Karena nama saya disebut-sebut, saya merasa perlu berkomentar.

Perbedaan pendapat dan interpretasi dalam geologi adalah hal biasa dan
lumrah. Bahkan jika ada 3 ahli geologi, bisa ada 4 atau 5 pendapat.
Sangat wajar jadi tidak perlu terpecah-belah. Selama dalam ranah
scientific, tidak dipolitisir, tanpa target tertentu, pembahasan soal
Lusi menjadi sangat menarik dan jadi pembelajaran yang mungkin terjadi
dimasa depan. Apalagi di Jawa Timur saja sudah teridentifikasi 15 mud
volcano, baik on maupun offshore. Apa yang terjadi disiring Barat baru2
ini sudah terprediksi kalau saja kita mau pelajari seismic, amblesan dan
multiple conduit pada Porong collapse structure. Di Bleduk Kuwu mud
volcano complex ditemukan banyak pusat2 semburan dalam radius 1.5 km,
jadi tidak mengherankan kalau disekitar Lusi muncul semburan2 baru.
Dengan berbasis sejarah, analogi dan data serta survey2 kita bisa
memprediksi kemungkinan2 apa yang akan dan telah terjadi. Dengan itikad
seperti ini saya sempat ngobrol dengan Rovicky soal perlunya lihat data
yang tidak sepotong2, bila perlu dalam suatu workshop.

Berbekal data kita akan lebih enak untuk berpendapat. Hal ini baru2 ini
dilakukan antara lain oleh Mark Tingay yang kita kenal berpendapat Lusi
disebabkan oleh drilling dan dia terlibat dalam analisa Champion field
blowout serta relief wells-nya. Dia datang ke Lapindo beberapa kali,
masing2 seminggu untuk melihat dan mempelajari data. Tidak ada yang
di-tutup2i dan izin dari instansi2 terkaitpun dimintakan oleh rekan2 di
Lapindo. Dengan datang, melihat dan menganalisa data lalu berpendapat,
saya pikir sangat profesional.

Kenapa perlu dilakukan? Saya pikir kita semua tertarik pada solusi. Apa
mungkin ditutup, dihentikan? Ada saja yang dilakukan di Champion field,
apa yang akan terjadi, proses evolusi mud volcano, dampak dll. Perlu,
supaya bisa berantisipasi dan melakukan perencanaan.

Masalah laporan internal Medco yang bertebaran, wah saya ngga mau
komentar deh, ini porsinya pak Lukman atau teman2 Medco lainnya. Kalau
soal substansinya, jelas masalah drilling bukan kompetensi saya. Namun
teman2 drilling berpendapat banyak yang tidak konsisten dan tidak sesuai
fakta. Tapi jangan percaya kata2 saya, silahkan dipelajari secara
menyeluruh dan biarkan data dan fakta yang berbicara.

Wass.
Bambang Istadi


-----Original Message-----
From: bosman batubara [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, July 23, 2009 4:00 PM
To: [email protected]
Subject: Re: Bls: [iagi-net-l] Lusi lagi

Wah keren itu Pakdhe kalo bisa diskusi/workshop itu bisa ada. tetapi
diskusinya dengan kepala dinginlah, jangan terlalu dikejar2 target dan
kepentingan. konteksnya ilmiah. tujuannya mencari apa yang terjadi
sebenarnya, bukan mengarahkan opini.
 
tabik
bosman batubara 

weblog: http://annelis.wordpress.com

________________________________
From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, July 23, 2009 3:42:29 PM
Subject: Re: Bls: [iagi-net-l] Lusi lagi

Sepakat dengan Pak Awang ...
Lusi is a learning subject ... new problem with very complex phenomena.

Ada banyak aspek disitu yang sering menjadi masalah adalah ketika kita
mencampuradukkan segala aspek menjadi satu. Ada kasus science, ada
bisnis,
ada legal dan ada politik. Masing-masing memiliki keunikan metode
analisa,
data, kacamata, tata cara serta protokol yang berbeda.
Ketika melihat laporan itupun, secara tak sadar sudah banyak yang (serta
merta) mencoba menilai dari sisi yang diminatinya. Saya sepkat dengan
Pak
Awang laporan itdibuat untuk keperluan bisnis. Ndak ada yang salah dari
kacamata bisnis, tapi menjadi lutju ketika masuh ranah ilmiah atau ranah
politik. Menjadi janggal ketika dipakai kasus hukum dst.

