Yth Pak Prasidha,

Terima kasih, mator sakalangkong , telah melengkapi posting mang Okim. Tulisan 
Pak Arfandy  dibuatnya tahun berapa ya ?  Kurs dollarnya masih Rp 7.000 (  mang 
Okim belum sempat ngecek di websitenya ) .  Mengenai para pemimpin kita, belum 
tentu bahwa beliau-beliau memakai batumulia kelas tinggi, khususnya yang hobby 
atau beli sendiri. Contohnya Pak Bowo yang Gem-Lovers, yang kalau mang Okim tak 
salah tafsir, jenis batu cincinnya  krisopras dalam negeri ( chrysoprase = SiO2 
dengan kontaminasi oksida nikel ). Lain halnya kalau batumulianya hadiah 
kosasih alias ongkos dikasih .  Inipun bukan jaminan bahwa batumulianya asli. 
Mang Okim kebetulan beberapa kali diminta bantuan untuk ngecek batumulia 
koleksi pejabat dan tokoh penting , ada yang mantan Ketua DPRD, ada yang isteri 
mantan Residen dan rektor yang telah meninggal dunia, ada yang Profesor 
kebumian, ada yang mantan Pimpro, dan lain-lainnya . Untuk kerjaan  semacam 
ini, mang Okim benar-benar sangat risih karena tidak mudah untuk mengatakan 
bahwa  sebagian besar batumulia yang dikoleksi adalah sintetis. Paling-paling 
mang Okim sarankan untuk dibagikan ke anggota keluarganya masing-masing sebagai 
kenang-kenangan ( bagi yang suaminya telah almarhum ). Mang Okim lebih pusing 
lagi kalau ditanya tentang harga patokannya atau kalau diminta untuk 
menjualkannya. Gimana caranya - - - ta' iya ?

Salam cinta batumulia,
Mang Okim

----- Original Message ----- 
  From: prasiddha Hestu Narendra 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, June 09, 2010 10:05 AM
  Subject: Re: [iagi-net-l] GEM-LOVERS : BATU PERMATA DI JARI MANIS PEJABAT


  Nah ini cerita yg diambil dari kabar Indonesia....

  salam,
  phn

  Batu Akik Bagi Tokoh Indonesia
  Oleh : Arfandy, Se | 08-Jan-2010, 23:59:30 WIB 
  
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Batu+Akik+Bagi+Tokoh+Indonesia&dn=20100108194944

  KabarIndonesia - Terkadang, hal ini, luput dari penglihatan kita. tapi coba 
lihat disekeliling anda. termasuk itu pejabat daerah dimanapun anda berada. ini 
fenomena yang menarik.  

  Batu Mulia dan Batu Akik merupakan salah satu unsur perhiasan yang terkadang 
menjadi domain dalam setiap jenis dan pernik dari perhiasan yang berupa gelang, 
cincin, giwang, dan kalung. Sudah menjadi sesuatu yang biasa bila rakyat biasa, 
baik petani, pelajar, sampai pejabat di Indonesia ini memakai perhiasan yang 
mengikutkan unsur Batu Mulia dan Batu Akik. 

  Tapi rupanya para Presiden Republik Indonesia dan para pejabat pemerintah 
lainnya juga gemar menggunakan Batu Mulia dan Batu Akik dalam agenda kegiatan 
kesehariannya. 

  Ada sesuatu yang cukup unik bila kita memiliki waktu luang untuk memikirkan 
dan membayangkannya. Seorang Presiden yang pasti diliputi kesibukan yang sangat 
luar biasa, masih menyempatkan diri untuk menggunakan Batu Mulia dan Batu Akik 
yang melingkar dijari kiri atau sebelah kanan sebagai pelengkap penampilan 
sehari-hari.

  Yang menjadi pertanyaan adalah hanya sekedar pelengkap penampilan, atau ada 
“sesuatu” dibalik batu Cincin yang dikenakan oleh Para Presiden kita? Coba kita 
tengok penampilan dari Presiden RI pertama, yaitu Soekarno. Menurut infonya 
beliau memiliki beberapa koleksi Batu Mulia dan Batu Akik, dan mungkin sekarang 
masih tersimpan rapi di Blitar. Kemudian Presiden RI kedua yaitu Soeharto. 
Presiden yang berkuasa 32 th ini rupanya juga mengenakan cincin yang melingkar 
di jari manisnya, Habibie, sebagai seorang scientist yang juga cendikiawan 
serta pakar teknologi tak luput dari kelengkapan penampilan dengan cincin Batu 
Mulia yang melingkar apik di jari manis sebelah kanan.

