Dari: Awang Satyana <[email protected]>
Judul: [iagi-net-l] Keberatan atas Tesis Oppenheimer (1998) (was: Seminar
"Menelusuri Jejak Sejarah: ...)
Kepada: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[email protected]>
Cc: "IAGI" <[email protected]>, "Geo Unpad"
<[email protected]>, "Eksplorasi BPMIGAS"
<[email protected]>
Tanggal: Kamis, 28 Oktober, 2010, 5:51 PM
Penerbit Ufuk, setelah menerjemahkan
dan menerbitkan buku Prof Arysio Santos (ahli nuklir Brazil,
alm.) berjudul "Atlantis: the Lost Continent Finally Found"
- Indonesia Ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia (2005,
diterjemahkan tahun 2009), segera menyusulinya dengan buku
lain yang ditulis seorang dokter anak berkebangsaan Inggris
yang lama bertugas di SE Asia dan Papua yang kemudian
menjadi ahli genetika spesialis migrasi manusia, Prof.
Stephen Oppenheimer. Oppenheimer menulis buku "Eden in the
East : The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998).
Bila buku Santos diterjemahkan setelah 4 tahun ditulis, maka
buku Oppenheimer diterjemahkan setelah 12 tahun ditulis.
Kedua buku, meskipun ditulis secara terpisah, mungkin
Santos (2005) menggunakan referensi Oppenheimer (1998)
menyimpulkan hal yang sama: Sundaland pernah menjadi pusat
kebudayaan dunia yang memigrasikan manusia modern ke bagian
dunia lain dengan tesis Sundaland mengalami banjir besar.
Kedua buku juga menggunakan mekanisme geologi yaitu sea
transgression - tetapi waktunya berbeda antara Oppenheimer
(1998) dan Santos (2005).
Saya pernah diundang PT Ufuk Publishing untuk membedah buku
Atlantis yang diterjemahkannya, meskipun saya menyampaikan
keberatan atas tesis Santos (2005) tersebut: tak ada data
geologi dan nalar geologi yang mendukung argumen Santos
(2005). Sundaland bukan Atlantis. Pada kesempatan yang sama,
Prof. Harry Truman, ahli arkeologi spesialisasi Austronesia
juga menolak argumen Santos (2005) tersebut berdasarkan
disiplin ilmu geologi.
Saya juga sebenarnya diundang oleh suatu lembaga budaya
Jawa Barat yang bekerja sama dengan Badan Geologi untuk
membedah buku terjemahan Oppenheimer ini. Sayang, saya dalam
sebulan ini dan sampai bulan depan tidak punya kesempatan
untuk menjadi pembicara sebab sedang memimpin rapat-rapat
WPB 2011 dengan banyak oil companies. Tetapi dalam
kesempatan ini saya ingin memberikan beberapa pandangan saya
tentang tesis Oppenheimer ini dari segi geologi, genetika,
dan folklore.
Buku Oppenheimer (1998) adalah buku "lama". Setelah
Oppenheimer (1998) menulis bukunya itu, banyak perdebatan di
antara para ahli genetika dan lalu National Geographic
Society selama lima tahun (1999-2004) mengadakan pemetaan
genom DNA manusia modern seluruh dunia yang kesimpulannya
menunjukkan bahwa arus migrasi manusia modern ke Sundaland
tetap seperti kesimpulan2 sebelumnya yaitu dari utara ke
selatan, bukan dari selatan ke utara seperti kata
Oppenheimer. Di buku-bukunyanya yang terbaru (Out of Eden,
2004; dan Origins of the British, 2007), Oppenheimer tak
menyebut sekali pun tesis Sundaland Eden in the East-nya
itu. Bisa saja diduga bahwa Oppenheimer tak lagi semangat
dengan pendapatnya itu sebab hasil pemetaan genom manusia
tak seperti yang diduganya - terbalik hasilnya. Oppenheimer
adalah orang Inggris, di bukunya "Origins of the British"
(2007), Oppenheimer tak menulis bahwa orang Eurasia (Eropa
juga, termasuk dirinya) adalah keturunan
orang-orang Sunda dari Sundaland), padahal di bukunya Eden
in the East (1998), Oppenheimer mengatakan bahwa orang-orang
Eurasia asal Sunda. Nah, jelas kesimpulannya di Eden in
the East (1998) jelas telah dikoreksinya.
Di bukunya yang lebih baru “Out of Eden : the Peopling of
the World”
(2004), Oppenheimer menulis dengan komprehensif tentang
sejarah penghunian semua daratan di Bumi oleh manusia modern
berdasarkan analisis DNA pada semua bangsa. Melalui buku
ini, kita bisa menebak dengan mudah bahwa Oppenheimer adalah
seorang
pembela pemikiran migrasi manusia : Out of Africa, dan
menyerang Multiregional. Bila asal migrasi dari Sundaland
maka Oppenheimer mendukung multiregional migration.
