Rekans!
Teori Verbeek(1985) dan Judd (1888) bahwa air laut yang masuk ke dapur magma
lalu memicu letusan paroxismal Krakatau th 1883 adalah omong kosong tanpa
bukti. Bila ada air masuk ke dapur magma letusan yang terjadi adalah
phreato-magmatik atau bahkan phreatik yang skala letusannya tidak akan
katastropik seperti letusan Krakatau yang super dahsyat itu.
Syalom.
Yatno
----- Original Message -----
From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Cc: "Geo Unpad" <[email protected]>; "Forum HAGI"
<[email protected]>; "Eksplorasi BPMIGAS"
<[email protected]>
Sent: Wednesday, June 24, 2009 10:50 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Masih mungkinkah ada letusan gunungapi sedahsyat
Krakatau atau Tambora ?
Terimakasih Pak Awang,
Nanti akan saya cari gambar2 Hall tentang tectonic untuk mempermudah
pemahaman dongeng gunungapi ini :)
RDP
----------------------------
2009/6/24 Awang Satyana <[email protected]>:
Salam gunungapi,
Bumi memang mendingin secara gradual, tetapi sampai sekarang pun, dari
bukti-bukti pengukuran GPS, lempeng-lempeng masih bergerak. Artinya adalah
bahwa meskipun Bumi semakin mendingin, ia masih cukup panas untuk
mempunyai sirkulasi material di mantel dan inti luarnya. Implikasi ini
adalah bahwa bencana yang berhubungan dengan gerak lempeng seperti gempa
dan letusan gunungapi masih bisa terjadi, termasuk yang katastrofik
seperti erupsi Krakatau atau Tambora.
Khusus Krakatau, kita cek saja geologi dan sejarah letusan atau penelitian
yang pernah dilakukan di sini, sejak zaman Verbeek (1885), dua tahun
setelah letusan katastrofiknya (1883) sampai penelitian2 para ahli
gunungapi Indonesia seperti Pak Tikno Bronto, Pak Yatno, Pak Gendoet, Pak
Igan, dan yang lainnya. Kita juga harus melihat situasi tektonik tempat
gunungapi itu muncul.
Berdasarkan rekonstruksi terbaru (misalnya dari Robert Hall, 1995-2003),
Selat Sunda tempat Krakatau muncul, belum ada sebelum 10 juta tahun yang
lalu. Selat ini berkembang dalam 10 juta tahun terakhir. Sebelumnya, Jawa
masih terikat dengan Sumatra dalam arah yang mirip Sumatra yaitu
BL-Tenggara. Kalau Jawa sekarang arahnya B-T, itu karena lepas dari
Sumatra dalam 10 juta tahun terakhir kemudian terputar melawan arah jarum
jam. Perpisahan Jawa-Sumatra ini membuka Selat Sunda, sehingga tidak
mengherankan mengapa Selat Sunda menyempit di timurlaut dan melebar ke
arah baratdaya, ini adalah efek rotasi anti-clockwise dengan titik rotasi
(pivot point) di sebelah timurlaut. Yang menyebabkan Jawa terpisah dari
Sumatra adalah majunya Australia ke arah utara di ujung Busur Banda.
Apakah rekonstrksi ini benar ? Mungkin benar, seperti dibuktikan oleh
pengukuran radiometric dan paleomagnetik beberapa batuan Paleogen-Neogen
di Jawa yang dilakukan oleh Ngkoimani et
al. (2006) yang menyimpulkan bahwa separuh Jawa bagian timur dulunya
berlokasi lebih selatan daripada posisinya sekarang.
Sebuah rotasi Jawa yang anticlockwise dan Sumatra yang juga terputar
clockwise (Barber et al., 2005) akan mengharuskan sistem retakan di
Selatan Sunda sebagai retakan berorientasi BD-TL. Dan, sistem retakan ini
telah dijadikan jalur lemah munculnya rentetan gunungapi di Selat Sunda
dari Sebesi di selatan, Sebuku di tengah sampai Raja Bassa di utara.
