Good explanation Vick ! S Abah sengaja mengetengahkan hal ini agar "every body" concern mengenai hal ini , sehingga ISPG dapat berjalan dengan bak sesuai dengan AD/ART IAGI (yad ?) dan berdampingan bersama sub organisasi IAGI yang sudah lahir sebelumnya. Mengenai asosiasi ilmu kebumian ,memang kita agak lebih baik lah dibanding tetngga kita di Asean.
Nah , sekalian aku daftar ya , petroleum geologist tua (belum bangka ). si Abah. ________________________________ From: Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> To: [email protected] Sent: Monday, April 23, 2012 2:37 PM Subject: [iagi-net-l] What next setelah FGMI - ISPG , ... Satu Geologi Satu Indonesia ! 2012/4/23 <[email protected]> Apakah ini sesuatu urgensi? Apakah kita tidak bisa mengembangkan bidang perminyakan dalam IAGI seperti halnya juga adanya FOSI, MGEI. Apakah AD/ART tidak cukup untuk mengakomodasi semua bidang sehingga bisa berkembang? Apakah bidang atau keprofesiaanya sdh sedemikian terbagi dan memerlukan wadah tersendiri utk mengembangkan diri tanpa harus mengganggu profesi lainnya. Mas Mino dan rekan-rekan anggota IAGI, Idenya memang seperti yang Pak Mino sebutkan diatas. ISPG adalah organisasi dibawah IAGI dengan mekanisme protokolernya mirip dengan FOSI, MGEI dan juga baru dibentuk FGMI (Forum Geosaintis Muda Indonesia). Pertanyaan yang sangat valid adalah "Apakah AD/ART tidak cukup untuk mengakomodasi ?" Ini yang juga menjadi bagian dari program I lainAGI tahun ini dimana akan dimotori oleh Pak Ismail yang ahli dalam peraturan dan perundangan baru yang akan menyusun perombakan AD/ART supaya mengamodir tatanan sosial (politik) baru di Indonesia. UU banyak yang baru tentang yayasan (no profit organisation), tentang pembentukan organisasi dll. Juga perkembangan sertifikasi yang kita buat dulu belum mengacu pada perudangan yang baru. Kesuksesan MGEI merupakan salah satu contoh kongkrit dimana focus keilmuan dan kebutuhan profesi dapat terwakili hingga membentuk sertifikasi sesuai UU dan aturan terbaru. Berat memang menjalankan dua - tiga - bahkan empat kerja besar dalam 3 tahun kepenguusan ini. Termasuk didalamnya tentusaja update atau pembaharuan Sandi Stratigrafi Indonesia yang sudah saya lontarkan, namun kurang tanggapan. Lagi-lagi soal sains ilmiah ini perlu dukungan para saintis di IAGI baik yang bekerja di akademisi, lembaga penelitian maupun industri. Satu ilustrasi Sewaktu menghadiri GEOSEA di Bangkok, saya bersama ADB menyaksikan bagaimana negara-negara lain di Asia Tenggara ini ada beberapa yang belum memiliki organisasi kebumian (Geologi) di tingkat nasional. Sehingga GEOSEA yang merupakan organisasi beranggotakan organisasi geologi tingkat negara, kesulitan mengundang wakil negara tersebut. Bahkan ada satu negara memiliki ratusan organisasi kebumian (geologi) yang terpecah-pecah. IAGI sebagai satu-satunya wadah geologi di Indonesia harus kita pertahankan bersama. Satu Geologi Satu Indonesia !! Salam Rovicky Dwi Putrohari

