Thx  Awang . 

si Abah

On Tue, March 22,
2011 9:51 am, Awang Harun Satyana wrote:
> Abah,
> 
> Jatayu muncul baik dalam cerita Mahabharata maupun Ramayana.
Dalam
> Mahabharata versi India, Jatayu yang sering menjadi
kendaraan para dewa
> itu, adalah anak Aruna dan Syeni (tak
populer di Indonesia). Yang lebih
> populer di Indonesia adalah
Jatayu dalam cerita Ramayana, yang merupakan
> anak Garuda, yang
membantu Rama mencari istrinya, Sinta, ke Alengka.
> Sayang Jatayu
gugur oleh Rahwana/Rawana.
> 
> Dalam relief2 Candi2 Sukuh
muncul baik Garuda maupun Jatayu di teras
> ketiga, sinkretisme
antara Mahabharata dan Ramayana, yang juga sebenarnya
> diturunkan
dari cerita Hindu kuno. Dalam relief itu digambarkan bahwa
>
Garuda adalah anak seorang wanita bernama Winata. Winata juga mempunyai
> seorang anak lain yang tak berkaki bernama Aruna. Aruna inilah
yang
> kemudian nantinya bersama Syeni melahirkan Jatayu. Maka
Mahabharata dan
> Ramayana berhubungan di relief2 Candi Sukuh.
> 
> Salam,
> Awang
> 
>
From:
Yanto R.Sumantri [mailto:[email protected]]
> Sent: 22 Maret 2011
9:13
> To: iagi-net
> Subject: Re: Bls: [iagi-net-l]
Misteri di candi Cetho dan candi Penataran
> Re: [iagi-net-l]
PIRAMIDA G. LALAKON DI BANDUNG : AKHIR SEBUAH HARAPAN
> 
>

> Awang
> 
> Menarik dan sangat menggembirakan
bahwa pada masa seperi sekarang dimana
> materi menjadi faktor
utama , masih ada sekelompok warga yang berminat
> untuk menelaah
hal hal spt ini.
> Terlepas dari pro dan kon -nya , saluut dari si
Abah .
> Ada pertanyaan mengenai tokoh Jatayu yang anda sitir
didalam keterangan
> Anda , Kalau tidak salah tokoh Jetayu itu ada
dicerita Ramayana . Mohon
> pencerahannya.
> Terima
kasih.
> 
> si Abah
> 
> 
> On
Tue, March 22, 2011 8:44 am, Awang Satyana wrote:
>> Usaha Pak
Agung, Pak Timmy dkk-nya dari Yayasan Turangga Seta yang
>>
sedang
>> mencari bukti bahwa Indonesia (Jawa) pada masa lalu
pernah
>> berkebudayaan
>> sangat tinggi,
berkebudayaan Atlantis (Santos, 2005), penakluk
>>
bangsa-bangsa seperti Afrika Utara, Timur Tengah dan Amerika (Indian),
>> patut dipuji melihat semangatnya menggali masa lalu. Kini,
termasuk
>> menafsirkan bangunan dan relief candi-candi Sukuh,
Cetho/Ceto/Ceta dan
>> Penataran sebagai candi-candi yang
ditafsirkannya lebih mirip bangunan
>> piramida di Mesir atau
piramida suku Maya di Amerika Tengah, daripada
>> candi-candi
Jawa, sekaligus relief2 yang menggambarkan penaklukan
>>
bangsa
>> Timur Tengah dan Indian oleh Jawa.
>>
>> Cukup menarik metode mereka menyamakan patung-patung dan
relief-relief
>> di
>> ketiga candi itu dengan
patung-patung dan ornamen2 dari Afrika Utara,
>> Timur Tengah
dan Indian. Sangat jelas bahwa mereka sangat diinspirasi
>>
oleh
>> buku Atlantis karya Santos (2005) yang menyebutkan
bahwa kebudayaan
>> membangun piramida berasal dari Jawa lalu
menyebar ke Afrika, Timur
>> Tengah
>> dan Amerika
Tengah.
