Budiwati/budiman y baik, numpang berbagi informasi ya, siapa tau anda tertarik membaca di tengah2 bombardir berita tentang Manohara. Meskipun tidak seideal yang kami rencanakan, dengan rendah hati kami persembahkan kepada anda edisi perdana "Jurnal Disastrum". Inilah isinya:
________________________________ Catatan Editorial Jawaban bagi Tantangan Kajian-kajian ekonomi dan politik bencana menjadi penting karena menguatnya pelbagai fenomena terjadinya bencana akibat aktivitas korporasi dan bencana yang menjadi lahan bisnis. Kasus Bhopal, Minamata dan—masih dalam perdebatan—Lapindo adalah contoh untuk model yang pertama. Sementara itu, penanganan tsunami akhir 2004 di Kepulauan Maladewa dan Thailand serta perang Irak adalah contoh untuk pola yang kedua. Tulisan ini memosisikan kehadiran Jurnal ini dalam wilayah kajian ekonomi dan politik. Perdebatan tentang Penyebab Lumpur Sidoarjo Sejak keluarnya lumpur panas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur pada tanggal 29 Mei 2006 yang lalu, pelbagai kontroversi telah merebak. Kasus ini telah mengakibatkan kalangan ilmuwan kebumian di seluruh dunia terbelah menjadi dua kubu: antara yang meyakini bahwa semburan lumpur panas dipicu oleh aktivitas pemboran PT. Lapindo Brantas Inc. di dekat munculnya semburan lumpur panas dan yang meyakini bahwa kemunculan lumpur panas (mud volcano) tersebut dipicu oleh geodinamika dan seismisitas regional, terutama pengaktifan kembali patahan Watukosek akibat adanya gempabumi Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2009. Menggapai Mimpi yang Terus Tertunda: Menelusuri Proses “Ganti Rugi” Terhadap Korban Lumpur Lapindo Pada saat perdebatan tentang pemicu semburan lumpur panas di tingkatan ilmuwan kebumian belum juga konklusif, di akar rumput telah berjatuhan korban. Reaksi pemerintah kurang cepat. Masyarakat korban terbelah ke dalam pelbagai kelompok akibat perbedaan pendapat tentang skema pembayaran “ganti rugi”. Bencana lumpur di Sidoarjo bukan lagi hanya murni bencana, tetapi menjadi ajang yang sangat jelas bagaimana kepentingan banyak pihak saling berkontetasi. Resiko Bencana Industrial dalam Privatisasi Sumber Air Si-Gedhang—Klaten Kasus privatisasi air adalah sebuah bom waktu yang secara diam-diam menyandra keamanan masyarakat Klaten terhadap pasokan air bersih. Eksploitasi air tanah untuk kepentingan air mineral dalam kemasan meminggirkan kepentingan masyarakat atas air untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian mereka. Tercatat para petani harus mengeluarkan biaya ekstra akibat semakin susahnya mendapatkan air untuk kepentingan pertanian mereka. Bagaimana resiko bencananya? ________________________________ Bagi anda yang tertarik membacanya, anda bisa mengunduhnya tanpa bayar di link berikut: http://lafadl.org/v2/disastrum.html Salam. Terima kasih. Dilanjut. tabik bosman batubara weblog: http://annelis.wordpress.com

