test.... 2009/3/30 Imam A Sadisun <[email protected]>: > Pak Dany, setelah saya mencoba memahami kejadian ini dari berbagai sumber > yang ada dan berdiskusi dengan beberapa rekan IAGI, 'secuil' artikel > tentang ini saya tulis untuk harian PR. Artikelnya dimuat hari ini. > Silakan kunjungi : > > http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=66804 > > Cuplikan artikelnya saya copy-paste-kan di bawah ini: > > ------------------------- > > Belajar dari Situ Gintung > > Oleh Imam A. Sadisun > > SITU atau dalam istilah yang lebih umum juga dikenal sebagai danau > berukuran relatif kecil, dapat terbentuk secara alamiah maupun buatan. > Situ-situ ini mendapatkan pasokan air baik dari curah hujan, mata air, > atau bahkan sungai-sungai yang terdapat di sekitarnya. Beberapa situ > memiliki saluran keluar (outlet) yang terkadang juga dapat terbentuk > secara alamiah atau merupakan konstruksi buatan, yaitu dengan membangun > bendungan kecil atau tanggul. > > Situ Gintung di wilayah Cirendeu, Tangerang, Banten, pada mulanya > merupakan situ yang terbentuk secara alamiah. Tanggul pada situ ini > dibangun sejak zaman Pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, yaitu pada 1933 > (Detik.com, 27/3). Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan > Seribu yang dibuat Turkandi dkk. (1992), Situ Gintung berada pada satuan > batuan endapan volkanik. > > Berdasarkan jenis materialnya, tanggul Situ Gintung berupa urugan tanah > yang relatif homogen (earth dam). Pada umumnya, tanggul jenis ini terdiri > dari satu jenis tanah kedap air yang dipadatkan, yang seharusnya > dilengkapi dengan sistem penyalir horizontal (horizontal drain) atau > cerobong (chimney drain). Sistem penyalir merupakan bagian yang penting > dalam konstruksi tanggul, terutama berfungsi menurunkan garis aliran > rembesan di dalam tubuh tanggul. > > Ketidakstabilan tanggul disebabkan berbagai faktor, yang dapat memainkan > peranannya secara terpisah maupun gabungan. Salah satu faktor adalah erosi > bawah permukaan di bagian hilir tanggul atau erosi buluh (piping erosion). > Tanah yang umumnya kohesif hasil pelapukan endapan volkanik, cenderung > mudah mengalami proses ini. Erosi ini kadang diawali dengan retaknya > lereng tanggul di bagian hilir, disusul dengan runtuhnya badan tanggul. > Runtuhnya badan tanggul bisa juga dipengaruhi kemungkinan rusaknya tanah > bawah (subsoil) akibat erosi buluh. > > Bahaya akibat keruntuhan tanggul, akan diperparah apabila kondisi genangan > air di situ terlalu tinggi (overtopping) atau bahkan melimpas tanggul. > Lebih dari itu, volume air yang melimpah tentunya akan menjadi ancaman > yang lebih besar setelah badan tanggul runtuh. > > Hal-hal tersebut sangat mungkin terjadi di tanggul Situ Gintung, yang > mengakibatkan jebolnya badan tanggul, Jumat (27/3) dini hari. Sebelum > tanggul runtuh, banyak yang melaporkan adanya retakan-retakan di badan > tanggul. Kemungkinan besar, ini berkaitan dengan proses erosi buluh dan > penurunan sebagian badan bendungan. > > Hujan deras yang terjadi beberapa hari sebelum jebolnya tanggul Situ > Gintung, merupakan penyebab utama naiknya genangan air di situ tersebut. > Situ dengan luas genangan diperkirakan mencapai 21 ha itu dan dengan > volume air mencapai 1,5 juta meter kubik, telah memuntahkan sebagian besar > isinya setelah badan tanggul jebol. Tak salah bila banyak korban bencana, > yang menyatakan banjir bandang ini seakan tsunami kecil. Bentuk morfologi > permukaan tanah yang tidak rata di bagian hilir, sangat memengaruhi > larinya banjir bandang dan juga penyebarannya. > > Sistem pemantauan > > Dengan umur yang sangat tua, selayaknya Situ Gintung mendapatkan perhatian > yang cukup. Tidak hanya sebatas faktor kapasitas dan kualitas air yang > mengisi situ tersebut, tetapi menyangkut kestabilan badan tanggulnya. > Apalagi, Situ Gintung ini merupakan salah satu alternatif tempat tujuan > wisata yang tak jauh dari ibu kota negara, maka jaminan keamanan kepada > para wisatawan pun harus diberikan. > > Keamanan tanggul harus selalu dievaluasi. Adanya potensi keruntuhan badan > tanggul, seharusnya dapat diidentifikasi secara dini. Usaha-usaha > pencegahan ini sangat penting dan sekecil apapun gejala terhadap > kemungkinan kejadian keruntuhan, badan tanggul harus selalu > diperhitungkan. Metode lain yang cukup penting, yaitu pemantauan atau > monitoring. > > Gejala-gejala adanya ketidakstabilan