Selamat Kang Agus MR.

Salam.
Dini
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Agus Mochamad Ramdhan <[email protected]>
Date: Mon, 27 Jun 2011 19:22:22 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: [iagi-net-l] Overpressure in Indonesia's sedimentary basins

Mas Bowo dan Ferdi,
 
Thread-nya saya ubah jadi ‘overpressure in Indonesia’s sedimentary basins’ ya, 
sekalian promosi riset kami nih, hehehe.
 
Mengenai overpressure di Lower Kutai Basin (LKB), ini kami kirimkan abstract 
dari paper kami yang akan diterbitkan kira-kira September ini di AAPG Bulletin. 
Sebagai acknowledgement, penulisan paper ini (termasuk PhD studentship saya), 
disponsori oleh Total E&P Indonesie: Terima kasih!
 
 
Overpressure and shale compaction in the Lower Kutai Basin, Indonesia – a 
radical reappraisal
Agus M. Ramdhan1* and Neil R. Goulty1
1Department of Earth Sciences, Durham University, South Road, Durham DH1 3LE, 
UK.
*Present address: Department of Geology, Institut Teknologi Bandung, Jl. 
Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia. Corresponding author (e-mail: 
[email protected])
 
ABSTRACT
 
Lateral drainage and high temperatures in the shelfal area of the Lower Kutai 
Basin provide an exceptional opportunity to study compaction of Miocene shales 
and overpressure generation. Previous workers agreed that the principal 
mechanism of overpressure generation is disequilibrium compaction, but sonic 
and resistivity logs in several fields display reversals at a transition zone 
into high overpressure, indicating that overpressure is generated by unloading 
processes. The transition zone coincides with the vitrinite reflectance 
threshold for gas generation. Extreme overpressures in some wells are 
associated with reversals on density logs too, interpreted to result from 
cracks opening. 
 
The density–depth trends through the shales are similar in all wells and 
independent of overpressure until extreme overpressures are encountered. This 
observation strongly suggests that porosity reduction is controlled by chemical 
compaction and that cementation has caused the shales to become overcompacted, 
relative to the prevailing effective stress, at burial depths of ~3 km where 
the top of overpressure is encountered. Hence, the Lower Kutai Basin contains a 
unique reported example, to date, of a Neogene succession in which high 
overpressures are generated by unloading processes with no contribution from 
disequilibrium compaction. 
 
Density logs from the Peciko Field have been used to derive the empirical 
porosity–depth trend for shales in the depth range 6000–15,000 ft (1800–4600 
m), where z is depth in thousands of feet. The corresponding temperatures range 
is 85–170°C, so this compaction curve applies for shales in the chemical 
compaction regime where no discrete smectite is present.
 
 
Intinya memang kira-kira bahwa overpressure di LKB tidak disebabkan oleh 
undercompaction atau disequilibrium compaction (atau kita bisa sebut loading 
mechanism karena berhubungan dengan penambahan vertical load/sedimentation). 
Kami menduga penyebabnya adalah unloading (un-related-to loading). Kesimpulan 
kami ini cukup mengejutkan banyak peneliti yang mendalami overpressure. Mereka 
bertanya: “how come? You have ‘young’ sedimentary basin, undergoing moderate 
sedimentation rate, yet the overpressure is not caused by disequilibrium 
compaction?” Kami jawab, ya memang kami tidak menemukan sama sekali bukti 
disequilibrium compaction (porosity preservation at overpressure section). 
Malahan, kami menemukan bahwa sedimen di overpressured section adalah 
overcompacted instead of undercompacted. Kami tantang balik: coba tunjukkan 
satu cekungan sedimen di dunia, dimana cekungan tersebut relatif muda (Neogen 
kurang lebih), kemudian masih aktif mengalami
 sedimentasi, dan overpressure bukan disebabkan oleh disequilibrium compaction. 
Cekungan yang seperti ini sepertinya tidak ada di dunia (setidaknya sampai saat 
ini), dan LKB mungkin sangat unik!
 
