Semua pagi ini terekspose sebagai headline dengan judul "Penambangan
Memprihatinkan" Kompas edisi cetak hari ini.

Kenapa sisi positif penambangan selalu kalah dengan sisi negatifnya ya?


Salam,
WA
--
Hidup itu sederhana. Berani bermimpi lalu mewujudkannya


2010/1/25 ET Paripurno <[email protected]>

> kawan,
> lainnya juga tersirat di sini....
> salam
>
> et
>
> -----------------------------------------
>
>
> http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/24/02400981/jalan.sunyi.si.pejalan.kaki
>
> Jalan Sunyi Si Pejalan Kaki
>
> Minggu, 24 Januari 2010 | 02:40 WIB
>
> Maria Hartiningsih & Brigitta Isworo Laksmi
>
> Ibarat pejalan kaki, ia mengenali dengan baik setiap kelok dan
> kerikil. Jalan yang dipilih itu tak banyak dilalui orang karena rumit
> dan membuatnya harus selalu berjaga.
>
> Sebagai pejalan kaki, Hendro Sangkoyo (53) bisa merasakan nestapa dan
> luka sejarah dari orang-orang yang ditemui, yang ia sapa sebagai
> ”kakek-nenek, ayah-ibu, keponakan, cucu” di kampung-kampung di sudut
> Nusantara; dari wilayah terdalam Kalimantan sampai Papua, Maluku,
> Kepulauan Sunda Kecil, dan Bali. Ia selalu berhenti untuk tinggal
> selama beberapa waktu.
>
> Perjalanan itu dilakukan Yoyok—begitu ia disapa—sejak awal tahun
> 1980-an, di sela tugas-tugas akademis yang harus ia selesaikan sebagai
> tanggung jawab atas pilihannya.
>
> Namun, semua atribut keilmuwanan itu ia lepaskan karena gelar akademis
> tak punya relevansi dengan pembelajaran tanpa akhir sebagai proses
> hidup. Hati dan pikirannya senantiasa terbuka untuk mendengar
> penuturan para tetua dan pemangku di sudut-sudut kepulauan di
> Nusantara ini.
>
> ”Pengetahuan mereka tentang alam sekitar, tentang kehidupan dan
> penghidupan sungguh luar biasa,” ujarnya, di Jakarta beberapa waktu
> lalu, ”Ada yang bisa membaca suara air, berdialog dengan alam untuk
> tahu kapan hujan terakhir turun, menengarai sesuatu terjadi di hulu
> dari rasa air, dan segala macam.”
>
> Itulah living knowledge, yang tak ada tempatnya di dalam seluruh
> praksis dan diskursus modernisme. Sayangnya, pengetahuan itu dibaca
> keliru oleh para antropolog Barat.
>
> Maka, ”Bagi saya ilmu dasar adalah bahasa, bukan matematika, kimia,
> dan fisika,” kata Yoyok, ”Pengetahuan dituturkan dengan bahasa. Saya
> sependapat dengan Chomsky (Noam Chomsky, pemikir, ahli linguistik dari
> Massachusetts Institute of Technology, AS), semua bahasa
> merepresentasikan pengetahuan. Yang perlu diperkenalkan adalah ruang
> bertuturnya sehingga ia masuk ke sistem mana pun tidak asing.”
>
> Ruang bertutur itu menolak semua kaidah positivistik yang membedakan
> mana sains, mana bukan sains. Anggapan hanya ada satu otoritas yang
> berhak menafsirkan kebenaran, mengutip dialognya dengan Chomsky,
> dibangun pemerintah imperial untuk mendorong pemahaman bahwa kemajuan
> harus dimunculkan dari luar. Dampaknya adalah ilusi keterbelakangan
> yang tertanam begitu lama di bawah sadar hampir setiap warga bangsa.
>
> Krisis berkelanjutan
>
> Perjalanannya menyusur sudut-sudut tak bernama dalam peta besar
> wilayah negara, memperjelas penglihatannya tentang praktik-praktik
> pemusnahan kultural yang terus terjadi, khususnya lewat dogma tata
> ruang yang dibawa lembaga internasional sejak tahun 1955-an.
