> Mas Pardan

Saya kira bentuk perusahaan Perhutani
sudah memberikan gambaran bahwa Perhutani sebagai PERUM tidaklah dituntut
untuk mendapatkn untung se-banyak2 nya.
Perum mempunyai tugas lain
sebagai salah satu organ Pemerintah , jadi saya kira tergantung bagaimana
Pemerintah sebagai Komisaris Perusahaan mengarahkan operasional
Perhutani.
Justru dalam bentukya sebagai PERUM dan Bukan 100 % aparat
birokrasi Perhutani dapat lebih  bergerak dengan lebih lincah agar
tujuan-nya  sebagai alat pemerintah tercapai .
Walaupun saya
tidak tahu persi sapa tugasnya secara detil , saya kira melestarikak hutan
agar sesuai  dengan fungsi-nya  merupakan tugas utama
Perhutani.
Coba siapa yang tahu Anggaran Dasar Perseroan-nya kasih
info dong , agar kita tidak salah tembak,

Si Abah


a   Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang saya tahu
(sesuai peraturan
> perundang-undangan yang berlaku), sudah
memasukkan aspek geologi di
> dalamnya, khususnya - yang saya tahu
persis - di Jawa Timur. Sedikit
> banyak
> saya terlibat
di dalam penyusunan RTRW tersebut. Lebih dari itu, RTRW
> tersebut
masih dilengkapi lagi dengan peraturan yang lebih teknis. Seperti
> kita ketahui, biang keladi terjadinya banjir adalah kerusakan
kawasan
> hulu,
> yang sekaligus merupakan kawasan yang
paling rawan longsor. Nah...,
> khususnya di Jawa - kawasan
tersebut sebagian besar dikendalikan oleh
> siapa?
>
Sebagian kawasan tersebut merupakan kawasan hutan (di bawah Perum
> Perhutani), kawasan hutan suaka alam, dan beberapa wilayah
perkebunan (di
> bawah kendali pemerintah pusat/ BUMN dan UPT).
Hutan yang telah gundul
> tidak
> atau sulit dihutankan
kembali, oleh karena itu sebagian dialihfungsikan
> menjadi -misal
perkebunan -, yang penting menghasilkan. Buffer zone
> perkebunan
Belanda dulu (yang merupakan hutan alam yang heterogen) kini
>
juga
> telah banyak dialihfungsikan menjadi hutan tanaman industri
atau jadi
> areal
> perkebunan juga, yang tentunya lebih
cepat menghasilkan.
> 
> Yang perlu kita (IAGI)
pertanyakan, masih perlukah adanya Perum Perhutani
> di
>
Jawa ini? Namanya saja perusahaan, pasti orientasinya kan
"untung".
> Sehingga
> tidak salah kalau
misalnya yang dijual "pisang", karena hutannya sudah
>
jadi
> kebun pisang. Bahkan bukan sesuatu yang mustahil lagi,
kalau misalnya
> nanti
> Perhutani jual bahan galian,
karena hutannya sudah gundul, maka batuannya
> yang digali dan
dijual. Wajar saja kalau pada setiap musim selalu saja
> kita
> diancam bencana, kekeringan di musim kemarau serta tanah longsor,
banjir
> bandang dan banjir di musim hujan.
> 
>
Salam,
> Pardan - Jatim.
> 2008/6/29 Joseph M. Sihombing
<[EMAIL PROTECTED]>:
> 
>> gimana kalo
jawabnya: bantuan koran banjir *sambil mikir prospek project
>>
baru...*????
>>
>> ----- Original Message ----
>>
From: prasiddha Hestu Narendra
<[EMAIL PROTECTED]>
>> To: [email protected]
>>  Sent: Monday, June 30, 2008 7:28:25 AM
>> Subject:
Re: [iagi-net-l] Pelajaran Buruk Morowali
>>
>>
Hi...hi... PR lagi buat Caketum........mumet Caketumnya......
