Pak Awang,

Mumpung sedang menyinggung gununglumpur, ada satu pertanyaan saya
mengenai kelurusan Lusi dengan gununglumpur Socah. Saya sempat
melihat-lihat di peta, sepertinya antara Lusi MV dengan Socah MV tidak
pada 1 tren kelurusan yang sama (mungkin saja saya yang salah).
Kuncinya adalah karena saya tidak tahu dimana kah letak nya Socah MV
tersebut?

Jika Pak Awang dapat menyebutkan letaknya, mungkin di sebelah
barat/timur/utara/selatan atau berapa kilometer dari Bangkalan, atau
Socah, atau Keleyan.

Just curios saja..

Thnks,
Natan

2010/12/30 Awang Satyana <[email protected]>:
> Di milis ini, kita pernah mendiskusikan kapan Bledug Kuwu, letusan 
> gununglumpur di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dimulai. Lumpur yang keluar 
> bisa dianalisis umurnya bila lumpur itu mengandung fosil. Peter Lunt, 
> stratigrapher ex Coparex & Lundin, yang rajin meneliti Jawa, pernah 
> menginformasikan bahwa lumpur Bledug Kuwu tak mengandung fosil, nannofosil 
> pun tidak, mungkin disebabkan lingkungannya yang asam, katanya. Ini berbeda 
> dengan kandungan fosil LUSI yang berlimpah yang menunjukkan umur Pliosen, 
> seperti pernah dipresentasikan Pak Adi Kadar (2007), stratigrapher Lapindo 
> saat itu.
>
> Masalahnya adalah bukan umur lumpur yang keluar, tetapi kapan kejadian Bledug 
> Kuwu. Informasi tentang ini barangkali akan berguna untuk mengetahui masa 
> hidup gununglumpur.
>
> Sebuah penampang seismik yang surveinya dilakukan Pertamina di Kecamatan 
> Kradenan, tempat Bledug Kuwu dan rekan2nya gununglumpur lain bersemayam, 
> barangkali bisa membantu. Kebetulan, semua lapisan/horizon seismik di area 
> ini menunjukkan diapirisme dengan rim synclines sampai ke permukaan yang 
> berakhir dengan gununglumpur di permukaan. Dari penampang ini, barangkali 
> kita bisa menduga bahwa Bledug Kuwu terjadi pada Kala Holosen. Tetapi, Kala 
> Holosen dimulai 10.000 tahun yang lalu, lalu tepatnya kapan Bledug Kuwu 
> terjadi. Seperti LUSI, misalnya, kita tahu ia lahir pada 29 Mei 2006. 
> Gunung-gununglumpur lain saudara-saudara LUSI di sebelah timurnya sampai ke 
> Madura, adalah gununglumpur tua juga, kita tak tahu pasti kapan kejadiannya.
>
> Sebuah gununglumpur lain yang masih suka meleleh dan mengeluarkan gas di 
> sebelah timurlaut LUSI, di sekitarnya terdapat candi dari bata merah yang 
> menurut penelitian dibangun pada zaman Majapahit. Candi itu diberi nama Candi 
> Tawang Alun, katanya berasal dari kata-kata "memandang alun/gelombang". 
> Gelombang apa yang dilihat, gelombang laut Selat Madura dari jauh, atau 
> gelombang telaga gununglumpur seperti LUSI sekarang ? Menjadi pertanyaan, 
> apakah bahan bata merah candi itu dibuat dari lumpur gununglumpur? Penelitian 
> mimeralogi lempung menggunakan X-ray diffraction antara lumpur dan bata merah 
> candi kiranya dapat menjawab hal ini. Masalah kapan kejadian gununglumpur ini 
> belum terpecahkan.
>
> Kembali ke Bledug Kuwu, bagaimana kiranya kita bisa mendekati umur 
> kejadiannya? Saya merasa ia bisa didekati dengan kronik sejarah atau juga 
> dengan legenda. Untuk keperluan itu, sambil menyelidiki secara umum gejala 
> gununglumpur Bledug Kuwu, saya pada bulan November 2010 yang lalu melakukan 
> penyelidikan lapangan di sana termasuk mencari informasi dari orang-orang 
> yang tinggal di sekitar Bledug Kuwu.
>
> Bledug Kuwu berlokasi di Desa Kuwu (karena itu namanya Bledug Kuwu), 
> Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Luas area Bledug Kuwu 
> sekitar 45 hektare, terletak di ketinggian 53 mdpl. Di depan pintu masuk area 
> Bledug Kuwu ada patung seorang tokoh legenda Jawa "Ajisaka". Apa hubungan 
> Ajisaka dengan Bledug Kuwu ? Inilah kiranya salah satu kunci ke arah 
> kronologi Bledug Kuwu - menurut hemat saya.
