ini susunan acaranya "ngindonesia" banget.....sambutannya hampir sama proporsinya dengan diskusinya sendiri...:-)
----- Original Message ---- From: Hendratno Agus <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, September 11, 2008 1:46:11 PM Subject: Re: [iagi-net-l] RE: Ini mestinya Geowisata ? Geopark Rinjani Pengemasan / obyek-obyek yang mengandung keunikan geodiversity (termasuk di dalamnya proses geologi yang aktiv) sebagaimana erupsi gununglumpur di Kradenan, menjadi obyek geowisata yang andalan bagi pemerintah setempat atau ber-efek bagi pelaku usaha jasa wisata atau malahan masyarakatnya, adalah hal yang tidak mudah. Dari sisi keilmuan maupun akademik, hal tersebut mudah dilakukan untuk mendapatkan pemahaman dari sisi teknis kegeologian, sisi budaya / legenda yang mengikuti / menempel dari keberdaan fisik proses geologi / material geologi (sering kami sebut dengan term "etno-geologi"), dan sebagian sudah sering diungkap atau dipublish oleh p.Awang karena ketekunan dan ketajamannya dalam mencermati alur geologi dan alur budaya. Hal yang tidak mudah adalah meng-edukasi proses-proses tersebut sehingga layak jual.. Hal ini disebut juga dengan "eskplorasi geowisata". Termasuk bagaimana meyakinkan pemda, biro travel, skema organisasi pengembang geowisata di tingkat pemda / lokal. Ini yang tidak mudah dan membutuhkan energi yang besar. Ada beberapa kawan geologist yang secara pelan-pelan melakukan proses ini, berkampanye dimana-mana, cari sponsor dimana-masa, sehingga bisa menyakinkan para pemangku kepentingan yang terkait dengan destinasi pariwisata berbasis geologi ini, dan kemudiaan mendatangkan dollars bagi pemerintah juga masyarakat lokal di sekitarnya. Contohnya, kang Heryadi Rahmat (geologist di Pemda NTB yang juga aktivis IAGI NTB). Hampir 10 tahun, kang Heryadi Rahmat meyakinkan kepada publik baik secara ilmiah maupun secara regulasi tentang geowisata vulkanik (sumberdaya wisata minat khusus yang berbasis pada proses dan produk kegunung-apian, termasuk sampai pada sisi etnik-nya / paleo-culture di lereng tambora) NTB. Jerih payah kang Heryadi yang juga didukung banyak geologistnya lainnya akhirnya sampai pada suatu keputusan besar : untuk mengangkat Gunung Rinjani di Lombok sebagai taman Geopark melalui skema UNESCO sebagai Geological landscape Heritage. Tanggal 17 September 2008 nanti di Mataram NTB akan dilangsungkan Diskusi Nasional Geopark Gunung Rinjani Lombok oleh : IAGI NTB bekerjasama dengan Pemda NTB, Dephut, Dep.Budpar, Badan Geologi ESDM, PP-IAGI, LPPM-ITB, PT Newmont Nusa Tenggara dan Badan Pembina Trekking Rinjani. Berikut jadwalnya : SUSUNAN ACARA DISKUSI NASIONAL GEOPARK GUNUNG RINJANI LOMBOK-NTB Hotel Lombok Raya, Mataram 17 September 2008 No. Waktu Kegiatan Pembicara Moderator 1. 08.00-08.30 Persiapan Acara Panitia 2. 08.30-08.40 Laporan Ketua Panitia DR. Didi S. Agustawijajya MC 3. 08.40-08.45 Do’a Denan, SE MC 4. 08.45-08.55 Sambutan PP IAGI DR. Ir. Lambok Hutasoit MC 5. 08.55-09.05 Sambutan Kepala LPPM-ITB Prof.DR.Emmy R. Suparka MC 6. 09.05-09.15 Sambutan Dirjen PHKA Ir. Darori, MM MC 7. 09.15-09.25 Sambutan Dirjen Destinasi Ir. Firmansyah Rahim, MM MC 8. 09.25-09.40 Sambutan Gubernur NTB sekaligus membuka acara Menunggu Konfirmasi MC 9. 09.40-10.00 Penyerahan Cinderamata, Foto-foto & Conferensi Pers Disesuaikan MC 10. 10.00-10.15 Istirahat MC 11. 10.15-10.25 Persiapan diskusi Seluruh Pembicara & undangan Heryadi 12. 10.25-10.40 Geopark di Dunia DR.Ir. Y. Yunus Kusumahbrata M.Sc Heryadi 13. 10.40-10.55 Geowisata NTB Ir.. Igan S.Sutawidjaja, M.Sc & DR. Indyo Pratomo Heryadi 14. 10.55-11.10 Geopark Gunung Rinjani DR.Ir.Budi Brahmantyo, M.Sc Heryadi 15. 11.10-12.10 Diskusi Seluruh Undangan Heryadi 16. 12.10-12.20 Pembacaan Rekomendasi DR. Didi S. Agustawijaya MC 17. 