>
> Dogma dari chronotype yang sama sekali berbeda itu diadopsi begitu
> saja oleh para pengurus publik, tanpa mempertimbangkan karakteristik
> sosial-ekologis-geografis pulau-pulau di Nusantara.
>
> ”Posisi sungai yang semula di depan dan menjadi pusat kehidupan
> diputar ke belakang sebagai tempat sampah,” ujarnya, dengan nada
> sinis, ”Di depan, di buat jalan ke surga, atas nama kemajuan. Itulah
> infrastruktur yang asal dibuat.”
>
> Sistem ekonomi-politik mengubah wajah dan kondisi lingkungan
> sosial-ekologis kampung-kampung di banyak wilayah. Yoyok menengarai
> tapak kerusakan sejak tahun 1987. Rezim deforestasi terpimpin
> menganggap hutan hanya sepetak tanah yang hendak diambil rentenya,
> atas nama ”kesejahteraan rakyat”. Seluruh konteks sejarah
> sosial-ekologis dari keberadaan dan kedudukan hutan dalam konteks
> fenotipikal pulau diabaikan.
>
> ”Saya menemukan banyak sungai mati dengan cara sama,” ungkapnya,
> ”Mula-mula diblok dengan jalan logging, sungainya kolaps dalam
> tujuh-delapan tahun. Enggak usah jauh-jauh ngomongin highway 115 di
> Brasil. Semua terjadi di sini.”
>
> Gempuran kebijakan pembangunan yang eksesif di Kalimantan, misalnya,
> menyebabkan proses dehumanisasi, kemiskinan dan pemiskinan, termasuk
> kerusakan sosial-ekologis. Rehabilitasinya rumit karena telanjur
> menciptakan keterasingan di tanah sendiri.
>
> ”Saya tanya kepada beberapa anak muda di sana, kapan terakhir masuk
> sungai, ada yang menjawab mungkin tujuh, delapan bahkan 12 tahun
> lalu,” ungkap Yoyok.
>
> Pada saat bersamaan, praktik pemberdayaan komunitas indigenous justru
> mengadopsi sistem ekonomi uang yang sebenarnya membunuh secara
> sistematis kekuatan mereka. ”Karena tidak dihubungkan dengan basis
> produksi-konsumsi bahan-bahan energi orang-orang di kampung Dayak
> itu,” jelasnya.
>
> Dari semua ini, apa yang ingin Anda sampaikan?
>
> Krisis sosial-ekologis sudah berlangsung sejak lama dan masih terus
> berlangsung karena pada dasarnya manusia punya kecenderungan suicidal.
> Makin pintar, makin merusak (pada beberapa kesempatan, ia
> mengungkapkan kerisauannya atas pembalakan yang terus terjadi terkait
> perubahan tata guna lahan hutan menjadi lokasi pertambangan dan
> perkebunan sawit skala besar, berizin resmi).
>
> Tetapi krisis itu tak dilihat sebagai krisis. Semua penyebab krisis
> dianggap sebagai ceteris paribus. Lalu tiba-tiba perubahan iklim yang
> dianggap sebagai satu-satunya krisis, padahal itu hanya pertanda lebih
> akhir dari seluruh kerusakan dan tak bisa dilihat hanya sebagai
> persoalan lingkungan. Krisis yang sebenarnya terjadi jauh lebih dalam,
> tetapi tanggapan dari level mana pun, jauh lebih parah dari sekadar
> menyangkali.
>
> Ekonomi sebagai panglima
>
> Menurut Yoyok, orang lebih meributkan soal perubahan iklim karena
> Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Konvensi Perubahan
> Iklim (UNFCCC) menaruh perubahan iklim sebagai krisis Bumi. Ia
> dianggap sebagai krisis karena mengancam ekonomi global.
>
> Itu saja?
