Ada komentar dari para pakar mengenai tulisan ini (Erwin Y. Salim):
Ragam, Gatra Nomor 11 Beredar Kamis, 21 Januari 2010]....
Apa mungkin ya teknologi bercocok tanam dan kebudayaan para manusia
purba di Indonesia pada jaman itu sudah lebih maju dari Bangsa di
Mesopotamia?
Atlantis! Surga yang Hilang Itu Adalah Indonesia
Lebih dari 30 tahun, Profesor Arysio Santos meneliti legenda tentang
"Benua yang Tenggelam": Atlantis. Selama itu, ia mengungkapkan 33
perbandingan menyangkut luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung
berapi, hingga cara bertani. Semua penelusuran itu membawa dia sampai
pada sebuah kesimpulan: lokasi "Surga yang Punah" itu ternyata ada di
Indonesia. Ia menerbitkan banyak karya tulis tentang Atlantis, termasuk
Atlantis The Lost Continent Finally Found yang menegaskan keyakinannya
tentang lokasi itu. Pada 9 September 2005, kurang dari dua bulan setelah
buku terakhirnya ini terbit, pakar kepurbakalaan itu wafat. Karya
agungnya ini pun terbit dalam edisi Indonesia dengan judul yang persis
sama pada November silam. Berikut nukilan bagian-bagian penting dari
buku tersebut.
Atlantis! Sebuah kata yang membangkitkan perasaan mendalam tentang
sesuatu yang menakjubkan, sebuah misteri, dan rasa kehilangan yang tak
tergantikan. Dampaknya lebih terasa dibandingkan dengan sekadar istilah
"Benua yang Hilang" dan perasaan ini ada sejak zaman Plato, filsuf besar
yang menulis tentang "Surga yang Punah" itu sekitar 2.500 tahun silam.
Apakah Atlantis sekadar mitos? Sebuah dongeng moral? Kreasi fiksi
ilmiah? Ataukah ia benar-benar pernah ada dalam sejarah yang entah
bagaimana caranya diangkat lagi ke dunia nyata oleh pena ajaib Plato?
Menurut Plato, Atlantis adalah induk segala peradaban. Atlantis adalah
sebuah imperium yang sangat luas dan mendunia. Imperium ini menguasai
pelayaran dan perdagangan laut, menciptakan metalurgi dan perkakas batu,
sangat ahli dalam segala jenis seni dan jasa, termasuk seni tari, drama,
musik, dan olahraga.
Lebih jauh, penduduk Atlantis mengumpulkan harta kekayaan yang melimpah,
sampai Plato sendiri merasa takjub. Selain kaya, penduduk Atlantis juga
mulia dan berbudi luhur. Mereka lebih mengutamakan kebijaksanaan dan
kesalehan ketimbang kekayaan. Tapi, lambat laun, mereka terperangkap
dalam kesombongan, ambisi, dan iri hati yang melampaui batas.
Lalu para dewa pun bersidang dan memutuskan untuk menghukum penduduk
Atlantis agar dunia kembali ke jalur yang benar. Untuk itulah, para dewa
mengirim bencana banjir dan gempa bumi, sehingga melumatkan imperium
terkemuka ini sehancur-hancurnya. Plato sendiri menyebut bencana alam
yang dialami penduduk Atlantis itu sebagai "Banjir Semesta".
Dia bahkan menambahkan beberapa rincian yang membawa kita pada beberapa
kesimpulan: bencana itu dipicu ledakan gunung berapi besar yang diikuti
penurunan tanah dan pembentukan kaldera, muntahan batu apung, tsunami,
dan gempa bumi hebat. Dan, penanggalan yang diberikan Plato, tahun
11.600 sebelum Masehi, bertepatan dengan perhitungan penanggalan akhir
zaman pencairan es. Dua fenomena geologi itu merupakan bencana alam
raksasa berskala dan berdampak global.
Selama 25 abad sejak masa Plato, ribuan buku tentang Atlantis telah
ditulis orang. Sayang, hal-ihwal "Benua yang Tenggelam" itu masih jauh
dari terselesaikan. Misteri tentang letaknya juga belum pernah terjawab
secara memuaskan, kendati ratusan tempat berbeda di dunia diklaim
sebagai lokasinya. Di antara lokasi itu adalah Mediterania, Laut Utara,
Pesisir Laut Atlantik di Eropa dan Afrika, kawasan di tengah Laut
Atlantik, Segitiga Bermuda, hingga Amerika.
Hipotesis Atlantis di Wilayah Indonesia
Menariknya, menurut Profesor Santos, satu-satunya tempat yang sejauh ini
belum dinyatakan sebagai lokasi Atlantis di antara ratusan lokasi adalah
Indonesia. Bahkan lebih tepatnya, di tempat inilah --lebih baik dinamai
Paparan Sunda (Sundaland) atau Austronesia-- dataran-dataran rendah
Atlantis yang tenggelam itu berada. Benua mahabesar yang tenggelam ini
sebenarnya terletak di laut dangkal yang ada di selatan Asia Tenggara,
di wilayah yang sekarang bernama Indonesia.
Pulau-pulau di Indonesia, yang jumlahnya banyak dan tersebar,
sesungguhnya adalah dataran-dataran tinggi dan puncak-puncak gunung yang
tersisa ketika dataran-dataran rendahnya yang luas tenggelam pada akhir
zaman es. Ini terjadi ketika permukaan laut di seluruh bumi naik
setinggi 130 hingga 150 meter.
Anehnya, menurut dia, tak seorang pun pernah berpikir untuk mencari
Atlantis di bagian wilayah Indonesia yang sekarang sudah terendam,
lokasi yang sebenarnya memiliki daratan sangat luas berukuran benua. Tak
seorang pun pernah bermimpi bahwa "Benua yang Tenggelam" sesungguhnya
ada di sana. Setidaknya sejak cerita Lemuria atau daerah yang hilang
versi Haeckel dan Sclater disingkirkan karena ada alternatif yang lebih
baik, seperti Teori Lempeng Tektonik.
Di samping itu, sejauh ini semua peneliti pun terkurung oleh perkiraan
bahwa peradaban hanya bisa muncul di wilayah-wilayah Mediterania,
wilayahnya manusia berkulit putih.
Sebagian besar pakar umumnya menempatkan Atlantis di sekitar Samudra
Atlantik, lokasi di mana Atlantis sebenarnya tidak pernah ada
sebelumnya. Samudra Pasifik sebenarnya merupakan ?Samudra Sesungguhnya?
yang dibicarakan Plato sebagai samudra tempat Atlantis berada. Sedangkan
Samudra Atlantik dan Samudra Hindia masing-masing dianggap sebagai
terusan ke arah timur dan barat.
Manusia, menurut Profesor Santos, pertama kali muncul di Afrika sekitar
tiga juta tahun yang lalu. Manusia primitif ini segera menyebar ke
seluruh Eurasia dan wilayah di luarnya hingga ke Timur Jauh dan
Australia sekurang-kurangnya satu juta tahun silam. Di sanalah manusia
asli ini mula-mula mengembangkan peradaban. Lalu di Indonesia inilah
mereka pertama kali menemukan kondisi iklim yang ideal bagi perkembangan
diri seutuhnya. Di tempat inilah sebenarnya nenek moyang kita menemukan
budaya bercocok tanam dan peradaban.
Perkembangan itu berlangsung pada akhir zaman es, yakni pada masa
pleistosen, kurun terakhir dari waktu geologis yang besar, dimulai dari
sekitar 2,7 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 11.600 tahun yang
lalu. Pada zaman pleistosen, permukaan laut lebih rendah 130 hingga 150
meter dari permukaannya sekarang.
Karena itulah, sebuah bidang luas di daerah pantai, yang disebut
Landasan Benua, dengan lebar 200 kilometer terlihat membentuk
jembatan-jembatan darat yang menghubungkan banyak pulau dan wilayah ini.
Di tempat semacam inilah di Indonesia, titik peradaban manusia dan
budaya bercocok tanam berkembang untuk pertama kalinya.
Lalu, dengan berakhirnya zaman es pleistosen, gletser-gletser yang
menutupi setengah wilayah utara Amerika Utara dan Eurasia segera
mencair. Air dari pencairan es ini mengalir ke laut, sehingga
menyebabkan permukaannya naik 130 hingga 150 meter. Dengan kenaikan
permukaan laut ini, Atlantis tenggelam dan lenyap untuk selamanya
bersama sebagian besar penghuninya yang semula sangat banyak.
Berdasarkan data Plato, pada saat bencana itu terjadi, jumlah penduduk
Atlantis di Dataran Agung itu saja mencapai 20 juta. Konsentrasi manusia
yang sangat besar ini hanya mungkin terjadi dengan adanya budaya
bercocok tanam yang sangat maju, dengan dua atau tiga kali panen dalam
setahun seperti diceritakan Plato. Produktivitas pertanian yang besar
ini sampai sekarang tetap menjadi ciri khas seluruh wilayah tersebut,
khususnya Jawa dan Sumatera.
Ciri Geografis Utama Plato
Cara lain yang digunakan Profesor Santos untuk membuktikan Indonesia
sebagai "Surga yang Tenggelam" itu adalah data geografis. Di sini ia
berusaha mendeskripsikan sebuah metode yang dikatakannya amat sederhana
untuk membandingkan lokasi-lokasi yang selama ini diajukan sebagai situs
Atlantis.
Walau sederhana, metode ini berlaku seperti panduan yang memaksa pikiran
agar tetap fokus pada ciri-ciri pentingnya. Ini diperlukan untuk
menghindari banyak kesalahan dan jebakan yang, menurut dia, dihadapi
sebagian besar peneliti yang menelisik misteri Atlantis yang memang
sulit sekali dipecahkan.
Asumsi dasar yang digunakannya sebagai indikator adalah gambaran
ciri-ciri utama geografis yang dituturkan Plato dalam Timeaus. Gambaran
geografis itu diperolehnya dari karya Benjamin Jowett, pakar teks klasik
asal Inggris, yang selama ini diakui sebagai terjemahan terbaik Timeaus.
Dalam Timeaus terjemahan Jowett yang dikutip, Plato antara lain
bertutur: "... dan di sana ada sebuah pulau yang terletak di depan
selat-selat yang kau sebut sebagai Pilar-pilar Herkules. Pulau ini lebih
besar daripada gabungan Libya dan Asia, dan merupakan jalan ke
pulau-pulau lain; dan dari pulau-pulau ini, Anda dapat melintas ke
seluruh benua yang berhadapan yang mengelilingi Samudra yang
Sesungguhnya. Karena laut ini, yang berada di dalam Selat-selat
Herkules, hanyalah sebuah pelabuhan dengan sebuah jalan masuk yang
sempit. Tapi yang satu lagi adalah laut sebenarnya dan tanah yang
mengelilinginya mungkin yang benar-benar disebut benua tanpa batas."
Dari tuturan tersebut, Profesor Santos lalu menarik beberapa kesimpulan
tentang ciri-ciri dan data geografis utama "Benua yang Hilang" yang
diberikan Plato. Sekaligus dengan itu, ia mendapati kenyataan bahwa tak
satu pun dari banyak lokasi yang selama ini diajukan para pakar sebagai
situs Atlantis bersesuaian dengan "tuntutan" Plato.
Namun, ia meyakini, satu-satunya pengecualian adalah lokasi yang
ditemukannya lebih dari 20 tahun silam, yakni Indonesia dan Paparan
Sunda yang berada di bawah perairan Indonesia. Menurut ikhtisar yang
dibuatnya, Profesor Santos menyarikan ciri dan data geografis Plato itu
menjadi empat: Dua Pilar (Selat), Pulau Atlantis (Lebih Besar daripada
Asia + Libya), Banyak Pulau di Samudra Sesungguhnya, dan Benua Luar di
Depan (Benua Sesungguhnya).
Indonesia dalam Tabel Perbandingan
Menurut pengamatan Profesor Santos, hasilnya akan lain bila empat ciri
dan data geografis Plato itu diberlakukan pada lokasi Indonesia. Ini
memang salah satu upaya pengujian yang dilakukannya, di samping
penelusuran terhadap sumber-sumber kuno lainnya, seperti karya Pindar,
Homerus, dan Diodorus.
Dari pengisian tabel skematis itu, berikut pemeriksaan kesesuaian
empirisnya, Santos merasa menemukan satu-satunya jawaban nyata atas
teka-teki Atlantis. Ini merupakan jawaban yang cocok dari sisi realitas
geologis yang diketahui maupun dari gambaran terperinci yang diberikan
para pakar dan banyak sumber lain yang digunakannya.
Pindar, filsuf dan penyair pra-Plato, membuat beberapa rujukan lain
tentang Pilar-pilar Herkules dan lidah-lidah pantainya yang tak dapat
dilalui dalam syair-syairnya. Begitu pula sumber-sumber kuno lainnya.
Sebenarnya tradisi yang meluas ini bertahan hingga masa Renaisans dan
era navigasi sampai Christopher Columbus dan para penjelajah lainnya
melanggar tabu tersebut.
Lidah-lidah pantai berpasir atau berawa-rawa suram itu, dalam
Argonautica karya Apollonius dari Rhodes, juga disebutkan dengan istilah
Rawa-rawa Tritonia. Sebutan itu pun tercatat dalam beberapa bagian
naskah-naskah kuno. Dan, tradisi-tradisi ini berasal dari masa yang jauh
sebelum kemunculan cerita Plato tentang Atlantis dan laut-lautnya yang
tak dapat dilalui.
Tradisi-tradisi itu sangat jelas tidak merujuk pada samudra yang kini
bernama Atlantik, melainkan pengertian samudra dari Atlantis, yang
ciri-cirinya sangat cocok dengan Samudra Pasifik sekarang. Selain itu,
wilayah yang dibicarakan adalah Hindia Timur atau Taprobane,
satu-satunya kawasan yang memiliki kesesuaian geologis.
Santos yakin, laut-laut yang dipenuhi lidah pantai berawa dan danau
pinggir laut itu ada di Indonesia, menjadi bagian dari Samudra Pasifik
yang dulu diyakini menyatu dengan yang kini kita sebut Samudra Atlantik.
Keyakinan ini sekaligus meruntuhkan hipotesis bahwa Pilar-pilar Herkules
yang sesungguhnya adalah Gibraltar. Penelitian panjang Santos membawa
dia pada temuan lain bahwa Pilar-pilar Herkules sesungguhnya adalah
Selat Sunda.
Bila hipotesis itu diberlakukan dan dimasukkan dalam "jalan cerita"
uraian Plato dalam Timeaus, hasilnya sungguh menakjubkan. Lokasinya
Indonesia dan Paparan Sunda. Dua pilarnya ada di Selat Sunda, selat
sempit dari samudra (Hindia) menuju wilayah Indonesia yang kini setengah
tenggelam, tapi sebelumnya merupakan benua yang sangat luas.
Pulau-pulau di Indonesia yang setengah tenggelam dan sangat luas
tersebut membentuk lidah-lidah pantai berawa yang tidak dapat dilalui.
Selain itu, banyak pulau laksana surga di perjalanan --Kepulauan
Indonesia sendiri, Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia-- yang membuat
lawatan panjang jadi menyenangkan. Terakhir, "Benua Luar" yang berada di
luar dan depan wilayah ini adalah Amerika.
Indonesia memang sisa-sisa daratan mahaluas yang tenggelam sebagian.
Inilah rupanya yang membuat Plato menyebut Atlantis sebagai nesos yang
diartikan sebagai "pulau".
Kepulauan di kawasan Pasifik sekitar Indonesia memang banyak dalam arti
sesungguhnya. Kepulauan itu tidak hanya menyediakan makanan dan air bagi
kapal-kapal yang lewat, melainkan juga gadis-gadis pribumi jelita yang
membuat jantung para pelaut yang lelah berdetak lebih cepat dan membuat
mereka memimpikan surga.
Selain itu, yang disebut "Benua Luar" itu cocok dengan uraian Plato,
yaitu wilayah Amerika. Begitu pula selat sempit yang dibicarakan di
sini, Selat Sunda, benar-benar terbuka karena letusan hebat gunung super
berapi, yakni Krakatau. Dua Pilar Herkules itu dapat disamakan dengan
dua gunung berapi yang mengapit Selat Sunda: Krakatau dan Dempo. Yang
satu gunung tinggi, dan yang lainnya kaldera gunung berapi raksasa
--sangat mirip dengan fitur-fitur seperti Scylla dan Charybdis atau
Calpe dan Habila yang dituturkan Avienus, penulis sejarah kuno yang
hidup pada abad IV.
Meskipun sulit dipercaya, tulis Profesor Santos, persamaan-persamaan itu
sulit sekali dikatakan sebagai kebetulan belaka. Karena itu, jelas bahwa
Plato, entah bagaimana caranya, mendengar tradisi-tradisi kuno tentang
Laut-laut Selatan yang diketahui berkaitan dengan Taprobane (Hindia
Timur) dan kehancuran wilayah yang dulu bagaikan surga itu.
Erwin Y. Salim
[Ragam, Gatra Nomor 11 Beredar Kamis, 21 Januari 2010]
.
===============================================
The content of this message may contain the private views and opinions of the
sender and does not constitute a formal view and/or opinion of the company
unless specifically stated.
The contents of this email and any attachments may contain confidential and/or
proprietary information, and is intended only for the person/entity to whom it
was originally addressed. Any dissemination, distribution or copying of this
communication is strictly prohibited.
If you have received this email in error please notify the sender immediately
by return e-mail and delete this message and any attachments from your system.
Please refer to http://www.newmont.com/en/disclaimer for other language
versions of this disclaimer. ================================================
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan makalah....!!!!!
Untuk dipresentasikan di PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 4-6 Oktober 2010
Deadline penyerahan makalah - 15 Februari 2010
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------