Rekans,
Saya
mengalami beberapa kasus yang "unik" di lapangan minyak (high pour
point, low API) yang memiliki gas cap dengan kandungan CO2 sangat
tinggi (> 60%). Dissolved gas-nya juga ditengarai mengandung CO2
yang tinggi. Pada saat drilling infill, begitu sumur selesai di bor,
completion, run cement quality evaluation log, menunjukkan bond log
yang bagus, lalu di perforasi di zona produktif, semuanya lancar,
fluida yang keluar dari zona perforasi persis seperti yang di prediksi dari
open hole log. Reservoir target adalah Talang Akar.
Maslah
baru muncul saat mengerjakan workover / KUPL, dimana zona-zona yang
secara struktural terletak pada posisi updip, ketika diperforasi (tentu
saja setelah dilakukan isolasi didalam anulus terhadap bekas zona
produksi dibawahnya), justru menghasilkan 100% air. Korelasi
stratigrafis terhadap sumur-sumur disekitarnya menunjukkan zona-zona
tersebut memiliki kemenerusan yang baik. Untuk lebih membuat
"kompleks", sumur kontrol yang terletak down dip dari zona yang sama
masih menghasilkan minyak dengan kadar air hanya 40%.
Kejadian
ini bukan hanya satu kali saja, termasuk baru2 ini saat kami melakukan
KUPL di zona yang benar2 belum pernah di produksi dan secara
struktural, seharusnya merupakan "attic oil".
Ketika melakukan "post
mortem" evaluasi terhadap kegiatan KUPL ini, rata-rata sumur tersebut
dibor pada dasawarsa 90-an. Saat initial completion, log menunjukkan
good cement bonding. Hanya, setelah 2 dasawarsa berlalu, terbuka
kemungkinan adanya channeling behind pipe, atau kualitas semen-nya
sudah jelek dan menjadikannya sebagai media "penghantar" air dari water
leg / zona aquifer di sumur yang sama..Tetapi, ini baru dugaan,
mengingat sebelum melakukan KUPL, tidak dilakukan logging untuk
meng-evaluasi kualitas cement bond-nya.
Adakah rekan2 yang mengelola lapangan minyak&gas yang memiliki kandugan CO2
tinggi dan mengalami hal yang sama? Salah satu kecurigaan adalah, kandungan CO2
yang tinggi berperan sebagai "pemicu"
rapuhnya semen tersebut (sebagai pembanding, KUPL yang dilakukan di
lapangan lain, sama-sama pada sumur yang dibor sekitar dasawarsa 90-an,
tetapi tidak memiliki kandungan CO2, hasilnya "baik-baik" saja).
Salam,
Bambang.