Tentu saja ada metode2 geofisika untuk membantu penelitian2 arkeologi. 
Masalahnya adalah pada pemilihan metode yang tepat dan penafsiran yang baik. 
Ekskavasi arkeologi bersifat destruktif karena membongkar satu kawasan 
tertentu. Iya kalau ada artefak di dalamnya, akan berguna untuk ilmu 
pengetahuan; kalau tidak ada, ya hanya merusak. Maka sebelum menggali-gali dan 
membongkar-bongkar, ada baiknya melakukan penelitian2 dengan metode geofisika 
yang tepat, alat2 yang akurat, datanya diolah dengan benar, dan ditafsirkan 
dengan baik sebelum memulai membongkar-bongkar.

Saat ini, ada banyak pilihan berbagai metode geofisika yang bisa digunakan 
untuk membantu para ahli arkeologi menjawab kecurigaannya, misalnya:

METAL DETECTORS
RESISTIVITY METHOD
GROUND-PENETRATING RADAR (GPR)
HIGH-FREQUENCY SEISMIC SOUNDING
MAGNETOMETRY
MICROGRAVITY
AERIAL PHOTOGRAPHY AND IMAGERY

Metode mana yang dipilih akan bergantung kepada keunggulan dan keterbatasan 
metode/alat, jenis artefak apa yang diharapkan, dan lingkungan medan/terrain 
sekitarnya.  Untuk melakukan hal ini geophysicist dan archeologist harus 
berdiskusi, memutuskan mana yang tepat. Beberapa contoh kasus: undersea 
archeologist banyak menggunakan metal detector untuk menemukan harta karun yang 
ditinggalkan kapal-kapal yang karam ratusan tahun lalu. Semakin bagus coil dan 
power transmitternya, semakin peka metal detector, semakin dalam juga kemampuan 
penetrasinya, tetapi tetap ada batasannya, 15 ft adalah batasannya. GPR, pernah 
dilakukan beberapa kali untuk mendeteksi keberadaan bangunan di bawah tanah.  
Modern magnetometer cukup peka untuk mendeteksi perubahan 1 gamma saja dari 
medan magnetik sebesar 50,000 gamma. Magnetometer ini di Timur Tengah telah 
berjasa membantu menemukan situs2 kota yang dibangun dengan bata2 yang dibakar 
sebab ternyata batulempung yang dibakar menjadi bata punya anomali magnetik 
yang tinggi, dan tentu saja magnetometer sangat berguna untuk situs2 yang 
dibangun pada Zaman Besi.  Foto udara dan processing citra telah membantu 
penemuan the Temple Mount di Yerusalem dengan cara pengolahan thermal infra-red 
images.

Masalah lain adalah, banyak pembuat nonprofesional alat-alat geofisika itu yang 
ditawarkan kepada dunia arkeologi dengan harga yang relatif murah. Penelitian 
arkeologi bukanlah penelitian ekonomis seperti di perminyakan atau tambang yang 
pasti menggunakan peralatan yang akurat dan canggih. Penelitian2 arkeologi 
biasanya punya anggaran yang tidak besar, sering juga dibiayai oleh donasi dari 
yayasan2 tertentu. Maka pengadaan peralatan geofisika yang canggih tetapi mahal 
menjadi problem tersendiri. Maka ketika ada yang menawarkan alat2 yang murah, 
mereka menerimanya, padahal peralatannya tidak akurat. Di situlah problemnya.

Salam,
Awang

From: kartiko samodro [mailto:[email protected]]
Sent: 22 Maret 2011 11:00
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Misteri di candi Cetho dan candi Penataran

Kalau di penggalian purbakala / arkeologi, apakah ada metode tidak langsung 
(geophysical method etc) yang bisa digunakan untuk memastikan kalau memang ada 
situs arkeologi di tempat tertentu sebelum dilakukan penggalian ?
Ambil contoh gunung dengan piramida ...
kalau memang disitu ada bentuk piramida/candi  yang dibentuk dengan bahan 
batuan yang ada disekitarnya , apakah ada metoda geofisika ( magnetic/density 
etc) yang bisa digunakan untuk memastikan bentuknya sebelum digali  / dikupas 
atau hanya bisa dilakukan dengan pengamatan mata di lapangan ?