lereng bendungan umumnya dapat > dipantau secara visual. Ciri-ciri umum yang seringkali dijumpai adalah > rembesan atau bahkan mata air di bagian sisi hilir kaki tanggul secara > liar. Mata air ini lambat laun bisa berkembang dan akan mengakibatkan > proses erosi bawah permukaan. Proses perkembangan erosi bawah permukaan > kadang-kadang disertai dengan retaknya tanggul, yang akhirnya > mengakibatkan runtuhnya seluruh badan tanggul. > > Seiring dengan semakin berkembangnya teknik instrumentasi, bukannya tidak > mungkin memasang alat pantau di setiap tanggul atau bendungan. Dari jenis > alat pantau yang hanya digunakan untuk mengukur perubahan level genangan > air seperti AWLR/automatic water level recording, hingga jenis alat pantau > yang dapat mendeteksi pergeseran pada permukaan ataupun di dalam tubuh > tanggul (seperti halnya ekstensometer). Hampir seluruh alat pantau > tersebut dapat dikontrol dari jarak jauh secara real-time. > > Mitigasi bencana > > Dengan telah berkembang kawasan pemukiman yang relatif cukup padat di > bagian hilir tanggul Situ Gintung, sebenarnya sangat disayangkan mengapa > hal ini terjadi. Dengan kasatnya potensi risiko bencana yang ada, > usaha-usaha mitigasi bencana terhadap kemungkinan jebolnya tanggul Situ > Gintung seharusnya dilakukan. > > Mitigasi dapat dilakukan secara struktural, misalnya dengan memberikan > tambahan sistem perkuatan tanggul, ataupun secara nonstruktural, antara > lain dengan melakukan berbagai sosialisasi dan arahan yang tepat tentang > potensi berbagai risiko bencana yang mungkin terjadi di sekitar kita. > Mitigasi secara umum dilakukan sebelum bencana tiba, seringkali tidak > menentu atau bahkan lebih cepat dari waktu-waktu yang diperkirakan, bahkan > terkadang memiliki intensitas yang jauh lebih besar dari perkirakan > semula. > > Belajar dari peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung, sepertinya bencana > ini sama sekali tidak disangka-sangka kejadiannya. Meskipun ada warga > mengetahui indikasi ketidakstabilan tanggul, tetapi tindakan kesiapsiagaan > yang dilakukannya belum terancang dan terorganisasi dengan baik. Yang > perlu mendapat perhatian di sini adalah dengan adanya peristiwa jebolnya > tanggul Situ Gintung, masyarakat di berbagai wilayah tanah air tinggal di > sekitar tanggul atau bendungan (khususnya berada di bagian hilir), mulai > resah. Apakah hal ini akan dibiarkan terus menerus berlangsung?*** > > Penulis, Anggota Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FITB - ITB dan Ketua > Divisi Geologi Teknik - IAGI. > > ----------------------------- > > Salam, > IAS [www.sadisun.enggeol.org] > > > 2009/3/29 <[email protected]> > >> OK, kang Danny, langsung coba kita sambut deh. Insya Allah hari ini, saya >> mau ketemu pak ketua di mBandung, mong-ngomong dululah. >> >> Salam, >> Syaiful >> >> Mohammad Syaiful >> * handphone: +62-812-9372808 >> * business: [email protected] >> >> -----Original Message----- >> From: "Danny Hilman Natawidjaja" <[email protected]> >> >> Date: Sun, 29 Mar 2009 07:38:55 >> To: <[email protected]>; 'Milis IAGI-net'<[email protected]> >> Subject: RE: [pp-iagi-2008] Re: [iagi-net-l] Tsunami Situgintung: Kok bukan >> ke IAGI / P3G ya...? Just curious >> >> Isyu yang dilontarkan Bung Mino benar, >> Kelihatannya memang ada sesuatu yang sangat salah pada manajemen negeri >> kita >> ini. Perihal mempercayakan (atau dengan kata lain memberikan kerjaan) ke >> ahli luar bukan hal yang baru kali ini terjadi tapi memang sudah >> berulang-ulang,alias sudah jadi kebiasaan. Setelah gempa-tsunami Aceh, >> para >> ahli geologi yang menjadi konsultan BRR dan para rekanannya pun bukan kita >> tapi banyak para ahli dari luar yang jelas-jelas pengetahuan dan >> keahliannya tidak lebih dari kita. Untuk pembangunan TEWS (Tsunami Early >> Warning System) juga didominasi oleh para ahli Jerman. Sekarang ini, >> sejalan setelah keluarkannya UU kebencanaan April 2007, Pak SBY meminta PM >> Australia supaya mengirimkan para ahli kebencanaannya untuk membantu kita. >> Hasilnya, bulan depan ini akan berdiri satu lembaga baru yang dinamakan >> AIFDR (Australian-Indonesia Facility for Disaster Reduction). Tentu yang >> menjadi tuan-tuan di lembaga itu adalah para ahli Australia. Mungkin cukup >> masuk akal juga dari sudut pandang bisnis karena dananya hibah dari AUSAID. >> Entah, apakah dalam kasus Situgintung ini dana untuk para konsultan ahli >> geologi tersebut dari PU atau dari Jepang (misalnya: JICA, MERT, dsb.)