Melihat Merapi dari sisi yang lain (sekedar untuk renungan dan bacaan saja).
Mohon maaf kalau kurang berkenan :
Kalau kita buka Al Quran (mohon maaf dan bagi yang Muslim silahkan dibuka: QS
Shad (38) 18 : Sesungguhnya Kami menundukkan "gunung-gunung untuk bertasbih"
bersama dia.
Gunung Merapi itu sedang mensucikan ALLAH SWT, dan Gunung Merapi tsb sedang
dalam "kondisi yang paling kotor dalam dinamika litosferik untuk menuju
kesetimbangan fase kimia gunungapi dalam proses diferensiasi magmatik sesuai
jati dirinya Merapi (baca : karakteristik geokimia, geofika, vulkanologi
Merapi)". Jadi ...yang akan muncul sesungguhnya adalah Barokah Merapi bagi
bangsa Indonesia ini..., itu pesan yg ingin disampaikan dalam pandangan ILMU
dan
ILMI. Geologi dan Gunungapi manapun adalah bagian dari Ilmu Kalamullah dan
menjadi ranah ilmu yang paling tua dimuka bumi, dalam peradaban ilmu
pengetahuan
kebumian. Dalam konteks yang paling sederhana, yang sering saya sampaikan dalam
penyuluhan-penyuluhan mitigasi bencana dan tata kelola tambang galian pasir
Merapi di Sleman, Boyolali, dan Klaten, sering saya berikan 2 paradigma :
saintifik kegunung-apian dan sosial budaya lingkungan lokalnya. Tidak mudah
me-"maham"kan hal ini bagi sebagian besar dari mereka yang tinggal di lereng
Merapi. Saya kira kawan kita mas ET Paripurno (geologi UPN Veteran) yang punya
kelompok kerja sosial di Lereng Merapi, sangat memahami dinamika sosial
masyarakat lereng Merapi. Sorry Bro...!
Logika sederhananya : kebutuhan pasir Merapi untuk memasok kebutuhan
infrastruktur Jateng-Jatim (tol Pantura, tol Semarang - Jombang, /tempatnya Gus
Dur) sedang menyusut drastis di lembah-lembah yang berhulu Merapi. Penyuluhan
galian pasir yang sering saya lakukan di Boyolali, Klaten, Sleman, dan terakhir
kemarin kebetulan ditemani Ariadi Subandrio (Pengda IAGI DKI di Pemda Klaten,
awal Okto.2010) menunjukkan makin sulitnya memasok pasir terbaik bagi kebutuhan
infrastruktur tsb dll-nya. Mbah Maridjan terakhir saya ketemu (malam Takbiran
kemarin 8 Sept.2010, saya naik ke Kinahrejo untuk menyerahkan Zakat Profesi di
Masjid dekat Rmh-nya Mbah Marijan) mensiratkan bahwa "harus ada yang dibuang
dari Merapi" untuk "suci men-sucikan". Sehingga diweling "jangan menyebut
wedhus
gembel lagi" Dalam TEOLOGI MERAPI ini sesungguhnya sebagai bagian dari
Barokah-Nya..., Ayyaquula Lahuu Kun Fayakun..., kita lihat saja nanti...,
amien...
Akumulasi komentar tsb di atas dan dibawah ini, adalah akumulasi dialog saya
dengan wong cilik :
1. Periode awal September 2010 (pada malam hari) dalam rangka Sosialisasi
Mitigasi Bencana Merapi bersama BPPTK Yogya (selalu bersama Ibu Dewi Sri
Sayudi,
vulkanologist dari BPPTK) dan Pemda Sleman, di kampung Turgo, Kaliurang Atas,
Kinahrejo, Kepuharjo, dan Glagaharjo.
2. Periode awal Oktober 2010 dalam rangka Sosialisasi Tata Kelola Pertambangan
Pasir Merapi di Boyolali, Klaten, juga Sleman, nampak kegelisahan pasokan
pasir
Merapi yang berkurang dan konflik lahan-lahan non-sungai yang dihabisin dengan
quarry yang melebihi daya dukung lahan setempat (terutama di Kemalang, Klaten,
bagian dari DAS Woro).