>>
>> gampang saja, nanti Ketua IAGI terpilih dengan
gaya kayak pak Guru ke
>> muridnya tinggal bilang ke Pemda
setempat....bapak-bapak sekalian, ingat
>> pelajaran waktu SD
dulu yaaaa, kalo hutan digunduli akibatnya apa
>> bapak-bapak
sekalian??? ban...ban....apa bapak-bapak sekalian??
>>
banjiiirrrrrr.....pak Guruuuu......(jawab bapak-bapak dari Pemda)
>>
>>
>> On 6/30/08, Bambang Satya Murti
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> >
>> > Lha
ini, PR buat kandidat Ketum yang baru...
>> > Berani nggak
menyuarakannya? Ini akan memperkuat nilai tawar IAGI
>>
lho...
>> > Berdayakan PENGDA yang seabreg yang sudah
dirintis oleh Ketum
>> terdahulu
>> > lah...
>> > Waktunya roadshow lagi nih...
>> >
Bambang
>> > (gregeten dg IAGI yang mati suri)
>>
>
>> >
>> > ----- Original Message ----
>> >
From: Hendratno Agus
<[EMAIL PROTECTED]>
>> > To:
[email protected]
>> > Sent: Monday, June 30, 2008 9:40:16
AM
>> > Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: Pelajaran Buruk
Morowali
>> >
>> > itu terjadi karena
pemerintah pusat dan daerah sejak awal tidak pernah
>> >
berpikir tentang alokasi wilayah pertambangan yang dapat dikembangkan.
>> Kalau
>> > ada alokasi wilayah usaha
pertambangan, maka idealnya tidak
>> semena-mena
>>
> pemerintah (apalagi bupati) mengeluarkan ijin KP semau gue.
Mestinya
>> di
>> > setiap kabupaten, ada wilayah
yang boleh dikembangkan untuk
>> pertambangan
>>
dan
>> > ada wilayah yang tidak boleh ditambang, sekalipun
di dalamnya ada
>> potensi
>> > yang signifikan,
tapi resiko lingkungan lebih besar, jika ditambang.
>> Hal
>> ini
>> > yang "tidak pernah ada" dalam
pikiran dan regulasi pemerintah dari
>> pusat
>>
> sampai daerah. Tata ruang selama ini tdk mencerminkan sama sekali
>> dengan
>> > kondisi riil di lapangan atau sejarah
geologi wilayah tersebut.
>> >
>> > salam,
agus hendratno dari Wilis
>> >
>> > --- On
Sun, 6/29/08, mohammad syaiful <[EMAIL PROTECTED]>
>> wrote:
>> >
>> >
From:
mohammad syaiful <[EMAIL PROTECTED]>
>> >
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: Pelajaran Buruk Morowali
>> >
To: [email protected]
>> > Date: Sunday, June 29, 2008,
10:23 PM
>> >
>> > apakah yg bisa diperbuat
oleh iagi?
>> >
>> > On Sun, Jun 29, 2008 at
5:28 AM, ET Paripurno <[EMAIL PROTECTED]>
>> >
wrote:
>> > > kawan2 terhormat, ini info dari
tetangga.
>> > > demikankah?
>> > >
>> > > et
>> > >
>> > >
>> > >  Pelajaran Buruk Morowali
>> > >
>> > > on Thursday, 26 June 2008
>> > >
>> > >
>> > > Jika saja pemerintah berpikir
panjang &ndash; lebih panjang dari usia
>> jabatan
>> > > mereka yang dipilih lewat Pemilu dan Pilkada. Pasti
akan berpikir
>> ulang
>> > > memilih 
pertambangan - yang tak terbarukan dan berumur pendek,
>>
sebagai
>> > > pilihan utama ekonomi daerahnya.
>> > >
>> > > ***
>> > >
Masih ingat banjir dan tanah longsor Morowali di Sulawesi tengah?
>> Tahun
>> > > lalu, lebih 71 orang meninggal,
puluhan lainnya dirawat di rumah
>> sakit,
>> >
> ribuan orang mengungsi dan tak terhitung kerugian materi yang
>> hilang.
>> Tak
>> > > hanya tahun
lalu, setidaknya 10 tahun terakhir, banjir dan longsor
>>
jadi
>> > > langganan di Morowali. Dan tahun 2007 yang
terparah.
