Raffles hotel termasuk salah satu hotel mewah di Singapore. Dari luar
nampak seperti bangunan lama tetapi dalamnya sangat mewah.

Yang lebih menarik lagi, hotel ini terletak di jalan yang diberi nama
beach road karena memang dahulu hotel ini dekat sekali dengan pantai.

Sampai akhirnya sekarang hotel ini terletak beberapa ratus meter dari
pantai karena Singapore rajin "menguruk" negaranya untuk dapat diperluas
lagi. 

Kalo saja Hotel Oranje atau Hotel Yamato terawatt seperti Hotel Raffles
di Singapore.

 

Salam,

-ds-

 

-----Original Message-----
From: Sugeng Hartono [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, 09 July, 2008 5:43 AM
To: [email protected]; IAGI; Forum HAGI; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS
Subject: RE: [iagi-net-l] "The History of Java" (Thomas Stamford
Raffles, 1817)

 

Pak Awang,

Trimakasih atas penjelasannya mengenai buku The History of Java yang
legendaris, sehingga saya sudah mempunyai gambaran cukup jelas sebelum
membacanya. Buku tersebut (dari dua jilid digabung menjadi satu,dicetak
di Yogya) saya beli di Gramedia Cinere bbrp hari yll setelah sekian lama
mencarinya. Buku masih terbungkus rapi karena saya keburu berangkat ke
Siantang-1 (Jambi).

Saya suka berandai-andai, apa ya jadinya kalau kita dulu "diperintah"
oleh Raffles, bukan Belanda?

Kalau tidak salah, nama besar almarhum Raffles diabadikan untuk nama
bunga raksasa di Bengkulu (Rafflesia Arnoldi?). Saya rasa nama Raffles
mempunyai tempat khusus di Singapura.

Salam hangat,

sugeng

 

________________________________

 

From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Sent: Tue 7/8/2008 8:05 AM

To: IAGI; Forum HAGI; Geo Unpad; Eksplorasi BPMIGAS

Subject: [iagi-net-l] "The History of Java" (Thomas Stamford Raffles,
1817)

 

 

 

Ada satu buku yang sudah lama saya mencarinya. Buku itu saya dengar
untuk pertama kalinya 30 tahun yang lalu saat duduk di kelas 1 SMP
(1977). Buku itu adalah "The History of Java" (Thomas Stamford Raffles,
1817).  Ketika saya mulai mengumpulkan buku untuk membangun perpustakaan
pribadi dua tahun kemudian (1979), pada setiap kesempatan ke pasar loak
buku di Pasar Cihapit Bandung saya selalu mencari buku itu. Tak
terpikirkan sama sekali oleh saya saat itu bahwa kalau pun ada pun buku
itu pasti saya juga tak akan mampu membelinya. Sampai lulus kuliah
(1989) saya tak menemukan buku itu, kalau pun ada pasti tetap tak akan
mampu membelinya. Buku tua berangka tahun 1817 bisa dibayangkan berapa
juta rupiah harganya.

 

Setelah bekerja sekian belas tahun, pada setiap kesempatan mengunjungi
kios buku tua/antik yang koleksinya cukup lengkap (Taman Mini, Kuningan,
Pasar Senen, Jakarta atau toko buku antik yang biasa saya kunjungi kalau
kebetulan sedang berada di Adelaide, South Australia) buku ini pun tak
pernah ada. Memesannya kepada pedagangnya pun tak pernah berhasil. Saya
hampir mendapatkannya di Taman Mini, tetapi terlambat hanya beberapa jam
didahului oleh seorang pemburu buku tua lainnya. Mencari cetakan
ulangnya (Oxford University Press, 1965) kalau sedang kebetulan ke
Borders Book di Singapura atau pernah di London pun tak ada. Mungkin
mencari dan memesannya melalui Amazon.com bisa berhasil.