Gunung Peucang dan intrusi linear dykes di sepanjang pantai timur Pulau
Panaitan harus dipandang sebagai bagian jalur ini. Dan, adalah Verbeek
(1885) yang pertama kali menyebutkan bahwa Krakatau sebenarnya terletak di
titik perpotongan dua jalur : jalur Sumatra yang BL-Tenggara dan jalur
Selat Sunda yang BD-TL. Verbeek juga menulis dalam laporannya bahwa
aktivitas panjang Krakatau disebabkan lokasinya yang merupakan focus
injeksi magma, yang juga mempengaruhi bentuk dapur magmanya. Karena posisi
tektonik Krakatau tidak berubah dalam 10 juta tahun terakhir ini, maka
aktivitas erupsi yang sama yang pernah
terjadi pada 1883 dan sebelumnya tak mungkin tak terjadi lagi. Hanya
tingkat letusannya yang harus kita cermati.
Bila ditelusuri riwayatnya, seperti banyak gunungapi lainnya, Krakatau
punya sejarah panjang periode dormant (istirahat) dan erupsinya. Suatu
siklus besar dalam kehidupan gunungapi bermula dengan tumbuhnya kerucut
permukaan dan berakhir dengan keruntuhan sebagian puncak ini membentuk
kaldera. Krakatau telah mengalamai dua siklus besar jenis ini.
Siklus pertama Krakatau dimulai pada masa pra-sejarah, dan mungkin
berakhir pada abad ke-5 Masehi. Selama siklus ini, sebuah kerucut
andesitic terbangun sampai ketinggian sekitar 2000 meter -ini tentu
disimpulkan dari rekonstruksi berdasarkan shattered remains-nya -sisa-sisa
hancurannya. Ketinggian ini lebih dari dua kali ketinggian Anak Krakatau
sekarang. Diameter kerucut ini sekitar 15 km di dasarnya, sekitar setengah
ukuran Gunungapi Merapi di utara Yogyakarta. Kaldera selebar 10 km
mengakhiri daur ini dan menyisakan bekas2nya berupa empat pulau : Verlaten
(Sertung), Krakatau (Rakata), Lang (Rakata Kecil) dan Police Hat.
Uniknya adalah bahwa seorang peneliti bernama Judd (1888) menghubungkan
berakhirnya siklus pertama Krakatau ini dengan "Pustaka Raja" sebuah buku
berbahasa Jawa kuno yang menceritakan sebuah letusan dahsyat di sebelah
barat Jawa. Terjemahan uraian dalam Pustaka Raja adalah "Dalam tahun 338
Syaka (416 M) sebuah bunyi Guntur terdengar dari pegunungan Batuwara
(sekarang disebut Pulosari di utara Banten), yang kemudian dijawab oleh
bunyi Guntur yang yang sama berasal dari gunung Kapi (Krakatau ?), yang
terletak di sebelah barat Banten. Api besar yang menyala mencapai langit
keluar dari Kapi, disertai oleh hujan badai. Suaranya begitu menakutkan,
dan akhirnya gunung Kapi dengan raungan dahsyat hancur berkeping-keping."
(ditulis ulang dari Simkin dan Fiske, 1983).
Siklus kedua Krakatau dimulai ketika sebuah kerucut basalt yang kaya
olivine muncul di tepi tenggara kaldera siklus pertama. Tinggi Krakatau
saat itu 800 meter. Kemudian letusan-letusan berikutnya telah bergeser
mengikuti jalur utara-baratlaut membentuk kerucut-kerucut Danan dan
Perboewatan yang terbuat dari material andesitic kaya hipersten.
Laporan-laporan dari pelayaran di Selat Sunda menyebutkan bahwa
Perboewatan muncul pada 1680 dengan ketinggian yang lebih rendah dari
Krakatau. Seperti juga terjadi di kaldera Tengger saat ini, maka
gunung-gunung di dalam kaldera akan semakin kecil semakin muda, dan yang
paling kecil berlokasi di titik geseran paling ujung.
Siklus kedua ini berakhir pada hari Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00
(Simon Winchester, 2000)dalam sebuah letusan paroxysmal yang terkenal itu,
yang juga melenyapkan Perboewatan, Danan, dan setengah badan sebelah utara
Krakatau. Saat itu langsung terbentuk kaldera sedalam 300 meter yang
berisi air laut. Pengukuran hidrografik setelah masa letusan berakhir
menunjukkan bahwa kaldera siklus kedua ini hampir sama dimensinya dengan
kaldera siklus pertama, tetapi ia memanjang agak ke selatan baratdaya,
menunjukkan runtuhan dapur magma mengikuti struktur regionalnya.
