http://desdm.go.id
Kilas Balik Sejarah Pertambangan dan Energi Di Indonesia

KAMIS, 16 OKTOBER 2008 05:00 WIB
 BANDUNG. Sejarah pertambangan dan energi di Indonesia dimulai dengan
kegiatan pertambangan yang dilakukan secara tradisional oleh penduduk dengan
seizin penguasa setempat. seperti, Raja, ataupun Sultan.

Pada tahun 1602 Pemerintah Belanda membentuk VOC , mereka selain menjual
rempah-rempah juga mulai melakukan perdagangan hasil pertambangan, pada
tahun 1652 mulailah dilakukan penyelidikan berbagai aspek ilmu kealaman oleh
para ilmuwan dari Eropa. Pada tahun 1850 Pemerintah Hindia Belanda membentuk
*Dienst van het Mijnwezen* (Mijnwezenn-Dinas Pertambangan) yang berkedudukan
di Batavia untuk lebih mengoptimalkan penyelidikan geologi dan pertambangan
menjadi lebih terarah.

Menjelang tahun 1920, sesuai dengan rencana Pemerintah Hindia Belanda
menjadikan Bandung sebagai ibukota Hindia Belanda, maka dilakukan persiapan
untuk memindahkan kantor *Mijnwezen* ke Bandung. *Departement Burgerlijke
Openbare* *Werken* (Departemen Pekerjaan Umum) yang membawahi Mijnwezen dan
menempati Gedung Sate. Pada tahun 1922, lembaga Mijnwezen ini berganti nama
menjadi *Dienst van den Mijnbouw*.

Pada Tahun 1928 Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun gedung Geologisch
Laboratorium yang terletak di jalan *Wilhelmina Boulevard* untuk kantor *Dienst
van den Mijnbouw* dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929. selanjutnya
gedung ini dipergunakan untuk penyelenggaraan sebagian dari acara *Pacific
Science Congress* ke IV. Gedung ini sekarang bernama Museum Geologi, yang
berlamat di jalan Diponegoro No. 57 Bandung.

Selama Perang Dunia ke II, kerap dipergunakan sebagai tempat
pendidikan *Assistent
Geologen Cursus *(Kursus Asisten Geologi), dengan peserta hanya beberapa
orang saja diantaranya, Raden Soenoe Soemosoesastro dan Arie Frederik Lasut.
Dua orang peserta pribumi itulah yang kemudian menjadi pegawai menengah
pertama di kantor Mijnbouw sejak tahun 1941 yang dikemudian hari menjadi
tokoh perjuangan dalam membangun kelembagaaan tambang dan geologi nasional.

Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), Mijnbouw dengan segala sarana dan
dokunennya diambilalih oleh Jepang dan namanya diganti menjadi Chisitsu
Chosasho. Kantor Chisitsu Chosasho tidak dapat berbuat banyak karena
ketiadaan tenaga ahli dan anggaran. Tenaga aWl Belanda pada awalnya masih
dipertahankan tetapi kemudian diinternir, kecuali mereka yang diperlukan
oleh Jepang.

Proklamasi Kernerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agurus 1945 mengantarkan
perubahan yang sangat besar di segala bidang, termasuk bidang pertambangan.
Setelah disiarkan melalui radio. berita tentang proklamasi dapat diterima
secara luas oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Pegawai pribumi di kantor
Chisitsu Chosasho yang sebagian besar masih muda, menerima berita itu dan
mereka langsung mempersiapkan diri untuk mengambil Iangkah yang diperlukan.

Pada tanggal 25 September 1945 keluarlah pengumuman dan Pemerintah Pusat
yang menyatakan bahwa semua pegawai negeri adalah pegawai Republik.
Indonesia dan wajib menjalankan perintah dari Pemerlntah Republik Indonesia.
Dengan mengacu kepada perintah Pemerintah Pusat itu Komite Nasional
Indonesia Kota Bandung yang baru terbentuk, pada tanggal 27 September 1945
malam mengumumkan lewat radio agar keesokan harinya semua kantor dan
perusahaan yang ada di Bandung diambil alih dari kekuasaan Jepang. .

Pada hari Jumat pukuI 11.00 tanggal 28 September 1945, sekelompok pegawai
muda di kantor Chisitsu Chosasho pun bertindak, mereka dipe1opori oleh Raden
Ali Tirtosoewirjo. A.F. Lasut. R. Soenoe Soemosoesastro dan Sjamsoe M.
Bahroem yang mengambil alih dengan paksa kantor Chisitsu Chosasho dari pihak
Jepang, dan sejak saat itu nama kantor diubah menjadi Poesat Djawatan
Tambang dan Geologi.

Keesokan harinya dibentuk Dewan Pimpinan Kantor yang terdiri dari tujuh
orang, dan Raden Ali Tirtosoewirjo ditunjuk sebagai pimpinannya. Selang
beberapa hari  terjadi pergantian pimpinan, R. Soenoe Soemosoesastro yang
semula menjabat sebagai wakil pimpinan. diangkat menjadi pimpinan dan A. F.
Lasut sebagai wakilnya. Beberapa minggu kemudian, terjadi lagi pergantian
pimpinan A. F. Lasut diangkat sebagai Kepala Poesat Djawatan dan R. Soenoe
Soemosoesastro sebagai Kepala Bagian Geologi. Sebagai pimpinan. A.F. Lasut
pada tanggal 20 Oktober 1945 mengeluarkan pengumuman yang pertama bahwa
semua perusahaan pertambangan ditempatkan di bawah pengawasan Poesat
Djawatan Tambang dan Geologi.

