Rekan-rekan Gem-Lovers yang budiman, Seperti telah mang Okim posting sebelumnya , dalam kesempatan reuni SMAN 1 sampai 7 di Surabaya pada hari Minggu, 26 April 2009 , mang Okim diminta untuk memberikan ceramah tentang batumulia khususnya yang ada kaitannya dengan batu ajaib Ponari. Rencana ini yang disinyalkan oleh PP IAGI ke Pengda Jatim di Surabaya ditanggapi positif oleh Ketua Pengdanya Pak Arief dan juga Pak Supardan dari Distamben Jatim. Mang Okim kemudian diundang untuk berdiskusi ilmiah dengan para anggota IAGI Jatim dan insan pers pada hari Sabtu, 25 April 2009 pukul 15.00 , bertempat di Gedung Pena Jawa Pos , Jl. Jenderal A. Yani Surabaya.
Pada kesempatan diskusi di Jawa Pos nanti, Pengda IAGI Jatim yang tampaknya mengenal PP Nani Wijaya sebagai tokoh Rotary, mengharapkan agar para Gem-Lovers Rotary yang punya waktu dapat hadir dalam dialog tersebut. Dengan demikian maka lebih manfaatlah kepergian mang Okim ke Surabaya karena disamping bertemu dengan para sahabat lama yaitu para alumnus SMAN-2 Surabaya dan menghibur mereka dengan ceramah batumulia , mang Okim dapat menyaksikan bakti sosial Rotary di Gedung PMI Surabaya yaitu penyerahan Sertifikat ISO 9001 - 2000 kepada PMI Surabaya dan penyerahan sumbangan 2 unit Blood Bank Refrigerator dari RC Surabaya Jembatan Merah dan RC Surabaya Rungkut. Selain dari itu , mang Okim dapat juga bersilaturahmi dengan para anggota IAGI Pengda Jatim dan mempromosikan kegiatannya ke insan pers khususnya Jawa Pos. Untuk memberikan gambaran tentang diskusi dan ceramah mang Okim, di bawah ini disampaikan abstraknya, semoga bermanfaat : ABSTRAK CERAMAH Batu Ajaib Ponari Dalam Konteks Ilmu Batumulia Fenomena batu ajaib Ponari yang mampu menghipnotis puluhan ribu massa untuk datang melihat atau berobat ke Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang , ternyata belum mendapatkan perhatian yang berarti dari para peneliti ilmu kebumian. Penelitian ilmiah yang mencoba mengungkapkan seluk beluk batu Ponari tersebut menyangkut jenis batunya, proses terjadinya, keterdapatannya di lokasi dimana Ponari disambar petir , dan lain-lainnya, belum pernah terdengar dilakukan oleh institusi pendidikan ataupun instansi terkait. Penelitian yang pernah dilakukan sejauh ini yang hasilnya diungkapkan di internet antara lain dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang berdasarkan hasil analisa yang dilakukan di Laboratorium Molekuler dan Mikroskopik ( ? ) disimpulkan bahwa air yang dicelupi batu Ponari mengandung butiran-butiran kristal berukuran 1,7 sampai 1,8 mikron. Kristal-kristal semacam ini ternyata tidak ditemukan di air yang tidak dicelupi batu Ponari. Penelitian yang diprakarsai oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tersebut tidak merinci tentang komposisi kimia kristal yang ditemukan di dalam air yang dicelupi batu Ponari. Penelitian lainnya dilakukan juga oleh Dr. Akbar Ali, peneliti ahli dari Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Walaupun penelitiannya didasarkan pada pengamatan visual terhadap beberapa foto yang konon kurang jelas, Dr. Akbar Ali yang spesialisasinya pada peralatan atau artefak batu prasejarah menyimpulkan bahwa batu Ponari adalah peralatan batu prasejarah jenis beliung persegi yang dibuat oleh manusia prasejarah pada periode Neolitikum atau sekitar 1000 sampai 10.000 tahun yang lalu. Dr. Akbar Ali sendiri belum pernah mengamati secara langsung atau menyentuh batu Ponari tersebut. Mengacu kepada hal-hal tersebut di atas, dan sambil menunggu adanya kesempatan untuk meneliti langsung atau mendapatkan foto-foto yang lebih jelas, penulis mencoba untuk memberikan hipotesa tentang apa sebetulnya batu Ponari ditinjau dari ilmu geologi dan ilmu batumulia. Beberapa kemungkinan yang dapat diberikan antara lain bahwa batu Ponari adalah batu petir / gigi halilintar / huntu gelap atau lightning stone asli yang kalau struktur dan teksturnya sesuai dengan ketentuan , maka dapat diberi nama sebagai batu FULGURITE. Hipotesa ini masih harus dibuktikan dengan pengamatan langsung terhadap batu Ponari tersebut. Kemungkinan lainnya adalah bahwa batu Ponari tak lain adalah batu kerakal sungai atau gravel yang berdasarkan kenampakannya di foto termasuk jenis bintal akik atau agate nodule yang komposisi kimianya SiO2 ( quartz family mineral atau keluarga mineral kuarsa ). Mempertimbangkan adanya jejak pengupaman atau pemolesan seperti yang diamati oleh Dr. Akbar Ali, tidak tertutup kemungkinan bahwa bintal akik tersebut adalah artefak prasejarah yang merupakan peralatan batu dari manusia prasejarah pada periode Neolitikum. Dalam ceramah ini yang akan dibawakan dengan penayangan power points , akan disinggung juga tentang dampak hantaman petir terhadap lapisan tanah atau bangunan yang terkena petir tersebut serta batuan yang dihasilkannya. Fenomena bola api atau ball fire yang sering dilihat oleh beberapa orang tertentu di Indonesia akan disinggung . Selain dari itu, contoh-contoh batuan yang diperkirakan sejenis dengan batu Ponari akan juga diperagakan dan dibahas pada kesempatan ceramah tersebut. Sampai bertemu di Surabaya, 25 - 26 April 2009, Sujatmiko ( Miko ) Sujatmiko e-mail : [email protected] or [email protected] www.gemafia.co.id

