> Rekan rekan

Aneh dan bingung saya memikirkan kita
sekali lagi kita , karena kalau hal ini terbengkalai ini adalah kesalahan
kita semua , bukan hanya PEMERINTAH ( satu dari sekian banyak yang selalu
disalahkan oleh KITA).
Bravo Wanadri ............................
Saya memang selalu membaca laporannya setiap hari yang dimuat di Kompas,
semoga mereka yang mendukung ini diberikan balasan yang berlipat ganda
!!!!!!

Awang , apa sudah ada di Gramedia ????

Si
Abah

_______________________________________________________________________


   Ditulis menjelang 64 tahun peringatan Kemerdekaan
Indonesia.
> 
> Juli bulan lalu, seorang kawan aktivis
Wanadri memberi saya sebuah buku
> luar biasa,
“Tepian Tanah Air : 92 Pulau Terluar
Indonesia” (volume 1
> : Indonesia Bagian Barat).
Luar biasa karena : (1) buku ini merekam
> perjalanan suatu
ekspedisi marin sepanjang 5634 km selama tiga bulan
> (Mei-Agustus
2008) mengunjungi 40 pulau kecil terluar di Indonesia Barat,
> (2)
buku ini memuat secara ringkas kondisi geologi/geografi, biologi dan
> masyarakat penghuni pulau-pulau terluar tersebut, (3) buku ini
memuat
> foto-foto yang menakjubkan berasal dari pulau-pulau
terluar Indonesia
> Barat dan (4) buku ini mengembangkan rasa
cinta kepada Tanah Air.
> 
> Buku ini diterbitkan oleh
Penerbit Buku Kompas pada Januari 2009 atas
> prakarsa organisasi
Wanadri dan Rumah Nusantara. Tebal buku 320 halaman
> (termasuk
halaman pembuka), ukuran 26 x 28 cm, dicetak lux dengan kondisi
>
prima menghasilkan teks dan foto-foto yang
“breathtaking”. Tentu buku
> ini
sangat kaya informasi – akan menggiring kita kepada
satu kalimat :
> betapa kaya dan indahnya lautan dan kepulauan
Nusantara. Saya tak pernah
> menemukan buku ini di toko buku umum,
termasuk di gerai Kompas saat
> digelar pameran buku akbar di
Istora Senayan bulan Mei yang lalu. Mungkin
> saja saya kurang
jeli menemukan buku ini di rak-rak toko buku. Bersyukur
> seorang
teman aktivis Wanadri menghadiahi saya buku ini.
> 
>
Menurut kawan tadi, buku ini akan diterbitkan dalam tiga volume, volume
1
> yang sedang saya ceritakan, volume 2 tentang pulau2  terluar
di Indonesia
> Tengah, volume 3 tentang pulau2 terluar di
Indonesia Timur –sampai
> akhirnya genap tiga
buku memuat profil 92 pulau terluar Indonesia. Saat
> ini, katanya
Tim Ekspedisi sedang berada di selatan Nusa Tenggara dalam
>
rangka ekspedisi volume 2.
> 
> Adalah Wanadri
(Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung) yang pada
> tahun
2005 mempunyai gagasan untuk mengunjungi, menyurvei, dan mendata
>
pulau-pulau kecil terluar Indonesia. Tentu saja ini untuk kepentingan
> Nasionalisme sebab pulau-pulau tersebut menurut Deklarasi Juanda
(1957)
> merupakan pulau-pulau titik pangkal kedaulatan wilayah
Indonesia. Wilayah
> teritorial laut Indonesia ditentukan oleh 12
mil dari garis pangkal yang
> menghubungkan pulau-pulau terluar
itu. Andaikata pulau-pulau terluar ini
> lepas dari Indonesia,
bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Tahun
> 2005-2008 Wanadri
mematangkan rencana akbarnya itu dengan menghubungi
> banyak
institusi yang terkait di Pemerintah maupun swasta termasuk para
>
tokoh nasional. Dukungan pun serempak terkumpul, maka perjalanan
muhibah
> lautan pun siap menghela jangkarnya. Dua kelompok
sebagai motor perjalanan
> ini adalah Wanadri dan Rumah Nusantara
–organisasi budayawan Bandung.
> Sandi
perjalanan marin ini
>  adalah “Ekspedisi Garis
Depan Nusantara”
> 
> Ekspedisi volume 1 :
Indonesia Barat dimulai pada 8 Mei 2008 dan berakhir
> pada 18
Agustus 2008, sekaligus memperingati 100 tahun Kebangkitan
>
Nasional dan 80 tahun Sumpah Pemuda. Perjalanan ini berhasil
mengunjungi
> 40 pulau terluar Indonesia Barat, jarak yang
ditempuh 5634 km menggunakan
> kapal bernama KM Deklarasi Djuanda
dengan bobot mati 29 ton dan ukuran 6 x
> 29 meter. Puluhan
eksplorer, sebagian besar anggota Wanadri, tergabung
> dalam misi
ini.
> 
