Mumpung bicarakan Borobudur, saya mau tanya...
Waktu Borobudur pertama digali oleh Belanda,   apakah ada bukti bahwa borobudur 
pernah dipakai untuk berdoa/persembahan sebelum tertimbun?
Pertanyaan ini timbul setelah saya baca cara orang zaman dahulu membuat 
bangunan tinggi,
setiap lantai/level  dibangun dan dibuat selevel dengan tanah sekitarnya, lalu 
dibangun lagi, lalu ditimbun lagi.
demikian seterusnya.  jadi mereka tidak perlu memanjat2 yang tinggi; sehingga 
lebih mudah menyusun batu2 yang berat.

pertanyaan saya adalah apakah Borobudur waktu digali oleh Belanda merupakan 
galian pertama kalinya setelah dibangun atau sudah pernah 

digali sebelumnya.  salah satu bukti bahwa sudah pernah digali sebelumnya 
adalah dengan ditemukannya sisa2 bukti persembahan/doa.

atau Borobudur dibangun tdk dengan cara menimbun begini.

terima kasih atas pencerahan dan diskusi nya.

salam,
frank




________________________________
From: Awang Satyana <[email protected]>
To: IAGI <[email protected]>; Geo Unpad <[email protected]>; Forum 
HAGI <[email protected]>; Eksplorasi BPMIGAS <[email protected]>
Sent: Mon, October 26, 2009 4:54:02 PM
Subject: [Forum-HAGI] OOT - The World’s Heritage (Unesco, 2009) dan Borobudur

Sebuah buku setebal 832 halaman baru saja diterbitkan oleh Unesco (United 
Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) di Paris bekerja 
sama dengan Penerbit Harper Collins, London berjudul, “The World’s Heritage : A 
Complete Guide to the Most Extraordinary Places”. Isinya dapat diduga, yaitu 
menjelaskan tempat-tempat di seluruh dunia yang oleh Unesco dikategorikan 
sebagai Warisan Dunia yang harus dilestarikan. 

Buku diawali oleh kata pengantar dari Mr. Koichiro Matsuura (Direktur Jenderal 
Unesco) tentang makna Warisan Dunia, disusul oleh peta-peta dan daftar seluruh 
tempat Warisan Dunia, kemudian issue utama buku berupa penjelasan ringkas 
(tetapi cukup padat) setiap tempat Warisan Dunia beserta foto atau peta penuh 
warna yang mewakilinya, dan diakhiri oleh indeks. Menarik, melihat-lihat 
tempat-tempat Warisan Dunia tersebut yang memiliki keunikan masing-masing, 
terlebih lagi bila mengingat bahwa proses menyeleksi, menilai dan memutuskan 
tempat-tempat Warisan Dunia itu tidak sederhana. Buku ini mungkin sudah 
tersedia juga di toko-toko buku internasional di Indonesia, saya membelinya di 
Singapura dengan harga 50 S$.

Pemikiran dan usaha menyelamatkan tempat-tempat unik di dunia dipicu oleh 
pembangunan Bendungan Aswan, Mesir pada tahun 1959. Pembangunan ini telah 
menggenangi Lembah Sungai Nil yang sesungguhnya merupakan tempat dengan warisan 
sejarah kebudayaan yang kaya karena merupakan salah satu pusat awal kebudayaan 
manusia di dunia. Perjuangan Unesco untuk menyelamatkan warisan kebudayaan ini 
tidaklah sederhana sebab Konvensi untuk Perlindungan Warisan Alam dan 
Kebudayaan Dunia baru diakui para negara anggotanya pada tahun 1972. Kini, 
konvensi tersebut terkenal sebagai World Heritage Convention yang telah 
diratifikasi oleh 186 negara anggota PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Daftar 
pertama World Heritage diratifikasi pada tahun 1978 yaitu untuk Kepulauan 
Galapagos, Equador, tempat Darwin menggagas teori evolusi dan penting sebagai 
pulau dengan keunikan biodiversitas. Sampai saat ini, telah terdaftar sebanyak 
878 tempat Warisan Dunia yang tersebar di 145 negara.
Daftar ini akan semakin panjang sesuai usulan dari negara-negara anggota dan 
penilaian Unesco.