  Kita tengok juga penampilan Mantan Presiden Gusdur, Megawati, dan Presiden 
kini yang terpilih yaitu SBY. Semua pemimpin Negara Indonesia ternyata 
menggunakan Batu Mulia dan Batu Akik dalam penampilan sehari-hari. Belum lagi 
para Wakil Presiden seperti Adam Malik, Umar W, Hamzah Haz, serta para calon 
presiden, seperti Agum Gumelar, dan Wiranto. Kembali kita bertanya, ada apa 
dengan Batu Mulia dan Batu Akik yang ternyata tidak hanya memiliki tempat di 
hati rakyat, tapi juga para pemimpinnya.

  Mitos seputar Batu Mulia dan Batu Akik di lingkaran Pemimpin
  Sudah menjadi berita umum, bahwa yang namanya Batu Mulia atau Batu Akik tidak 
hanya dipergunakan sebagai perhiasan, tapi juga memiliki suatu aura tertentu 
yang dapat mempengaruhi si pemakai saat berhadapan dengan khalayak ramai.. Maka 
dengan sekilas analisis singkat tersebut, maka cukup beralasan para pemimpin 
Indonesia juga senang dan berkenan memakai Batu Mulia dan Batu Akik menjadi 
bagian dari penampilan sehari-hari.

  Negara Indonesia ini cukup unik, dan hal ini tidak lepas dari perjalanan 
sejarah Indonesia sejak jaman Pra Sejarah – Jaman Kerajaan – sampai dengan 
Jaman Reformasi seperti sekarang ini. Sejak jaman dulu yang namanya Indonesia 
memiliki cerita-cerita panjang tentang hal-hal yang bersifat supranatural, 
tengoklah Keris Mpu Sendok, Tombak Kiai Plered, dan sebagainya. 

  Rupanya hal-hal supranatural itu tidak bisa lepas dari aktivitas beberapa 
elemen aktivitas walaupun tidak sepenuhnya hal itu diyakini.

  Selain dari khasiat dan mitos yang menyertainya, pastilah para pemimpin tentu 
saja memiliki strata ekonomi yang berada di level 1, tak heran bila cincin yang 
dikenakan oleh para pemimpin kita pasti bukan sembarang cincin dan yang jelas 
harganya sangat mahal. Bayangkan , Batu permata jenis kelas satu seperti mirah 
delima (ruby) atau safir (blue saphhire) yang kualitasnya bagus, harganya tidak 
akan kurang dari US $ 200 per karat. Ukuran mata cincin yang dipakai pada 
umumnya tidak kurang dari 10 karat . Jadi minimal aksesoris tersebut berharga 
$2000 atau ekuivalen Rp.14.000.000. 

  Ini belum termasuk tatahan berlian, dan logam yang digunakan untuk 
pengikatnya (biasanya emas putih, atau emas). Ditambah lagi fakta bahwa, harga 
suatu batu permata tidak hanya bergantung dari kualitas standard (warna, cacat, 
clarity ), tapi juga tergantung pada hal-hal yag sifatnya sangat-sangat 
subyektif, misalnya : “star” yaitu pola bintang pada pemantulan cahaya natural, 
pola “urat” batuan yang terkadang secara alamiah membentuk “gambar” tertentu , 
kepercayaan pemakai terhadap “khasiat” batu permata tersebut dstnya. 

  Bisa jadi ini mungkin sisa-sisa kultur dinamisme yang masih eksis 
dimasyarakat kita Hebatnya, justru karena unsur-unsur subyektif ini, harga batu 
permata bisa berlipat-lipat dari harga yang ditaksir secara “standard”. Tidak 
heran bila ada seseorang yang “gila” terhadap batu permata tertentu, berani 
membayar milyaran rupiah terhadap batu permata yang disukainya. Walaupun secara 
“standard” harga, batu permata tersebut mungkin harganya”cuma” puluhan juta 
misalnya. 