3. Kebiasaan kluyuran/ blusukan/ dolan ke kawan-kawan perangkat desa, pelaku
wisata, peternak sapi perah di Kalikuning (Kinahrejo), di Kepuharjo, akhirnya
menghasilkan dongeng budaya geologi seperti dibawah ini :
Persepsi masyarakat terhadap resiko bencana Merapi
oleh : Agus Hendratno
(Teknik Geologi FT UGM / IAGI DIY/ Tim Review Rencana Aksi Daerah Pengurangan
Resiko Bencana Prov.DIY, termasuk mas ET Paripurno juga...)
Ancaman bencana terhadap manusia umumnya disebabkan karena kurangnya upaya
penelaahan terhadap sumber bencana tersebut. Hal ini berarti bahwa pengurangan
resiko bencana sebenarnya dapat diterapkan, bila dilakukan analisis resiko
bencana pada tahap perencanaan suatu kegiatan. Bencana alam tidak lain adalah
proses alam, yang berjalan relatif cepat dan terjadi secara mendadak. Aktivitas
volkanik Gunung Merapi pada hakekatnya merupakan proses alam yang diwujudkan
adanya gaya, gerak, dan materi yang dihasilkan. Betapa pun hebatnya, jika
proses
alam (letusan Gunung Merapi) itu berlangsung di daerah tak berpenduduk, maka
proses alam tersebut bukan merupakan suatu bencana alam. Proses volkanik Gunung
Merapi dikatakan sebagai proses pembencanaan, bilamana unsur gaya, gerak, dan
materi produk gunungapi tersebut mempengaruhi faktor hidup dan kehidupan
manusia. Faktor hidup merupakan jiwa manusia, sedangkan faktor kehidupan adalah
aktivitas budaya manusia. Secara garis besar hal tersebut dapat dipahami dengan
ilustrasi sebagai berikut :
Aktivitas Volkanik G.Merapi + Faktor Manusia = Bencana Alam Merapi
Pembentukan kubah lava Jiwa, harta
benda, Berdampak pada unsur
Guguran kubah lava dan
budidaya budaya manusia dan
Awan panas
guguran
dan lingkungannya
Hujan batu pijar, hujan abu
Gas beracun
Aliran lahar hujan
Faktor Manusia = Hidup + Kehidupan
Hidup = jiwa raga
Kehidupan = aktivitas budidaya : pertanian, perkebunan, perhutanan,
pariwisata,
permukiman, pertambangan, sosial kemasyarakatan.
Resiko bencana Merapi sebagai akibat proses erupsi, yang menimpa
suatu kelompok masyarakat di kawasan lereng Gunung Merapi sebenarnya sangat
tergantung pada besaran bencana tersebut serta kesiap-siagaan atau ketahanan
masyarakat itu sendiri dalam menghadapi bencana yang menimpanya. Secara
konseptual, hubungan antara resiko bencana Merapi dan ketahanan masyarakat
dapat
diilustrasikan sebagai berikut :
Bencana
Merapi (BM)
Resiko Bencana Merapi (RBM) =
Ketahanan Masyarakat (KM)
Keterangan :
Resiko bencana Merapi :
Perkiraan tingkat kerusakan, kerugian, penderitaan, kefatalan, kehilangan
karena
bencana Merapi yang menimpa suatu kelompok masyarakat.
Ketahanan masyarakat :
Kondisi kesiap-siagaan suatu masyarakat secara dinamis untuk
membina
ketahanan
menghadapi suatu peristiwa bencana alam yang dapat mengancam integritas,
identitas,
dan kehidupan kolektif sosial masyarakat tersebut (tingkat kewaspadaan).