 

Lalu, Sabtu minggu lalu saya tiba-tiba diperhadapkan ke buku tebal ini
saat mengunjungi toko buku Gramedia di Bogor (!). Mencarinya di
kios-kios loak di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, ke toko buku antik di
Adelaide dan London, ke toko buku besar di Singapura - ternyata akhirnya
saya dapatkan tak jauh dari rumah saya. Hm...perasaan saya saat itu
sukar diperikan dengan kata-kata. Saya ingin memiliki dan membaca buku
ini sejak 31 tahun yang lalu, saat guru sejarah saya yang pintar
mendongeng bercerita tentang Thomas Stamford Raffles. Barangkali bisa
dipahami kalau menjadi sebuah obsesi lebih dari separuh umur saya sampai
saat ini.

 

Yang saya temui di Gramedia tentu bukan buku aslinya yang bertahun 1817,
bukan pula cetakan-cetakan ulangnya, tetapi adalah terjemahannya. Saya
memang menyukai buku-buku kuno, tetapi isi buku buat saya lebih penting.
Buku kalau tidak dibaca dan dipelajari tak berfungsi sebagai buku yang
akan memintarkan yang membacanya. Maka, buku terjemahan ini untuk saya
sama berharganya dengan buku aslinya. Memang nilai keantikannya tidak
ada sebab ini buku cetakan baru (akhir April 2008), tetapi isinya tetap
antik dan seberharga aslinya. Buku terjemahan Raffles (1817) ini dicetak
dengan jilid keras, kertas HVS 70 gram, kualitas cetakan bagus,
reproduksi gambar jelas. Tebal buku 904 halaman ditambah 36 halaman
pengantar. Ukuran buku lebih besar dari rata-rata buku. Harga buku : Rp
180.000.

 

Buku Raffles (1817) ini diterjemahkan oleh tiga orang penerjemah dan dua
orang penyunting. Buku diterbitkan oleh Penerbit Narasi, Yogyakarta.
Sepengamatan saya, belakangan ini di Yogyakarta banyak bermunculan
penerbit-penerbit buku baru, belum terkenal namanya, tetapi menerbitkan
karya asli maupun terjemahan yang baik, mungkin dilatarbelakangi suasana
akademik kota Yogyakarta. Penerbitan penerjemahan buku Raffles (1817)
dalam bahasa Indonesia patut kita sambut dengan gembira. Para penikmat
sejarah dengan buku ini akan dibawa ke masa hampir 200 tahun yang lalu. 

 

Memang, tak diragukan lagi, buku History of Java telah menjadi salah
satu sumber sejarah paling awal dan paling penting untuk mengetahui
kehidupan masyarakat Jawa pada masa lalu. Raffles yang sangat terobsesi
dengan eksotisme dunia Jawa merekam dengan sangat baik dan detail
keragaman dan keunikan tanah Jawa dan penduduknya serta segala
budayanya.

 

Buku asli Raffles (1817) sebenarnya terdiri atas dua volume. Volume
pertama merupakan uraian inti tentang Jawa secara lengkap. Volume kedua
berisi informasi tambahan dan lampiran-lampiran. Di dalam terjemahan
ini, kedua volume telah disatukan menjadi satu buku.

 

Karier awal Raffles (1781-1826) sebagai juru tulis sebuah perusahaan
Hindia-Timur (1795) memberikan latar belakang ketekunannya sebagai
penulis. Di samping itu, menurut sebuah biografi, Raffles dikenal
sebagai seorang yang tekun, rajin belajar, ulet, dan berkemauan keras.
Tanpa itu semua mustahil mahakarya "The History of Java" akan selesai
dikerjakannya. Raffles mempunyai semua syarat sebagai penghasil
mahakarya (masterpiece).