>>
>> Tetapi, menurut hemat saya, mereka
hanya menampilkan sebagian patung
>> dan
>> relief
yang dirasakannya mendukung tesis Santos (2005) saja, dan tidak
>> memasukkan banyak patung dan relief yang sama-sekali tak
berhubungan
>> dengan Afrika Utara-Timur Tengah- Amerika
Tengah. Relief dan arca di
>> candi-candi Penataran, Sukuh dan
Cheto tak hanya yang ada di artikel
>> yang
>>
mereka tulis.
>>
>> Candi Sukuh dan Cetho di
Kabupaten Karanganyar, sebelah timur Solo, di
>> lereng barat
Gunung Lawu sudah diketahui sebagai candi-candi yang unik
>>
sejak zaman Stutterheim, ahli arkeologi Belanda, menelitinya pada tahun
>> 1930-an. Pembuatan patung dan reliefnya memang lebih kasar
daripada
>> relief
>> dan patung candi-candi pada
umumnya, itu juga yang membuat Stutterheim
>> berpikir bahwa
pemahatnya bukan pekerja dari kalangan istana, tetapi
>>
pemahat biasa dari desa sekitarnya.
>>
>> Beberapa
prasasti yang agak kasar, yang masih memakai tarikh
>>
candrasangkala Saka (1416-1459 M untuk Candi Sukuh dan 1468-1475 untuk
>> Candi Cetho) memastikan persamaan waktu urutan pembangunan
kedua candi
>> ini
>> yang dibangun pada
masing-masing ketinggian 910 m (Sukuh) dan 1470 m
>> dpl
>> (Cetho). Kedua candi dibangun secara punden berundak dan
menghadap ke
>> barat, mungkin ke arah Merapi (padahal mereka
duduk di lereng Lawu,
>> boleh
>> diduga bahwa
Merapi pada saat itu lebih aktif daripada Lawu, dan kedua
>>
candi ini barangkali dibangun untuk maksud tertentu dalam penyembahan
>> terhadap Merapi).
>>
>> Tak usah
mengherankan mengapa pembangunannya menggunakan batuan
>>
andesitik
>> sebab memang di lereng Gunung Lawu banyak material
itu, seperti halnya
>> candi-candi di Jawa Tengah. Gunung Lawu
berada di perbatasan Jawa
>> Tengah
>> dan Jawa
Timur, dan kedua candi ini dibangun di wilayah Jawa Tengah,
>>
sehingga masih memiliki sifat2 candi Jawa Tengah yang dibangun dengan
>> batugunung, meskipun struktur bangunannya berbeda dari
umumnya
>> candi-candi
>> Jawa Tengah, juga berbeda
dari candi-candi Majapahit di Jawa Timur
>> meskipun dibangun
pada zaman Majapahit.
>>
>> Tak usah diragukan lagi
kronologi pembangunannya sebab tahun-tahun Saka
>> itu (1
Saka=78 M) tercantum di candi tersebut, sehingga kita tak perlu
>> mereka-reka kapan tahun pembuatannya.
>>
>> Tak usah diherankan pula mengapa candi-candi ini mirip piramid,
sebab
>> kedua candi dibangun di lereng gunung yang cukup
tinggi, sehingga
>> dibangun
>> berupa teras-teras
yang berundak yang langsung digali di lereng gunung
>> (tiga
teras di Sukuh, dan tujuh di Cetho, dan di Sukuh masih ditambah
>> dengan sebuah piramida besar ditopangi oleh sebuah lingga
bertingkat
>> dan
>> sebuah sistem saluran air yang
unik.
>>
>> Pak Agung dkk dari Yayasan Turangga Seta
hanya menampilkan patung2 dan
>> relief2 yang dirasa
mirip-mirip dengan gambaran orang2 dari Afrika,
>> Timur
>> Tengah dan Indian -sehingga cocok dengan tesis Santos (2005)
tentang
>> Indonesia adalah Atlantis yang pernah menaklukan
Afrika, Timur Tengah
>> dan
>> Amerika. Padahal,
ikonografi utama kedua candi bukanlah patung dan
>> relief
>> yang digambarkan Pak Agung dkk, melainkan figur-figur
terpentingnya
>> adalah
>> (baik relief maupun arca)
menggambarkan Bima dan adiknya Sadewa.
>> Sekalipun
>> mereka merupakan tokoh2 Mahabharata, di sini mereka muncul
dalam
>> adegan-adegan khas Jawa.