> Ekspedisi bermula dari Nusa Barung di sebelah
selatan Depresi Lumajang
> Jawa Timur, terus menyusuri sepanjang
selatan Jawa, ke selatan Selat
> Sunda, ke sebelah barat Sumatra,
ke baratlaut Sumatra, masuk ke Selat
> Malaka, ke wilayah
perbatasan dengan Singapura, ke wilayah utara Natuna
> dan
berakhir di ujung barat Kalimantan dekat perbatasan dengan Sarawak.
> 
> Inilah keempat puluh pulau yang dikunjungi Ekspedisi
Garis Depan Nusantara
> (kalau nama-namanya terasa asing bagi
kita, itulah ...kita kurang mengenal
> pagar rumah kita sendiri) :
Barung, Sekel, Penehan, Nusakambangan, Manuk,
> Deli, Batukecil,
Enggano, Mega, Sibarubaru, Sinyaunyau, Simuk, Wunga,
> Simeulucut,
Salautbesar, Raya, Rusa, Benggala, Rondo, Berhala, Batumandi,
>
Iyukecil, Karimunkecil, Nipa, Pelampong, Batuberhanti, Nongsa, Sentut,
> Tokongmalangbiru, Damar, Mangkai, Tokongnanas, Tokongbelayar,
Tokongboro,
> Semiun, Sebetul, Sekatung, Senua, Subikecil,
Kepala.
> 
> Tim Wanadri dan Rumah Nusantara di setiap
pulau terluar itu mempelajari
> geologi yang tersingkap,
geografinya, kehidupan fauna dan floranya, serta
> tentu saja
masyarakat yang menghuninya (bila ada). Semua hasil penelitian
>
dalam bentuk data koordinat, peta, narasi teks dan foto-foto setiap
pulau
> ditampilkan dalam 4-6 halaman berwarna di dalam buku
ini.
> 
> Tim ekspedisi kemudian memasang
“penanda 92 pulau terluar” berupa
> tonggak terbuat dari bahan logam antikarat. Pada bagian atas
tonggak
> tersebut terdapat dua bilah; satu bilah berisi Lambang
Negara, nama pulau
> dengan data koordinat dan wilayah
administrasinya, satunya lagi
> bertuliskan Ekspedisi Garis Depan
Nusantara; beserta logo dari
> lembaga-lembaga yang mendukung
kegiatan ekspedisi ini. Lalu, selain
> penanda 92 pulau terluar
tersebut, didirikan pula “monumen 92
pulau”
> berupa patung Dwi Tunggal Indonesia :
Soekarno-Hatta dengan Soekarno
> berwarna Merah Berani dan Hatta
berwarna Putih Suci yang juga melambangkan
> Bendera Indonesia :
Sang Saka Merah Putih.
> 
> Dengan bentangan laut seluas
5,8 juta km2, 17.504 pulau, 1.608 suku bangsa
> yang berkomunikasi
dengan 665 bahasa daerah di seluruh Nusantara;
> Indonesia adalah
negara kepulauan terbesar – dikaruniai  iklim yang
> bersahabat, tanah yang subur, kekayaan bumi yang berlimpah dan
beraneka,
> alam yang indah, kaya dengan spesies langka flora dan
fauna. Mari kita
> jaga dan manfaatkan baik-baik secara bijak
anugerah Yang Mahakuasa ini.
> 
>
“Takkan satu titikpun hilang dari peta bumiku,
> Takkan satu pulaupun hilang dari negeriku,
> Akan kujaga
kebhinekaan bangsaku,
> INDONESIA
> 
>
(“Tepian Tanah Air”, 2009, hal. 293).
> 
> Demikian, sebuah ekspedisi dan buku yang luar biasa.
> 
> Salam,
> Awang
> 
> 
>

> 
> 
>
--------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT,
[email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL,
[email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5
departemen, banyak biro...
>
--------------------------------------------------------------------------------
> ayo meriahkan PIT ke-38 IAGI!!!
> yg akan dilaksanakan di
Hotel Gumaya, Semarang
> 13-14 Oktober 2009
>
-----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123
0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net
Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>
---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI
or others. In no event
> shall IAGI and its members be liable for
any, including but not limited to
> direct or indirect damages, or
damages of any kind whatsoever, resulting
> from loss of use, data
or profits, arising out of or in connection with
> the use of any
information posted on IAGI mailing list.
>
---------------------------------------------------------------------
> 
> 


-- 
_______________________________________________
Nganyerikeun hate
batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada
ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.

Kirim email ke