2011/3/22 sujatmiko <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Rekan-rekan IAGI yang budiman,

Mang Okim sangat beruntung dapat  hadir di pertemuan Gedung Sate Bandung 
tanggal 3 Maret 2011 yang lalu , untuk mendengarkan presentasi Pak Agung dan 
team Turangga Seta (TS) tentang temuannya di Candi Cetho dan Candi Penataran . 
Presentasinya yang dilengkapi dengan tayangan power point yang begitu menarik , 
betul-betul membuat semua yang hadir termasuk Pak Wagub Jabar terperangah ( 
apalagi mang Okim - - - ta' iya ! ).

Temuan Pak Agung di kedua candi tersebut  sangat orisinil dan tampaknya belum 
pernah tersentuh / disadari oleh para ahli sejarah kita sebelumnya. Pak Lutfi 
Yondri , ahli arkeologi yang  penemu fosil manusia prasejarah di Situs Gua 
Pawon,  sampai mengajak Pak Agung dan team untuk berbicara di Kongres Nasional 
Arkeologi  yang akan dilaksanakan beberapa bulan yang akan datang.

Dalam kaitannya dengan temuan Pak Agung dan team TS di Candi Cetho dan Candi 
Penataran ini, mang Okim kira tidak perlu ada pendamping ahli geologi karena 
mereka  sangat ahli dalam menganalisa ukiran-ukiran di dinding candi dan 
membandingkannya dengan ukiran-ukiran sejenis  di candi luar negeri. 
Sebaliknya, untuk kasus Piramida, mang Okim sangat menganjurkan  agar ada  
pendamping ahli geologi  yang pengamatan di lapangannya murni didasarkan kepada 
ilmu kebumian ( khususnya physical geology ). Dengan demikian maka team TS 
tidak perlu lagi minta bantuan  para penunggu ghoib di lapangan dan melakukan 
penelitiannya di malam hari ( mereka memlesetkan  teamnya sebagai alumnus MIT, 
singkatan dari Menyan Institute of Technology - - - silahkan baca di Google ).

Salam cinta geo-arkeologi,

Mang Okim


From: Franciscus B Sinartio 
[mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>]
Sent: 21 Maret 2011 21:25
To: [email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Misteri di candi Cetho dan candi Penataran Re: 
[iagi-net-l] PIRAMIDA G. LALAKON DI BANDUNG : AKHIR SEBUAH HARAPAN

Suatu hasil penelitian yang sangat sangat menarik dari Pak Agung dan Pak Timmy,
saya pikir keahlian mereka dalam arkeologi  sangat sangat outstanding.
kalau misalnya dalam team mereka ada geologist yang bisa membantu, saya yakin 
kemajuan yang dicapai akan jauh lebih pesat.

hayo siapa yang mau kerjsama dengan mereka?
fbs
________________________________
From: Ikhsyat SYUKUR <[email protected]<mailto:[email protected]>>
To: [email protected]<mailto:[email protected]>
Sent: Mon, March 21, 2011 2:45:52 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] PIRAMIDA G. LALAKON DI BANDUNG : AKHIR SEBUAH HARAPAN

Powered by IAGIBerry(r)

________________________________
From: kartiko samodro 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>
Date: Mon, 21 Mar 2011 21:12:43 +0800
To: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
ReplyTo: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Subject: Re: [iagi-net-l] PIRAMIDA G. LALAKON DI BANDUNG : AKHIR SEBUAH HARAPAN

Salam

ada tulisan menarik dari Pak Agung Bimo Sutejo tentang candi Cetho dan Penataran

http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=5&ved=0CCoQFjAE&url=http%3A%2F%2Fxa.yimg.com%2Fkq%2Fgroups%2F21535421%2F929020521%2Fname%2FUNKNOWN_PARAMETER_VALUE&ei=2EmHTfQyjOytB_uDgCs&usg=AFQjCNHvxYEscBjrdSkzowyTy4bHz7TgEg




Kirim email ke