>> > >
>> > > Walhi Sulawesi
tengah menyoroti tingginya laju hutan sebagai pemicu
>> >
> terjadinya banjir.  Sepanjang 2001 hingga 2007, penggundulan hutan
>> > mencapai
>> > > 42,27 ribu ha pertahun.
Dengan laju kerusakan itu, hutan Morowali
>> akan
>>
> > musnah pada 2027. Apalagi diwaktu yang sama, pemerintah telah
>> > mengeluarkan
>> > > izin pembukaan lahan
hutan seluas 253.418 ha untuk kebun skala besar
>> >
sawit,
>> > > pertambangan dan penebangan kayu.  Dari
luasan itu, lebih separuhnya
>> > adalah
>> >
> pertambangan.
>> > >
>> > > Dan
tahun ini, banjir berkunjung lagi. Ada tujuh desa terendam
>>
banjir.
>> > > Lagi-lagi, yang terendam adalah lokasi
bencana yang sama tahun lalu.
>> > Banjir
>> >
> kali ini akibat luapan Sungai Siombo, Makato, dan Pirangan, sungai
>> yang
>> > sama
>> > > yang
meluap Juli 2007 lalu.
>> > >
>> > >
Rupanya untuk urusan banjir, Morowali sudah mirip Jakarta. Banjir
>> > berulang
>> > > karena penyebab yang sama
dan di lokasi yang sama diperlakukan sama
>> :
>>
> bagai
>> > > bencana mendadak. Penggalangan bantuan
banjir menjadi kegiatan utama
>> saat
>> > >
banjir datang, Begitu banjir reda, penyebab banjir  tak dibicarakan
>> lagi.
>> > >
>> > > Saat
banjir datang, penggalangan bantuan digalakkan, dana penanganan
>> > > bencana  mengucur deras. Mungkin menangani banjir 
lebih menarik
>> buat
>> > pemda
>>
> > Morowali &ndash; juga daerah lainnya. Banjir  bisa
menghasilkan
>> proyek-proyek
>> > >
infrastruktur baru. Dan bisa jadi lahan korupsi baru. Itulah mengapa
>> > > pekerjaan rumah mencegah terjadinya banjir jarang
menampakkan hasil.
>> > >
>> > > Bagi
pemerintah di banyak tempat, banjir seolah berkah. Jika tak
>>
percaya,
>> > > coba lihat pilihan-pilihan pembangunan
yang digalakkan oleh
>> pemerintah
>> > pusat
>> > > dan daerah saat ini. Bagai jauh panggang dari api.
Pilihan malah
>> jatuh
>> > pada
>>
> > pembukaan kebun skala besar sawit dan pertambangan, yang rakus
lahan
>> dan
>> > > air. Begitupun
Morowali.
>> > >
>> > > Menurut Sahabat
Morowali, Bupati Daltin Tamalagi  dan penggantinya
>> saat
>> > ini,
>> > > telah mengeluarkan sekitar
156 ijin Kuasa Pertambangan. Sebagian
>> besar
>>
> untuk
>> > > tambang Nikel dan Chrom.
>>
> >
>> > > Setiap perijinan luasannya bisa mencapai
2 ribu  hingga 3 ribu ha.
>> Ini
>> > belum
>> > > terhitung ijin Kontrak Karya milik PT Inco dan Rio
Tinto &ndash;
>> perusahaan
>> > > Inggris, 
yang belum tuntas.
>> > >
>> > > Dalam
dua tahun terakhir, Morowali banyak dikunjungi para pengusaha
>> > China..
>> > > Merekalah yang tertarik
menambang bijih Nikel. Mereka datang ke
>> daerah
>>
> yang
>> > > kaya Nikel dan berusaha mendapat Kuasa
Pertambangan.
