Pak Dibi dan rekan2 MGEI- IAGI..

 

Kasus Bima dan juga kasus2 terkait dunia pertambangan (eksplorasi) di tempat
lain menurut saya harus disikapi dengan hati-hati. Walaupun ini menyangkut
kepentingan dunia kita (krn banyak kawan-kawan kita terlibat baik secara
fisik maupun emosional), tetapi ini juga bisa (dan kebanyakan darinya)
melibatkan kepentingan yg lain seperti politik (baik lokal maupun nasional),
agenda LSM utamanya yang anti tambang, dll.

 

Kasus Bima sendiri (info dari geologist kawan kita yg bekerja di sana)
sangat rumit terutama dari situasi perpolitikan lokal, dimana banyak
keputusan/ kebijakan Bupati ditentang dan dijadikan isu untuk aksi demo.
Tidak hanya di eksplorasi pertambangan saja, bahkan rencana pembukaan pabrik
pengalengan ikan-pun juga batal. Jadi yang dialami oleh PT SMN (Arc
Exploration) rupanya hanyalah salah satu dari isu-isu panas yg bisa
di-"goreng". Kebetulan (atau kesialan) bahwa demo-demo anti eksplorasi ini
berujung dengan jatuhnya korban. Saya pribadi maupun atas nama MGEI sangat
menyesalkan akan jatuhnya korban ini apapun alasannya, dan turut berduka
mendalam. Tapi di sisi lain perlu kita cermati pula kenapa demo anti
kegiatan eksplorasi pertambangan ini lebih marak dan seru (dibanding demo
anti pabrik pengalengan ikan misalnya), spt rekan-rekan sudah tahu, peranan
LSM sangatlah kasat mata, baik sebelum maupun sesudah kejadian (nampak
sekali dari pemberitaan media massa). Sementara dari sisi kegiatan
eksplorasi sendiri, menurut kawan kita ini, belum banyak yg dilakukan,
sejauh ini hanya sebatas pemetaan geologi dan trenching/ pembuatan paritan
uji. (saya harap kawan kita ini bisa melengkapi atau mengoreksi ttg hal ini
kalau ada yg kurang atau salah..monggo mas). 

 

Bagaimana di tempat lain? Rekan-rekan yg tahu (atau malah berada di
dalamnya) pada kasus-kasus terkait eksplorasi pertambangan spt di Lombok,
Papua, Banyuwangi, Madina dll mestinya bisa bercerita banyak tentang "tidak
murninya" tuntutan pada aksi demo tersebut, selalu saja ada kepentingan
"lain" ndompleng di sana. Memang, spt dibahas di milist tetangga,
pangkal-nya adalah ketidak-tegasan pemerintah dalam menjalankan UU,
peraturan dan segala perangkat hukum yg tersedia. Polisi sangat mungkin
sekali melakukan kesalahan dalam menangani demo yg akhirnya menimbulkan
jatuhnya korban ini, tetapi mesti dicek dan petimbangkan juga apakah demo
dengan menduduki fasilitas umum (bahkan kabarnya termasuk menghentikan
keberangkatan ferry antar pulau ke Flores dan Sumba) tidaklah kebablasan dan
melanggar hukum? Yang terakhir ini tidak pernah (kalau adapun hanya
sayup-sayup) diberitakan oleh media massa..(???) 

     

Dengan kompleksitas spt itu (yg melibatkan isu/masalah lintas sektor) apa yg
perlu dilakukan oleh MGEI/ IAGI? Press release (spt usulan pak RDP, Ketum
IAGI) kalaupun diperlukan sebaiknya bersifat umum dan tetap netral, krn
(senada dengan yg RDP bilang) ini bisa menjadi pedang bermata dua yg akan
menjadikan MGEI-IAGI tidak independen dan terkesan membela pihak tertentu.