>
> Letusan lumpur terbesar di Bledug Kuwu dinamai "Joko Tuwo" yang meledak 
> secara periodik sekitar 15 detik sekali, cukup keras bunyinya, dengan 
> lemparan lumpur sekitar 5-10 meter ke udara yang kemudian jatuh ke 
> sekelilingnya sampai sejauh diameter 10 meter. Kandungan gas metana yang 
> membuatnya meledak. Gas CO2 dan H2S dilaporkan dibawa juga. Di beberapa titik 
> letusan yang lebih kecil (a.l. yang dinamai Roro Denok), terjadi 
> letusan-letusan lain yang bunyinya lebih lemah dengan lemparan lumpur ke 
> udara yang lebih rendah dan lemparan lumpur sekitar 1-2 meter keluar dari 
> titiknya. Frekuensi letusan Joko Tuwo sekitar 4-5 kali/menit,  sementara 
> letusan yang lebih kecil bisa sampai 10 kali/menit. Temperatur lumpur dari 
> Joko Tuwo sekitar 30 C, jauh lebih dingin dibandingkan temperatur LUSI yang 
> pernah > 100 C, walaupun saat ini telah menurun ke sekitar 60-75 C.
>
> Keluar dari pusat letusan lumpur itu adalah parit-parit kecil berisi air dan 
> lumpur yang mengalir menjauhi pusat letusan. Saya mencicipi air yang mengalir 
> dan rasanya asin. Dari ceruk-ceruk itulah para petani garam di area ini telah 
> ratusan tahun mengolah garam 'bleng', air lumpur, dan air belerang. 
> Kemasyhuran rasa garam 'bleng' dari Bledug Kuwu telah tercatat dalam sejarah 
> kraton Surakarta sejak abad ke-17 (lihat Babad Tanah Jawi). Jadi paling 
> tidak, fenomena Bledug Kuwu telah ada selama hampir 400 tahun. Apakah itu 
> umur maksimalnya ? Bukan.
>
> Saya akan menggunakan Legenda Ajisaka untuk menaksir umur Bledug Kuwu. 
> Rekan-rekan bisa mencari informasi cerita lengkap tentang Ajisaka dan Bledug 
> Kuwu, yang tokoh2 utamanya: Ajisaka, Prabu Dewata Cengkar, dan Joko Linglung. 
> Saya akan mengulas kronologi legenda itu sendiri, bukan ceritanya, untuk itu 
> kita akan meninjau sejarah Jawa sebelum zaman Mataram Hindu (sebelum abad 
> ke-8).
>
> Sedikit tentang cerita Ajisaka, Dewata Cengkar, dan Joko Linglung saya tulis 
> di bawah ini.
>
> Konon menurut cerita rakyat, air asin yang keluar dari Bledug Kuwu disebabkan 
> adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan Laut Kidul (Laut Selatan). 
> Lubang itu sendiri terjadi dari perjalanan Joko Linglung (anak Ajisaka) yang 
> berwujud seekor naga dalam perjalanan kembali dari Laut Selatan menuju 
> Kerajaan Medang Kamulan seusai menunaikan tugasnya membunuh Prabu Dewata 
> Cengkar, raja kejam pemakan manusia dari Medang Kamulan. Ajisaka, seorang 
> pengembara yang datang ke tanah Jawa, menantang adu kesaktian Prabu Dewata 
> Cengkar karena tidak tega melihat ketakutan rakyat Medang Kamulan oleh 
> rajanya yang kejam. Dalam tanding kesaktian itu, Dewata Cengkar kalah dan 
> jatuh ke Laut Selatan lalu berubah menjadi bajul putih (buaya putih). Di Laut 
> Selatan pun bajul putih suka mengganggu manusia. Maka Ajisaka mengutus 
> anaknya Joko Linglung yang berupa naga untuk membunuh bajul putih tersebut. 
> Agar tidak mengganggu rakyat, sang naga harus masuk ke dalam tanah.
>
> Setelah berhasil membunuh bajul putih di Segoro Kidul (Laut Selatan) itu, 
> sang naga kembali ke Medang Kamulan tempat Ajisaka diangkat menjadi raja. 
