Oki Jangan pesimis gitu dong. Siapa bilang karier geoscientist sempit dan terbatas. Lihat di Pertamina, Medco dan EMP 60% pimpinannya berasal dari latar belakang geosciences, jelas ini bukan kebetulan dan nasib. Dan jangan lupa di BPMigas pun demikian. Kalau di KPS asing setahu saya utk posisi tertinggi masalah ras saja yg menentukan tapi semua disiplin bisa mendapatkan kesempatan yg sama dibidangnya masing2, jaranglah ada orang PE bisa jadi exploration manager.... Reach for the sky Ki...
Witan -----Original Message----- From: oki musakti [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, August 17, 2008 9:03 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] Sekolah:Training:Kerja = 10:20:70 Mengutip Pak Awang: ---- "Maka sering ditemui bahwa seorang geosaintis berpengalaman 15 tahun dengan seorang PE berpengalaman sama, biasanya si geosaintis mungkin hanya 1-2 kali berubah posisi tetapi masih di rumpun geosains, sementara si PE mungkin sudah 5 kali dengan rumpun yang berbeda-beda. Ketika lembaga tersebut membutuhkan seorang GM (general manager), maka si PE yang pengalamannya banyak dan variatif akan lebih dilirik dibandingkan si geosaintis yang pengalamannya sangat dalam tetapi sempit di situ-situ juga."---- Saya pribadi percaya ada sedikitnya satu variabel penting lagi dalam kasus di atas : Perbedaan waktu untuk mencapai pendalaman optimal antara ilmu yang 'eksak' dengan ilmu alam (natural science) yang berdasarkan observasi. Pada natural science seperti geologi , untuk bisa dibilang ahli seorang perlu mengamati, menyerap, menganalisa berbagai fenomena dan mensintesakannya kedalam begitu banyak model. Coba amati seorang Henry Posamentier, Pak Kusuma atau pak Awang. Berapa banyak model geologi yang ada di kepala mereka hasil mempelajari begitu banyak singkapan, core atau seismic section yang untuk mengakumulasikannya perlu waktu ber-tahun-tahun. Jarang geologist yang punya kesempatan field trip ke basin yang berbeda lebih dari 2 kali setahun misalnya.... Beda dengan ilmu pasti model matematika, fisika atau engineering (rumusnya pasti-pasti). Dengan beragam penyederhanaan, variasi aplikasi untuk berbagai kondisi relatif lebih sedikit dibanding yang terdapat di alam. Contohnya, untuk seorang engineer Formula Archie yang sama bisa menjadi basis penghitungan saturasi untuk beberapa formasi batupasir tidak peduli apakah diendapkan di fluvial, delta atau laut dalam asalkan hasilnya cocok dengan hasil pengukuran dari core atau DST. Bandingkan dengan seorang geologist yang masih harus pusing menentukan di bagian mana dari delta sand ini berasal, model delta macam apa yang harus dipakai dan lain-lain. Asumsikan seorang engineer dan geologist yang sama-sama lulus kuliah dan mulai bekerja pada usia 25 tahun. Pada saat menginjak usia 30 an , geologist kemungkinan baru mulai mengakumulasikan berbagai observasi geologinya sedangkan si engineer bisa jadi sudah 'ngelotok' dalam disiplinnya dan mulai mencari tantangan lain. Saat si Geologist mencapai 'puncak' pendalaman pada usia 40 an, kebanyakan engineer sudah sukses memegang beberapa jabatan. Jadi seperti yang pak Awang bilang, tentunya si engineer ini akan lebih terlihat kinclong dibanding the poor geologist. Just my 2 cent Salam Oki --- On Fri, 8/15/08, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] Sekolah:Training:Kerja = 10:20:70 To: "[email protected]" <[email protected]>, "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>, "Geo Unpad" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Friday, August 15, 2008, 2:38 PM Ulasan yang bagus, Pak Rovicky, terima kasih. Saya percaya dengan rasio 7:2:1 untuk work experience : training : formal education yang akan mempengaruhi posisi dan karier seseorang di dunia industri. "Bekerja sambil belajar dan belajar sambil bekerja" saya kira juga efektif dalam meninggikan kualitas pekerjaan. "Bekerja sambil belajar" artinya kita memperkaya pekerjaan kita sehari-hari dengan masukan-masukan keilmuan yang kita pelajari dari buku-buku atau informasi lainnya. "Belajar sambil bekerja" artinya menerapkan apa yang kita pelajari kepada pekerjaan kita sehari-hari. Saya pikir akan berbeda kualitas pekerjaan seseorang yang apa adanya dengan kualitas pekerjaan seseorang yang diperkaya secara keilmuan. Di dalam hal ini, tripartit work experience : training : formal education saling berintegrasi untuk menghasilkan pekerjaan yang bagus. Saya pikir kualitas seseorang akan ditentukan oleh pengalaman kerjanya bukan oleh pendidikan formal atau pelatihan yang telah dilaluinya. Maka, wajar untuk pengalaman kerja diberikan 70 % sebagai bagian rasio. Hanya kesulitan dalam pengalaman pekerjaan yang menantang seseorang sehingga ia akan lebih paripurna, bukan tingginya pendidikan. Tentang variabilitas pengalaman. Pengamatan saya menunjukkan bahwa kita para geosaintis agak sulit untuk mau ditempatkan di posisi-posisi yang non-geosains. Seorang teman geosaintis yang kariernya tak naik-naik karena senioritas ditawari posisi manajer di tempat lain, tetapi bukan posisi geosains, melainkan sumberdaya manusia, ia langsung menolak. Sementara, banyak teman petroleum engineer yang duduk di berbagai posisi, mulai dari keuangan, logistik, sumberdaya manusia, operasi, sampai engineering sendiri. Maka sering ditemui bahwa seorang geosaintis berpengalaman 15 tahun dengan seorang PE berpengalaman sama, biasanya si geosaintis mungkin hanya 1-2 kali berubah posisi tetapi masih di rumpun geosains, sementara si PE mungkin sudah 5 kali dengan rumpun yang berbeda-beda. Ketika lembaga tersebut membutuhkan seorang GM (general manager), maka si PE yang pengalamannya banyak dan variatif akan lebih dilirik dibandingkan si geosaintis yang pengalamannya sangat dalam tetapi sempit di situ-situ juga. Specialist = know everything about nothing Generalist = know nothing about everything Kita mau memilih yang mana ? Know everything about everything ? Hm.. Salam, awang --- On Thu, 8/14/08, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Forum-HAGI] Sekolah:Training:Kerja = 10:20:70 To: "migas indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>, "[email protected]" <[email protected]>, "Forum HAGI" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED] Date: Thursday, August 14, 2008, 6:31 PM Sekolah:Training:Kerja = 10:20:70 14 Agustus 2008 at 5:08 pm | In RuPa-RupI http://rovicky.wordpress.com/2008/08/14/sekolahtrainingkerja-102070/ Kemarin siang kebetulan ada presentasi di kantor tentang peranan sekolah (formal education), training dan tugas kerja dalam menentukan posisi dan karier seseorang. Ada rumus jempol yang menarik bahwa ketiga hal itu memberikan peranan penting dalam posisi dan karier seseorang. Tahukah anda berapa prosentasenya ? * 70 % pekerjaan * 20 % training * 10 % sekolah (formal education) Jadi peranan sekolah formal diperkirakan hanya menyokong 10% dari keseluruhan hasil akhir posisi anda yang sudah bekerja saat ini. Training atau kursus mungkin hanya 20% berperan. Kenapa ? Barangkali karena yang diperoleh lewat kursus tidak selalu berhubungan dengan pekerjaan sehari-hari. :( "Apalagi kalau kursusnya di Bali atau Jogja ya Pakdhe. Banyak jalan-jalannya, tapi kan perlu refreshing ta?" Jadi betul apa yang sering kawan-kawan denger beberapa waktu lalu, bahwa untuk mereka-mereka yang "experienced" banyak ditentukan posisinya oleh pekerjaan yang dikerjakan selama dalam pekerjaan kantor ini. Yang