>>
>>
Gambaran2 Bima tampaknya berasal dari lakon Dewaruci yang dikenal baik
>> oleh para penggemar wayang Jawa. Sadewa juga muncul pada
sebuah
>> karangan
>> masa lalu bernama Sudamala,
yang menceritakan bagaimana Sadewa berhasil
>> meruwat Uma dari
kutukan yang telah mengubahnya menjadi Durga. Tokoh
>> lain
>> yang menampilkan ideologi penyelamatan zaman itu adalah burung
mistis
>> Garuda yang muncul beberapa kali bukan sebagai
tunggangan Wisnu tetapi
>> sebagai tokoh otonom, Jatayu atau
Garudeya, lakon dari pupuh pertama
>> Mahabharata.
>>
>> Beberapa arca, artefak penting telah dipindahkan
ke museum Jakarta atau
>> museum Surakarta entah kenapa
sehingga bisa membuat ketidaklengkapan
>> penafsiran. Misalnya
di atas teras paling atas piramid di Candi Sukuh
>> itu
>> ada sebuah lingga besar yang kini ada di museum Jakarta. Juga
dulu ada
>> arca besar Bima yang kini telah berpindah sebagai
koleksi pribadi
>> seorang
>> kolektor di Solo.
>>
>> Akan halnya Candi Penataran/Panataran di dekat
kota Blitar beradasarkan
>> candrasengkala yang dipahatkan di
candi itu diketahui bahwa candi ini
>> pun
>>
dibangun pada zaman Majapahit pada 1369-1375 M. Candi induknya yang
>> terdiri atas tiga tingkat pun dipenuhi relief yang lebih
menceritakan
>> kisah-kisah pewayangan Ramayana dibandingkan
bangsa Jawa menyerang suku
>> Indian seperti ditafsirkan pak
Agung dkk. Tingkat pertama dihiasi
>> relief
>>
Ramayana dengan adegan Hanoman datang di Alengka sebagai utusan Rama
>> sampai tewasnya Kumbakarna. Di tingkat kedua dipahatkan
kisah
>> Kresnayana,
>> cerita tentang bagaimana
Kresna memperoleh istrinya, Rukmini.
>> Candrasengkala termuda
yang ditemukan di candi ini berangka tahun 1337
>> Saka (1415
M).
>>
>> Pendek kata, meskipun Sukuh dan Cheto unik
dalam struktur bangunannya,
>> kedua candi ini masih didominasi
oleh cerita pewayangan yang merupakan
>> sinkretisme antara
kebudayaan India dan Jawa, sebagaimana kita tahu
>> yang
>> merupakan pandangan hidup agama-agama Hindu (Penataran) dan
Syiwa
>> (Sukuh
>> dan Cheto, yang di Indonesia
berbentuk lingga). Keunikan struktur
>> bangunan
>>
yang mirip piramid hanyalah sebagian kecil saja dari struktur candi,
>> begitu juga keberadaan relief dan arca yang dirasa aneh.
>>
>> Perlu diingat bahwa pada zaman Majapahit,
Indonesia berhubungan sangat
>> luas dengan wilayah-wilayah di
seluruh Indonesia dan sekitarnya melalui
>> program ekspansi
selama zaman Tribuana Tunggadwi sampai Hayam Wuruk
>> saat
>> Gajah Mada menjadi mahapatihnya, baik dalam bentuk penaklukan
maupun
>> hubungan dagang saja. Pembangunan Sukuh dan Cheto
serta Penataran
>> sebagian
>> ada pada zaman
ekspansi itu.
>>
>> Itu tak berarti sama sekali
bahwa Indonesia (Jawa) adalah Atlantis. Itu
>> hanya berarti
bahwa pada zaman Majapahit memang pernah terjadi kejayaan
>>
Nusantara melalui politik ekspansi Sumpah Palapa, meskipun tokh tak
>> sampai
>> bertahan 200 tahun karena Majapahit yang
jaya pun akhirnya mengalami
>> 'sirna ilang kertaning bhumi -
1400 Saka (1478 M).
>>
>> Maka buat saya, Candi
Sukuh, Cetho dan Penataran tak membuktikan
>> apa-apa
>> tentang tesis Santos (2005).