Siklus ketiga bermula ketika Anak Krakatau (Krakatau yang kita kenal
sekarang) muncul pada suatu pagi pada tahun 1927 (van Bemmelen, 1949).
Sang Anak tumbuh dengan cepat, jauh melebihi kecepatan pertumbuhan makhluk
hidup mana pun, yaitu sekitar 5 meter per tahun (Willumsen, 1997). Anak
Krakatau saat ini dibangun oleh material basaltic. Kapan siklus ketiga ini
akan berakhir, mengikuti sejarah ayah dan kakeknya, maka ia akan meletus
hebat ketika material magmanya sudah menjadi asam. Mungkin letusannya tak
akan sehebat tahun 416 atau 1883, tetapi dengan makin padatnya penduduk
sekitar pantai Banten dan Lampung; maka jumlah korban potensial bisa lebih
besar daripada letusan 416 dan 1883.
Penelitian para ahli gunungapi Belanda van Bemmelen (1949), Verbeek (1885)
dan G.A. de Neve (1981) - de Neve adalah kawan senior saya sesama pemburu
buku loakan di Cihapit Bandung 1977-1980 -ternyata saya juga akhirnya jadi
seorang geologist seperti de Neve, saat itu saya anak SMP yang haus buku
tetapi tak punya uang sehingga bisanya hanya membeli di loakan sedangkan
de Neve adalah seorang gurubesar geologi...hm sedikit nostalgia-berhasil
merekonstruksi kimia magma semua siklus dormant dan erupsi Krakatau.
Mereka menyimpulkan bahwa Kompleks Krakatau selalu mulai dengan magma
basalt, maju ke andesite, dan meletus hebat secara paroxysmal ketika
magmanya menjadi asam (riolitik). Menurut rekonstruksi mereka (dikompilasi
dengan sangat baik oleh Willumsen, 1997), letusan hebat Kakek Krakatau
pada 416 M (?) terjadi saat komposisi magma riolitik mencapai Kadar SiO2
70 %, begitu juga dengan erupsi Krakatau 1883 yang meletus hebat saat
komposisi magma mencapai 70
% SiO2. Nah, si Anak Krakatau ini agak lain - plottingnya tak mengikuti
kakek dan ayahnya -mungkin datanya lebih banyak; yang jelas Anak Krakatau
sejak lahirnya pada tahun 1927 sampai sekarang tak pernah mencapai
komposisi magma riolitik (> 65 % SiO2). Saat letusannya pertama terjadi
pada tahun 1930 ia ada di level SiO2 62 %. Tahun 1960 bahkan magmanya
berdiferensiasi menjadi basaltic dari andesit, sekarang tengah andesit.
Saat level SiO2-nya sudah mencapai 65 % di situlah mulai membayang letusan
paroxysmal. Melihat kecenderungannya, mungkin ini akan terjadi masih jauh
dari sekarang, paling tidak tak sampai 100 tahun dari sekarang.
Begitu kalau mengikuti kimia magma, tetapi Verbeek (1885) dan Judd (1888)
punya teori unik tentang mengapa Krakatau 1883 meletus begitu hebat.
Mereka percaya bahwa air laut yang merembes ke kantong magma telah
berperan dalam hal ini. Air ini akan menaikkan tekanan. Magma naik akibat
tekanan tambahan dari air ini. Magma yang naik ini akan menggerogoti akar
kerucut volkanik di atasnya sampai badan kerucut gunungapi menipis seperti
seperti selaput saja. Ketika selaput gunungapi ini runtuh, laut akan punya
akses masuk ke kantong magma dan menyebabkan erupsi besar yang melemparkan
pumis (batuapung).
Kalau kakek Krakatau benar meletus pada 416 M sesuai Pustaka Raja, dan
kita tahu Krakatau 1883 meletus sama hebatnya pada 1883, maka terbentang
periode selama 1467 tahun. Dalam masa itu terjadi diferensiasi magma
Krakatau dari riolit-andesit-basaltik-andesit-riolit. Bila kimia magma
satu-satunya kunci ke letusan paroxysmal, maka periode letusan paroxysmal
Anak Krakatau mungkin akan terjadi pada 1883 + 1467 = tahun 3350. Ini
tentu hitungan di atas kertas dan menyederhanakan sekali banyak hal serta
menggunakan banyak asumsi yang semuanya bisa salah besar seketika.