>> > >
>> > > Meskipun
judulnya adalah usaha tambang Nikel, tapi sebenarnya
>>
tambang-
>> > > tambang itu diperlakukan mirip  galian
sirtu. Ini cara yang paling
>> > primitif
>> >
> dalam teknik penambangan. Permukaan tanah disingkap, bijih Nikel
>> digali
>> > dan
>> > > diangkut
ke negara lain untuk ekspor. Tak ada pembangunan pabrik
>>
Nikel,
>> > tak
>> > > ada pengolahan
menjadi Nikel. Hanya tanah batuan yang diangkut.
>> >
>
>> > > Kabarnya Pemda malah memfasilitasi perusahaan
melakukan transaksi
>> > pembebasan
>> > >
tanah dengan warga. Untuk tiap metrik ton bijih Nikel yang diangkut,
>> sang
>> > > pengusaha cukup membayar Rp 5000
untuk warga. Rp 2500 diberikan
>> tunai,
>> >
> separuhnya untuk kegiatan pengembangan masyarakat.
>> >
>
>> > > Tak hanya Morowali, di Sulawesi Tenggara juga
melakukan hal yang
>> sama.
>> > Saat
>> > > ini lebih 120  perijinan pertambangan yang
dikeluarkan. Bahkan pulau
>> > sekecil
>> >
> Kabaena yang luasnya tak sampai 100 ribu ha, punya 22 konsesi
>> > pertambangan.
>> > > Salah satunya adalah
konsesi PT Inco, tambang Nikel raksasa milik
>> asing.
>> > >
>> > > Contoh lainnya Kalimantan
Selatan. Hingga tahun 2005, setidaknya 1,2
>> juta
>> > ha
>> > > lebih daratan yang punya ijin
pertambangan. Dinas Pertambangan
>> Kalsel &ndash;
>> > > dikutip Radar Banjar, menyebut tahun lalu, terdapat
400 lebih izin
>> usaha
>> > > pertambangan di
Kalsel. Sejumlah 379 izin  diantaranya, diterbitkan
>> para
>> > > bupati.
>> > >
>> >
> Bulan Juni 2006, banjir menyapu empat kabupaten, yaitu Banjar,
Tanah
>> > Laut,
>> > > Tanah Bumbu dan
Kotabaru. Hasil analisa citra  Lembaga Penerbangan
>> Dan
>> > > Antariksa Nasional (LAPAN) menunjukkan kejadian itu
disebabkan
>> beberapa
>> > > faktor, yaitu
curah hujan yang relatif tinggi, posisi topografi yang
>> >
rawan
>> > > bencana banjir dan kondisi penutup atau
penggunaan lahan yang telah
>> > banyak
>> >
> menjadi lahan-lahan terbuka, baik pada daerah hilir maupun hulu.
>> > >
>> > > Kawasan terbuka itu terkait
dengan pengerukan batubara. Pada daerah
>> yang
>>
> > dilanda banjir, seperti kecamatan Kintap di  Tanah Laut dan
>> kecamatan
>> > Satui
>> > > di
Tanah Bumbu,  sedikitnya 27 perusahaan dengan luas konsesi lebih
>> dari
>> > 111
>> > > ribu ha,
semua menambang pas di kawasan hulu.
>> > >
>>
> > Tahun-tahun berikutnya Tanah laut dan tanah Bumubu langganan
banjir.
>> > >
>> > > Dan ongkos banjir
ini tak sedikit. Dalam dua tahun terakhir, banjir
>> >
membuat
>> > > pasokan batubara untuk PLTU asam-asam
terganggu. Lokasi dan jalan ke
>> luar
>> > >
maupun masuk tambang terendam air setinggi satu meter. PLN akhirnya
>> > > menurunkan daya listriknya dan melakukan pemadaman
bergilir. Belum
>> lagi
>> > > kerugian akibat
rusaknya infrastruktur dan perekonomian desa-desa
>> korban
>> > > banjir.
>> > >
>> >
> Jika saja pemerintah disana tak malas menghitung, pasti ketemu
>> jumlah
>> > > defisit antara pemasukan hasil
kerukan batubara dengan besaran
>> kerugian
>> >
yang
>> > > dialami karena banjir.