> Tetapi, naga itu bingung (linglung, sehingga disebut Joko Linglung) dari 
> bawah tanah ia menembus beberapa tempat yang ternyata bukan Medang Kamulan di 
> permukaan. Tempat-tempat Joko Linglung pernah menembus tanah mencari Medang 
> Kamulan itulah yang kini kita kenal sebagai deretan gununglumpur di area 
> Kradenan (Jono, Crewek, Kesongo, dll.). Sampai akhirnya, Joko Linglung 
> menembus tempat yang tepat di area Bledug Kuwu. Letusan terbesar di Bledug 
> Kuwu itulah yang kini disebut Joko Tuwo, tempat Joko Linglung keluar dari 
> perjalanannya di bawah tanah. Begitulah cerita rakyat.
>
> Saya tertarik dengan Medang Kamulan. Dalam cerita Ajisaka itu, tersangkut 
> nama Medang Kamulan. Dari sini barangkali sebuah kronologi Bledug Kuwu bisa 
> mulai ditelusuri. Nama Medang Kamulan barangkali berhubungan dengan Medang. 
> Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan 
> Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada 
> abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja 
> kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang 
> tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik 
> yang bercorak Hindu maupun Buddha.
>
> Apa hubungan Medang dengan Medang Kamulan? Kamulan berarti "permulaan", jadi 
> "Medang Kamulan" berarti "pra-Medang". Kalau begitu, Kerajaan Medang Kamulan 
> berarti ada sebelum abad ke-8, sebelum tahun 700-an Masehi.
> Hanya, Medang Kamulan adalah wilayah atau kerajaan 'setengah mitologis' 
> karena tidak pernah ditemukan bukti-bukti fisik keberadaannya. Sumber-sumber 
> mengenai kerajaan ini hanya berasal dari cerita-cerita rakyat (misalnya dalam 
> Legenda Loro Jonggrang). Cerita pewayangan versi Jawa menyebutkan bahwa 
> Medang Kamulan adalah tempat bertahtanya Batara Guru. Dalam legenda Ajisaka, 
> Medang Kamulan adalah negeri tempat berkuasanya Prabu Dewata Cengkar yang 
> lalim, yang kemudian diganti oleh Ajisaka sendiri. Cerita rakyat lain (di 
> antaranya termasuk legenda Loro Jonggrang dan berdirinya Madura) menyatakan, 
> Medang Kamulan dikuasai oleh Prabu Gilingwesi. Prabu Gilingwesi adalah Prabu 
> Watugunung dalam Carita Parahyangan Kerajaan Galuh di Jawa Barat. Ini menarik 
> sebab Medang Kamulan sesungguhnya adalah kerajaan bawahan Galuh.
>
> Legenda Ajisaka sendiri menyebutkan bahwa Bledug Kuwu di Kabupaten Grobogan 
> adalah tempat munculnya Joko Linglung setelah menaklukkan Prabu Dewata 
> Cengkar. Ahli sejarah sekaligus pastor van der Meulen (1988 - "Indonesia di 
> Ambang Sejarah" Penerbit Kanisius) menduga, bahwa Medang Kamulan dapat 
> dikorelasikan dengan "Hasin-Medang-Kuwu-lang-pi-ya" yang diajukan van Orsoy, 
> seorang ahli sejarah, dalam artikelnya tentang Kerajaan "Ho-Ling" yang 
> disebut catatan Tiongkok. Hal ini membuka kemungkinan bahwa Medang Kamulan 
> barangkali memang pernah ada.
>
> Sebuah naskah kuna baris ke-782 dan 783 dari naskah kedua Perjalanan Bujangga 
> Manik dari abad ke-15 menyebutkan bahwa setelah ia (Bujangga Manik) 
> meninggalkan Pulutan (sekarang desa di barat kota Purwodadi) ia tiba di 
> "Medang Kamulan". Selanjutnya, dikatakan pula bahwa setelah ia menyeberang 
> Sungai Wuluyu tibalah ia di "Gegelang" (Madiun selatan), di selatan "Medang 
> Kamulan". Naskah inilah yang pertama kali menyebut bahwa memang ada tempat 
> bernama Medang Kamulan, meskipun tidak dikatakan bahwa itu adalah kerajaan.
>
> Sebuah buku tipis yang saya beli di area Bledug Kuwu, berjudul "Legenda 
> Terjadinya Bledug Kuwu" dari penerbit lokal di Grobogan dengan penulis anonim 
> mengagetkan saya. Di buku itu diceritakan bagaimana Medang Kamulan didirikan. 
> Pendirinya adalah Adipati Dewata Cengkar, seorang putra mahkota yang diusir 
> (karena gemar makan daging manusia) dari Kerajaan Galuh di Jawa Barat. 