 

Raffles berada di Jawa pada 1811-1816, pertama kali sebagai Lieutenant
Governor of Java yang bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal Inggris
di India yaitu Lord Minto (nama aslinya Sir Gilbert Elliot
Murray-Kynynmond). Tahun 1814 Lord Minto meninggal dunia dan Raffles
menjadi Gubernur Jenderal di Jawa sampai 1816. Saat Jawa kembali ke
tangan Belanda, Raffles tengah menggagas dan mengerjakan proyek
arkeologi dan botani di Jawa. Kemudian sampai tahun 1823 Raffles menjadi
Gubernur di Bengkulu. Beberapa wilayah di Sumatra (Belitung, Bangka dan
Bengkulu) memang berdasarkan suatu perjanjian tak diserahkan ke tangan
Belanda.

 

Hati Raffles sebenarnya telah tertambat dengan Jawa dan ia benci Belanda
kembali berkuasa di Jawa. Tahun 1819 Raffles menggagas pusat perdagangan
di  Pulau Singapura dalam kerja sama dengan Tumenggung Sri Maharaja
penguasa Singapura. Inggris diizinkan mendirikan koloni di Singapura
dengan syarat Inggris melindungi para pedagang Singapura dari Belanda
dan Bugis. Raffles bersumpah Singapura akan dijadikan koloni baru yang
meskipun kecil, namun akan jauh lebih maju dari Tanah Jawa yang dikuasai
Belanda. Sumpah Raffles terwujud. Singapura menjadi pusat perdagangan
paling penting di wilayah Hindia Timur, sampai kini.

 

Karena situasi politik, tahun 1823 Raffles meninggalkan Indonesia
(Bengkulu) dan tiga tahun kemudian meninggal dunia sehari sebelum ulang
tahunnya yang ke-45. Meskipun ia meninggal dalam usia yang masih
tergolong muda, telah banyak jejak yang ditinggalkan Raffles terutama
dalam karya-karya ilmu pengetahuan alam dan sejarah Jawa dan Sumatra.
Adalah Raffles yang menggagas pendirian Kebun Raya Bogor dan membantu
botanist Prof. Reindwardt (Belanda) dengan ahli2 dari Inggris untuk
menyelesaikannya dan meresmikannya pada tahun 1817. Kebun Raya dan kebun
binatang di Singapura yang terkenal itu juga didirikan oleh Raffles.
Adalah atas prakarsa Raffles juga warisan budaya Jawa digali dan
ditemukan : Candi Borobudur (1814), Candi Panataran (1815), Candi
Prambanan (1815). Begitu besar perhatiannya pada sastra dan budaya
setempat membuat Raffles mendirikan Museum Etnografi Batavia. Raffles
pun sebagai administrator pemerintahan di Jawa dan Bengkulu banyak

 meninggalkan sistem-sistem pemerintahan seperti pembagian karesidenan,
sistem pajak, dsb.

 

Semua jejak dan karya Raffles terekam dalam buku History of Java. Buku
ini adalah referensi komprehensif tanah Jawa. "Buku ini benar-benar
penting...Kombinasi antara teks yang secara ilmiah begitu orisinal
dengan sejumlah ilustrasi yang indah,...berkualitas tinggi, sebuah
mahakarya...yang dihasilkan oleh pengamatan langsung penulisnya terhadap
tradisi dan lingkungan Jawa", begitu tulis Bastin dan Brommer (1979)
dalam bukunya "Nineteenth Century Prints and Illustrated Books of
Indonesia" - sebuah buku yang membahas buku-buku tentang Indonesia yang
terbit pada abad ke-19.

 

Secara garis besar, Raffles membagi bukunya ke dalam 11 Bab, sebagai
berikut :

 

Bab 1 : Kondisi Geografis Pulau Jawa (termasuk di dalamnya keterangan
geologi)

Bab 2 : Asal Mula Penduduk Asli-Jawa

Bab 3 : Pertanian di Jawa

Bab 4 : Manufaktur  (Industri) di Jawa

Bab 5 : Perdagangan di Jawa

Bab 6 : Karakter Penduduk di Jawa

Bab 7 : Adat Istiadat Penduduk di Jawa

Bab 8 : Bahasa dan Sastra

Bab 9 : Agama

Bab 10 : Sejarah dari Awal-Munculnya Islam

Bab 11 : Sejarah dari Munculnya Islam-Kedatangan Inggris

 

