Pak Avianto yang sudah mumpuni,.. selamat bergabung ke IAGI-net,.. apa kabarnya 
bro?

Alhamdulillah masih banyak yang concern tentang Lusi dan mau mematikan.  Siapa 
tahu bisa betul2 dimatikan. Dulu aliran lumpur >150 ribu m3, lebih dari 1 juta 
bbl/d. sekarang <10 ribu m3, jadi sudah sangat kecil dan malah sering berhenti 
secara total, tidak ada kepulan steam sama sekali mencapai belasan menit. Jadi 
mungkin saja lebih gampang untuk dimatikan,.. atau memang sudah masuk dalam 
tahap akan mati dengan sendirinya.

Mematikan boleh2 saja tapi perlu dipertimbangkan, peta bawah permukaan seperti 
apa? Bukan hanya berdasarkan asumsi, oleh kerenanya, kita sepakat dengan ide 3D 
untuk mengetahui kondisi bawah permukaan. Kalau mau melakukan sesuatu, seperti 
kata mbak Suro “Dalam kondisi seperti sekarang, pertanyaan simple yg muncul, 
dititik mana (koordinat) dan kedalaman berapa anda akan pompakan kill-mud / 
cement ato apapun, berapa volume yg anda butuhkan etc…etc…??”

Diperkirakan pastinya sudah banyak multiple faults, fractures baik reactivated 
ataupun baru yang bisa dilihat dari banyaknya gas seeps/gas bubbles di lebih 
dari 200 lokasi. Mungkin saja disebabkan oleh subsidence, pergerakan tektonik, 
sumur dan loading dangkal, atau kombinasi dari faktor2 tersebut.

Perllu jadi bahan pertimbangan: Studi oleh Badan Geologi soal gas dan 
temperature yang dipublish IAGI saat PIT di Lombok, Sutaningsih et al., 2010, 
yang saya cuplik “Isotop Gas Geothermometer C-13. Salah satu cara untuk 
memperkirakan suhu bawah permukaan adalah dengan isotop C-13 yang terdapat 
dalam CH4 dan CO2 dari sampel gas (Blattner, P., and Hoefs, J., 1994) dengan 
rumus :
13CCO2-CH4 = ((15650/(t + 168)) – 9
t (°C) = 15650/( + 9 ) + 168
Data hasil analisis isotop C-13 yang terdapat dalam CH4 dan CO2 yang terkandung 
dalam gas kering dari semburan gas di sekitar semburan lumpur panas Sidoarjo 
dipakai untuk memperkirakan suhu bawah permukaan. Dengan rumus tersebut diatas 
dan diperoleh hasil yang disajikan dalam tabel 7. Dari tabel 7 diperoleh suhu 
rata-rata bawah permukaan semburan Lumpur panas Sidoarjo dan sekitarnya adalah 
548 oC.”

Hal lain yang perlu dipertimbangkan “Hasil analisis isotop H-2 dan O-18, air 
lumpur dari pusat semburan lumpur panas Sidoarjo mempunyai nilai simpangan 
konsentrasi H-2 dari -17,5 ‰ sampai -2,7 ‰ dan simpangan konsentrasi O-18 dari 
+5,28 ‰ sampai +10,11 ‰ yang semuanya mengindikasikan cairan berasosiasi dengan 
batuan beku panas (igneous rock) yang berasal dari magma”. Bukankah pak Avi 
bertujuan untuk menghentikan dengan saya quote kata2 pak Avi “, kita bor ke 
reservoirnya kemudian di spot lumpur berat shg lama2 aliran dari bawah bisa di 
stop” Apa yakin semburan, at least airnya berasal dari reservoir? Reservoir 
yang mana? Reservoir properties seperti apa yang bisa menghasilkan lebih dari 
satu juta barel perhari, katakanlah diawal semburan rasionya 70:30, dimana yang 
70% berupa air, jadi reservoir tersebut harus bisa menghasilkan rate sebesar 
700 ribu barel/hari. Kalau hanya berasal dari lubang sumur, seberapa besar 
lubangnya? Kenapa fish dalam lubang sumur ngga jatuh?

Mungkin saja menurut pak Avi relief well adalah solusi yang paling tepat, tapi 
saya rasa ngga perlu melecehkan soal bola2 beton daripada nanti ada yang 
kesinggung,.. Bola2 beton merupakan purely ide temen2 ITB diusulkan oleh kang 
Bagus Endar cs dan disetujui oleh Timnas..

Peace bro,

Bambang

From: rakhmadi avianto [mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, September 22, 2011 4:10 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Lusi

Ide DR Rubiandini DR Kusuma dan kawan2 ini brilliant lho, secara fisika dg 
relief well suksess rasionya lebih tinggi
pak Doktor telah berhasil menjinakkan sumur JOB PPEJ di Gersik dg gejala awal 
yg sama dg Lusi.Kita alumnus Geologi UGM pernah minta waktu khusus ke pak DR 
Rubiandini untuk mempresenasikan ide beliau dan kita lihat dari segi operation 
Geologist dan drilling kayaknya yg paling masuk akal, sehingga kita yg datang 
waktu semua setuju dg ide DR Rubiandini. SEbagai info tambahan kita2 Alumini 
Geologi UGM yg datang di presntasi tersebut sudah berpengalaman kerja di 
Chevron, ExxonMobil, CNOOC, IAPCO, BP dan Pertamina dg penglaman 15-28 th jadi 
sudah tuwuk makan asam garam drilling operation, seismik, sekwen strat, 
petrophysik dll. Kita menilai bukan kita anti pemerintah tapi sebagai saintis 
kita terpanggil untuk menkontribusikan solusi yg paling tepat, dan kesimpulan 
kita, SETUJU dg DR Rubiandini at all.

Kalo 3D seismik selain datanya akan tidak bagus at the end juga akan mengarah 
ke relief well, ojo di cemplungin beton dari atas mas itu ga bener, kita bor ke 
reservoirnya kemudian di spot lumpur berat shg lama2 aliran dari bawah bisa di 
stop

Salam
Avi
2011/9/22 kartiko samodro 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>
sepertinya kalau relief well sekarang sudah terlambat...sudah jebol dan  rekah 
di mana mana...

3d seismic mungkin bisa untuk mendeteksi daerah mana yang memiliki rekahan 
besar yang menyebabkan semburan ..tapi terus bagaimana menutupnya , apakah kita 
bisa  injeksikan semen di rekahan rekahan tersebut ?                            
                              Solusi terakhir mungkin memang harus dialirkan ke 
sungai porong sehingga sedikit demi sedikit dapat dibuang ke laut....
Untuk pengurangan pencemaran kalau memang ada zat berbahaya, maka bisa 
dilakukan pengolahan limbah dulu sebelum dialirkan ke sungai porong atau ke 
laut...pertanyaannya lagi ada budgetnya tidak ?

2011/9/22 <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Masalah Lusi ini memang udah di plesetin ke yg kurang tepat tentunya ada pihak2 
dg kepentingan yg berbeda

Kok saya stuju dg ide DR Rubiandini untuk di pake reief well yg lebih make 
sense secara ilmiyah, untuk yg lain mungkin sudah terlanjur remek di near 
surfacenya shg ide 3D seismik data yg akan diperoleh disangsikan akan bagus krn 
noisenya udah terlalu kuat

He he he baru gabung kok yo wis komentar

Last but least miss you all dan salam kenal

Sebagai perkenalan saya ini alumni Geologi UGM lulus 1982 kerja di Mobil Oil 
Indonesia 82-94 Mobil Nigeria 95-97 jadi ExxonMobil 98-2006 sejak itu nyangkul 
di Samudra Energy ltd
Pengalaman banyak di Exploration dan production
Tambahan saya itu musuh bebuyutan abah Yanto Sumatri di lapangan Golf

Mungkin itu aja jati diri saya
Salam damai

Avi

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Yanto R.Sumantri" <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Date: Thu, 22 Sep 2011 13:40:11
To: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Reply-To: <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Subject: Re: [iagi-net-l] Lusi


Nyoto

Amburadulnya , karena telah menyeleweng (dengan sadar lagi ) atau
selingkuh dari UUD - 45 dan Pancasila.
Kita meng-agung2 kan demokrasi liberal sembari lupa bahwa kita  bernegara
ini dalam bingkai NKRI yang sebenarnya sudah mempunyai budaya yang tidak
akan cocok dengan demokrasi liberal yang sangat individualistis.
Itu kata Bung Karno , dan saya percaya itu.

ADB saya kira tidak memihak  , hanya dia tidak sependapat dengan Awang
mengenai apa yang men"triger" lumpur.



si Abah.




Kirim email ke