Faktor ketahanan masyarakat meliputi :
- persepsi masyarakat terhadap G.Merapi dan lingkungannya, serta
bencananya
- sikap gotong royong masyarakat menghadapi pencegahan dini terhadap
resiko kerugian bencana alam
- terakomodasinya serta dipahaminya sistem peringatan dini ke
masyarakat
- tersedianya jalur pengungsian dan barak pengungsian secara memadai
Seberapa tingkat kewaspadaan masyarakat Kinahrejo – Kaliadem (sekitar hulu
Sungai Kuning dan Sungai Gendol), terutama yang masih menetap di Daerah
Terlarang dan juga Daerah Bahaya 1, dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan
data
(wawancara) yang diambil secara acak (random) terhadap sejumlah masyarakat yang
menetap di Kinahrejo – Kaliadem menunjukkan 88.6 % masyarakat tidak merasa
khawatir terhadap kemungkinan letusan Gunung Merapi yang melanda wilayahnya,
atau dengan kata lain adalah tidak merasa khawatir adanya resiko bahaya awan
panas yang melanda wilayahnya.
Tabel 1. Persepsi masyarakat lereng Gunung Merapi terhadap kemungkinan letusan
awan panas yang melanda wilayahnya
Persepsi masyarakat Masyarakat sekitar Sungai Kuning – Kinahrejo – Kaliadem
(N
= 35 orang)
Khawatir 11.4 %
Tidak khawatir (siap siaga) 88.6 %
Sebagian besar masyarakat lokal yang merasa tidak khawatir terhadap resiko
bencana (khususnya awan panas Gunung Merapi) mempunyai alasan “pasrah” tarhadap
kehendak Sang Pencipta melalui letusan / “kemarahan” Gunung Merapi. Bentuk
“kepasrahan” masyarakat Kinahrejo – Kaliadem terhadap “kemarahan” / aktivitas
Gunung Merapi hingga pada tahap Siaga Merapi – Awas Merapi (seperti yang pernah
terjadi di awal tahun 2001, dan Juni 2006) akan melahirkan komunitas budaya
volkanik yang unik. Komunitas budaya volkanik tersebut tercermin dalam
apresiasi
dan persepsinya terhadap unsur lingkungan alam sekitarnya, seperti : unsur
gunung dan sungai sebagai “sesuatu yang hidup”; unsur hutan sebagai sumber
mata-pencaharian primer (kegiatan berladang, merumput, mengambil
ranting-ranting
kayu yang kering untuk kayu bakar); unsur batuan (bongkah-bongkah andesit,
fragmen aliran piroklastik) sebagai “sesuatu yang hidup dan diuri-uri” juga
sebagai sumber pendapatan sekunder; serta unsur mata-air sebagai sumber
keberlangsungan hidup masyarakat. Pemahaman terhadap bentuk apresiasi dan
persepsi masyarakat tersebut terhadap lingkungan alam Gunung Merapi akan
membentuk wawasan dan pengalaman yang mendalam bagi setiap wisatawan /
pengunjung luar wilayah tersebut yang mampu menangkap fenomena volcanic
culture.
Sekalipun aktivitas Gunung Merapi meningkat, masyarakat Kinahrejo – Kaliadem
tetap menunjukkan “kepasrahannya” dengan melakukan kegiatan sosial ekonomi
sehari-hari tanpa memperlihatkan rasa khawatir terhadap kemungkinan letusan
awan
panas melanda wilayahnya. Mereka "beranggapan bahwa interaksi hati, kedamaian,
harmoni, yang dibangun secara turun-temurun antara masyarakat Kinahrejo –
Kaliadem dengan Gunung Merapi" sebagai sesuatu yang “diuri-uri” akan
“terhindarkan” dari ancaman malapetaka aliran piroklastik yang akan melanda
wilayahnya. Interaksi apresiasi dan persepsi masyarakat secara budaya akan
melahirkan kearifan tradisional terhadap unsur geo-ekologi di sekitarnya.
Kearifan tersebut juga merupakan salah satu daya tarik keragaman etno-geologi
masyarakat lereng Gunung Merapi sebagai produk dan promosi geowisata
kegunungapian.
---------------------------
Kira-kira begitu dongeng budaya geologi..dan mohon maaf kalau kurang berkenan...
Jadi pak Pardan kita tunggu besuk seperti apa Merapi itu dan kita ketemu di
Surabaya saja....., hehehe....
salam lestari, gus hend.89
________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Sat, October 23, 2010 7:42:44 PM
Subject: Re: [Geologi UGM] Letusan Merapi Tinggal Tunggu Waktu
Tadi "Mbahnya Gunungapi se Indonesia"/ Mbah Surono, pinjem istilahnya si
cantik
Grace Natalie presenter tvOne, beliau bilang ada kemungkinan letusan Merapi
akan
eksplosif seperti yg pernah terjadi thn 30-an. Benarkah ini? Gunung Merapi yg
hanya bbrp puluh kilometer dr kampus kita, tentunya ini merupakan tantangan
tersendiri bagi ahli gunungapi dr Jl. Grafika utk -secara saintifik- setuju ato
tdk setuju dg pendapat tsb. Mumpung blm njebluk, monggo para ahli gunungapi dr
Jl. Grafika kasih pencerahan kpd kita2 warga milis tercinta ini. Mtr nuwun.
Pardan76.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From: Sulastama Raharja <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 22 Oct 2010 23:13:40 +0700
To: <[email protected]>; <[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: [Geologi UGM] Letusan Merapi Tinggal Tunggu Waktu
Letusan Merapi Tinggal Tunggu Waktu
Kondisi Gunung Merapi saat ini tinggal menunggu waktu kapan melepaskan
energinya dalam bentuk letusan. Demikian Kepala Pusat Vulkonologi Mitigasi
Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono.
"Jika melihat perubahan yang terjadi sejak September hingga saat ini,
diperkirakan Gunung Merapi sudah mencapai kondisi point of no return, artinya
tak akan kembali lagi ke keadaan semula," katanya saat sosialisasi di Balai
Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (22/10/2010).
Menurut dia, namun dengan kondisi seperti ini apakah Gunung Merapi akan segera
meletus atau tidak hanya Gunung Merapi sendiri yang tahu. "Kalau kapan atau
waktu persis meletus hanya Gunung Merapi sendiri yang tahu," ucapnya.
Ia mengatakan, dengan peningkatan status Gunung Merapi dari waspada ke siaga
maka untuk penanganan aktivitas Gunung Merapi ini langsung diambil alih Pusat
Vulkonologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). "Sesuai dengan SOP yang ada
sejak
Gunung Merapi ditingkatkan statusnya dari waspada menjadi siaga maka tugas
pengawasan terhadap gunung ini sekarang menjadi tanggung jawab PVMBG,"
paparnya.
Ia mengatakan, gempa-gempa yang terjadi di Merapi saat ini lebih besar
daripada yang terjadi pada 2006. "Saat ini aktivitas Gunung Merapi sudah
meningkat lebih dari 500 persen," ujarnya mengungkapkan.
Surono menjelaskan, pada 20 Oktober 2010 atau sehari sebelum gunung ini
dinaikkan statusnya menjadi siaga, tercatat telah terjadi 479 kali kejadian
gempa ’multiphase’, gempa vulkanik dalam dan dangkal total 39 kejadian dan
terjadinya guguran 29 kali. "Ciri-ciri lainnya yakni kandungan air dan gas
Merapi sudah sangat berkurang, artinya kondisinya sudah panas sekali. Suhu
terakhir yang kita catat di kawasan Woro, pada 20 Oktober mencapai 587 derajat
Celcius," katanya.
Ia mengemukakan, untuk letusan, skenarionya seperti sampai saat ini pihaknya
masih belum bisa memastikannya. "Kami berharap letusan kali ini tidak terlalu
eksplosif, karena bila ekplosif akan terlalu berbahaya," katanya.
Menurut dia, melihat kondisi di lapangan dimana masyarakar sekitar lereng
Merapi yang sudah terbiasa menghadapi kemungkinan bencana seperti ini,
pihaknya
tidak terlalu khawatir. "Masyarakat sudah disiapkan dan di antara mereka juga
sudah menjalani latihan-latihan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk
yang terjadi," tuturnya.
http://sains.kompas.com/read/2010/10/22/23033398/Letusan.Merapi.Tinggal.Tunggu.Waktu-3
--
Keluar dari milis: kirim email ke [email protected]
Situs web alumni: http://kumpulgeologi.wordpress.com
--
Keluar dari milis: kirim email ke [email protected]
Situs web alumni: http://kumpulgeologi.wordpress.com