>>
>>
salam,
>> Awang
>>
>> --- Pada Sen,
21/3/11, Franciscus B Sinartio <[email protected]>
>>
menulis:
>>
>>
>> Dari: Franciscus B
Sinartio <[email protected]>
>> Judul: [iagi-net-l]
Misteri di candi Cetho dan candi Penataran Re:
>> [iagi-net-l]
PIRAMIDA G. LALAKON DI BANDUNG : AKHIR SEBUAH HARAPAN
>>
Kepada: [email protected]
>> Tanggal: Senin, 21 Maret, 2011,
9:25 PM
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> Suatu hasil penelitian yang sangat
sangat menarik dari Pak Agung dan
>> Pak
>>
Timmy,
>> saya pikir keahlian mereka dalam
arkeologiÃ&sbquo;  sangat sangat
>>
outstanding.Ã&sbquo;
>> kalau misalnya dalam team mereka
ada geologist yang bisa membantu, saya
>> yakin kemajuan yang
dicapai akan jauh lebih pesat.
>>
>> hayo siapa yang
mau kerjsama dengan mereka?
>>
>>
>>
fbs
>>
>>
>>
>>
>>
>
From: Ikhsyat SYUKUR
<[email protected]>
>> To: [email protected]
>> Sent: Mon, March 21, 2011 2:45:52 PM
>> Subject: Re:
[iagi-net-l] PIRAMIDA G. LALAKON DI BANDUNG : AKHIR SEBUAH
>>
HARAPAN
>>
>>
>> Powered by
IAGIBerryÃ&sbquo;®
>>
>>
>>
>
From: kartiko samodro
<[email protected]>
>> Date: Mon, 21 Mar 2011
21:12:43 +0800
>> To: <[email protected]>
>>
ReplyTo: <[email protected]>
>> Subject: Re:
[iagi-net-l] PIRAMIDA G. LALAKON DI BANDUNG : AKHIR SEBUAH
>>
HARAPAN
>>
>>
>> SalamÃ&sbquo;
>>
>> ada tulisan menarik dari Pak Agung Bimo Sutejo
tentang candi Cetho dan
>> PenataranÃ&sbquo;
>>
>>
>>
http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=5&ved=0CCoQFjAE&url=http%3A%2F%2Fxa.yimg.com%2Fkq%2Fgroups%2F21535421%2F929020521%2Fname%2FUNKNOWN_PARAMETER_VALUE&ei=2EmHTfQyjOytB_uDgCs&usg=AFQjCNHvxYEscBjrdSkzowyTy4bHz7TgEg
>>
>>
>> 2011/3/20 sujatmiko
<[email protected]>
>>
>>
>>
>>
>> Rekan-rekan IAGI yang budiman,
>>
Ã&sbquo;
>> Sejak pertengahan Februari 2011 yang lalu,
VIVAnews di Jakarta sangat
>> gencar
menyosialisasikanÃ&sbquo;  sebuah teori yang diinisiasi oleh
Yayasan
>> Turangga Seta tentang adanya ratusan bangunan budaya
piramida di
>> Indonesia. Pendiri dan Ketua Yayasan tersebut
adalah Pak Agung Bimo
>> Sutedjo , Ã&sbquo; seorang
sarjana pertambangan yang masih sangat muda. Dia
>> yakin
>> bahwa piramida-piramida tersebutÃ&sbquo;  tersebar di
Sumatera, Jawa, Bali,
>> Kalimantan, Sulawesi, dan Papua
denganÃ&sbquo;  jumlah yangÃ&sbquo;  lebih banyak
>> dan
>> lebih megah dari
piramida-piramidaÃ&sbquo;  peradaban Mesir dan Maya (
>>
silahkan
>> baca di Ã&sbquo; Google : Piramida G.
Lalakon ).Ã&sbquo;  Pak Agung dan
>> rekan-rekannya
>> di Yayasan Turangga rupanya terobsesi oleh teori Prof. Arysio
Santos
>> bahwa
>> Indonesia adalah pusat peradaban
Atlantis yang hilang.