> "Pangeran Adipati Dewata Cengkar membawa lari prajurit Galuh pada saat malam 
> hari ke arah timur. Setelah perjalanan memakan waktu beberapa hari lamanya, 
> akhirnya sampai di suatu tempat yang lokasinya berada di Pegunungan Kendeng, 
> keadaan strategis yang tepat berhadapan dengan laut Teluk Lusi. 
> Pemandangannya indah dan mudah untuk mengadakan hubungan keluar melalui 
> lautan." Begitu, kutipan dari buku tipis dengan pengarang anonim itu.
>
> Perhatikan PEGUNUNGAN KENDENG dan LAUT TELUK LUSI. Menarik sekali.
> Sungai Lusi adalah sungai yang melintas di tengah-tengah Kabupaten Grobogan 
> dari timur mulai dari Bulu Kabupaten Rembang hingga bertemu dengan Sungai 
> Serang di Penawangan Kabuapten Grobogan Jawa Tengah. Sungai ini terletak di 
> antara pegunungan Kapur Utara dan pegunungan Kendeng. Pegunungan Kendeng 
> adalah jalur antiklinorium depresi Jawa, sedangkan Pegunungan Kapur adalah 
> milik Zona Rembang. Jelaslah sudah bahwa pada masa Medang Kamulan didirikan, 
> Saat itu terdapat "Selat Muria/Demak" (saya sebut begitu, dan telah saya 
> bahas di milis ini, lihat LAMPIRAN di bawah) di depan Pegunungan Kendeng. 
> Medang Kamulan didirikan di tepi utara Pegunungan Kendeng menghadap ke Selat 
> Muria/Demak. Saat itu Gunung Muria masih terpisah dari Jawa, berbentuk 
> sebagai pulau gunungapi, seperti Pulau Bawean sekarang. Pada zaman Kerajaan 
> Demak mau berdiri pada abad ke-16, wilayah ini sudah menjadi rawa-rawa yang 
> ditumbuhi gelagah. Tetapi pada saat Medang Kamulan berdiri sekitar
> abad ke-7, area ini
> benar-benar masih laut.
>
> Berdasarkan hal itu, maka Bledug Kuwu telah ada saat Medang Kamulan 
> didirikan, jadi umur paling muda Bledug Kuwu adalah sekitar 1400 tahun. 
> Apakah Bledug Kuwu terjadi saat Medang Kamulan berdiri, atau sudah ada 
> setelahnya. Sukar diketahui, tetapi Legenda Ajisaka dalam hemat saya bernilai 
> sama seperti Legenda Sangkuriang, bahkan mungkin lebih sebab Desa Medang 
> Kamulan benar-benar ada di Kabupaten Grobogan. Tugu "Selamat Datang di Desa 
> Medang Kamulan" saya lihat bulan lalu. Apakah lantas Ajisaka benar2 ada ? 
> Silakan dipikirkan, saya punya pendapat lain, ini akan melibatkan Pulau 
> Bawean, pulau berbatuan volkanik paling alkalin dan paling terisolasi di Jawa.
>
> Setiap Legenda punya nilai "Dichtung und Wahrheit" - antara khayalan dan 
> kenyataan.
>
> Salam,
> Awang
>
> ----------LAMPIRAN--------------
>
> [iagi-net-l] Pulau dan Selat Muria
> Tue, 20 Nov 2007 20:16:32 -0800
> Awang Harun Satyana
>
>
> Soal Pulau Muria. Geografi Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah zaman Erlangga 
> pada abad ke-11 sedikit berbeda dengan kondisinya sekarang. Saat itu, 
> Bengawan Solo masih bermuara di depan Madura, bukan di Ujung Pangkah seperti 
> sekarang (kalau saja masih seperti pada zaman Erlangga, maka teman2 Amerada 
> Hess tak akan sebanyak sekarang mengeluarkan dana buat survey seismik 
> transisi dan mendatangkan barge buat mengebor sumur2nya di Lapangan Ujung 
> Pangkah), Tulungagung masih berupa rawa2, juga Wringinsapta (barat 
> Mojokerto)dan muara Kali Brantas masih penuh rawa.
>
> Di Jawa Tengah utara ada Pulau Muryo dan ada Selat Muryo tempat Kali Lusi dan 
> Kali Tuntang bermuara.
>
> Kerajaan Demak abad ke-16, setelah 500 tahun sejak zaman Erlangga. Selat 
> Muryo telah banyak tertutup oleh sedimentasi dari Kali Lusi dan Tuntang yang 
> membuang lumpurnya di celah sempit laut di selatan Pulau Muryo. Ahli sejarah 
> Indonesia masa lalu, Rd. Moh Ali (saya mendapatkannya dari pedagang buku 
> bekas) pernah menulis dalam buku "Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia 
> Tenggara" (Ali, 1963) sebagai berikut.