Dalam “Eden in the East: the Drowned Continent of
Southeast Asia”, Oppenheimer
berhipotesis bahwa bangsa-bangsa Eurasia punya nenek moyang
dari Sundaland.
Hipotesis ini ia bangun a.l. berdasarkan penelitian atas
geologi. Berdasarkan geologi,
Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan muka laut
dengan menyurutnya
Zaman Es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode
14.000-7.000 tahun
yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland. Saya ingin
mengutip hasil penelitian terakhir tentang ini
dari Hanebuth et al. (2000): Rapid flooding of the Sunda
shelf: a late-glacial record -Science v. 288, no. 5468, p.
1033-1035, juga dari Hanebuth dan Stattegger (2004):
Depositional sequences on a late Pleistocene-Holocene
tropical siliciclastic shelf (sunda shelf, SE Asia) -Journal
of Asian Earth Science v 23, p. 113-126.
Hanebuth et al (2000) dan Hanebuth dan Stattegger (2004)
tak pernah menyebutkan ada kenaikan muka laut sampai 500
feet antara 14.000-7000 tahun yang lalu. Ini kutipan dari
paper Hanebuth dan Statteger (2004): “Detailed studies of
late glacial and postglacial sea level rise for the this
part of the Sunda Shelf demonstrates that the first
significant submergence of Sundaland by rising sea level
occurred between 14,000 and 15,000 years ago. Periods of
abrupt rise in sea level submerged a significant part of
Sundaland beneath the South China Sea between 13,000 and
14,000 years ago. Between 14,300 and 14,600 years ago, a
period of 300 years, sea level rose 16m (62 feet). Between
12,000 and 13,000 years ago, the submergence of Sundaland by
rising sea level was relatively minor. A final period of
rapid flooding of Sundaland by the South China Sea occurred
between 11,000 to 12,000 years ago. The submergence of
Sundaland during this period was minor in extent
relative to the area submerged between 13,000 and 14,000
years ago.”
Jelas, bahwa tak ada yang namanya kenaikan muka laut sampai
500 feet (152 meter) antara 14.000-7000 tahun yang lalu.
Kenaikan muka laut tercepat dan tertinggi hanya terjadi pada
14.300-14.600 tahun yang lalu, itu pun total 16 meter.
Setelah 11.000 tahun yang lalu tak ada kenaikan muka laut
signifikan. Tesis Oppenheimer tak terdukung secara geologi,
meskipun dikatakan Oppenheimer menggunakan geologi untuk
mendukung tesisnya.
Dalam bidang mitologi, tesis Oppenheimer (1998) pun tak
mendapatkan dukungan. Sanggahan terbaru datang dari bidang
mitologi dalam sebuah Konferensi
Internasional Association for Comparative Mythology yang
berlangsung di
Edinburgh 28-30 Agustus 2007. Dalam pertemuan itu, Wim van
Binsbergen, seorang
ahli mitologi dari Belanda, mengajukan sebuah makalah
berjudul ”A new Paradise
myth? An Assessment of Stephen Oppenheimer’s Thesis of
the South East Asian
Origin of West Asian Core Myths, Including Most of the
Mythological Contents
of Genesis 1-11”. Makalah ini mengajukan
keberatan-keberatan atas tesis
Oppenheimer bahwa orang-orang Sundaland sebagai nenek
moyang orang-orang Asia
Barat. Binsbergen (2007) menganalisis argumennya
berdasarkan complementary
archaeological, linguistic, genetic, ethnographic, dan
comparative mythological
perspectives.
Menurut Binsbergen (2007), Oppenheimer terutama mendasarkan
skenario
Sundaland-nya berdasarkan mitologi. Pusat mitologi Asia
Barat (Taman Firdaus,
Adam dan Hawa, kejatuhan manusia dalam dosa, Kain dan
Habil, Banjir Besar,
Menara Babel) dihipotesiskan Oppenheimer sebagai prototip
mitologi Asia
Tenggara/Oseania, khususnya Sundaland. Meskipun
Oppenheimer telah menerima
tanggapan positif dari para ahli arkeologi yang punya
spesialisasi Asia
Tenggara, Oppenheimer tak punya bukti kuat atau penelitian
detail untuk
arkeologi trans-kontinental dari Sundaland ke Eurasia.
Binsbergen (2007) menantang hipotesis Oppenheimer atas
argumen detailnya
menggunakan comparative mythology. Beberapa keberatan atas
hipotesis tersebut :
(1) keberatan metodologi (bagaimana mitos di
Sundaland/Oseania yang umurnya
hanya abad ke-19 AD dapat menjadi nenek moyang mitos di
Asia Barat yang umurnya
3000 tahun BC ?), (2) kesulitan teoretis akan terjadi
membandingkan dengan
yakin mitos yang umurnya terpisah ribuan tahun dan jaraknya
lintas-benua, juga
yang sebenarnya isi detailnya berbeda; (3) pandangan
monosentrik (misal dari
Sundaland) saja sudah tak sesuai dengan sejarah kebudayaan
manusia yang secara
anatomi modern (lebih muda daripada Paleolitikum bagian
atas); (4) Oppenheimer
tak memasukkan unsur katastrofi alam yang bisa mengubah
jalur migrasi
manusia.; (5) mitos bahwa Banjir Besar menutupi seluruh
dunia harus ditafsirkan
atas pandangan dunia saat itu, bukan pandangan dunia
seperti sekarang.
Dalam pertemuan comparative mythology sebelumnya (Kyoto,
2005, Beijing 2006),
Binsbergen mengajukan pandangan yang lebih luas dan koheren
tentang sejarah
panjang Old World mythology yang mengalami transmisi yang
komplek dan
multisentrik, tak rigid monosentrik seperti hipotesis
Oppenheimer (1998).
Winsbergen juga mendukung tesisnya itu berdasarkan genetika
molekuler
menggunakan mitochondrial DNA type B.
Secara ringkas boleh dikatakan bahwa tesis Sundaland
sebagai Taman Eden asal manusia modern adalah tesis lama
Oppenheimer (1998) yang tak pernah disinggungnya lagi di
buku2 terbarunya. Lagipula, tesisnya itu tak mendapatkan
dukungan dari bidang genetika sendiri, geologi dan mitologi.
Maka sebaiknya kita tidak perlu segera menerima bahwa
Sundaland adalah awal peradaban dunia. Lihatlah dan
analisislah dengan hati-hati, agar kita tak berbangga dengan
sesuatu yang secara ilmiah masih meragukan.
Salam,
awang
--- Pada Rab, 27/10/10, Hery Harjono <[email protected]>
menulis:
Dari: Hery Harjono <[email protected]>
Judul: [Forum-HAGI] Seminar "Menelusuri Jejak Sejara:
Indonesia Awal Peradaban Dunia?"
Kepada: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[email protected]>,
"IAGI" <[email protected]>,
[email protected],
"MBencana" <[email protected]>,
"MJBP" <[email protected]>
Tanggal: Rabu, 27 Oktober, 2010, 3:16 PM
Rekan-rekan HAGI,
Saya mengundang Anda semua untuk hadir pada Seminar
"Menelusuri Jejak Sejarah: Indonesia Awal Peradaban Dunia?".
Maaf agak mendadak. Kami tunggu di LIPI.
Terimakasih,
Hery
Nomor :
4049/IPK/KS/X/2010
Jakarta. 25 Oktober 2010
Lampiran : -
Perihal : Undangan
Seminar
Kepada Yth.
Bapak/Ibu/Saudara
Dengan hormat,
Buku “Eden In The East” yang ditulis oleh Prof. Dr.
Stephen Oppenheimer, ahli genetika terkemuka dari Inggris
menyatakan bahwa dunia barat telah salah menilai asal mula
peradaban manusia modern dengan memarjinalkan kawasan timur
khususnya Semenanjung Melayu.
Dalam bukunya yang menggabungkan pendekatan kedokteran,
geologi, geofisika, etnologi, linguistik, antropologi, dan
arkeologi, doctor dari Oxford University ini menyebutkan
bahwa arus migrasi manusia modern berasal dari Sundaland
(daratan yang sekarang menjadi Pulau Sumatera, Sabah, dan
Serawak), yang kemudian menyebar ke dataran Cina, Asia
Tengah, Timur Tengah, hingga Amerika Selatan.
Berkaitan dengan itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
dan Ufuk Publishing House selaku penerbit buku “Eden In
The East” berniat menyelenggarakan seminar yang mengupas
lebih dalam tentang perkembangan sejarah peradaban manusia
di dunia, yang diselenggarakan pada :
Hari/Tanggal : Kamis, 28 Oktober 2010
Waktu : Pukul 09.30 –
13.00 WIB
Tempat : Widya Graha LIPI
Lantai 1
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 10
Jakarta Selatan
Pada kesempatan ini, kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr/i untuk
berpartisiapasi sebagai peserta dalam acara tersebut (jadwal
acara dan konfirmasi kehadiran terlampiran). Atas perhatian
yang diberikan, kami mengucapkan terimakasih.
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian
Lembaga Ilmu Pengetuan Indonesia
ttd
Prof. Dr. Ir. Hery Harjono
NIP 19510210 198003 1 003
-----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan-----
______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[email protected]
| www.hagi.or.id
---*** for administrative query please send your email to
[email protected]