Pak Koesoema,

Yang membeli data spec surveys di forearcs Sumatra dan Jawa ada beberapa, juga 
yang sedang mempelajarinya, tetapi belum ada blok2 baru ditawar calon investor 
(direct offer) atau yang mengambil blok tawaran Pemerintah di wilayah2 forearcs 
ini. Kita tunggu saja kemajuannya sampai pertengahan tahun 2012. Saya juga 
selalu berpikiran terbuka Pak, hanya mencoba meluruskan kembali isu tahun 2008 
lalu dan mengulas paper Lutz et al. (2011) dari sisi lain.

Salam,
Awang

-----Original Message-----
From: R.P.Koesoemadinata [mailto:[email protected]]
Sent: 07 September 2011 1:56
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] [iagi-net-l] tulisan menarik di AAPG 
Bulletin

Apakah sesudah heboh Simeule ini Block ini ada perusahaan yang berminat
mengambil block ini?
Saya ini selalu mempunyai sikap "open mind". Kalau ada perusahaan yang
berminat saya pikir dikasihkan saja sesuai dengan prosedur dan peraturan
yang berlaku.
Siapa tahu terjadi kejutan
Wassalam
RPK
----- Original Message -----
From: "Awang Satyana" <[email protected]>
To: "Forum Himpunan Ahli Geofisika Indonesia" <[email protected]>
Cc: "IAGI" <[email protected]>; "Eksplorasi BPMIGAS"
<[email protected]>; "Geo Unpad"
<[email protected]>
Sent: Wednesday, September 07, 2011 1:13 PM
Subject: [iagi-net-l] Re: [Forum-HAGI] [iagi-net-l] tulisan menarik di AAPG
Bulletin


Paper Lutz et al. (2011) ini masih berhubungan dengan isu yang pernah
menghebohkan Negeri ini pada 11-13 Februari 2008 akibat pemberitaan serentak
media (cetak, elektronik, internet) di seluruh Indonesia tentang
“ditemukannya lapangan migas raksasa di Simeulue, Aceh”, yang menurut sebuah
institusi negara dalam negeri (yang pekerjaan sehari-harinya sebenarnya
bukan mengurusi migas, tentu kawan2 tahu yang saya maksudkan, saya tak enak
menyebutnya langsung) cadangannya lebih besar dari Saudi Arabia (Jawa Pos 11
Februari 2008). Tentu ini berita yang menghebohkan sekali, terutama di
kalangan profesional migas. HAGI-IAGI menyambut dengan sigap isu ini
sekaligus untuk melakukan klarifikasi isu itu secara profesional dengan
mengadakan luncheon talk masalah ini di sebuah hotel di Jakarta pada 21
Februari 2008.

Saya kebetulan adalah salah satu pembicara di dalam luncheon talk itu, dan
berpendapat bahwa isu itu negatif serta pemberitaannya menyesatkan. Isi isu
yang pertama kalinya dilemparkan sebagai bola panas oleh institusi yang saya
maksudkan di atas itu juga banyak menyalahi kaidah keteknikan migas yang
berlaku di kalangan para profesionalnya. Meskipun demikian, isu ini telah
masuk ke Istana dan disambut dengan sebuah tindak lanjut. Dibentuklah tim
klarifikasi atas isu ini sebelum hiruk-pikuk yang lebih lanjut terjadi.
Sebuah prosedur yang baik sebab yang namanya isu harus diklarifikasi dulu.
Anggota tim klarifikasi ini, yang dinamakan Tim Verifikasi Simeulue semula
melibatkan banyak institusi termasuk IAGI dan HAGI, saya juga anggotanya.
Tetapi kemudian karena masalah intern yang menurut kabar data kurang dibuka
oleh institusi pelempar bola panas (entah mengapa?), maka satu per satu
anggotanya mengundurkan diri atau tak pernah diundang lagi dalam
 diskusi-diskusi, termasuk saya. Akhirnya, yang meneruskan sampai selesai
sebagai Tim Verifikasi Simeulue hanyalah Lemigas dan PSG (Pusat Survei
Geologi).

Tim Verifikasi bekerja dari September 2008 sampai Februari 2009. Meskipun
saya bukan anggota aktif Tim ini karena hanya dilibatkan di awal dan setelah
itu tak pernah dilibatkan lagi, tetapi saya punya hasil “investigasi” (yang
namanya isu harus diinvestigasi) Tim ini. Inilah yang akan saya ceritakan di
akhir tulisan ini. Sebelumua, saya ingin mengulas sedikit paper Lutz et al.
(2011).