Kami menduga salah satu penyebab unloading yang utama di LKB adalah gas 
generation (kerogen to gas transformation). Penyebab lainnya kemungkinan adalah 
clay diagenesis (sebagai contoh transformasi illite jadi kaolinite). Hal ini 
masih terus kami teliti. Sebagai catatan, riset kami sebelumnya ini tidak 
mencakup deep-water Kutai Basin. Kami ingin sekali me-riset daerah ini, karena 
bisa jadi salah satu contoh klasik overpressure di deep water. Berminat 
mensponsori? Hehehe…
 
Proses unloading overpressuring ini terutama dikontrol oleh temperatur, 
sehingga kami berhipotesis bahwa karena LKB ini dapat digolongkan sebagai ‘warm 
basin’ melihat thermal gradient-nya, maka proses-proses unloading sangat 
mungkin terjadi. Sebagai lanjutannya, kami berhipotesis juga bahwa di 
cekungan-cekungan sedimen lain di Indonesia, mengingat thermal gradient-nya 
cukup tinggi, unloading sangat boleh jadi merupakan penyebab terjadinya 
overpressure.
 
Salah satu implikasi dari unloading overpressuring ini adalah kemungkinan 
‘kegagalan’ metoda standard seperti Eaton’s Method untuk mengestimasi besarnya 
overpressure. Untuk mengestimasinya, diperlukan teknik-teknik spesial. Promosi: 
teknik spesial ini akan didiskusikan dengan cukup mendalam di workshop IAGI 
kami di Bali Tanggal 4 – 8 Juli yang akan datang, hehehe…
 
Kami dari ITB sekarang sedang mengajukan consortium research untuk meneliti 
overpressure di cekungan-cekungan sedimen di Indonesia, berkolaborasi dengan BP 
Migas dan industri. Personel yang terlibat diantaranya adalah Prof. Lambok 
Hutasoit, Prof. Andang Bachtiar, Prof. Neil Goulty, saya, kemudian ada juga 
master student yaitu Maradona dan Felli Aryandi. Jika project ini go, kami juga 
berencana merekrut satu atau dua PhD student ke ITB.
 
Rencananya, kami tidak hanya akan meneliti penyebab overpressure saja (yang 
mana sangat berguna untuk estimasi overpressure/drilling), tapi juga akan 
meneliti implikasi dari overpressure ini terhadap petroleum system. Sebagai 
contoh, kami akan meneliti apakah overpressure tersebut dapat mengakibatkan 
breached trap atau protected trap, kemungkinan keterdapatan ‘unconventional’ 
hydrodynamic trap yang diakibatkan oleh overpressure bleed-off, dll. Sebagai 
contoh, Total Indonesie, seperti yang dibahas oleh Lambert et al. (2003) (di 
AAPG Memoir 78), menemukan Giant Peciko dengan konsep ‘unconventional’ 
hydrodynamic trap. Tunu Super Giant juga di-develop dengan konsep 
unconventional hydrodynamic ini. Harapan muluknya: mudah-mudahan masih ada 
sleeping giant yang diakibatkan oleh unconventional hydrodynamic trap ini.
 
Selama ini, pemahaman mengenai overpressure datang dari the Gulf of Mexico 
(kita sebut GoM school of thought) dan dari North Sea (kita sebut North Sea 
school of thought). Seperti kami sebutkan sebelumnya, overpressuring di LKB 
sangat unik, mungkin jarang sekali ada di dunia. Kami berobsesi bahwa akan ada 
satu lagi tambahan: Indonesian school of thought, sebagai salah satu outcome 
dari research ini. Promosi: berminat mensponsori? Hubungi kami, hehehe…
 
Sorry cukup panjang dan banyak pesan sponsor-nya.
 
Salam,
Agus

Kirim email ke