Perlukah Museum Monumental “Virtual” Gempa?

Kemarin, Mas Anif Punto, alumni GeoUGM yang menjadi wartawan Republika,
memposting tulisan Bu Dwikorita mengenai Perlunya Museum Monumental Gempa.
Tulisan Bu Dwi Korita itu di muat
http://www.republika.co.id/koran/42/83730/Perlunya_Museum_Monumental_Gempa

Dalam tulisan tersebut, beliau antara lain menuliskan keprihatian sebagai
berikut:” Belum adanya museum monumental ini cukup memprihatinkan, bahkan
mengkhawatirkan bagi kepentingan pembelajaran masyarakat untuk siap bencana.
Dalam kurun waktu puluhan tahun, masyarakat kita cenderung mudah melupakan
kejadian gempa dan dampaknya. Bahkan anak cucu kita mungkin sama sekali
tidak bisa lagi membayangkan kejadian gempa bumi tersebut dan dampaknya.”

Mas Agus Hendratno, staff pengajar di jurusan teknik geologi UGM, yang juga
concern dengan masalah bencana alam, mengamini ide Bu Dwikorita, berikut ini
tanggapan dari Mas Agus Hendratno, :” Ide yang sangat baik. Untuk Museum
Monumental Tsunami sudah dibangun di Aceh, dengan cagar hasil lemparan
gelombang tsunami yaitu : kapal PTLD. Untuk gempa Bantul – Klaten 2006
kemarin hanya berupa “tugu peringatan gempa” yang disebut sebagai “Tugu
Monumen Lindu Gede” di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Klaten. Hanya Tugu
Monumen Lindu Gede tsb belum mencukupi sebagaimana “museum monumental gempa”
yang dibayangkan bu rita. Yang digagas bu rita tsb pernah muncul di ranah
beberapa LSM Pengurangan Resiko Bencana di Gantiwarno, Klaten yang akan
mencagar rumah penduduk yang roboh, tapi tidak cukup kuat karena tarik ulur
ganti rugi rumah yang akan dicagar tsb. Akhirnya cukup dibangunkan Tugu
Lindu Gede di Sengon, Prambanan, Klaten.”

Saya, kemudian ikut nimbrung dengan ide yang sederhana, untuk menanggapi
tulisan Mas Agus Hendratno tersebut, Quote:”Mas Gus Hen, bagaimana kalau
monumen virtual? ke depannya kan bakal banyak masyarakat yang mengakses
informasi online…”.

Meskipun ide saya sederhana, ternyata ada dua tanggapan yang relevan, yang
pertama ada tanggapan langsung dari Mas Agus Hendratno. Berikut petikan
email beliau,: ” Kang Tomo, itu juga bagian dari monumen, saya sangat
setuju. Hanya permasalahannya masyarakat korban bencana-bencana merusak saat
ini jauh dari jangkauan IT. Sehingga metode pembelajaran publik harus
dibedakan, karena masih ada yang belum melek IT atau “melek virtual”. Tapi
bagi pengambil keputusan dimana saja, monumen virtual tentang bencana
geologi yang merusak selama ini, adalah sangat penting dan strategis, itu
juga bagian dari penetrasi Earth System Governance dalam sistem birokrasi ke
depan. Minggu depan materi Earth System Governance akan kami ajarkan kepada
seluruh birokrasi se Jawa Timur di Pasuruan (ada pejabat Pemprov Jatim
memberi kesempatan saya untuk mendiskusikan hal tersebut..) Mohon maaf
sedikit saya buka…, karena ini bagian dari edukasi publik atau “kampanye
birokrasi sadar earth system dalam keputusan politiknya” ke depan. Paling
tidak memulai dari yang paling sederhana dulu…(orang lain bisa jadi ini
adalah “ecek-ecek”..ndak apa-apa..ikhlas saja.).., hasilnya Wallahu ‘alam
bissowab…”

Dari tulisan di atas, Mas Agus kayaknya setuju dengan ide monumen virtual,
bahkan menurutnya sangat penting dan strategis bagi para pengambil
kebijakan.

Sedangkan satu tanggapan yang lain, cukup membuat surprise karena datang
dari Mas Rovicky, yang menurut saya sudah membuat monumen virtual dari
beberapa bencana alam yang menimpa Indonesia beberapa waktu terakhir. Blog
beliau, Dongeng Geologi adalah salah satu monumen virtual yang merekam dan
menganalisa gempa Jogja, juga gempa Aceh, lumpur sidoarjo dan gempa-gempa
yang lain. Blog beliau bisa mengedukasi masyarakat pengguna internet selama
24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari pertahun .