Banyak yang bisa didiskusikan dari paper Lutz et al. (2011) tentang
sttratigrafinya, tektoniknya, maupun petroleum system-nya. Kali ini, saya
hanya ingin menyoroti masalah thermal modeling dan gas geochemistry yang
dievaluasi Lutz et al. (2011), yaitu masalah nilai heatflow yang dipakai dan
karakterisasi gas berdasarkan sampel sedimen; khususnya metode yang mereka
pakai dan hasilnya.

Heat-flow values (Q) yang dipakai Lutz et al. (2011) diturunkan dari
perhitungan berdasarkan kedalaman bottom-simulating reflectors (BSRs).
Interpreted BSRs dikonversi dari TWT to depth (DBSR) menggunakan velocity
profile yang diturunkan dari wide-angle reflection seismic data. Kedalaman
seafloor (Dsf) juga dihitung, dengan asumsi kecepatan gelombang bunyi di air
1500 m/s (4921 ft/s). Temperatur pada kedalaman BSR (TBSR) ditentukan dengan
water-methane phase diagram (Kvenvolden and Barnard, 1982). Temperatur air
di dasar laut (Tsf) dihitung dari pengukuran CTD
(conductivity-temperature-depth) sampai kedalaman 1100 m (3609 ft); untuk
kedalaman yang lebih besar, diasumsikan temperatur 1 C. Untuk thermal
conductivity, digunakan published value 1.23 W/(m K) dari Delisle and Zeibig
(2007). Kemudian rumus Q adalah: Q = grad(t) with grad(t) = (TBSR -
Tsf)/(DBSR - Dsf). Dari perhitungan, didapatlah nilai Q 37 and 74 mW/m2.
Lutz et al.
 (2011) kemudian memakai nilai Q 40 dan Q 60 mW/m2 dalam basin modeling.

Hasil Q di atas jauh melebihi analisis terdahulu yang menemukan nilai Q
25-40 mW/m2 (Pollack et al., 1993) NGDC dataset + IPA/SEAPEX data ) untuk
Simeulue Basin. Meskipun nilai temuan Lutz et al, (2011) ini lebih rendah
dari umumnya nilai heat flow di back-arc basins Indonesia (80-90 mW/m2),
nilai temuannya tak sesuai dengan nilai real pengukuran termal berdasarkan
data sumur yang sudah dipublikasi IPA (Thamrin, 1987) yang menemukan bahwa
GG rata-rata Simeulue adalah 2,14 C/100 m dengan HFU (heat flow unit) 1,21.
Bandingkan dengan Cekungan Sumatra Utara, Sumatra Tengah, dan Sumatra
Selatan yang berdasarkan pengukuran ratusan sumur mempunyai GG masing2:
4,69; 6,76; dan 5,22 C/100 m. Dengan kata lain, nilai Q Lutz et al. (2011)
yang diturunkan secara tidak langsung berdasarkan BSRs dan kedalaman dasar
laut serta berbagai asumsi yang dipakai harus dilihat lagi. Kalau saya,
lebih percaya menggunakan data real GG yang diturunkan dari belasan sumur
yang
 telah dibor di sini dan telah dipublikasikan Thamrin (1987) yang juga
sesuai dengan Pollack et al, 1993). Heat-flow values untuk fore arc basins
di seluruh dunia berkisar antara 20 and 45 mW/m2, dengan typical value of 40
mW/m2 (Allen and Allen, 1990; Dickinson, 1995). Kiranya nilai ini sesuai
dengan Pollack et al., 1993 dan ekivalen dengan GG Thamrin (1987). Termal
yang akan mengubah kerogen jadi petroleum berasal dari heat flow dan
konduktivitas termal burial sediments yang mengubur source rocks. Dua
parameter ini menghasilkan GG, maka menghitung generasi HC berdasarkan heat
flow saja tidaklah cukup.

Gas geochemistry, isunya adalah seputar gas biogenik atau termogenik. Union
Oil Company (NW Sumatra PSC) selama 10 tahun (1968-1978) di area sini telah
mengebor 19 sumur eksplorasi dengan target carbonate reef Miosen Tengah-Atas
seperti yang menjadi bahasan paper Lutz et al. (2011). Dari 19 sumur
eksplorasi tersebut, 6 di antaranya menemukan hidrokarbon, yaitu semuanya
gas biogenik (gas metana 98,95 – 99,68 %, SG 0,556-0,559 g/cc), dan tidak
ada yang ekonomis.