>
> Hanya itu alasan terkuat sehingga disebut krisis global. Padahal
> krisis sehari-hari orang biasa begitu mendalamnya. Krisis ini bukan
> krisis yang definisinya kita baca di kamus Webster, seakan-akan ada
> awal dan akhirnya. Krisis saat ini punya sejarah panjang. Di zaman
> penjajahan yang brutal, di Afrika, dibuat kartel-kartel, semua
> pengetahuan indigenous dibakar, tetapi itu dikatakan bagian dari
> proses kemajuan.
>
> Dalam tata ruang, sama saja. Urbanisasi tidak dianggap sebagai krisis,
> tetapi tahapan dalam kemajuan umat manusia. Akibatnya, eksodus masif
> dari desa ke kota terus terjadi. Jalan raya ibarat jalan kemajuan. Di
> Amerika Latin, kegagalan ekonomi dua dekade yang melahirkan teori
> depedensia itu bagaimana?
>
> Oleh karena itu, krisisnya sosial-ekologis, pakai garis penghubung,
> tak bisa dipisahkan sosial dan ekologis. Ontologinya tak benar kalau
> manusia berada di luar alam.
>
> Kalau kita baca hati-hati laporannya Nicholas Stern (tentang ekonomi
> perubahan iklim, Red), yang paling banyak dikutip adalah ”Kalau Anda
> tak melakukan apa-apa, GDP dunia akan turun 30 persen”.
>
> Dalam pertemuan World Business Council for Sustainable Development di
> Kopenhagen, tahun lalu, saya menyimak, seluruh cerita tentang adaptasi
> perubahan iklim adalah cerita tentang aset manajemen dan asuransi.
>
> Proses sosial selalu diperlakukan sebagai faktor ekstra, yang dibaca
> belakangan, seperti dalam laporan assessment Panel Antarpemerintah
> mengenai Perubahan Iklim (IPCC). Krisis di meja perundingan tentang
> perubahan iklim dimulai dari COP 6 di Den Haag, Belanda, dan COP 6+ di
> Bonn, Jerman. Di situ mulai terlihat pemisahan kesejarahan.
>
> Dari situ pula masuknya langkah offsetting, cerita tentang satu ton
> karbon dari kegiatan industri bisa digantikan dengan satu ton karbon
> yang bertengger di pohon, dan lain-lain. Semua dilihat dari sisi
> suplai. Pandangan seperti ini bisa ditelusuri dari literatur tahun
> 1920-an.
>
> Rumit
>
> Tawaran pendekatan krisis sosial-ekologis dalam perubahan iklim,
> menurut Yoyok, tidak tergantung pada pengambil keputusan. ”Mayoritas
> subyek perubahan ada di lapangan, bukan di gedung-gedung para pengurus
> negara,” sambung Yoyok.
>
> Itu sebabnya, dalam skema belajar Sekolah Ekonomika-Demokratik (SED
> atau SDE), yang dituju adalah merombak praktik sosial orang biasa dan
> praktik institutional para pengurusnya.
>
> Yoyok percaya, ”sekolah” adalah jembatan penghubung kedua hal itu.
> ”Sekolah” adalah moda belajar bagaimana menautkan kembali
> fondasi-fondasi belajar supaya ruangnya makin terbuka bagi sebanyak
> mungkin orang biasa. Di situ orang menuturkan seberapa dalam krisis
> sosial-ekologis dalam kehidupan mereka dan bagaimana menghadapinya.
>
> ”Praktik-praktik itu yang kita pelajari,” ia melanjutkan, ”Kepala
> sekolahnya adalah orang-orang yang committed di dalam seluruh proses
> perubahan. Dalam pemahaman SED, Munir alm adalah kepala sekolah.”
>
> Namun diakui, prosesnya jauh lebih rumit karena perubahan itu bukan
> terjadi dalam suatu kondisi yang dipilih, melainkan dalam kondisi yang
> secara langsung digeluti. Tapi, bukankah itu merupakan kelanjutan dari
> masa lalu karena tradisi dari generasi yang sudah mati senantiasa
> menghantui yang masih hidup?
