2012/4/17 Nur Darodjat <[email protected]>

> **
> Mohon dengan hormat, kalau IAGI muncul di TV di umumkan di milist IAGI
> juga milist alumni geologi lainnya. Nuhun
> Nur
>

Mas Nur,
Memang sebaiknya begitu. Tetapi mohon dimaklumi karena biasanya wawancara
media TV dengan pengurus IAGI sebagai nara sumber itu sering (selalu)
mendadak, terutama bila permasalahan yg ingin didiskusikan berhubungan
dengan bencana. Seringkali pagi atau bahkan siang ditelepon untuk tayangan
sore. Atau sore untuk tayangan pagi. Yang kepikiran adalah mempersiapkan
bahan untuk wawancaranya.
Namun PP-IAGI akan menindak lanjuti usulan ini. Sebagai bagian dari
sosialisasi fenomena geologi ke publik tentunya juga perlu sosialisasi
kegiatan IAGI kepada anggota.

*Tayangan nanti sore bertajuk "STRENGTHENING DISASTER PREPAREDNESS IN
INDONESIA DISASTER MANAGEMENT"
(Talkshow : English Talkshow Program “Economic Buzz” , Tuesday April 17th
2012, 19-20 WIB – MNC Business Channel and Starhub Asia Channel Singapore)
with : Rovicky Dwi Putrohari – Indonesia’s Geological Association.*

Ini akan berbicara soal kebencanaan dan mencoba menghubungkan dengan
sosio-economic aspects. Tidak mudah memang, karena kita seringkali berpikir
tehnis fisis kejadiannya, namun ketika sudah masuk ke MITIGASI selalu
dampaknya sosio-economic. Saya akan mencoba menjawabnya.

Contoh sosialnya adalah ketika dinyatakan harus evakuasi, tentunya salah
satu yang harus dipikirkan seorang pejabat adalah biaya pemindahan dan
dampak sosial lainnya. Seringkali ahlinya ditanya kapan boleh kembali ke
tempat semula, ya sekali lagi apakah dananya masih ada utk menampung di
barak sementara.

Sisi bisnisnya ada beberapa, mulai dari kerugian material, biaya pencegahan
(kalau tsunami biaya membangun tembok atau pemecah gelombang, atau biaya
menahan dinding supaya tidak longsor dll). Selain baiaya selalu saja
didalamny aada opportunity, kesempatan kerja, kesempatan riset dll.
Aspek lain yang perlu dipikirkan adalah *lowering the economic risk* (lost)
dengan *asuransi*. Bagaimana menghitung risikonya ? Tanpa penelitian ahli
bencana mana mungkin pihak asuransi mengetahui besaran risikonya. Ini
membuka peluang riset kan ? Apakah risiko gempa di Jakarta semahal di
Padang ? Bagaimana dengan Bandung dengan Sesar Lembang ? Apakah Jogja sudah
tidak akan bergerak lagi, karena kemarin sudah bergerak artinya sedang
dalam rangka mengumpulkan tenaga hingga 10 tahun kedepan, misalnya.
Riset-riset seperti ini belum terlihat marak. Padahal opportunity sebagai
disaster geologist sangat diperlukan oleh "insurance company".
Nah kalau mengasuransikan rumah serta bangunan sudah menjadi kebutuhan
tentusaja pihak asuransi tidak mau merugi. Dengan hasil perolehan premi
mereka perlu melakukan studi supaya tidak terjadi kerugian yang terlalu
besar bila terjadi bencana. Disinilah oportunity untuk profesi, bisnis
serta ilmu untuk berkembang.

Itu sedikit yang akan saya coba ulas anti di acara talkshow E-BUZZ di MNC
bussiness.

Suwun

RDP

Kirim email ke