan, orang tidak akan panik. Mereka tidak akan melakukan panic buying. > Saat ini tidak ada kepastian bahwa supply akan ada terus. Maka, orang mulai > menambah stok cadangannya. > > > *Apa penyebab ketidakpastian ini? > *Ada banyak masalah. Yang jelas, dulu, saat harga minyak $30-$40 per barel, > negara-negara OPEC masih punya kapasitas lebih. Saat harga minyak naik, ia > bisa menggelontorkan 1 juta barel tambahan ke pasar. Harga minyak kembali > turun. Nah, hari ini, kapasitas produksi OPEC sudah maksimum. > > > *Termasuk Arab Saudi yang memiliki cadangan terbesar di dunia? > *Ya, termasuk Arab Saudi. Kalau mau menaikkan produksi, mereka harus > investasi dari sekarang. > > > *Apakah karena itu OPEC tak mau menaikkan produksi? > *Bukan tidak mau. Tetapi, mereka tidak bisa. Produksi OPEC sudah maksimum. > Sebagai contoh, produksi Indonesia saat ini sudah 400.000 barel di bawah > kuota. Tidak ada negara yang menutup kekurangan itu. > > > *Dengan dana demikian melimpah di wilayah Teluk, mengapa para syekh itu tak > berinvestasi dalam eksplorasi? > *Eksplorasi selalu berisiko. Orang-orang itu bukan jenis yang senang > mengambil risiko. Mereka lebih senang memasukkan uangnya ke sektor > properti. > Kalaupun mau investasi di sektor minyak, mereka memilih membeli perusahaan > yang sudah ada dan tidak menambah kapasitas. Mereka justru membeli > cadangan. > > > Untuk berlangganan majalah BusinessWeek Indonesia, hubungi 021 31909160 > (Ima) > > > > -- > OK TAUFIK > -- *********************************** Amir Al Amin Operations/ Wellsite Geologist (62)811592902 amir13120[at]yahoo.com amir.al.amin[at]gmail.com ************************************