Indonesia, meskipun banyak memiliki keunikan alam, hayati dan warisan budaya 
serta sebagai  kepulauan terbesar di dunia, baru memiliki tujuh Warisan Dunia 
(Taman Nasional Komodo, Candi Prambanan, Taman Nasional Ujung Kulon, Candi 
Borobudur, Sangiran, Taman Nasional Lorentz, Hutan Tropis Sumatra). Kita tahu 
bahwa kekayaan alam dan budaya Indonesia jauh melebihi tujuh tempat itu. 
Bayangkan,  negara sekecil Jerman memiliki 33 Warisan Dunia yang semuanya 
merupakan bangunan (hasil budaya) masa silam. Tentu warisan alam Indonesia 
banyak sekali. Kementerian Pariwisata dan Budaya harus memikirkan hal ini.

Kali ini saya ingin menceritakan penilaian Unesco atas Candi Borobudur, yang 
diratifikasi pada tahun 1991 sebagai Warisan Dunia.

Unesco memutuskan Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia dengan kriteria : Human 
creative genius; intrechange of values; Heritage associated with events of 
universal significance. Menurut Unesco, Borobudur adalah salah satu dari 
monumen-monumen  Buddhist terbesar di dunia. Candi ini didirikan oleh seorang 
raja dari Dinasti Saliendra untuk menghormati agama Buddha dan pendirinya. 
Candi ini dibangun beberapa tingkat mengitari sebuah bukit yang dianggap pusat 
alam. Tingkat pertama di dasar candi terdiri atas lima teras persegi yang 
ukurannya semakin kecil ke atas. Dinding teras-teras ini dihiasi relief yang 
dipahat pada batu dengan total panjang melebihi 6 km. Pahatan relief ini 
merupakan pahatan terpanjang di dunia. Di atas teras-teras ini terdapat tiga 
pelataran konsentrik yang dihiasi 72 stupa yang masing-masing mempunyai patung 
Buddha dan akhirnya sebuah stupa besar di puncaknya. 

Candi Borobudur dibangun dipengaruhi seni India pada masa Gupta dan post-Gupta. 
Candi Borobudur dibangun antara tahun 750-842 Masehi, 300 tahun lebih tua 
daripada Angkor Wat di Kamboja atau 400 tahun lebih tua daripada 
katedral-katedral di Eropa. Volume batuan untuk membangun Candi Borobudur 
diperhitungkan sebanyak 60.000 m3, tidak terbayangkan bagaimana proses 
pembangunan skala raksasa ini. 

Pada awal abad ke-11 karena perpindahan kerajaan ke Jawa Timur, Candi Borobudur 
menjadi terabaikan. Candi Borobudur pun rusak baik karena pengabaian maupun 
oleh peristiwa-peristiwa alam seperti letusan gunungapi (Merapi). Candi 
Borobudur kemudian terkubur tak lagi dikenal orang selama 800 tahun sampai 
penggalian arkeologis atas perintah Sir Thomas Stamford Raffles dilakukan pada 
tahun 1814, penggalian dipimpin oleh ahli arkeologi Belanda Theodor van Erp. 
Penggalian memakan waktu 21 tahun dan Candi Borobudur tersingkap kembali 
sepenuhnya pada tahun 1835. Pemerintah Indonesia atas dana Unesco kemudian 
memugar candi ini kembali pada tahun 1973-1982.

Demikian penilaian Unesco atas Candi Borobudur. 

Kita bisa merasakan betapa susah dan lamanya membangun candi ini, menemukannya 
kembali, menggalinya dan memugarnya. Maka ketika candi ini pernah dibom 
teroris, itu adalah perbuatan biadab yang tidak bisa dimaafkan. Mari kita 
mencintai Warisan Dunia ini dengan mengunjungi, mengkomunikasikan, dan turut 
memeliharanya.

Salam,
Awang



      

______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[email protected] | www.hagi.or.id
* PIT HAGI ke 34, 8-13 November 2009, Yogyakarta
* Kunjungi http://pit34hagi.web.id/ untuk info lebih lanjut

Kirim email ke