Workshop

Bulan lalu ketika ketemu Pak Bambang Istadi (di acara seminar new
Indonesian
Basin) ada obrolan singkat yang menarik. Beliau menawarkan ... Adakah
kawan-kawan di IAGI yang menginginkan bersama-sama melihat data LUSI
yang
ada di lapindo, digelar dan dipakai sebagai bahan diskusi bersama ? yaah
semacam workshop gitu lah.
Jangan hanya asal menuduh tanpa bukti. Jangan berbicara tanpa
berpendapat
tanpa data .... Mari kita lihat data asli yang telah dikumpulkan di
"Museum
Lusi". Kita pakai kasus ini sebagai bahan pembelajaran bersama.
Data-data
itu kini, konon menurut Pak Bambang Istadi, boleh dilihat siapa saja.
Namun
untuk mempermudah prosedur sebaiknya ya jangan satu-satu dateng kesana.
Mungkin kita masuk kesana lewat IAGI, maksudnye tentu bukan mencari
pendapat
IAGI, tapi IAGI hanya memfasilitasi (mengkoordinir) bersama Lapindo
untuk
secara bersama berdiksusi, ngobrol, berargumentasi dan saya kira akan
menarik kalau bertemu bersama dengan data-data yang sama yang ada
disitu.
Selama ini setiap orang berpendapat dengan datanya sendiri-sendiri,
dianalisa sendiri-sendiri, kemudian diadu hasil interpretasinya. Kalau
kita
berawal dari data yang sama mungkin akan jauuh lebih "berkesan".
Tentunya
kalau anda pernah melakukan pengukuran sendiri boleh saja dibawa dalam
workshop ini.

Mnurutku gak perlu ditargetkan ada keputusan atau pendapat bersama,
tetapi
mungkin akan memberikan sedikit minuman mengobati "kehausan ilmiah" kita
akan kasus nakalnya si Lusi ini.

Gimana ? Aku rasa tawaran Mas Bambang Istadi ini cukup menarik looh !
Jangan sampai hanya karena kasus begini saja menjadi terbelah dan
terpecah
.... malu ah !
**
*bersama kita bisa*
... bisa apa ? ... ya apa aja !