>> Ã&sbquo;
>>
Keyakinan dan semangat Pak Agung dan rekan-rekannya yang begitu
>> mengesankan akhirnya menuntun mereka ke G. Lalakon di kawasan
Soreang,
>> Bandung, dan ke Bukit Sukahurip di kawasan
Pengatikan,Garut. Mereka
>> berhasil juga menggaet
Ã&sbquo; tiga pakar geologi terkemukaÃ&sbquo;  untuk
>> mendampingi
>> mereka meninjau ke lapangan dan
melakukan penelitian geolistrik. Ã&sbquo;
>> Dari
>> hasil geolistrik ( walaupun satu lintasan saja ),
Ã&sbquo; mereka sudah
>> berani
>> bertaruh
bahwa di bawah permukaan G. Lalakon tersembunyi sebuah
>>
bangunan
>> budaya piramida.
>> Ã&sbquo;
>> Mang Okim kenal Pak Agung di Gedung Sate, ketika
diundangÃ&sbquo;  oleh Pak
>> Wagub
>> Jabar
untuk ikut mendengarkan presentasinya ( 3 Maret 2011 ). Ã&sbquo;
Mang
>> Okim
>> surprise juga ketika ada tayangan
video selama beberapa menit Ã&sbquo; yang
>> menampilkan
Ã&sbquo; seorang pakar geologi terkemuka sedang menjelaskan
Ã&sbquo;
>> hasil
>> geolistrik . dengan
beberapa anomaly yang memberikan petunjuk akan
>>
Ã&sbquo; adanya bangunan tertentu di bawah G. Lalakon ( silahkan
simak di
>> Google
>> ). Atas permintaan
Ã&sbquo; Pak Wagub , mang Okim memberikan komentar bahwa
>> Ã&sbquo; survey geolistrik bukan alat yang tepat untuk
mengukur perbedaanÃ&sbquo;
>> resistivity di lingkungan
gunung api yang begitu massif. Selain dari
>> itu,
>> bentukan alam yangÃ&sbquo;  menyerupai piramida
merupakan fenomena geologi
>> yang
>> sangat umum
dijumpai ( mang Okim menjelaskan sedikit tentang istilah
>>
ââ&sbquo;¬Å&ldquo;
>> cinder cone
ââ&sbquo;¬Å&ldquo; ).
>>
Ã&sbquo;
>> Semangat yang patut diapresiasi
>> Ã&sbquo;
>> Semangat Pak Agung dan team yang
pantang menyerah patut kita apresiasi.
>> Walaupun telah
Ã&sbquo; dianjurkan untuk tidak melakukan penggalian kalau
>> tidak
>> didampingi oleh instansi berwenang di Jawa
Barat atau Jakarta, ,
>> penggalian dilakukannya juga tanggal
14 Maret 2011 selama 3 hari (
>> dengan
>>
Ã&sbquo; izin Pak Kades ). Menurut cerita masyarakat di Kampung
Badaraksa,
>> rombongan datang dengan 9 mobil ( Ã&sbquo;
Jakarta, Yogyakarta dan Bogor ).
>> Mereka naik ke puncak G.
Lalakon diantar Pak Kades ( ada pakar
>> geologinya
>> ) dan sebagian berk emah di lokasi penggalian ( baca reportase
VIVAnews
>> di
>> Google tanggal 18 Maret 2011) .
>> Ã&sbquo;
>> Kemaren, Sabtu 19 Maret 2011,
mang Okim ( KRCB ) , Pak Lutfi Yondri (
>> Balai Arkeologi
Bandung ), Pak Ryan ( Sespri Pak Wagub ), dan Pak Didik
>> (
>> rekan Pak Ryan ), iseng-iseng meninjau ke G. Lalakon. Di
Kampung
>> Badaraksa, berita penggalian telah menyebar luas,
katanya bertujuan
>> untuk
>> mencari piramida /
harta karun . Team Pak Agung yang kami harapkan bisa
>>
dijumpai ternyata telah meninggalkan lokasi ( konon akan kembali dalam
>> beberapa hari ) . Dengan diantar 2 anak kecil dan disusul
kemudian oleh
>> 2
>> pengawas dari Indonesia Power,
kami berempat merayap selama 1,5 jam
>> menuju
>>
Ã&sbquo; ke lokasi lubang penggalian di puncak G. Lalakon ( sangat
dekat
>> dengan
>> fasilitas Menara Listrik Saguling
).