Lutz et al. (2011) melakukan analisis gas geochemistry bukan dari sampel DST
gas sumur2, tetapi berdasarkan metode yang kini banyak dilakukan di laut
dalam, yaitu metode tak langsung menggunakan microseeps dari sediment
samples yang desorbed menggunakan teknik Faber and Stahl (1983). Sebagai
catatan, teknik ini di kalangan praktisi geokimia masih menjadi perdebatan
tentang validasinya. Teknik ini bisa menghasilkan nilai komposisi dan
isotope ratios adsorbed hydrocarbons di dalam surface sediment samples.
Tekniknya adalah sekitar 100 - 150 g sedimen basah ditempatkan di vacuum
apparatus dan di-ekspos terhadap phosphoric acid. CO2 yang dikeluarkan
dilarutkan dalam larutan KOH atau NaOH. Komposisi desorbed hydrocarbons
(methane - pentane) dievaluasi menggunakan standard gas chromatography (GC)
analysis (jenis Shimadzu GC 14b, Porapaq Q column, 2 m [6.6 ft], 1/8 ,
isothermal at 115 C). HC gas yang tersisa ditekan dan dipindahkan ke
evacuated glass
 sampling tubes untuk analisis isotope composition (GC-IRMS [isotope-ratio
mass spectometry] menggunakan FinniganMAT Delta Plus). Konsentrasi HC
diberikan dalam nanograms hydrocarbons per gram of dry sediment (ppb), dan
carbon isotope data methane dalam standard delta notation versus PDB.

Dengan cara itu. Lutz et al. (2011) memperoleh nilai isotop desorbed HC di
sampel sedimen di beberapa tempat coring sea bed-nya bervariasi. Konsentarsi
metana desorbed sediment samples dari Simeulue Basin berkisar dari 27 - 512
ppb, ethane dan propane masing-masing dari 2 - 14 ppb dan 1 -7 ppb. 13C
isotopic composition metana, umumnya di antara -27.8 dan -68, tetapi
ditemukan juga yang sangat berat, sampai -16.4 dan -15.1 (aneh sekali, di
basin forearc yang terkenal dingin terjadi gas yang sangat matang hasil
termal yang sangat panas; gas termogenik paling matang di Indonesia adalah
gas Wiriagar Deep dengan dengan 13C isotopic composition methane -27,5 –
Satyana et al., 2007: gas geochemistry of Indonesia, IPA Proceedings).
Plotting nilai2 ini ke dalam cross-plot gas geochemistry Bernard diagram
secara dominan akan masuk ke wilayah thermogenic gas asal marine source.
Plotting ini sesungguhnya menjadi tak sinkron dengan
 kelimpahan metana dari surface sediments dan gas biogenik yang telah
ditemukan di sumur –sumur yang pernah dibor Union.

Kembali kepada Tim Verifikasi Simeulue, Tim ini dengan berbagai kriteria
telah menghitung bahwa hidrokarbon terperangkap di wilayah Simeulue yang
paling mungkin adalah sekitar 0,034 -0.056 BBOE (34-56 MMBOE), tentu berbeda
sangat jauh dengan apa yang menjadi isu semula yang dilemparkan institusi
negara yang saya maksudkan yaitu sebesar: 100-300 BBO (!). Nilai 34-56 MMBOE
tak akan menarik, tetapi nilai 100-300 BBO tentu akan sangat menggiurkan
(sayang, hanya khayalan yang keterlaluan...), maka ditangkaplah itu oleh
banyak sekali media.

Uniknya, paper Lutz et al. (2011), meskipun nilai analisis dan evaluasi
heatflow dan gas geochemistry-nya saya ragukan, kesimpulannya adalah sama
dengan Tim Verifikasi Simeulue, “If the modeled heat flow is 40 mW/m2,
significantly less hydrocarbon generation is predicted. The amount of
generated hydrocarbons is sufficient to explain the bright spots, but the
carbonate reservoirs are not charged with significant amounts of
hydrocarbons.”

Ulasan saya di atas tak untuk menciutkan usaha eksplorasi forearc basins di
Indonesia, BPMIGAS pun kini sedang melakukan studi internal forearc basins
di seluruh Indonesia untuk memahami lebih jauh tentang forearc basins ini.
Speculative surveys pun telah dilakukan di beberapa forearc basins termasuk
Simeulue dalam tiga tahun terakhir ini, dan beberapa company sedang serius
melakukan studi untuk melihat kemungkinannya buat mendapatkan blok di
wilayah ini. Ada satu wilayah forearc yang sangat menarik setelah data
seismik terbarunya ada, membuat kita berpikir ulang soal geodinamikanya.

Marilah kita melakukan analisis dan evaluasi dengan benar dan ilmiah, jangan
dengan model ‘provokasi serampangan’seperti terjadi tiga tahun lalu.
Provokasi boleh, tetapi tetap ilmiah.