 

Saya cenderung kita sebagai pelaku (pemangku kepentingan) dunia pertambangan
(termasuk eksplorasi) lebih banyak lagi sharing info/ pengalaman bgmn kita
bisa mendapatkan "social license" dari masyarakat sekitar proyek kita shg
kita bisa bekerja sama dengan baik dan saling menguntungkan dengan
masyarakat setempat. Mengharapkan bantuan pemerintah dalam hal ini tidaklah
manjur sekali paling tidak saat ini (krn bisa jadi terlalu banyak muatan2
"lain"-nya itu tadi). Kuncinya utamanya sepertinya adalah sosialisasi,
sosialiasi dan ..sosialisasi ttg segala aspek kegiatan eksplorasi/
pertambangan yg tentunya bisa dilanjutkan dengan program comrel/ comdev. Ini
memang memerlukan kesabaran dan akan selalu menguras energy (spertinya
perusahaan2 besar sudah atau paling tidak tengah berusaha melakukannya).
Tapi saya rasa tidak ada cara lain yg bisa dilakukan di saat ini, dan kalau
perlu dengan melibatkan kawan-kawan non-geologist (ahli komunikasi, PR, dll)
masuk dalam team. Kalau LSM bisa mengusung "mimpinya" dan mempengaruhi pola
pikir masyarakat setempat, seharusnya para pelaku eksplorasi-pun bisa
membawa ke masayarakat ide-ide nyata-nya (mimpi yang lain lagi.) ttg
kegiatan yg akan dilakukannya, spt manfaat dan mudarat-nya, dll. Beberapa
isu yg sering di salah mengertikan oleh masayarakat yg bisa jadi bahan
persiapan sosialisasi di antaranya:

 

1.     Eksplorasi vs eksploitasi (bahkan sampai level Bupati-pun kadang ada
yg tidak mengerti). Wilayah eksplorasi yg luas tidak berarti seluruhnya akan
digali/ dikupas, dll dll

2.     Kegiatan trenching, soil sampling, dan pemboran diartikan telah
mengambil hasil tambang (utamanya emas)

3.     Penambangan akan menimbulkan kekeringan dan/ atau sebaliknya banjir
bandang

4.     Penambangan/ eksplorasi akan menimbulkan pencemaran merkuri pada air
tanah, sungai dsb

5.     Eksplorasi dan penambangan akan menimbulkan pendangkalan sungai/
danau dll

6.     Pemboran eksplorasi akan menimbulkan semburan lumpur spt lumpur
Sidoarjo.

7.     Masih banyak lagi, mungkin bisa juga dari dunia migas..silakan
ditambahi .

Salam - Daru

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of dibiansyah Hamid
Sent: Monday, December 26, 2011 6:16 PM
To: [email protected]
Subject: [economicgeology] Bls: Eksplorasi Emas Lambu-Sape, apa yang salah?

  

Masih persoalan yang sama (sejak terjadi pembakaran di Febuari 2011),
sepertinya MGEI nggak begitu perduli sama kasus yang seperti ini?? atau
memang nggak begitu punya keberanian untuk "terlibat"??

 

Isu yang berkembang saat ini sudah jelas mengarah ke bahwa 'tambang merusak
lingkungan, sehingga masyarakat tidak terima' dan di berita dan wawancara di
TVOne sore tadi, sepertinya Walhi ada dibelakang mereka.. Ada kesan bahwa
ini merupakan salah satu keberhasilan 'Walhi' dalam memprovokasi masyarakat
untuk mensosisalisasikan isu 'anti tambang'.. Isu ini bisa dibawakan dengan
sangat baik saat ini dengan membonceng beberapa kasus populer lain seperti
kasus Mesuji dan Sodong. 

 

Adakah MGEIers yang bisa memberi pencerahan dalam kasus ini?? 

 

Dibi

 

Dibiansyah Hamid

Barisan Gold Corporation

 

Wisma 46 - Kota BNI, 14th Floor, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220

Ph. 62-21 5749118, cell phone 62-811 7309423, E-mail:
[email protected], [email protected]
Skype db4indo

 

Dari: dibiansyah <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Kamis, 10 Februari 2011 22:54
Judul: Eksplorasi Emas Lambu, apa yang salah?

Lagi-lagi terjadi penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai kegiatan
pertambangan emas.. kali ini di daerah Lambu, Bima. Sepertinya kegiatannya
masih dalam tahap eksplorasi, dan tampaknya mahasiswa (asal Lambu di
Ujungpandang) berperan dalam mengkondisikan suasana anti tambang ini. 

Mungkin ada rekan MGEIer yang terlibat bisa menjelaskan apa yang salah di
Lambu?

Dibi
Powered by Telkomsel BlackBerryR

__._,_.___

 
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=20010319/grpspId=1707216977/msgI
d=6143/stime=1324898164/nc1=3848644/nc2=4507179/nc3=3848614> 

__,_._,___

Kirim email ke