penting pengalaman ! OK ambil rata-rata saja ini terutama bagi mereka yang memiliki lama pengalaman kerja sekitar 10 tahun !. Kalau masih baru masuk kerja tentusaja harus ikutan training dan konsentrasi kalau ikutan training atau kursus. == Konsentrasi saja di 70%.! == Bagi yang sudah lulus .... Nah ternyata pengalaman kerja yang 70% ini sangat tergantung dari jenis pekerjaan, assignment, dan tanggung jawab (authorities) yang diberikan. Harus diketahui juga, bukan berarti yang sudah bekerja selama 10 tahun selalu lebih bagus dari yang 5 tahun looh. Saya selalu memberikan contoh orang yang membuat peta struktur dari 2D seismik. Kalau satu set peta (terdiri beberapa horizon) diseleseikan dalam 5 tahun dan dikerjakan selama 5 tahun terakhir sama saja orang perpengalaman 1 tahun diulang 5 kali. Masih lebih baik orang yang bekerja berbagai macam perkerjaan analisa akuisisi data seismik, analisa data sumur, dan termsuk membuat peta satu set. Contoh lain insinyur yg mampu membuat design satu mobil mobil dalam satu tahun penuh, Kalau dikerjakan terus-terusan selama 7 tahun, namanya pengalaman setahun diulang 7 kali ! Masih lebih bagus yang dalam tujuh tahun mengerjakan beberapa design mobil, design dongkrak, dan design pompa dll. Artinya "diversity" pekerjaan, macam ragam pekerjaan jauh lebih berarti dalam menentukan posisi karier seseorang saat ini. Jadi ngapain kok disitu terus ... ?? wupst !! Bagi yang belum lulus sekolah Yang tidak dibahas kemarin itu bagaimana bagi yang fresh graduate atau lulusan baru atau yang masih sekolah. Memang yang katanya nantinya menentukan karier yang hanya 10% ini sangat-sangat menentukan anda diterima kerja pada waktu awal saja. Artinya kalau anda IPK-nya juga pas-pasan, jangan kecil hati kalau tidak dipanggil interview. Anda memang memerlukan lebih banyak usaha, namun barangkali dalam konsentrasi terbalik !. Bagi yang fresh graduate ketika akan memasuki pekerjaan menurutku akan menjadi terbalik prosentase yang akan mempengaruhinya, Coba konsentrasikan dengan formula dibawah ini : * 70 % sekolah (formal eduaction) IPK, matakuliah yang berhubungan, dll * 20 % kursus, ketrampilan, organisasi dll. * 10 % Kerja Praktek, KKN, mroyek dengan dosen, dll Jadi kalau anda saat ini masih sekolah cobalah membagi kegiatan menjadi 70% untuk sekolah, 20% ikutan kursus diluar, dan 10% untuk mencoba-coba cari kerja. :( "Hadduh Pakdhe, kegiatan pacarannya masuk prosentase dimana doonk ?" kalau mau ikutan diskusi ttg hal ini, sila kesini http://rovicky.wordpress.com/2008/08/14/sekolahtrainingkerja-102070/ -- http://rovicky.wordpress.com/ Telling the truth is important Telling the positive is better !!! _______________________________________________ Pertemuan Ilmiah Tahunan HAGI ke-33 "Geohazard : A Challenge for Geophysics" 3 - 5 November 2008 Hyatt Regency Hotel, Bandung, Jawa Barat _______________________________________________ The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list. [EMAIL PROTECTED] www.hagi.or.id -------------------------------------------------------------------------------- PIT IAGI KE-37 (BANDUNG) * acara utama: 27-28 Agustus 2008 * penerimaan abstrak: kemarin2 s/d 30 April 2008 * pengumuman penerimaan abstrak: 15 Mei 2008 * batas akhir penerimaan makalah lengkap: 15 Juli 2008 * abstrak / makalah dikirimkan ke: www.grdc.esdm.go.id/aplod username: iagi2008 password: masukdanaplod -------------------------------------------------------------------------------- PEMILU KETUA UMUM IAGI 2008-2011: * pendaftaran calon ketua: 13 Pebruari - 6 Juni 2008 * penghitungan suara: waktu PIT IAGI Ke-37 di Bandung AYO, CALONKAN DIRI ANDA SEKARANG JUGA!!! ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