Salam,
Awang

--- Pada Rab, 7/9/11, Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> menulis:


Dari: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
Judul: Re: [Forum-HAGI] [iagi-net-l] tulisan menarik di AAPG Bulletin
Kepada: [email protected], "Forum HAGI" <[email protected]>
Tanggal: Rabu, 7 September, 2011, 12:29 AM



Silahkan dicoba donload lewat sini
http://www.searchanddiscovery.com/documents/2010/10230lutz/ndx_lutz.pdf
http://www.searchanddiscovery.com/documents/2010/10230lutz/ndx_lutz.pdf

Abstract
Fore-arc basins develop as a result of plate subduction and are situated
offshore, between an outer-arc high nd the main land. So far these regions
are not considered as important petroleum provinces because low heat flow
does not necessarily support relevant petroleum generation. The Simeulue
fore-arc basin extends between Simeulue Island and northern Sumatra,
Indonesia. Multichannel seismic data show bright spots above potential
hydrocarbon reservoirs in carbonate platforms. AVO/AVA analyses indicate the
presence of gas in sediments. Surface geochemical prospecting suggests
thermal hydrocarbon generation within deep sediment strata. Heat flow in the
Simeulue Basin ranges between 40 mW/m2 and 60 mW/m2 as deduced from 1-D
petroleum systems modelling of well data and bottom-simulating reflector
depths. Two source rocks (Eocene and Early-Middle Miocene) were assumed for
3-D petroleum system modelling in the Simeulue Basin. Calculated heat flow
scenarios
 (40 mW/m2 and 60 mW/m2, respectively) reveal that hydrocarbon generation is
possible in the main depocenters of the central and southern Simeulue Basin.
In the model with the higher heat flow the carbonate buildups were charged
with oil and gas. This study shows that deep burial of source rocks can
compensate for low heat flow and that fore-arc basins may be in general more
prolific than previously thought. Consequently, fore-arc basins may become
areas of future oil and gas
exploration and production.

RDP

2011/9/5 iwan septeriansyah <[email protected]>
>
> sudah di-confirm mas syaiful, memang tidak bisa dibuka oleh non anggota
> aapg :( kalau boleh bisa minta file digitalnya, mungkin filenya bisa
> dipecah/split menggunakan program pemecah program gratisan yang bisa
> diunduh di www.hjsplit.org
> ________________________________
> From: mohammad syaiful <[email protected]>
> To: IAGI Pusat <[email protected]>; Forum HAGI <[email protected]>
> Sent: Monday, September 5, 2011 7:14 AM
> Subject: [iagi-net-l] tulisan menarik di AAPG Bulletin
>
> selamat merayakan hari raya idul fitri bagi kawan2 yg merayakannya, mohon
> maaf lahir dan batin.
>
> utk kawan2 khususnya di dunia migas, silakan bisa disimak di
> http://search.datapages.com/data/bulletns/data/2011.htm (entah apakah bisa
> diakses atau tidak oleh non anggota aapg).
> judulnya
> Petroleum systems of the
> Simeulue fore-arc basin, offshore
> Sumatra, Indonesia
> pakai data yg diakusisi oleh orang2 jerman dan salah satu penulisnya
> adalah kang iyung.
>
> jika datanya, terutama seismik, boleh atau diijinkan diinterpretasikan
> oleh kawan2 kang iyung di tanah-air (geologists and geophysicists
> indonesia), mungkin akan menghasilkan interpretasi yg berbeda di kawasan
> fore-arc basin tsb.
>
> saya punya file digitalnya, tapi menjadi satu dengan makalah2 lainnya di
> buletin tsb dan besarnya 73,6mb.
>
> salam,
> syaiful
>
>



--
"Everybody is safety leader, You can stop any unsafe operation !"



-----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan-----


______________________________________________
Pembayaran iuran tahunan keanggotaan HAGI dapat ditujukan melalui :
Bank BNI Cab. Menteng Jakarta
No. Rek: 0010740147
Atas nama: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia
Iuran tahunan Rp. 100.000,- (profesional) dan Rp. 50.000,- (mahasiswa)
Info lebih lanjut silahkan mengunjungi http://www.hagi.or.id/keanggotaan/

Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
http://www.jcm2011.com/
______________________________________________
The Indonesian Assosiation Of Geophysicists mailing list.
[email protected] | www.hagi.or.id
---*** for administrative query please send your email to
[email protected]





--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

For topics not directly related to Geology, users are advised to post the
email to: [email protected]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted
on its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall
IAGI or its members be liable for any, including but not limited to direct
or indirect damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss
of use, data or profits, arising out of or in connection with the use of any
information posted on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------


__________ NOD32 5559 (20101024) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com



--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id

For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke