Setuju, masalahnya sekolah yang memberi gelar doktor adalah sekolah sistem bule. Dan bangsa ini sdh tdk punya kepribadian, hehehe asal rame aja. Makanya di bbrpa usulanku lho kalau ngelmu(?) Klop dengan ilmu, lha kan bisa hemat devisa. Gak perlu bor gak pelu geofisik, cukup kirim energi ke mana2 sdh tau mana minyak emas dll. Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> Date: Thu, 16 Feb 2012 09:41:05 To: IAGI<[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: [iagi-net-l] That is not "klenik" it is science, it is technology ! Aku nemu tulisanku sendiri dimilist UPNVY disini : http://groups.yahoo.com/group/upnvy/message/16132 Ini mengingatkan aku, bahwa tahun 2006 pak ADB sudah sering membicarakan kejayaan dan terutama keilmuan masa lalu yg entah hilang karena apa. Jadi ini hasil ngobrol diskusi tehnologi koeno yg hilang. Judul ini dari kalimat Pak ADB sensiri wektu itu. Barangkali beliau juga dah lupa. rdp ==================== Merasakan atau mengalami (experienced) akan sdikit berbeda dengan mempelajari. Dalam proses belajar ("learning proccess") jaman dahulu sering dikenal dengan : I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand. by Confucius. Saat ini proses belajar sudah jauh berbeda dengan cara belajar tradisional. Jaman dulu proses belajar adalah dengan mengalami sendiri atau harus mengerjakannya sendiri. Atau dengan pengalaman sendiri. Namun saat ini pengalaman orang lain dapat dipakai sebagai ajang pembelajaran. Kita bisa belajar dari jepang tentang gempa, kita bisa belajar berdagang dari cina, belajar ilmu pelayaran dari orang sulawesi. "Ngelmu (angel olehe nemu = sulit mendapatkannya). Proses ngelmu jaman dahulu (tradisional) dengan cara "ngenger" ikut kehidupan sang guru, sampai sang guru merasa yakin dengan "cantrik" (murid)-nya untuk dilepas. Dan diberi "aji-aji" sebagai pertanda bahwa kemampuan sang murid sudah dapat dipakai sebagai acuan kesuksesan sang murid. Proses belajar masa kini (modern) dengan pergi ke sekolah, di kelas bersama pak-bu guru. Diber pituduh (petunjuk), membaca pengalaman orang lain (sejarah), diajak berpikir, dan mengerjakan tugas atau soalan. Kemudian diujikan hingga dianggap mampu dan lulus dengan diberi ijazah. Yang lucunya ketika "cantrik yg ngenger" tadi dianggap mampu kemudian disuruh berkelana oleh sang guru, bisa saja disebut disapih (seperti bayi disapih). Prses pengakuannya sengan hanya sebuah sentuhan ... "hegh !" maka saktilah sang murid ini. Murid yg sudah "lulus" ini nantinya setiap gerakannya akan menjadi pertanda, perkataannya diikuti oleh orang lain yg tidak memilki "kesaktian". Sedangkan murid jaman sekarang diakui kelulusannya dengan ijazah Doktor. Sama seperti cantrik, maka setiap perkataan sang doktor ini dianggap ampuh dan diikuti oleh orang lain. Apa yg dibicarakan langsung diacungi jempol sambing manggut-manggut. Nah, itu hanyalah berbeda cara belajar jaman dulu dengan belajar jaman sekarang. Mana yang baik dan mana yg kurang baik ?Yang jelas kurang baik itu adalah "yg tidak mau belajar". *"The lost of the Indonesian Technology"* Beberapa hari lalu aku dan beberapa temen (om Guntas, mBong dan Kang Aris ngobrol dengan pak doktor Andang Bachtiar yg dateng dari jakarta. Ngobrolnya disebuah cafe dipinggir airmancur KLCC dekat twin tower. Salah satu topik yg kita bincangkan adalah *"the lost Indonesian** **technology*". Ya teknologi indonesia jaman koeno. Salah satu yg menarik dalam diskusi itu adalah : - sistem drainasi candi-candi yg sangat perfect, bahkan org jerman terkagum-kagum dengan design sistem pengairan di dalam candi yg tidak menyebabkan genangan. Org jerman ini heran pada waktu dibuatnya candi prambanan ini jerman masih nol,* au ah gelap* ! *europe still within dark** **ages* ! - konstruksi prambanan yg cukup stabil dan tahan gempa. Candi prambanan ini baru rusak berantakan dengan gempa jogja kemarin ini, sedangkan candi boko sudah lebih dulu hancur. Candi prambanan sepertinya dibangun diatas pasir yg meredam gempa (cmiiw). - Bendungan di jawa timur jaman Singasari . Pak ADB yg ikutan di AMC dengan harinjing ingat, ada Prasasti Harinjing yang menceritakan pembangunan sebuah dam atau bendungan di Jawa timur, diperkirakan pembangunan dam itu terjadi pada Abad VIII. Lah itu Indonesia (jawa kuno) telah memiliki teknologi sejak jaman singosari. Nah sekarang yg ahli bendungan di dunia ini justru belanda ! Nah yg heran mengapa teknologi2 ini hilang begitu saja. digantikan teknologi moderen dari barat dengan science-nya. Teknologi Indonesia (jawa) ini dipelajari tidak dengan cara belajar moderen, mereka dipelajari dengan cara "ngenger" dan pengalaman. Barangkali dengan "puasa", prihatin dan latihan. That is not "klenik" it is science, it is technology ! Salam rdp -- *"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"*