Lampiran-lampirannya ada 12 (Lampiran A-M), sebagai berikut :

 

Lampiran A : Kemunduran Batavia

Lampiran B : Perdagangan dengan Jepang

Lampiran C : Terjemahan versi moderen Suria Alem (sebuah karya sastra)

Lampiran D : Hukum pada Pengadilan Propinsi di Jawa

Lampiran E : Perbandingan kosakata bahasa-bahasa suku di Jawa dan
sekitarnya

Lampiran F : Cerita Pulau Sulawesi dan perbandingan kosakata
bahasa-bahasa suku

Lampiran G : Angka-angka Candra Sengkala

Lampiran H : Terjemahan Manik Maya

Lampiran I : Terjemahan huruf prasasti Jawa dan Kawi Kuno

Lampiran J : Pulau Bali

Lampiran K : Instruksi Pajak

Lampiran M : Memorandum tentang berat, ukuran, dll.

 

Dapat dilihat bahwa cakupan pembahasan Raffles komprehensif.
Keterangan-keterangan dalam teks-nya dilengkapi dengan catatan-catatan
kaki yang detail. Referensi berhubungan pada zamannya digunakannnya
untuk memperkaya keterangan.

 

Sedikit kutipan yang menyangkut geologi saya tuliskan di sini, yaitu
tentang gununglumpur Bledug Kuwu. Demikian tulis Raffles. "Beberapa
objek yang tidak dikenal, yang hanya dapat dilihat dengan penjelasan
tertentu, adalah ledakan-ledakan lumpur, terletak di antara distrik
Grobogan di barat, dan distrik Blora serta Jipang di timur. Penduduk
lokal menyebutnya Bledeg, dan Dr.Horsfield menyebutnya sumur garam.
Sumur garam ini menyebar ke seluruh distrik dengan aliran seluas
beberapa mil, dan dasarnya seperti banyak ditemukan di beberapa tempat
yang ada aliran air tawar, akan menjadi batu kapur..." (keterangannya
masih panjang).

 

Raffles juga membahas tentang rembesan-rembesan gas dan minyak (jauh
lebih awal daripada pemetaan sistematik pertama rembesan minyak dan gas
oleh Belanda pada tahun 1850), tentang mineral dan bahan tambang.

 

Saat Raffles memerintah di Jawa terjadilah letusan gunungapi dengan
energi terbesar di dunia dalam masa sejarah manusia : Tambora 1815 di
Sumbawa. Dan, Raffles sangat detail menggambarkan peristiwa letusannya
sampai efek-efek kerusakannya. Saya belum pernah menemukan keterangan
lain sedetail keterangan Raffles tentang saat-saat letusan dahsyat
Tambora tersebut. Orang harus mengacu kepada buku Raffles untuk
mengetahui saat-saat letusan Tambora 1815.

 

Demikianlah sekilas memperkenalkan The History of Java (Raffles, 1817),
sebuah buku tentang Jawa yang sangat berharga. Walaupun ditulis 191
tahun yang lalu, selalu ada hal-hal yang berharga yang bisa dipelajari
daripadanya untuk kepentingan masa kini.

 

Saat meninggalkan Jawa dan Sumatra, Raffles menangis meratapi alam dan
penduduk yang dicintainya, yang dihentikannya dari perbudakan, yang
digambarkannya sebagai "orang pribumi yang tenang, sedikit berpetualang,
tidak mudah terpancing melakukan kekerasan atau pertumpahan darah".

 

"I believe there is no one possessed of more information respecting Java
than myself." (Thomas Stamford Raffles, 1817).

 

Mari kita cintai bumi tempat kita berpijak, terlebih lagi karena kita
adalah orang Indonesia. 

 

Salam,

awang

 

 

      

 

Kirim email ke