>
>
>
>
> 2010/1/25 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>:
> > Sisi Ironis Pertambangan
> >
> http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/25/0242141/sisi.ironis.pertambangan
> > Senin, 25 Januari 2010 | 02:42 WIB
> >
> >  Oleh Singgih Widagdo
> >
> > Pertambangan masih menjadi primadona penggerak ekonomi Pulau
> > Kalimantan. Aktivitas penambangan pola shovel dan truk, 24 jam
> > berlangsung tanpa henti.
> >
> > Hutan sebagai sumber daya alam (SDA) yang vital untuk kehidupan justru
> > dilupakan. Belum lagi bicara karbon, satu hektar hutan mampu menyerap
> > karbon 200-350 ton. Memang ironis, aktivitas eksplorasi pertambangan
> > sering kali berbenturan dengan konservasi SDA.
> >
> > Bicara soal Kalimantan, dalam hal kerusakan lingkungan, siapa yang
> > harus bertanggung jawab?
> >
> > Keserakahan
> >
> > Pemanfaatan SDA untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup manusia, alam
> > masih bersahabat. Namun, saat SDA dijadikan komoditas tanpa batas,
> > alam punya jawaban sendiri. Saat ini, harga hasil tambang sebagai
> > komoditas bergerak begitu fluktuatif. Bukan hanya atas perhitungan
> > statistik penawaran dan permintaan, tetapi juga lebih pada permainan
> > spekulan dalam pasar komoditas tambang. Tidak disadari pelaku
> > penambangan, kondisi ini menyeret semua aktivitas pertambangan masuk
> > ke ruang keserakahan.
> >
> > Sejak UU No 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
> > Pertambangan sampai diberlakukan otonomi daerah, izin kuasa
> > penambangan (KP) hanya berjumlah 650-an. Akibat terbukanya kebijakan,
> > diperkuat ekstrimnya harga komoditas pertambangan, jumlah KP kini
> > hampir 8.000-an, di luar yang ilegal. Dulu, sebagian komoditas
> > pertambangan, seperti batu bara, ditempatkan sebagai energi vital dan
> > strategis sehingga pemerintah pusat terlibat. Kini, batu bara dinilai
> > sekadar komoditas.
> >
> > Pada dasarnya, secara teknis, aktivitas pertambangan mustahil dapat
> > dioperasikan pada luasan konsesi kecil. Ada batasan minimal untuk
> > infrastruktur opera- si penambangan , khususnya untuk praktik
> > penambangan yang baik. Saat luasan kecil dipaksakan operasi, mulailah
> > terjadi kerusakan di sekitar areal tambang yang berpotensi merusak
> > bentang alam. Pertambangan yang awalnya dibangun untuk meningkatkan
> > kesejahteraan, sekarang terbalik akibat eksploitasi SDA yang sama
> > sekali tak mengindahkan lingkungan. Kualitas lingkungan mengalami
> > penurunan, bahkan menuju kehancuran.
> >
> > Berbeda dengan penambang skala kecil, penambang skala besar, pemilik
> > kontrak karya (KK), dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu
> > bara (PKP2B) lebih mampu mengendalikan dampak kerusakan lingkungan.
> > Sebetulnya, faktor manusia berperan penting karena rencana eksplorasi
> > dan eksploitasi, sampai penutupan tambang, selalu diaudit pihak-pihak
> > kompeten. Namun, meningkatnya jumlah KP tak dapat dihindarkan saat
> > harga batu bara terus naik.
> >
> > Ini lebih diperparah oleh pemilihan kepala daerah secara langsung yang
> > membutuhkan biaya besar. Muncul sikap pragmatis sebagian kepala daerah
> > yang terpilih untuk mengejar keuntungan. Perhitungan tatanan unsur
> > lingkungan diabaikan. Kegiatan investasi hanyalah jalan legal
> > memperbesar pendapatan asli daerah, selain untuk keuntungan
> > pribadi/kelompok. Daerahpun berlomba mencari alternatif penerimaan
> > daerah.
> >
> > Bagi pemda memang tak mudah menemukan alternatif potensi daerah yang
> > secara instan membawa hasil signifikan. Kekayaan alam yang ada di
> > depan mata akhirnya memicu semaraknya izin tambang baru. Perilaku
> > keserakahan ”raja kecil” tidak dapat dihindarkan, bahkan pemerintah
> > pusat kehilangan kendali.
> >
> > Dukungan politis pemda, sikap abai terhadap ekosistem, kurangnya
> > tenaga inspektur tambang, serta eksplorasi dan eks- ploitasi
> > pertambangan mengakibatkan morfologi dan fisiologi berubah tanpa
> > rencana, pencemaran sungai, pemotongan vegetasi serampangan, dan
> > munculnya potensi erosi dan longsor. Optimalisasi SDA meleset. Dalam
> > jangka panjang, selain masalah lingkungan, muncul pula masalah sosial,
> > ekonomi, maupun budaya yang seolah jadi tanggung jawab ”raja kecil”
> > berikutnya.
> >
> > Solusi ke depan
> >
> > Masalah Kalimantan akibat aktivitas pertambangan yang kurang
> > terkontrol sudah sedemikian kompleks. Namun, upaya memperbaiki harus
> > terus diperjuangkan. Solusinya, mustahil terselesaikan dengan
> > keluarnya UU Minerba Nomor 4 Tahun 2009, ataupun peraturan pemerintah
> > yang sampai saat ini belum semuanya keluar.
> >
> > Saat ini perlu audit lingkungan tambang secara lebih menyeluruh,
> > memperbesar jumlah inspektur tambang. Dari jumlah izin usaha
> > pertambangan (IUP), bahkan perlu sekitar 1.000 inspektur tambang untuk
> > lima tahun ke depan. Selain itu, pemerintah pusat ataupun daerah harus
> > tegas, tanpa kompromi, mendorong penegakan hukum, terutama kepada
> > pengusaha yang jelas-jelas merusak lingkungan.
> >
> > Berlakunya UU Minerba terbaru mengharuskan laporan izin KP, lokasi,
> > kandungan, dan luasan agar wilayah pertambangan (WP) segera
> > diselesaikan pemerintah pusat, berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
> > Informasi WP, wilayah pertambangan negara (WPN), dan wilayah
> > pertambangan rakyat harus secepatnya keluar sebagai masukan dalam tata
> > ruang nasional. Pola lelang menjadi transparan.
> >
> > Di sini, good governance akan terwujud. Akuntabilitas, transparansi,
> > dan partisipasi masyarakat menjadi tiga prinsip penting. Ini lebih
> > akan mempertegas untuk menilai legalitas suatu tambang sehingga tak
> > ada lagi kompromi dan tawar menawar dalam urusan IUP. Akhirnya, dengan
> > berkurangnya dampak kerusakan lingkungan, tujuan konservasi akan
> > tercapai, kepentingan nasional dalam mencadangkan komoditas yang
> > bernilai vital dan strategis dapat dikendalikan, khususnya untuk
> > memenuhi kepentingan kebutuhan nasional, selain tentunya kepentingan
> > politis atas WPN yang berada di wilayah perbatasan negara.
> >
> > Singgih Widagdo Direktur Indonesian Coal Society (ICS)
> >
> >
> --------------------------------------------------------------------------------
> > PP-IAGI 2008-2011:
> > ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> > sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> > * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
> >
> --------------------------------------------------------------------------------
> > Ayo siapkan makalah....!!!!!
> > Untuk dipresentasikan di PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 4-6
> Oktober 2010
> > Deadline penyerahan makalah - 15 Februari 2010
> >
> -----------------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > ---------------------------------------------------------------------
> > DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information
> posted on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event
> shall IAGI or its members be liable for any, including but not limited to
> direct or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting
> from loss of use, data or profits, arising out of or in connection with the
> use of any information posted on IAGI mailing list.
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
>
>
>
> --
> [email protected]
> [email protected]
>
> "hidup adalah ibadah, yang tidak mengenal kalah atau menang"
>
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> Ayo siapkan makalah....!!!!!
> Untuk dipresentasikan di PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 4-6 Oktober
> 2010
> Deadline penyerahan makalah - 15 Februari 2010
>
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
> or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
> of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>

Kirim email ke