Berikut petikan email Mas Rovicky : “Sakbenere idenya Komo ini suangat
brilliant !
Kita seringkali ngga ngerti apa maksud si monumen itu dibuat. Tugu di Jogja
sakjane dibuat sebagai peringatan kebencanaan. Namun karena kita tidak mampu
“membaca” maka kitapun lupa akan pesan dari si monumen itu. Pesan itu dibuat
dengan bahasa wektu itu saja.
Mas Komo sudah memiliki ilmu “ngerti sakdurunge winarah” atau ilmu masa
depan. Gempa merupakan bencana yang “langka” terjadi di Jawa ini. Kalau
melihat jeda antar satu gempa dengan gempa yang lain 30-50 tahun. Dimana
cara “membaca” peninggalannya juga sudah susah dimengerti. Sehingga
mengakibatkan benca itu terulang karena merasa tidak memiliki pesan. Monumen
sudah dianggap sebagai bahan kajian arkeologi saja. Bukan sebagai peringatan
tanda waspada.
Salute Mas Komo … anda berpikir buat cucu cicit yang mungkin 40-50 tahun
lagi membaca “tetenger” monumenmu di belantara maya (virtual). Yang saya
kira akan menjadi monumen yang lebih mudah dibaca di masa depan ketimbang
bangunan gedung roboh yang susah “dibaca”.

Saya merasa tersanjung sekaligus tertampar dipuji oleh Mas Rovicky, karena
saya hanya melontarkan ide mengenai monumen virtual dan Mas Rovicky sendiri
sudah memulainya beberapa tahun yang lalu. Ide saya mengenai monumen virtual
itu pun salah satunya karena melihat betapa efektinya blog Mas Rovicky dalam
mengedukasi masyarakat kita mengenai bencana geologi. Blog tersebut menjadi
rujukan bukan hanya oleh pribadi-pribadi yang peduli dengan bencana alam,
namun juga menjadi rujukan beberapa media masa. IAGI, bahkan pernah
memberikan penghargaan kepada beliau saat munas di Pekanbaru.

Tadi sore, saya juga sempat chating sebentar dengan Mas Rovicky, berikut
petikan diskusi kami
Rovicky: ide brilliant dengan virtual monument mu !
me : matur nuwun Mas… kayake monumen virtual lebih abadi.. dan sudah
dirintis dengan blognya Mas Rovicky yang dongeng geologi itu
Rovicky: paling tidak bukan hanya kajian sejarah saja. hahahah kau tau juga
kah ?
me : tahu apa Mas? ketika kita menulis apa yang terjadi saat ini, mungkin
itu bagian dari sejarah yang bermanfaat bagi generasi mendatang.
Rovicky: tahu kalau aku mengarah kedepan ya … makanya aku lebih suka
menuliskan di blog ketimbang koran
me : lah koran akan segera terlupakan…
Rovicky: hihihhi
me : kalau di virtual itu generasi mendatang masih bisa membaca.. dan itu
bagian dari knowledge management yang tidak banyak disadari orang. knowledge
managemenet dan transfer knowledge sekaligus.
Rovicky: hiya mo … jarang yg berpikir kedepan … jauuuh. kesadaran temporal
itu emang langka rupanya …:P
kronologis maneh.
me : lah geologist kan mestinya sadar ruang dan waktu…

Ternyata, Mas Rovicky mengapresiasi ide monumen virtual itu karena menurut
beliau monumen virtual akan memenuhi kebutuhan di masa mendatang, bukan
hanya kebutuhan saat ini. Karena beberapa monumen yang dibuat di masa lalu,
kadang hanya tinggal menjadi sebuah bagian sejarah, sedangkan pesan utamanya
terlupakan. Sedangkan pertimbangan saya, monumen virtual akan lebih abadi,
dibaca oleh banyak orang pesannya, tersebar luas, bisa sebagai knowledge
management sekaligus knowledge transfer. Dari sisi biaya relatif tidak
mahal, dan bisa mengikuti perkembangan teknologi, dan bisa jadi media
sharing dengan ahli lain yang berkompeten.
Saat ini, Mas Rovicky sudah memulai dengan Dongeng Geologi-nya, apakah akan
diikuti oleh geologist yang lain? Tidak mudah memang, meskipun sangat
mungkin untuk dilakukan, membuat Monumen “Virtual” Gempa yang mungkin kita
butuhkan. [kom1009]

Sumber:
http://sulastama.wordpress.com/2009/10/22/perlukah-museum-monumental-virtual-gempa/

Kirim email ke