Hehehe pabrik listriknya juga belum ada. Mau jual kemana? Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> Date: Tue, 21 Feb 2012 16:37:42 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: Bls: [iagi-net-l] Apakah indonesia Siap dgn Permen ESDM No.07 thn 2012 (23 halaman, 6 feb 2012) Kenapa ngga ekspor listrik saja sekalian ? Pak SBY pernah mencanangkan bahwa Indonesia supaya mengeksport energi, tentunya kalau kita lihat konteksnya ASEAN, semestinya energi yg dihasilkan Indonesia dapat dieksport dalam energi siap saji yaitu Listrik atau BBM. Produksi "sumberdaya energi" (minyak, gas dan batubara) Indonesia ini Indonesia diperkirakan setara minyak 6 juta barrel sehari, sedangkan daya serap enegi hanya sekitar setara minyak 3-4 juta barel sehari. Jadi masih ada sisa 2 juta barel sehari. Tetapi kalau dilihat kebutuhan perkapitanya suangat rendah. Artinya energi di Indonesia masih anya dipakai untuk hidup, masih kurang untuk 'berproduksi'. Ini ditunjukkan dengan elastisitas energi yang rendah. Elastisitas akan menurun ketika digelontorkan energi ke masyarakat, nah untuk mencapai elastisitas tinggi ini harus melalui titik balik dimana kebutuhan untuk hidup sudah terpenuhi sehingga energinya dipergunakan untuk berproduksi. Mirip fisika, dimana gaya gesek statis harus dilewati dulu supaya mulai bergerak dan hanya terhambat oleh daya gesek mekanis. Seingat saya gaya gesek statis > gaya gesek negatip. Daya beli (energi) di dalam negeri tentusaja sangat rendah, karena energinya masih dipakai untuk hidup, bukan untuk berproduksi. Pola penggunaan listrik di Indonesia yang tinggi diwaktu malam dan lebih rendah disiang hari menunjukkan listrik untuk penerangan, bukan listrik untuk pabrik. Oleh sebab itu harus ada usaha pemerintah untuk melalui titik balik, ya salah satu mekanismenya dengan subsidi. Tetapi apakah yg disubsidi komoditinya atau subsidi daya belinya (misal dibantu dengan jaminan kemiskinan) ? RDP 2012/2/21 <[email protected]> > Jika larangan ekspor batubara diberlakukan sebelum adanya teknologi > upgrading yg terbukti feasible, hampir pasti aktivitas eksplorasi low rank > coal akan mati suri, bahkan IUP terancam ditutup. > Batubara banyak dibutuhkan utk power plant dan semen. Dengan eskpor > listrik dan pembukaan pabrik semen baru serta peningkatan eskpor semen > mungkin bisa menjadi solusi? > Salam, > Dar > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: *[email protected] > *Date: *Tue, 21 Feb 2012 07:19:31 +0000 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: *<[email protected]> > *Subject: *Re: Bls: [iagi-net-l] Apakah indonesia Siap dgn Permen ESDM > No.07 thn 2012 (23 halaman, 6 feb 2012) > > Kalau batubara, export terbesar, harus diolah jadi apa yah, supaya bisa > diexpor dan tambangnya tdk ditutup? RPK > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: *Himawan Sutanto <[email protected]> > *Date: *Tue, 21 Feb 2012 15:16:03 +0800 (SGT) > *To: *[email protected]<[email protected]> > *ReplyTo: *<[email protected]> > *Subject: *Bls: [iagi-net-l] Apakah indonesia Siap dgn Permen ESDM No.07 > thn 2012 (23 halaman, 6 feb 2012) > > Klo dilihat dari semangatnya sih, jelas bagus om Ok dan om2x lainnya, > mosok udah hari gini jualnya masih raw material aja. klo perlu migas juga > kayak gitu tuh. > Apalagi klo bahan galian C, mineral logam dll, harga raw material bila > dibanding dengan yg sedikit saja kena sentuhan pengolahan, harganya sudah > naik puluhan bahkan ratusan kali lipat. > > Masalah ke khawatiran Geologist jadi sulit kerja karena ditakutkan > aktivitas eksplorasi menurun, klo menurut saya terlalu paranoid. Klo nggak > salah kan wajib melakukan pengolahan di dalam negeri, tapi bukan berarti > ngolah sendiri, tapi yg penting ngolahnya di dalam negeri. Jadi harusnya > jika berjalan dengan benar maka akan terbuka lapangan usaha baru, yaitu > pengolahan barang tambang tsb. Ketika kuliah di S2 Tambang ITB, ini menjadi > rencana topik penelitian saya juga. Terutama bahan galian gol. C, mudah > didapat, nggak repot nyari dan bisa padat karya. Harga Raw material > golongan C sangat memprihatinkan, misalnya Kaolin, bentonit atw Zeolit > bahkann BARIT yg kebutuhannya cukup tinggi di Indonesia. Hanya dengan > proses pemurnian sangat sederhana, cuman diayak saja agar besar butir > Kaolin bisa terpisah secara seragam, harganya sudah beda jauh, raw material > Kaolin waktu itu hanya IDR 50/kg sementara yang sudah diayak IDR 2500/kg. > Sudah naik 50 x lipat, ini belum klo kita bikin itu kaolin siap buat > dipakai pabrik ban dll. yang selama ini konon kita harus impor dari > berbagai negara tetangga yang justru raw materialnya dari negara kita > dengan harga SUPER MURAH. > > Lagi pula Geologist sekarang kan udah makin hebat, nggak sekedar > mencari..ada yg bikin uil kumpeni, perusahaan tambang, pertanian, > perkebunan, peternakan bahkan mungkin sampai nyari Piramida. Nggak akan > kuranglah lapangan kerja buat GEOLOGIST. > > cheers, > HS > > ------------------------------ > *Dari:* kartiko samodro <[email protected]> > *Kepada:* [email protected] > *Dikirim:* Selasa, 21 Februari 2012 13:44 > *Judul:* Re: [iagi-net-l] Apakah indonesia Siap dgn Permen ESDM No.07 thn > 2012 (23 halaman, 6 feb 2012) > > optimis pak ok , > makin banyak bahan olahan yang akan diekspor , akan meningkatkan kebutuhan > bahan bakunya yang akan meningkatkan eksplorasi dan membutuhkan banyak > geologist yang ok ok... > > 2012/2/21 Ok Taufik <[email protected]> > > Seperti diketahui, pada 6 Februari 2012, Menteri ESDM Jero Wacik baru > saja menerbitkan Permen ESDM No.7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai > Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral. > Dalam Permen tersebut, beberapa tambang mineral termasuk dalam jenis > komoditas tambang > mineral logam yang wajib diolah dan/atau dimurnikan di dalam negeri. > “Pemegang IUP [Izin Usaha Pertambangan] Operasi Produksi untuk mineral > logam wajib melakukan pengolahan di dalam negeri. > > Jelas banyak lowongan untuk ekstraksi dan metalurgist, kebutuhan Geologist > explorasi mungkin akan tergantung akan aktifitas produksi dalam negeri. > Bahan tambang tidak bisa di ekspor langsung ke LN. Bisa jadi ada penurunan > kebutuhan tenaga Geologist(?). > > > 2012/2/21 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> > > Godang yang baik, > Memangnya ada apanya ? > Mungkin Mas Godang bisa menuliskan dan memaparkannya disini. > > RDP > 2012/2/21 <[email protected]> > > Mohon pendapat dr bpk2/ibu2 IAGI : > > Apakah indonesia Siap dgn > Permen ESDM No.07 thn 2012 (23 halaman, 6 feb 2012 : oleh menteri ESDM, > pak jero wacik). > > Dunia pertambangan mineral indonesia akan "mati suri". > Akan banyak geologist yg ngangur. > > GodangS > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > > -- > *"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"* > > > > > -- > Sent from my Computer® > > > > > > -- *"Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari"*