RDP
2009/7/23 Awang Satyana <[email protected]>

>
> Walaupun Lusi telah memecah-belah para ahli geologi maupun ahli
pemboran
> nasional dan internasional kepada pengkubuan pendapat-pendapat tentang
asal
> Lusi, yang saling menyerang baik secara tak langsung dan santun
maupun
> secara frontal dan kasar, Lusi sebagai sebuah fenomena tetap menarik
untuk
> dipelajari dan dipelajari lagi.
>
> Ia pun tidak sepi dari perbincangan. Minggu lalu, 15 Juli 2009, ITS
> Surabaya bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup menggelar
seminar
> yang membahas dampak fisik dan sosial-ekonomi akibat bencana Lusi
setelah
> Lusi lebih dari 3 tahun mengirim lumpur panas dari bawah permukaan ke
atas
> permukaan.
>
> Kita semua : Pemerintah, masyarakat, para ahli, kalangan hukum,
industri
> perminyakan, dan yang terkait lainnya, tak terbiasa dengan kasus
seperti
> Lusi ini. Maka akibatnya, belumlah ada penyelesaian yang final atas
kasus
> ini -para ahli masih berdebat tentang asal Lusi, polisi dan kejaksaan
masih
> bingung bagaimana membawa kasus Lusi sebagai kasus hukum, industri
> perminyakan menjadi gamang takut di areanya ada kasus seperti Lusi,
hubungan
> Pemerintah-masyarakat korban-Lapindo soal ganti rugi masih
pasang-surut
> keharmonisannya, dll.
>
> Semua masih perlu belajar, menangani kasus Lusi ini.
>
> Akan halnya laporan2 konsultan drilling yang disewa Medco untuk
memberikan
> pendapatnya soal asal Lusi yang kemudian tersebar luas ke publik
melalui
> Aljazeera, saya menafsirkannya hanya sebagai partnership yang buruk
antara
> Lapindo dan Medco soal kasus Lusi ini. Apakah isi kedua laporan itu
benar
> atau tidak, saya juga memahaminya sebagai dua laporan yang sesaat
saja, yang
> dengan cepat dibuat untuk keperluan aspek legal client-nya, laporan
dengan
> data lama, yang tak menggunakan semua data dan analisis yang ada yang
> berkembang sampai saat ini, dan laporan yang hanya memandang sumur,
tanpa
> sedikit pun menengok ke ruang dan waktu geologi.
>
> salam,
> Awang
>
> --- On Thu, 7/23/09, Hendratno Agus <[email protected]> wrote:
>
> > From: Hendratno Agus <[email protected]>
> > Subject: Re: Bls: [iagi-net-l] Lusi lagi
> > To: [email protected]
> > Date: Thursday, July 23, 2009, 2:31 PM
>  > Amatan saya sekarang ini, kasus
> > lumpur di porong dalam konteks ranah saintifik dan teknis
> > memunculkan ketakutan yang luar biasa. Bahkan dalam studi
> > G&GR pada wilayah yang berdekatan dengan blok tersebut,
> > ketika para ahli seismik, geofisik, geologi (yang sudah
> > berpengalaman lebih dari 10th dalam G&GR) semua
> > mencermati penampang seismik yang dekat-dekat dengan blok
> > brantas, harus dibikin pusing dengan melihat berbagai
> > jendulan-jendulan aneh dengan tafsiran yang macem-macem.
> > Bahkan perlu melihat kembali seismik yang dimiliki oleh blok
> > yang ada lusinya itu, dan repotnya menjadi panjang berurusan
> > dengan otoritas migas yang ada. Dua manzdab besar tentang
> > proses lusi sudah banyak diketahui publik dan ilmuwan, yang
> > ternyata tidak ketemu di ranah hukum dan pengadilan.
> > Sekarang lusi maupun kasus lusi ini dua fakta yang berbeda
> > dengan barang yang sama. Ternyata mulai digiring dan sengaja
> > atau tidak sengaja "dijebloskan" pada ranah politik, impact
> > ekonomi, krisis
> >  sosial, dan bahkan pertarungan ideologi. Gak bakalan
> > rampung itu!!! OK, gak rampung, bagaimana dengan krisis di
> > permukaan, kalau krisis bawah permukaan ternyata belum bisa
> > clear?? Krisis permukaan juga gak rampung!!. Jangan-jangan
> > semua lini organisasi pemerintah, dan berbagai komunitas
> > sudah lupa Lusi dan Kasus Lusi, karena semua sedang trend
> > untuk mengungkap kasus bom Jkt..., yaach...kasihan juga
> > korban Lusi...
> > salam, gus hend
> >
> >
> >
> >
> > ________________________________
> > From: sudung situmorang <[email protected]>
> > To: [email protected]
> > Sent: Thursday, July 23, 2009 1:23:30 PM
> > Subject: Bls: [iagi-net-l] Lusi lagi
> >
> >
> > Memang terasa bosan karena ngak ada jalan keluarnya. Yang
> > ada cuma bahasan prosesnya saja.
> >
> >
> >
> > ----- Pesan Asli ----
> > Dari: Amir Al Amin <[email protected]>
> > Kepada: [email protected]
> > Terkirim: Rabu, 22 Juli, 2009 15:18:30
> > Judul: [iagi-net-l] Lusi lagi
> >
> > maaf , mungkin udah pada bosen ngomongin Lusi..
> > baru2 saja, saya mendapat email laporan internal perusahaan
> > sbb, kok beredar
> > di milis2..?
> > mudah2an bisa menjadi masukan , bagi IAGI.
> >
> > 1.    http://english. aljazeera. net/mritems/ Documents/
> > 2009/6/17/
> > 2009617151210657 572TriTech_ Lukman_report_ -_East_Java_
> > Well_Blow-
> > out_Assessment_ -_Preliminary_ Report_Document.
> > pdf<
>
http://english.aljazeera.net/mritems/Documents/2009/6/17/200961715121065
7572TriTech_Lukman_report_-_East_Java_Well_Blow-out_Assessment_-_Prelimi
nary_Report_Document.pdf
> >
> >
> > 2.    http://english. aljazeera. net/mritems/ Documents/
> > 2009/6/17/
> > 2009617151816979 683Final% 20Report% 20Sidoarjo%
> > 20Neil%20Adams.
> > pdf<
>
http://english.aljazeera.net/mritems/Documents/2009/6/17/200961715181697
9683Final%20Report%20Sidoarjo%20Neil%20Adams.pdf
> >
> >
> >
> >
> > --
> > ***********************************
> > Amir Al Amin
> > Operations/ Wellsite Geologist
> > (62)811592902
> > amir13120[at]yahoo.com
> > amir.al.amin[at]gmail.com
> > ************************************
> >

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
yg akan dilaksanakan di Hotel Gumaya, Semarang
13-14 Oktober 2009
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI and 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke