*Indonesia Perlu Punya Komite Gempa*

Kamis, 3 Juni 2010 23:12 WIB


Jakarta (ANTARA News) - Indonesia sebagai negara rawan gempa perlu memiliki
forum atau komite nasional gempa untuk meningkatkan sinergi antarahli dari
beragam latar keilmuan dan institusi.

Wacana tersebut mengemuka dalam Diskusi Nasional Pakar Gempa bertajuk "Link
and Match Dalam Usaha Pengkajian dan Mitigasi Bencana Gempa" di Jakarta,
Kamis. Diskusi yang dibuka Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan
Bencana, Andi Arief, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB)
Mayjen (Purn) Syamsul Maarif itu melibatkan 25 pakar gempa dari perguruan
tinggi, lembaga riset, maupun lembaga pemerintahan.

Beberapa ahli gempa ternama hadir dalam diskusi tersebut, seperti Dr. Danny
Hilman (LIPI), Dr. Wahyu Triyoso (ITB), Prof. Dr. Dwikorita Karnawati (UGM),
Dr. Sukhyar (Badan Geologi ESDM), Dr. Prih Haryadi (BMKG). Juga hadir pakar
gempa dari Australia Prof. Dr. Phil Cummins dan Dr. Trevor Dhu.

 Forum atau komite gempa bumi dimaksud juga diharapkan menjadi wadah
penggodokan berbagai pandangan strategis mengenai mitigasi, adaptasi, dan
antisipasi gempa sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam melakukan
pengambilan kebijakan.

Menurut Andi Arief, riset dan pengembangan kajian gempa yang dilakukan
berbagai akademisi maupun lembaga pemerintahan hingga saat ini masih belum
terkoordinasi dengan baik.

Padahal, katanya, statistik menunjukkan intensitas terjadinya gempa di tanah
air semakin tinggi.

"Pendirian forum atau komite gempa akan mampu menghilangkan sekat-sekat
antarahli atau institusi, sehingga bisa dicapai sinergi bersama untuk hasil
yang lebih maksimal," katanya.

Selain membicarakan minimnya sinergi antarpemangku kepentingan persoalan
kegempaan, para pakar gempa juga membicarakan upaya mempromosikan mitigasi
bencana, studi kegempaan di perguruan tinggi, serta komunikasi mengenai
risiko kegempaan.

Terkait dengan pendidikan kegempaan di perguruan tinggi, wakil-wakil dari
ITB dan LIPI mempresentasikan persiapan pendirian program pascasarjana
kajian gempa bumi dan tektonik aktif. Pendirian program ini dilatarbelakangi
minimnya pengetahuan tentang sesar aktif dan kegempaan di Pulau Jawa dan
Indonesia secara umum.

"Kita prihatin karena sedikit sekali peneliti dari perguruan tinggi atau
lembaga penelitian yang melakukan riset dengan topik tersebut," kata Danny
Hilman.

Minimnya riset kegempaan di Indonesia juga tak terlepas dari minimnya
dukungan dana untuk program-program mitigasi bencana seperti riset.

Kepala BNPB Syamsul Maarif mengatakan, politik anggaran Indonesia saat ini
memang masih menitikberatkan perhatian pada program-program pascabencana.
Anggaran mitigasi bencana saat ini hanya senilai Rp15 miliar per tahun.

"Mitigasi bencana merupakan upaya untuk menghindarkan korban yang lebih
besar sebelum bencana terjadi. Karena itu, perlu dicari cara agar perhatian
terhadap mitigasi bencana mendapatkan porsi yang lebih memadai dalam APBN,"
katanya.(*)
(S024/R009)

http://antaranews.com/berita/1275581532/indonesia-perlu-punya-komite-gempa

Kirim email ke