Tiga bulan kemudian, pada tanggal 12 Desember 1945. sebagian kantor Poesat
Djawatan Tambang dan Geologi, dipindahkan ke gedung Onderling Belang, di J1.
Braga No.3 dan No. 8. Bandung. karena terdesak oleh datangnya pasukan
Belanda bersama pasukan Sekutu. Kantor Poesat Djiawatan Tambang dan Geologi
pun diduduki oleh pasukan Belanda.

Akibat serangan pasukan Belanda yang semakin gencar, pada tanggal 23 Maret
1946 kegiatan Poesat Djawatan Tarnbang dan Geologi pindah dari Bandung ke
Tasikmalaya, kemudian ke Mage1ang, dan Tirtomoyo. Sedangkan yang masih
tinggal di Tasikmalaya, pada tanggal 6 Desember 1946 menyusul mereka yang
lebih dahulu mengungsi ke Jawa Tengah. Keterbatasan dalam sarana kerja,
memaksa Pimpinan Djawatan untuk memencarkan para pegawai ke berbagai tempat.
Sebagian ditempatkan di Borobudur, Muntilan, Dukun, dan Srumbung di kaki
Gunung Merapi. Untuk memudahkan hubungan dan menghimpun kembali para pegawai
itu. maka terbitlah Surat Kepumsan Menteri Muda Kemakmuran NO.902/T.O/J.O
tanggal 20 Nopember 1947, yang memerintahkan agar Kantor Poesat Djawatan
Tambang dan Geologi dan bagian-bagiannya pindah ke beberapa tempat di
Yogyakarta.

Selama perang kemerdekaan. Desember 1945 - Desember 1949, kantor Poesat
Djawatan Tambang dan Geologi dalam pengungsian dan berpindah-pindah. Untuk
mengembangkan Poesat Djawatan Tambang dan Geologi, A.F. Lasut bersama dengan
R. Soenoe Soemosoesastro membuka Sekolah Pertambangan-Geologi Tinggi (SPGT),
Sekolah Pertambangan-Geologi Menengah (SPGM), dan Sekolah
Pertambangan-Geologi Pertama (SPGP).

A.F. Lasut sebagai orang muda memiliki sifat tegas, menolak bekerjasama
dengan Belanda. Pada waktu Yogyakarta diduduki pasukan Belanda itulah AF.
Lasut pada pagi han tanggal 7 Mer 1949 diculik oleh pasukan Belanda dari
Tijger Brigade dari kediamannya di Pugeran, dibawa dengan jip ke arah
Kaliurang, dan kemudian dibunuh di daerah Sekip. yang sekarang masuk
lingkungan Kampus Universitas Gadjah Mada. Dan atas jasa-jasanya, A.F. Lasut
kemudian dianugerahi ge1ar Pah1awan Kemerdekaan Nasional dengan Keputusan
Presiden Republik Indonesia No_ 012/TK/Tahun 1969 tanggal 20 Mei 1969.
Dengan ditetapkannya A.F. Lasut sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, maka
memperkuat landasan bahwa pengambilalihan kantor Chisitsu Chosasho pada
tanggal 28 September 1945 merupakan peristiwa heroik yang penting bagi
sektor pertambangan dan energi. Pada tanggal 28 September 1945. juga terjadi
pengambilalihan kantor Jawa Denki Koza (Perusahaan Listrik Jawa) secara
paksa oleh para pemuda.

Dalam menetapkan Hari Jadi Penambangan dan Energi, Menteri ESDM menerbitkan
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1319 K/73/MEM/2006
tentang Tim Penyusunan Buku Sejarah Pertambangan dan Energi kemudian
diperbaharui dengan Keputusan No. 0147 K/73/MEM/200R tanggal 14 Februari
2008.

Setelah tim melakukan kajian di sektor Pertambangan dan Energi ditemukan
beberapa hal penting, yaitu: pertama. 28 September 1945, kedua, 7 Mei 1949,
ketiga, 22 Februari 1952, keempat, 14 Oktrober 1960, kelima, 2 Desember
1967, keenam, 27 Oktober 1945, ketujuh, 3 Oktober 1953, kedelapan, 5 Oktober
1945, kesembilan, 26 Oktober 1960 (peristiwa pada semua tanggal tersebut
termuat dalam Buku Sejarah Pertambangan dan Energi).

Penetapan Hari Jadi Pertambangan dan Energi diputuskan dalam Rapat Pimpinan
(Rapim) DESDM yang berlangsung pada tanggal 1 Nopember 2007 di Badan Geologi
Bandung. diikuti oleh para Pejabat Eselon I dan II DESDM dipimpin oleh
Menteri Energi dan Surnber Daya Mineral.

Berdasarkan hasil penetapan tersebut. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
menyampaikan surat kepada Presiden No. 1349/04/ME~LS/2008 tanggal 26
Pebruari 2008 mengusulkan Hari Jadi Pertambangan dan Energi untuk ditetapkan
dalam Keputusan Presiden. Selanjutnya dengan Keputusan Presiden Repub1ik
Indonesia Nomor 22 tahun 2008 tanggal 27 September 2008 ditetapkan Hari Jadi
Pertambangan dan Energi adalah tanggal 28 September.

-- 
Dongeng hari ini :
http://rovicky.wordpress.com/2008/10/16/apakah-kapitalisme-hancur-karena-tsunami-ekonomi-ini/

Kirim email ke