Saya sempat membaca artikel menarik dari pemuja matahari (bukan dalam arti agama atau kepercayaan), mengenai fosil fuel yang dikatakan sama dengan "ancient sunlight", yaitu energi matahari yang diolah di Bumi (flora-fauna), yang kemudian tertimbun dan perlahan menjadi bahan bakar fosil. Dapat dibayangkan betapa tidak effisiennya proses tersebut, dari begitu besarnya energi matahari yang sampai di Bumi, hanya sebagian kecil sekali yang dapat diolah dengan fotosintesa, dan dari itu hanya sebagian kecil yang tertimbun dengan kriteria yang tepat, dan dari yang tertimbun itu juga sebagian kecil saja yang mendapatkan kondisi (P-T) yang tepat untuk mencapai maturasi, dan seterusnya sepanjang perjalanan energi itu hingga menjadi bahan bakar minyak atau batubara sebagai bentuk dari energy storagenya.
Orang-orang solar-power-minded tersebut mengatakan alangkah baiknya jika kita memotong jalur yang sangat rumit, panjang (ratusan juta tahun..) dan highly inefficient itu dan langsung mengubah energi surya menjadi energi listrik yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Rata-rata solar cell yang sudah dijual komersil memiliki efisiensi diatas 10% dan ini sudah jauh lebih efisien dibandingkan "ancient sunlight" yang tersimpan di fosil fuel. Rata-rata fotosintesis hanya dapat mengubah 2% dari energi surya, belum lagi menghitung energy-losses selama prosesnya untuk menjadi fosil fuel. Sumber aslinya saya tidak ketemu, tapi ada yang ini yang cukup mirip konsepnya: http://www.scienceminusdetails.com/2011/02/why-fire-is-cool-entry-4-ancient-energy.html Dalam artikel yang lain di sumber yang lain pula (http://www.kajul.org/) membagi energi dari asal muasalnya: - Solar Radiation derived (solar, wind, hydro, bio, all fosil fuels) - non solar radiation derived (nuclear & geothermal) Di website tersebut saya juga baru tau istilah baru: burnivore. Setelah vegetasi, herbivore, carnivore, dan omnivore, muncul jenis baru: burnivore. <quote> Burnivore: Same as Omnivores; with the difference that the burnivore uses 10 up to 1 million times more energy than its own body is able to use. The Burnivore accesses an energy flow through a process of burning all kinds of Chemical Energy (Wood, Coal, Oil, Gas) to release Heat Energy and sometimes a tiny bit of Light. Heat is used to cook food to make it easier to digest; and to expand air or gas to create kinetic energy to propel a bike, car, truck, boat, airplane or rocket forward to transport either itself or goods which it thinks are needed to improve its quality of life. <unquote> Dan karena pengetahuan bakar-membakarnya sudah tingkat tinggi dan "addicted to burning things" (dan juga investasi yang sudah ditanam di budaya membakar tersebut sudah sangat banyak), sering kali mereka memilih alternatif dari fosil fuel yang malah kurang tepat, maunya tetap mencari bahan lain yang bisa dibakar, seperti bio-fuel contohnya yang tidak mengurangi pembakaran malah justru menambah masalah dengan membuka lahan baru dan persaingan dengan bahan pangan. ========================================================================================= Saatnya geologist oil&gas cari perkerjaan baru? Sepertinya tidak! Masih banyak sekali kebutuhan manusia akan oil n gas. Pertama, pengalihan sumber energi masih akan membutuhkan masa transisi yang cukup lama (bayangkan untuk menunggu sekian banyaknya mobil bensin perlahan-lahan habis tergantikan dengan mobil listrik). Kemudian bahkan Setelah semua teralihkan ke energi lainpun minyakbumi masih akan tetap dibutuhkan di dunia: secara terbatas untuk bahan bakar pada keperluan khusus, dan secara tak terbatas (limitless) pada industri petrochemical untuk membuat berbagai macam senyawa penting seperti plastik, polycarbon, dst yang sangat penting untuk kehidupan manusia modern seperti peralatan, kendaraan, kosmetik, dst..dst.. (look it up in google: "Oil is too Valuable to Burn" ) Salam, WHY ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, March 9, 2012 3:59 PM Subject: Re: [iagi-net-l] hydrogen sebagai sumber energy Re: Bls: Re: [iagi-net-l] Diskisi migas di Metro Itulah pembicaraan mengenai energi alternatif itu biasanya tdk bisa membedakan sumber energi dan penyimpan energi (energy storage). Fuel cell disebut sebagai energy source, padahal Hidrogen itu tdk didapatkan di alam, tetapi harus dibuat, dan untuk pembuatannya perlu diinputkan energi berupa listrik untuk electrolysis ini, jadi sumber energi listrik ini dari mana? Dari solar cell kah, dari hydro-electric plant, dari geothermal?, bahkan dari PLTU (dg batubara sebagai sumber) atau PLTD (dg minyakbumi)? Jadi selalu kita harus bertanya: sumber energinya dari mana? RPK Powered by Telkomsel BlackBerry® ________________________________ From: Eko Prasetyo <[email protected]> Date: Fri, 9 Mar 2012 15:40:00 +0800 To: <[email protected]> ReplyTo: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] hydrogen sebagai sumber energy Re: Bls: Re: [iagi-net-l] Diskisi migas di Metro http://www.spiritofmaat.com/archive/watercar/h20car2.htm Fuel Cells: This method uses oxygen from the atmosphere to complete the burning of the hydrogen in the fuel cell. What comes out of the tail pipe is oxygen and water vapor, but the oxygen originally came from the atmosphere, not from the fuel. And so the use of fuel cells neither takes away nor contributes to the oxygen content of the air. Hydrogen: This fuel is complete in itself. It does not need oxygen from the atmosphere to burn, which is an improvement over fossil fuels in saving the oxygen in our air supply. In fact, when hydrogen burns perfectly, nothing at all comes out of the tail pipe. If salt and metal alloy are used to create hydrogen, then there will be residues of that in the exhaust, but hydrogen fuel does not contribute oxygen to the atmosphere. Brown's gas: This is the most perfect fuel of all for running our vehicles. Like pure hydrogen, it is made from water, i.e., hydrogen and oxygen, but it burns in the combustion engine so that, depending on the setup, it may actually release oxygen into the atmosphere. In that case, what comes out of the tail pipe is oxygen and water vapor, just as with fuel cells; but the oxygen comes from the water that's being used to create the Brown's gas fuel. So burning Brown's gas as fuel can add oxygen to the air and thus increase the oxygen content of our atmosphere.