>> >
>
>> > > Jika saja pemerintah berpikir panjang &ndash;
lebih panjang dari usia
>> jabatan
>> > >
mereka yang dipilih lewat Pemilu dan Pilkada. Pasti akan berpikir
>> ulang,
>> > > memilih  pertambangan - yang tak
terbarukan dan berumur pendek,
>> sebagai
>> >
> pilihan utama ekonomi daerahnya.
>> > >
>> > > Apalagi sebagian besar kerukan mineral dan batubara
itu digunakan
>> untuk
>> > > sebesar-besarnya
kebutuhan asing.
>> > >
>> > >
>> > >
>> > >
>> > > --
>> > >
>> > > "hidup adalah
perjuangan.ibadah yang tidak mengenal kalah atau
>> >
menang"
>> > >
>> >
>>
>
>> >
>> > --
>> > Mohammad
Syaiful - Explorationist, Consultant Geologist
>> > Mobile:
62-812-9372808
>> > Emails:
>> >
[EMAIL PROTECTED] (business)
>> >
[EMAIL PROTECTED]
>> >
>> > Technical
Manager of
>> > Exploration Think Tank Indonesia (ETTI)
>> >
>> >
>> >
>>
--------------------------------------------------------------------------------
>> > PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
>> > * acara utama:
27-28 Agustus 2008
>> > * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d
30 April 2008
>> > * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei
2008
>> > * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli
2008
>> > * abstrak / makalah dikirimkan ke:
>>
> www.grdc.esdm.go.id/aplod
>> > username: iagi2008
>> > password: masukdanaplod
>> >
>>
>
>> >
>>
--------------------------------------------------------------------------------
>> > PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
>> > *
pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
>> > *
penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung
>> >
AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!!
>> >
>>
>
>> >
>>
-----------------------------------------------------------------------------
>> > To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>> > To subscribe, send
email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>> > Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id
>> > Pembayaran iuran anggota
ditujukan ke:
>> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> > No. Rek: 123 0085005314
>> > Atas nama:
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>> > Bank BCA KCP.
Manara Mulia
>> > No. Rekening: 255-1088580
>>
> A/n: Shinta Damayanti
>> > IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>> >
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>> >
---------------------------------------------------------------------
>> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information
>> posted
>> > on
>> >
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
>> IAGI
>> > and
>> > its members be
liable for any, including but not limited to direct or
>> >
indirect
>> > damages, or damages of any kind whatsoever,
resulting from loss of
>> use,
>> > data or
>> > profits, arising out of or in connection with the use of
any
>> information
>> > posted
>> >
on IAGI mailing list.
>> >
---------------------------------------------------------------------
>> >
>> >
>> >
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
--------------------------------------------------------------------------------
>> PIT IAGI KE-37 (BANDUNG)
>> * acara utama: 27-28
Agustus 2008
>> * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April
2008
>> * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008
>> * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008
>> * abstrak / makalah dikirimkan ke:
>>
www.grdc.esdm.go.id/aplod
>> username: iagi2008
>>
password: masukdanaplod
>>
>>
>>
--------------------------------------------------------------------------------
>> PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011:
>> * pendaftaran
calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008
>> * penghitungan suara:
waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung
>> AYO, CALONKAN DIRI ANDA
SEKARANG JUGA!!!
>>
>>
>>
-----------------------------------------------------------------------------
>> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>> To subscribe, send email
to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id
>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> No. Rek: 123
0085005314
>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia
(IAGI)
>> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> No.
Rekening: 255-1088580
>> A/n: Shinta Damayanti
>>
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>>
---------------------------------------------------------------------
>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information
>> posted
>> on its mailing lists,
whether posted by IAGI or others. In no event
>> shall
>> IAGI and its members be liable for any, including but not
limited to
>> direct
>> or indirect damages, or
damages of any kind whatsoever, resulting from
>> loss
>> of use, data or profits, arising out of or in connection with
the use of
>> any
>> information posted on IAGI
mailing list.
>>
---------------------------------------------------------------------
>>
>>
> 


-- 
_______________________________________________
Nganyerikeun hate
batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada
ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.

Kirim email ke