12.20-12.30 Penutupan Dirjen MC Nah,bagaimana dengan obyek-obyek geo lainnya............, salam, agus hendratno ----- Original Message ---- From: Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> To: IAGI <[email protected]> Cc: Geo Unpad <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, September 10, 2008 9:07:11 AM Subject: [iagi-net-l] RE: Ini mestinya Geowisata ? Pak Kamsyadi, Beberapa tahun lalu saat saya ikut sosialisasi rencana sebuah pemboran eksplorasi di Kabupaten Grobogan, juga meninjau semburan gas baru di utara Sragen, yaitu Wirosari, saya pernah mengobrol dengan Bupati Grobogan soal beberapa objek geo-wisata di Kabupaten Grobogan khususnya Bledug Kuwu dan Mrapen. Saat itu ada keinginan dari pihak kabupaten untuk menjadikan semburan gas Wirosari sebagai pengganti Api Abadi Mrapen yang kelihatannya apinya tak akan abadi. Api Abadi Mrapen adalah semburan gas yang muncul oleh suatu patahan. Saya pikir tanpa keterlibatan geologist pun, objek2 geologi ini sangat kasat mata, terutama Bledug Kuwu, sehingga akan tetap dijadikan wisata andalan kabupaten. Tetapi benar bahwa geologists akan menambah nilai objek2 ini untuk pemahaman fenomena kebumian bagi masyarakat. Misalnya, untuk Bledug Kuwu, kita bisa menyumbang informasi2 kepada kabupaten tentang fenonema gununglumpur di wilayah ini juga di seluruh wilayah Kendeng Deep. Akan halnya Joko Linglung dan Ajisaka serta Medang Kamulan, cerita rakyat ini tetap bermanfaat untuk geologist, yaitu untuk memahami kapan kira2 Bledug Kuwu mulai terjadi - mungkin pada tahun 700-an Masehi bila latar belakangnya Medang Kamulan dan Ratu Sima - sama seperti saya meyakini bahwa cerita rakyat Timun Mas dianggit rakyat pada zaman Jenggala untuk menjelaskan fenomena gununglumpur pada masa itu, masih di Kabupaten Sidoarjo. Salam, awang -----Original Message----- From: Kamsyadi Chairul Akbar [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, September 10, 2008 7:56 C++ To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] Ini mestinya Geowisata ? Minimal 6 dari 9 Obyek Wisata Andalan Grobogan Grobogan ini ada hubungannya dengan Geology. Apakah ada salah satu dari kita [Geologist/IAGI] yang ikut berperan di sini ? Kalau ada, sungguh menarik kalau bisa sharing pengalamannya di Mailing list ini. Terima kasih Kompas.com Sembilan Obyek Wisata Andalan Grobogan Sabtu, 6 September 2008 | 06:06 WIB GROBOGAN, SABTU - Kabupaten Grobogan kini memiliki sembilan objek wisata andalan. Kesembilan obyek wisata itu perlu ditawarkan kepada investor sehingga bisa untuk memacu pendapatan asli daerah. Wakil Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Grobogan, Agus Ssiswato, Kamis (4/9), mengatakan, sembilan objek wisata itu sudah diprofilkan melalui video visual dan cukup representatif ditawarkan kepada investor untuk mengelola objek wisata di daerah ini. Menurut dia, kendati objek wisata di daerahnya cukup potensial, namun belum bisa menghasilkan pendapatan secara maksimal, hal ini terbukti tiga tahun terakhir ini pendapatan sektor pariwisata masih minim. Sembilan objek wisata di Grobogan yang potensial unuk digarap maksimal yakni Bledug Kuwu, Waduk Kedung Ombo, Goa Macan dan Goa Lawa, air terjun Widuri, Api Abadi Mrapen, Makam Ki Ageng Selo, Ki Ageng Joko Tarub, dan Ki Ageng Lembu Peteng. Obyek wisata alam dan religius ini, menurut dia, masih menjadi andalan. "Mudah-mudahan dengan mengemas profil melalui video visual ini akan bisa mampu menarik investor," katanya. Ia menjelaskan kawasan objek wisata Bledug Kuwu di Kradenan seluas 6 hektare ini memiliki keunikan, karena letupan lumpur setinggi delapan meter dan mengandung air garam bisa bermanfaat untuk bahan pembuatan garam dengan kualitas yang baik. Bahkan, konon ceritanya adanya Bledug Kuwu disebabkan lobang yang menghubungkan tempat Bledug Kuwu dengan Samudra Selatan, karena zaman dahulu Joko Linglung anak dari Aji Soko yang berujud ular naga melakukan perjalanan dari Laut Selatan menuju kerajaan Modang Kamolan melalui bawah tanah, sehingga muncul lumpur di Kerajaan Modang Kamolan tersebut. Objek wisata itu cukup menarik apabila dikelola profesional. Untuk itu, ia berharap ada investor yang tertarik menanamkan modalnya mengelola objek wisata di Grobogan, kendati saat ini pendapatan sektor pariwisata masih minim, Ia menyebutkan, pendapatan sektor pariwisata tahun 2004 hanya mampu menghasilkan Rp50 juta, tahun 2005 meningkat menjadi Rp63 juta dan tahun 2006 menghimpun masukan Rp65 juta. Padahal, setiap tahun melalui APBD Kabupaten Grobogan dianggarkan dana sekitar Rp100 juta untuk merawat objek wisata. MBK Sumber : Ant