>> Ã&sbquo;
>> Akhir sebuah harapan
>> Ã&sbquo;
>> Rombongan mang Okim berada di
lokasi penggalian sekitar 1,5 jam (
>> sempat
>>
kehujanan ). Setelah mengadakan pengamatan seperlunya, mang Okim dan
>> juga
>> rekan-rekan yang lain langsung mengirimkan
beberapa pesan sms ke tujuan
>> masing-masing. Di bawah ini
mang Okim salinkan pesan-pesan sms tersebut
>> yang dengan
tambahan penjelasan di beberapa gambar, insyaallah
>>
rekan-rekan
>> dapat menyimpulkanÃ&sbquo;  sendiri hasil
peninjauan mang Okim dan rombongan
>> (
>>
Ã&sbquo; ternyata kegiatan penggalian G. Lalakon terekam juga oleh
Staf
>> khusus
>> istana yang kemudian memanggil Pak
Agung dan menginstruksikan untuk
>> tidak
>> menutup
lubang penggalian karena akan mendampingi kegiatan Ã&sbquo;
operasi
>> penggalian selanjutnya ! ).
>>
Ã&sbquo;
>> Semoga kisah ini dapat menambah wawasan
rekan-rekan. Have a peaceful
>> Sunday afternoon.
>>
Ã&sbquo;
>> Salam cinta geologi dan geo-arkeologi,
>> Ã&sbquo;
>> Mang Okim.
>>
Ã&sbquo;
>> PESAN-PESANÃ&sbquo;  SMS ( 19 MARET
2011 )
>> Ã&sbquo;
>> Mang Okim : Bu Nita,
kami baru dari penggalian G.Lalakon. Bukti geologi
>> :
>> 100% hipotesis kami benar ( no trace of human culture ). The
most
>> urgent
>> thing, lokasinya harus segera
diurug , membahayakan Electric Towers
>> Facility. Kalau tidak
, bisa jadi masalah hukum. Tolong sampaikan ke
>> Pak
>> Romy. Thanks, Wass, MikoÃ&sbquo;
>>
Ã&sbquo;
>> Bu Nita ( contact person Jakarta ) : Selamat
sore pak Miko. Kabar
>> terakhir
>> saya dapatkan
tadi malam dari Agung, bahwa kemarin pagi team TS
>>
dipanggil
>> ke istana , ke kantor Stafsus . Penggalian akan
diteruskan bersama dgn
>> team Stafsus. Hanya itu yg saya tau
sampai saat ini. Tapi pesan Bapak
>> akan
>> saya
sampaikan ke Agung. Terima kasih
>> Ã&sbquo;
>> Mang Okim : Silahkan saja, resikonya sangat besar. Bukti2
geologi more
>> than enough. Dari puncak G.Lalakon, saya
diskusi dgn Dr.Danny yg ikut
>> penggalian, same opinion.
Artikel buat media akan segera disiapkan.
>> Saya
>>
harap Pak Romy bisa realistis. Saya hanya mengingat nama besar Bung
>> Karno
>> yg saya kagumi. Rgds, Miko ( Catatan : Pak
Romy adalah cucu langsung
>> Bung
>> Karno yang
hadir di Gedung Sate dan Ã&sbquo; tadinya bermaksud Ã&sbquo;
mendukung
>> biaya
>> penggalian ).
>>
Ã&sbquo;
>> Bu Nita : Pak, seperti yg sudah disampaikan
juga kepada Pak Lutfi bahwa
>> Pak Romy tidak menyetujui
penggalian kemarin tanpa kerjasama dengan
>> Wagub.
>> Jadi TS sudah mengambil jalan sendiri. Kemarin yang bertemu
dengan
>> Stafsus
>> istana hanya team TS saja .
Barusan SMS bapak sudah disampaikan ke
>> Agung,
>>
terimakasih sekali atas perhatian bapak untuk mengingatkan team TS .
>> Memang Ada perintah dr Stafsus untuk tdk menutup penggalian,
tapi
>> pendapat
>> bapak akan disampaikan ke
Stafsus . Secepatnya Agung akan memberi kabar
>> ke
>> saya. Terimakasih Pak .