>
> Pada suatu peristiwa Raden Patah diperintahkan oleh gurunya yaitu Sunan 
> Ngampel agar merantau ke barat dan bermukim di sebuah tempat yang terlindung 
> oleh gelagah wangi. Saat itu, Raden Patah masih sebagai
> seorang bangsawan Majapahit. Dalam perantauannya, Raden Patah sampai ke 
> daerah rawa di tepi selatan Pulau Muryo, yaitu rawa-rawa besar yang menutup 
> laut atau lebih tepat selat yang terdapat di antara Pulau Muryo dan daratan 
> Jawa Tengah. Di situlah ditemukan gelagah wangi dan rawa, kemudian nama itu 
> berubah menjadi Demak sampai sekarang.
>
> Buku lain, "Negara Krtagama" (Slametmuljana, 1979) menguatkan tulisan Moh 
> Ali, ahli sejarah ini menulis bahwa Raden Patah membuka hutan di Glagahwangi 
> dan menjadikannya dukuh baru bernama Bintara, maka Raja Demak pertama ini 
> suka disebut juga Sultan Bintara.
>
> Dulunya Demak terletak di tepi laut, tetapi sekarang letaknya dari Laut Jawa 
> sekitar 30 km. Ini disokong oleh pendapat mahaguru sejarah Belanda De Graaf 
> dan Pigeaud dalam bukunya "De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java" 
> (Martinus Nijhoff, 1974) yang menulis : letak Demak cukup menguntungkan bagi 
> kegiatan perdagangan maupun pertanian. Selat yang memisahkan Jawa Tengah dari 
> Pulau Muryo pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, 
> sehingga dari Semarang melalui Demak, perahu dapat berlayar sampai Rembang, 
> baru sejak abad ke-17 Selat Muryo tak dapat dipakai lagi sepanjang tahun.
>
> Dalam abad ke-17, khususnya pada musim penghujan, perahu2 kecil dapat 
> berlayar dari Japara menuju Pati yang terletak di tepi Kali Juwana. Pada 
> tahun 1657 tercatat dalam sejarah bahwa Tumenggung Pati mengumumkan bahwa ia 
> bermaksud memerintahkan menggali terusan yang menghubungkan Demak dengan 
> Pati, sehingga Juwana dapat dijadikan pusat perniagaan kambali.
>
> Perhubungan Demak dengan pedalaman Jawa Tengah sendiri adalah melalui Kali
> Serang, yang muaranya di antara Demak dan Jepara. Sampai akhir abad ke-18,
> Sungai Serang dapat dilayari dengan kapal-kapal kecil sampai ke suatu 
> pedalaman bernama Godong. Mata air Serang ada di lereng gunung Merbabu, ada 
> juga yang di pegunungan Kendeng Tengah. Di sebelah selatan pegunungan ini 
> terbentanglah bentang alam Pengging (sebelah timur Boyolali) dan Pajang 
> (sekitar Kartasura). Nah, wilayah sekitar Boyolali ini kemudian akan berperan 
> dalam episode sejarah pasca Demak, zaman Jaka Tingkir, keturunan Majapahit 
> juga.
>
> Sedimentasi Selat Muria (Muryo) mudah dilihat dari foto2 udara dan satelit; 
> tetapi catatan2 sejarah membuktikannya.
>
> Zaman Plistosen, selat dan rawa2 di sekitar Pulau dan Selat Muria ini menjadi 
> tempat berkubangnya hewan2 besar mamalia sebangsa kudanil, tapir, bahkan 
> gajah. Tahun 60-an fosil2nya mulai ditemukan, bahkan minggu lalu pun masih 
> terus ditemukan oleh para ahli paleontologi seperti Pak Zaim maupun para ahli 
> arkeologi dari balai2 arkeologi di Jawa. Patiayam antara lain daerah penemuan 
> di wilayah ini, dan sisa hominids pun pernah ditemukan Pak Zaim di sini.
>
> Salam,
> awang
>
>
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2008-2011:
> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
> --------------------------------------------------------------------------------
> Ayo siapkan diri....!!!!!
> Hadirilah PIT ke-39 IAGI, Senggigi, Lombok NTB, 22-25 November 2010
> -----------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted 
> on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall 
> IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct or 
> indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of 
> use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any 
> information posted on IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
>
>

===================================================================
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
-------------------------------------------------------------------
For any administrative request, please send email to administrator[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke