Saya pernah baca dan  punya Novel Gajah Mada , lengkap  ( empat buku) , pernah 
juga baca Api di Bukit Menorh , semanya bagus bagus .
Kalau dituangkan dalam sinetron bersambung atau film , alangkah bagusnya buat 
generasi muda mengenal sejarah bangsanya..

yrs




________________________________
 From: Eko Prasetyo <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Monday, February 6, 2012 10:01 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: [iagi-net-linetron sinetron mengenai kerajaan di 
tv indonesia (was :Situs Megalitik Gunung Padang (wikipedia)
 

Sinetron? Menghargai fakta sejarah? 
Yang penting tampilan menjual dan laku...
gak cuman sinetron sini, Hollywood juga sering kan mengutak-atik mitologi dan 
sejarah seenaknya...


2012/2/6 Yanto R. Sumantri <[email protected]>

Rekan
>
>
>Saya suka tertawa dan sedih melihat sinetron / masa lalu kerajaan  mengenai  
>yang  ditayangkan dalam tv indonesia.
>Betapa tidak kostum , "istana" maupun lingkungan yang ditunjukan didalamnya 
>sangat tidak sesuai/cocok  dengan jaman  dongeng yang dimaksudkan.
>Apa mereka tidak pernah mempelajari sejarah sebelum membuat skenario filmnya 
>ya ?
>
>
>si Abah
>
>
>________________________________
> From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]>
>To: IAGI <[email protected]> 
>Sent: Monday, February 6, 2012 7:18 AM
>Subject: [iagi-net-l] Situs Megalitik Gunung Padang (wikipedia)
> 
>
>Sebagai pengetahuan awal yg sederhana versi wikipedia tentang situs megalitik 
>Gunung Padang. Sudah cukup lama diteliti, tapi memang penelitian megalitik 
>banyak tertinggal dibanding penelitian sejarah moderen.
>Disini ditarikh sekitar 2000 tahun SM.
>
>Rdp
>
>
>Penemuan
>
>Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de 
>Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. 
>Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. 
>Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, 
>Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, 
>mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran 
>yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede[1]. 
>Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan 
>Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. 
>Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan 
>Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.
>
>Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, 
>menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar 
>berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat 
>dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga 
>setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, raja 
>Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.
>
>Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat 
>yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun S.M.[2] Hasil penelitian Rolan 
>Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik 
>dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa 
>tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.
>
>Naskah Bujangga Manik dari abad ke-16 menyebutkan suatu tempat "kabuyutan" 
>(tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) di hulu Ci Sokan, sungai yang 
>diketahui berhulu di sekitar tempat ini[4]. Menurut legenda, Situs 
>Gunungpadang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua 
>ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Saat ini situs ini juga masih dipakai 
>oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan. 
>
>
>-- 
>"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"
>
>
>


-- 
Visit http://www.strivearth.com and be entertained

Kirim email ke