>> Ã&sbquo;
>> Mang Okim : Alhamdulilah kalau Pak Romy tidak terlibat. We'll
go ahead
>> with our plan. Secara hukum, Mas Agung sudah bisa
ditindak. Kami tdk
>> tahu
>> apa yg akan segera
dilakukan oleh Indonesia Power Saguling setelah tahu
>> ada
penggalian yg membahayakan instalasinya. Have a great week end,
>> Miko
>> Ã&sbquo;
>> Bu Nita : Baik
pak , terimakasih atas perhatiannya. Tapi tolong salah
>>
satu
>> pertimbangan, bahwa pak Lutfi juga yg meminta agar
lubang tidak ditutup
>> dulu karena pak Lutfi dan pak Miko akan
jalan2 ke atas. saya sudah
>> menyarankan kepada TS utk menutup
lubang tersebut secepatnya setelah
>> dilihat Pak Lutfi dan Pak
Miko. Dan jika Stafsus ingin melakukan
>> penggalian kembali,
ijinnya diurus olehÃ&sbquo;  Stafsus saja. Semoga tidak
>> perlu
>> ada tindakan hukum ya Pak . Have a great
weekend to you too pak! (
>> Catatan
>> : Pak Lutfi
hanya mengabarkan akan meninjau lokasi dan tidak meminta
>>
agar
>> lubang penggalian ditutup )
>>
Ã&sbquo;
>> LAMPIRANÃ&sbquo;  GAMBAR
>> Ã&sbquo;
>>
>> Gambar 1 : G.
Lalakon yang seolah piramida simetris, padahal kalau
>>
dilihat
>> dari selatan, bentuknya tidak lagi simetris ( foto
ada di file mang Okim
>> )
>> Ã&sbquo;
>>
>> Gambar 2 : Spheroidal weathering dari pelapukan
batuan porfir andesit
>> yang banyak tersingkap di sepanjang
jalan setapak ke arah puncak G.
>> Lalakon
>>
Ã&sbquo;
>>
>> Gambar 3 : Bongkahan-bongkahan
batuan porfir andesit Ã&sbquo;
>> yang tersingkap
menjelang puncak G. Lalakon.
>> Ã&sbquo;
>>
>> Gambar 4 : Lokasi penggalian ( 5mx3mx6m ) di
puncak G. Lalakon.
>> Kami didampingi oleh 2 pengawas dari
Indonesia Power.
>> Ã&sbquo;
>>
>>
Gambar 5 : Bongkahan batuan andesit porfiri yang ditemukan di
>> penggalian.
>> Tampak jelas
>>
Ã&sbquo; batuan inti dari batuan porfir andesit Ã&sbquo;
yang mengalami kekar tiang
>> (
>> columnar jointing
)
>> Ã&sbquo;
>>
>> Gambar 6 :
Lokasi penggalian yang membahayakan fasilitas
>> menara listrik
Saguling dari Indonesia Power ( kemungkinan diurug hari
>>
ini
>> ).
>> Ã&sbquo;
>>
>>
>>
>>
>>
--------------------------------------------------------------------------------
>> PP-IAGI 2008-2011:
>> ketua umum: LAMBOK HUTASOIT,
[email protected]
>> sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL,
[email protected]
>> * 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5
departemen, banyak biro...
>>
--------------------------------------------------------------------------------
>> Ayo siapkan diri....!!!!!
>> Hadirilah Joint
Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
>>
September 2011
>>
-----------------------------------------------------------------------------
>> To unsubscribe, send email to:
iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>> To subscribe, send email
to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>> Visit IAGI Website:
http://iagi.or.id
>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> No. Rek: 123
0085005314
>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia
(IAGI)
>> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> No.
Rekening: 255-1088580
>> A/n: Shinta Damayanti
>>
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>>
---------------------------------------------------------------------
>> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
information
>> posted on its mailing lists, whether posted by
IAGI or others. In no
>> event
>> shall IAGI or its
members be liable for any, including but not limited
>> to
>> direct or indirect damages, or damages of any kind
whatsoever,
>> resulting
>> from loss of use, data
or profits, arising out of or in connection with
>> the use of
any information posted on IAGI mailing list.
>>
---------------------------------------------------------------------
>>
>>
> 
> 
> --
>
_______________________________________________
> Nganyerikeun
hate batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma
>
hirupna pada ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.
> 


-- 
_______________________________________________
Nganyerikeun hate
batur hirupna mo bisa campur, ngangeunahkeun hate jalma hirupna pada
ngupama , Elmu tungtut dunya siar Ibadah kudu lakonan.

Kirim email ke