  Pada saat Presiden Soeharto berkuasa, sudah menjadi rahasia umum, bahwa 
Soeharto adalah seorang yang percaya terhadap kekekuatan-kekuatan Supranatural. 
Ini direpresentasikan lewat adanya beberapa penasehat “spiritual” yang 
kebanyakan adalah “dukun-dukun” kejawen. Orang yang percaya pada kekekuatan 
Supranatural , umumnya juga percaya bahwa cincin batu “tertentu” akan punya 
“khasiat” tertentu. Yang jelas sewaktu Soeharto berkuasa, cincin mirah delima 
yang sering dipakai dijarinya adalah batu permata dengan kualitas kelas satu 
yang harganya jelas mahal. Karena bagi seorang nomor 1 di Indonesia tidak akan 
memakai barang sembarangan terkait harga apalagi kekuatan yang meliputinya.

  Menjelang kepulangan Mantan Presiden Soeharto beberapa waktu lalu, beredar 
informasi bahwa Kyai Enung, nama aslinya Nurjaya, ahli spiritual dari Desa 
Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Dia meminta anak-anak 
Soeharto untuk mencari dan menemukan guru spiritual yang memberikan batu akik 
Ki Alip Cukur kepada Soeharto. Jika guru itu sudah meninggal, harus dicari 
pewaris ilmu sang guru. 

  ”Kasihan beliau. Secara medis, seharusnya beliau sudah berpulang ke 
Rahmatullah (meninggal – red). Tetapi kepulangannya itu terhalangi batu akik 
yang telah menyatu dengan beliau. Batu akik ini harus dicabut oleh yang 
memasangnya atau pewaris ilmu guru tersebut,” demikian Kyai Enung 
menganalisis.Menurut penerawangannya, Soeharto punya sejumlah guru spiritual, 
namun yang paling berpengaruh pada kondisi kesehatannya adalah batu akik Ki 
Alip Cukur yang konon berwarna hitam, batu hitam yang bernama kecubung wulung 
(batu ini adalah batu langka dan hanya ada beberapa saja, termasuk saya).

  ”Batu ini diperoleh dari seorang guru spiritual di Jombang, Jawa Timur. 
Cobalah cari ke sana. Memang perkataan saya ini irasional, tetapi lebih baik 
anak-anak Pak Harto mencobanya seraya mengikhlaskan kepergian beliau,” katanya.

  Dia memperkirakan Soeharto tidak memegang Batara Karang yang berpengaruh 
seperti mampu membuat segan pihak lawan atau orang-orang di sekitarnya dan 
ampuh untuk menghindari ”serangan-serangan gaib”. Batara Karang juga mempunyai 
ciri pemegangnya sulit meninggal, jika tidak dilepas oleh gurunya.

  Batu akik yang dikenal dengan nama Ki Alip Cukur ini bisa dipakai sebagai 
perhiasan di cincin. Tetapi paling ampuh jika batu akik ini dijadikan bahan 
sebagai susuk yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Karena digunakan 
bertahun-tahun, batu tersebut akhirnya menyatu dengan tubuh yang bersangkutan. 
Benar atau tidaknya Wallahu’alam. 

  Dikesempatan lain, coba perhatikan dijari Gus Dur kini ada satu cincin 
berwarna hijau (mungkin Zamrud) sewarna dengan Organisasi yang mengusung beliau 
menjadi Presiden yaitu PKB. Sedangkan Ibu Megawati cenderung menggunakan batu 
Cincin yang berwarna hitam (bisa jadi safir hitam). 

  Terlepas dari apa “khasiat” supernatural cincin Soeharto, Habibie, Gus Dur, 
Ibu Mega, sampai dengan SBY, dan sederet pejabat papan atas lainnya, yang jelas 
bagi saya batu permata sendiri cuma sekedar ikatan kimia antara beberapa elemen 
mineral batuan dan beberapa elemen logam, yang tersusun dalam struktur 
tertentu. Sedangkan ada tidaknya peran penting Batu Mulia terkait dengan 
kewibawaan dan kebijaksanaan beliau, Wallahu’alam. Semua kekuatan berasal dari 
Allah Ta’alaa dan kembali kepada Allah Ta’alaa…. 



Kirim email ke