? >> Jadi, adalah kenyataan bahwa para ahli kebumian kita selalu ditempatkan di >> pojok, bukan karena kita senang mojok :-) >> >> Anyway, saya kira IAGI sudah sepantasnya membuat seminar atau workshop lagi >> nih (seperti waktu gempa manokwari). Tentu ada banyak rekan kita dari >> bidang geohidrologi dan geoteknik dan geologi teknik yang bisa memberikan >> kontribusi,misalnya: Pak Ketum IAGI :-) , Robert Dellinom (Geohidrologi), >> Adrin Tohari (Geoteknik-LIPI), Imam Sadisun (Geologi Teknik-ITB), Dwikorita >> (geologi teknik -UGM), dan banyak rekan-rekan di PVMBG dan Geologi Tata >> Lingkungan di BG. >> >> Salam, >> >> Danny >> >> >> -----Original Message----- >> From: [email protected] [mailto:[email protected]] >> Sent: Sunday, March 29, 2009 5:48 AM >> To: Milis IAGI-net >> Cc: Milis PP-IAGI >> Subject: [pp-iagi-2008] Re: [iagi-net-l] Tsunami Situgintung: Kok bukan ke >> IAGI / P3G ya...? Just curious >> >> Betul, kang Mino. Secara formal, seharusnya pemerintah menyandarkan >> persoalan ini kepada BG sbg gudangnya ahli geologi. >> >> Kita di IAGI tentu akan coba memberikan kontribusi. Ada masukan2 ttg siapa >> saja rekan2 kita yg berkompeten dalam bidang ini? Kita akan coba gerakkan >> pula Departemen Geologi Lingkungan. >> >> Salam, >> Syaiful >> >> Mohammad Syaiful >> * handphone: +62-812-9372808 >> * business: [email protected] >> >> -----Original Message----- >> From: Benyamin Sapiie <[email protected]> >> >> Date: Sat, 28 Mar 2009 22:14:38 >> To: <[email protected]> >> Subject: Re: [iagi-net-l] Tsunami Situgintung: Kok bukan ke IAGI / P3G >> ya...? Just curious >> >> Ya,ini tugas IAGI dan kita semua untuk meningkatkan kualitas scientist dan >> profesional kita. Hal yang berkaitan dengan surver/teknologi pembuatan >> bendungan yang notabenenya bukan roket scientific, bangsa sendiri saja >> sudah >> tidak percaya...mundur kita kasihan sekali bangsa ini. >> >> Sekarang waktunya IAGI turunkan rekan2 yang bergerak dalam engineering >> geology untuk buat studi perbandingan...dan paparkan hasilnya secara resmi >> oleh IAGI tapi syaratnya harus bersih dari para politisi. >> >> Salam, >> >> Ben Sapiie >> >> >> >> Satu bukti lagi bahwa bangsa kita lebih suka kepada produk luar negri. >> >> Tapi, sebentar....bukankah keputusan ini merupakan sikap bangsa yang >> "sangat" menghargai "sejarah perjuangan tempo doeloe?". Kan dam Situgintung >> ini made in Holland spreken, lalu pembangunan ulangnya pun harus diteruskan >> oleh pasukan Kamikaze. Persis spt sejarah 350thn dan perang kemerdekaan >> kan? >> >> Terlepas dari kebingungan kita dr berita (yg mudah2an salah) di atas, mari >> kita sama-sama doakan saudara2 kita yang telah meninggal maupun menjadi >> korban bencana alam Situgintung ini, agar mereka semua dimudahkan Allah swt >> di dunia dan akhiratnya kelak. Bagi kita yang terbebas dari bencana ini, >> insyaa Allah tergerak untuk semakin sadar bahwa tidak ada yang tahu nasib >> seseorang kecuali Allah swt, shg semoga kita semua dimudahkan utk semakin >> mawas diri di dalam meningkatkan kualitas & kuantitas ibadah kepada Allah >> swt. >> >> Lampiran: >> okezone.com - 3/28/2009 10:14 AM Local Time Renovasi Situ Gintung, PU >> Datangkan Ahli Geologi JAKARTA - Pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum >> (PU) telah mendatangakan tiga ahli geologi asal Jepang untuk pembangunan >> kembali bendungan Situ Gintung yang jebol, Jumat 5 Maret kemarin. >> >> "Kami atas iimbauan pemerintah sudah mendatangkan tiga orang ahli geologi >> dari Jepang," ujar Kepala Balai Besar wilayah sungai Ciliwung Cisadane >> Dinas >> Pekerjaan umum (PU), Pitoyo Subandrio saat dihubungi okezone, Sabtu >> (28/03/2008). >> >> Menurut Pitoyo, ketiga ahli geologi itu saat ini sudah melakukan peninjauan >> dan perencanaaan pembangunan kembali bendungan. "Ahli geologi Jepang sudah >> melakukan perencanaan dan saya yang akan menangani prosesnya," tutupnya. >> >> Diberitakan sebelumnya, Bendungan Situ Gintung jebol, Jumat 27 Maret >> kemarin >> akibat kelebihan debit air karena hujan lebat yang mengguyur kawan Jakarta. >> Korban luka maupun korban tewas hingga kini masih terus dilakukan >> pencarian. >> >> -----Original Message----- >> From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] >> Sent: Friday, March 27, 2009 7:51 PM >> To: [email protected]; [email protected]; Forum Himpunan >> Ahli >> Geofisika Indonesia; Forum Pembaca Kompas; Serba_KL Serba_KL; >> [email protected]; [email protected]; >> [email protected] >> Subject: [iagi-net-l] Banjir Situ Gintung : "Keringkan saja danau ini !" >> >> Banjir Situ Gintung : "Keringkan saja danau ini !" >> 27 Maret 2009 at 8:38 pm >> http://rovicky.wordpress.com/2009/03/27/banjir-situ-gintung-keringkan-sa >> ja-danau-ini/ >> >> Berita banjir bandang di Jakarta Jumat pagi (27/3/09) sangat mengejutkan. >> Dengan korban lebih dari 50 orang meninggal tentusaja ini sebuah bencana >> yang cukup serius terjadi di Ibu Kota lagi. >> >> Melihat sepintas pada peta-peta yang saya koleksi kesimpulan sementara >> adalah "keringkan saja danau ini, dan jangan dibendung lagi". Kesimpulan >> ini >> mungkin mengagetkan karena disitu ada sebuah taman wisata yg sangat bagus. >> Namun alasan sederhana dibawah barangkali perlu dipikirkan secara seksama. >> >> Continue reading Banjir Situ Gintung : "Keringkan saja danau ini !"... >> http://rovicky.wordpress.com/2009/03/27/banjir-situ-gintung-keringkan-sa >> ja-danau-ini/ >> >> Dongeng Geologi >> >> >> ---------------------------------------------------------------------------- >> ---- >> PP-IAGI 2008-2011: >> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] >> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] >> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... >> >> ---------------------------------------------------------------------------- >> ---- >> tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!! >> akan dilaksanakan di Semarang >> 13-14 Oktober 2009 >> >> ---------------------------------------------------------------------------- >> - >> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI >> Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> --------------------------------------------------------------------- >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted >> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall >> IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct >> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss >> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of >> any >> information posted on IAGI mailing list. >> --------------------------------------------------------------------- >> >> >> >> >> >> ---------------------------------------------------------------------------- >> ---- >> PP-IAGI 2008-2011: >> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] >> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] >> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... >> >> ---------------------------------------------------------------------------- >> ---- >> tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!! >> akan dilaksanakan di Semarang >> 13-14 Oktober 2009 >> >> ---------------------------------------------------------------------------- >> - >> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id >> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI >> Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> --------------------------------------------------------------------- >> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted >> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall >> IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct >> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss >> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of >> any >> information posted on IAGI mailing list. >> --------------------------------------------------------------------- >> >> >> >> >> --------------------------------------------------------------------- >> To unsubscribe, e-mail: [email protected] >> For additional commands, e-mail: [email protected] >> >> > > > -- > *** > sadisun [at] gmail.com >
-------------------------------------------------------------------------------- PP-IAGI 2008-2011: ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected] sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected] * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro... -------------------------------------------------------------------------------- tunggulah 'call for paper' utk PIT IAGI ke-38!!! akan dilaksanakan di Semarang 13-14 Oktober 2009 ----------------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any information posted on IAGI mailing list. ---------------------------------------------------------------------