Yang penting adalah amati terus kimia magma Anak Krakatau. Hati-hati saat
ia di ujung andesitic dan mau masuk ke riolitik. Kapan itu akan terjadi
kita tak tahu sebab pengetahuan kita begitu tak sempurna sementara Mother
Earth punya banyak misteri.
Demikian, semoga berguna.
Salam,
Awang
--- On Tue, 6/23/09, Hiltrudis Gendoet Hartono <[email protected]> wrote:
From: Hiltrudis Gendoet Hartono <[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Masih mungkinkah ada letusan gunungapi
sedahsyat Krakatau atau Tambora ?
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 23, 2009, 2:50 PM
Salam gunung api,
Ikut nimbung ya...setuju dengan pendapat pak Yatno...selain
itu juga perlu diperhatikan durasi lama hidup dan waktu
istirahat gunung apinya...disini waktu istirahat g.api
berhubungan dengan pengumpulan energi atau pengakumulasian
faktor-faktor energi dalam usahanya untuk membongkar penutup
kawah bahkan bodi kerucut bagian atas g.apinya. Waktu
istirahat bisa mencapai ratusan tahun bahkan ribuan tahun
(Ferari, 1995).... tampaknya waktu istirahat panjang
tersebut bukan umur kita, namun secara statistik apa ada
gunung api di Indonesia yang sdh beristirahat selama itu
(?), nah itu yang perlu kita cari atau tanyakan ke mas Igan
dan Zen.....he he..ke pak Surono langsung ya. Durasi itu
kemungkinan juga berujung kepada perilaku magma yang selalu
menjadi lebih asam (Bowen series).......suwun.
hgh
--- On Mon, 6/22/09, [email protected]
<[email protected]>
wrote:
From: [email protected]
<[email protected]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Masih mungkinkah ada letusan
gunungapi sedahsyat Krakatau atau
Tambora ?
To: [email protected]
Cc: "IAGI" <[email protected]>,
"Forum HAGI" <[email protected]>
Date: Monday, June 22, 2009, 6:51 AM
Letusan sebesar Krakatau ataupun Tambora masih sangat
mungkin terjadi.
Letusan besar seperti itu tidak ada kaitannya dengan suhu
bumi yang
mendingin. Letusan katastropis (ultra Plinian) berhubungan
dengan
akumulasi tekanan yang salah satu faktornya adalah
komposisi magma yang
semakin asam sehingga mengental dan menyumbat lubang
kepundan.
Salam,
Yatno. (YSY)
> Ada sebuah pertanyaan yang datang dari pembaca Dongeng
Geologi.
> Apakah di bumi ini masih ada kemungkinan gunung
meletus sekuat letusan
> Tambora atau Krakatau ? Ataukah bumi sudah mendingin
sehingga letusan
> besar sudah tidak akan terjadi lagi ?
>
> Logikanya sih sepertinya OK saja, karena memang bumi
ini mendingin
> sejak terbentuknya dulu, sehingga "mungkin" letusan
besar tidak akan
> terjadi "lagi". Hmm tetapi spekulasi seperti ini juga
berbahaya.
> Ada komentar ?
>
> RDP
>
>
--------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak
biro...
>
--------------------------------------------------------------------------------
> ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
> yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
> 13-14 Oktober 2009
>
-----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard
to information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or
others. In no event
> shall IAGI and its members be liable for any,
including but not limited to
> direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever, resulting
> from loss of use, data or profits, arising out of or
in connection with
> the use of any information posted on IAGI mailing
list.
>
---------------------------------------------------------------------
>
>
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak
biro...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information posted on its mailing lists, whether posted by
IAGI or others. In no event shall IAGI and its members be
liable for any, including but not limited to direct or
indirect damages, or damages of any kind whatsoever,
resulting from loss of use, data or profits, arising out of
or in connection with the use of any information posted on
IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event
shall IAGI and its members be liable for any, including but not limited to
direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting
from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with
the use of any information posted on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------
--
http://rovicky.wordpress.com/2009/05/30/seamount-si-gunung-raksasa-dibawah-laut-1-proses-terbentuknya/
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
IAGI and its members be liable for any, including but not limited to direct
or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any
information posted on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------