*C4e (CBM for electric)* Bagaimana kira-kira keekonomiannya ?
Apabila dikonversi secara fisis maka akan diperoleh 1 Mcf gas ~ 390 Kwh (konversi satuan fisis). 1 Mcf = 156 Kwhe (untuk* 40% efisiensi mesin konversi*) Kemampuan membeli rakyat Indonesia membeli TDL adalah seharga Rp 700/Kwh atau kira-kira ~*0.8 Usd/Kwh* Dengan demikian artinya harga gas ini dibeli oleh rakyat Indonesia 1Mcf > diatas 12 US$ Kalau Pajak SDA 35-40% maka dimata produsen CBM harga gas ini menjadi diatas 7.5 US$ Artinya rakyat Indonesia sebenarnya mampu membeli gas seharga 7.5 $/Mcf Bandingkan dengan harga jual gas ke LNG 1 Mcf ~ 6-7 US$ dan saat ini hanya utk eksport ! Mari kita galakkan CBM for Electric *C4e* Perlu dipikirkan bahwa sebenarnya rakyat Indonesia juga mampu membeli mahal gas itu ! RDP 2010/7/27 Paulus Tangke Allo <[email protected]> > re-send with attachment. > > ---------- Forwarded message ---------- > From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > > From: <[email protected]> > > Sebetulnya semuanya pakai sistem CR guma nek no O/G ditentukan > oleh pemerintah opo opo sing di CR kan. lha semuanya setelah > dipotong biaya operasi/produksi kan baru dibagi bagi to ( yang > dibagi bagi kan penghasilan bersihnya ).Kalau di geothremal model lama > ( eksisting ) ada kontrak jual > uap ( SSC ) dan kontrak langsung jual listrik ( ESC) , kjalau > di IPP spt PLTU batubara dinamakan PPA . Kalau SSC di > geothermal mirip dengan GSA kalau di Gas. Lah kalau untuk CBM > bisa model ESC /GSA ke PLN atau perusahaan pembangkit lain , > atau bisa juga dg ESC/PPA ( si investor CBM langsung bikin > pembangkit dan listriknya jual ke PLN , atau bisa juga > listriknya dijual ke industri yg ada disitu .Skemanya : > 1. Peusahaan CBM -----------> jual listrik (ESC/PPA) ke PLN > 2. Perusahaan CBM-----------> jual gas ( GSA) ke PLN > 3. Perusahaan CBM-----------> jual gas (GSA) ke Perusahaan > Pembangkit (IPP) ------------> IPP Jual listrik (PPA) ke PLN > Kayaknya skema no 1 yang simpel seperti yang dipakai di > Geothermal untuk WKP yang baru dilelang sekarang iniPerhitungan harga > listrik banyak faktor , spt biaya O&M , biaya > bahan bakar ( fuel cost ), nah biaya bahan bakar ini kalau > batubara atau minyak kan tinggal berapa harga batubaranya per > Ton atau BBM per Liternya < lha kalau pakai Geothermal atau CBM > kan harus dihitung biaya biaya untuk ekplorasi dan > ekploitasimya , misalnya dg asumsi asumsi berapa sumur yang > akan di bor tergantung kapasitas sumur dan kapasitas > pembangkitnya , ini semua kan memepengaruhi harga jual gas atau > steam nya sbg komponen fuel costnya , karena semuanaya > tergantung lapangan yg disitu makanya ada faktor resiko > ekploitasi , misale kapasitas sumur tiba tiba drop maka harus > ada tambahan sumur sumur baru ditengah jalan , dll , jadi > ngitungnya kebih jlimet daripada dg sisten PPA batubara , > karena batubara bisa dari tempat yang berbeda beda. > ISM > > ==== > > Rovicky wrote : > > Berikut aku sampaikan skema CBM for electric > > Gambar paling atas menunjung kondisi saat ini dimana CBM company > menggunakan kontrak PSC psc untuk menghasilkan gas. Dimana nantinya > gas itu dapat dijual dengan menggunakan perjanjian GSA (Gas sales > agreement) Salah satu pembelinya bisa LNG (export), dengan pemipaan ke > PGN, atau dapat juga dijual ke IPP dan PLN yang akhirnya bisa > menghasilkan listrik yang lasngsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat. > > Gambar tengah ini gambaran pengusahaan geothermal dengan total project > contract. Dimana pengusahaan geothermal tidak menjual steam (uap) > tetapi menjual listrik ke PLN. Seolah-olah mirip IPP dengan mekanisme > perjanjian PPA. PLN tetap menjual dan mendistribusikan listrik ke > rakyat dengan harga TDL yang sudah ditentukan. > > Gambar bawah adalah mengadopsi kontrak geothermal dimana pengusahaan > CBM dilakukan dengan bentuk Total Project Contract, kontrak ini mirip > dengan kontrak geothermal. > > Semua istilah serta bentuk kontrak ini semestinya sudah dikenal di > kalangan ahli-ahli energi di milist ini. Tidak ada bentuk kontrak > aneh-aneh yang baru. Semua sudah ada. > Hal yang baru disini hanyalah pengusahaan CBM hingga menjual listrik. > > Saya minta bantuan rekan-rekan IndoEnergy untuk memasukkan angkanya > juga memasukkan komponen harga dan keekonomiannya. Nanti kita akan > tahu berapa ekivalen harga gas CBM. harapan saya akan dinilai lebih > ketimbang gas yang dijual sebagai gas. Perhitungan perpajakan serta > hal-hal lain mungkin dapat mengikuti kontrak geothermal. CBM masih > baru perlu insentif tambahan supaya lebih marak. > Ingat konon CBM indonesia ada 450 TCF ! No 2 setelah Amerika. > > Pengusahaan kontrak CBM mungkin masih harus dilakukan oleh Pemerintah > pusat karena bahannya MIGAS, dimana UUnya mengatakan dikelola > pemerintah pusat (cmiiw) > > Mengapa CBM yg dilakukan utk listrik. Secara kebetulan alam sudah > membagi Sumatera Selatan serta Kalimantan sebagai tempat "deposit" > CBM. Dimana daerah itu saat ini memiliki elektrifikasi rendah, > tentunya dibanding P Jawa. > Alasan lain seperti yang saya sebut sebelumnya karena CBM ini memiliki > tekanan rendah serta di dominasi oleh metana (95%). > > Gas is energy not just a commodity ! > > RDP > >

