Mumpung masih hangat soal tata ruang Indonesia... Sekedar sharing dari milist 
Unhas...

Regards,

Adie
3602
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Mali menNoM Piero <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 3 May 2012 21:51:12 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [geoUH] tata ruang indonesia versi sukarno

sekedar berbagi info yg cukup menarik untuk pengetahuan kita mengenai rencana 
besar presiden ri I Ir.sukarno dalam membangun indonesia agar menjadi kekuatan 
yg sangat disegani di asia bahkan dunia, silakan disimak ;



 Banyak orang yang nggak tau bahwa Bung Karno 
adalah salah satu Presiden yang amat mengerti tata ruang kota dan tata 
ruang wilayah geopolitik, dia sendiri sudah mendesain seluruh wilayah 
Indonesia dengan bagian-bagian pembangunannya, hal ini menjadi satu 
bagian dari dokumen Deklarasi Ekonomi Djuanda 1960.

Kebanyakan dari orang-orang Sukarno hanyalah seorang arsitek yang gemar 
mendesain patung, hasil karyanya untuk rumah hanyalah beberapa rumah di Bandung 
yang ia gambar 
saat ia berkolaborasi dengan Insinyur Rooseno, atau ketika ia baru lulus kuliah 
THS (skg ITB) membuat jembatan-jembatan kecil. Bahkan secara 
sarkastis, mahasiswa-mahasiswa anti Sukarno di tahun 1965 meledek Bung 
Karno sebagai "Orang Tua Pikun, Patung kok dikira celana" samberan ini 
meledek soal pidato Sukarno, bahwa Patung itu seperti celana, sebagai 
sebuah kehormatan bangsa. 

Padahal Sukarno adalah pemikir 
besar, ia mendesain bukan saja patung-patung yang banyak meniru model 
Eropa Timur, ia mendesain kota-kota besar masa depan Indonesia. Di tahun
 1958 setelah pengusiran warga Belanda dan pengambilalihan modal-modal 
Belanda sebagai bagian pernyataan siap perang Indonesia dengan 
merobek-robek perjanjian KMB, Sukarno sebenarnya sudah merancang 
Djakarta menjadi kota tempur. 

Seperti kota Singapura di mana 
seluruh bujur jalannya lurus-lurus dan lebar sekali, sebenarnya itu 
disiapkan untuk menjadi markas atas penguasaan wilayah Asia Tenggara. 
Bagi Bung Karno stabilitas Asia Tenggara adalah segala-galanya untuk 
melepaskan Indonesia dari politik ketergantungan modal dan politik 
invasi wilayah-wilayah produk ~apa yang ditakutkan Sukarno pernah 
diucapkan pada Djuanda "Amerika sekarang tak lebih dengan Belanda, 
mereka tak berminat terhadap kesatuan wilayah, mereka hanya berminat 
wilayah-wilayah kaya modal, wilayah produktie, inilah yang menyamakan 
mereka dengan Belanda di tahun 1947 dimana agresi militer mereka 
dinamakan dengan sandi "Operatie Produkt". 

Wilayah-wilayah 
yang jadi prioritas Sukarno setelah siap perang dengan Belanda adalah 
Irian Barat, merebut Irian Barat dan menjadi satu bagian NKRI adalah 
satu syarat agar bangsa ini menjadi paling kuat di Asia. Selain Irian 
Barat yang menjadi perhatian penting Bung Karno adalah Kalimantan. 
Awalnya Semaun yang membawa saran tentang perpindahan ibukota, -Semaun 
adalah konseptor besar atas tatanan ruang kota-kota satelit Sovjet Uni 
di wilayah Asia Tengah - dan ini kemudian disambut antusias oleh Bung 
Karno, selama 1 tahun penuh Bung Karno mempelajari soal Kalimantan ini, 
ia berkesimpulan "masa depan dunia adalah pangan, sumber minyak dan air.
 Pertahanan militer bertumpu pada kekuatan Angkatan Udara".

Bung Karno membagi dua kekuatan itu besar pertahanan nasional dalam dua 
garis besar : Pertahanan Laut di Indonesia Timur dengan Biak menjadi 
pusat armada-nya (ini sesuai dengan garis geopolitik Douglas MacArthur) 
dan Pertahanan Udara di Kalimantan. Lalu Bung Karno mencari kota yang 
tepat untuk menjadi 'Pusat Kalimantan'. 

Lalu pada satu malam 
di hadapan beberapa orang Bung Karno dengan intuisinya mengambil mangkok
 putih di depan peta besar Kalimantan, ia menaruh mangkok itu ke 
tengah-tengah peta, kemudian Sukarno berkata dengan mata tajam ke arah 
yang mendengarnya "Itu Ibukota RI" Bung Karno menunjuk satu peta di tepi
 sungai Kahayan. Lalu Bung Karno ke tepi Sungai Kahayan dan melihat 
sebuah pasar yang bernama Pasar Pahandut, dari Pasar inilah Bung Karno 
mengatakan "Ibukota RI dimulai dari sini" ini sama persis dengan ucapan 
Daendels di depan Asisten Bupati Sumedang saat membangun jalan darat Pos
 Selatan untuk gudang arsenal Hindia-Perancis, ketika itu ia menunjuk 
satu tempat yang kita kenal sekarang sebagai Bandung "Bandung jadi titik
 nol wilayah pertahanan Jawa". 

Lalu Bung Karno menyusun 
dasar-dasar kota administrasi provinsi dengan dibantu eks Gubernur Jawa 
Timur RTA Milono, pada saat penyusunan birokrasi itu Bung Karno sedang 
menyiapkan cetak biru besar tentang rancangan tata ruang negara dari 
Sabang Sampai merauke. Antara Pulau Sumatera-Jawa dan Bali akan dibangun
 terowongan bawah tanah, karena rawan gempa Bung Karno meningkatkan 
armada pelabuhan antar pulau dipesan kapalnya dari Polandia. Tapi 
rencana membuat channel seperti di selat Inggris tetap diprioritaskan 
bahkan menjelang kejatuhannya di tahun 1966 ia bercerita tentang channel
 bawah tanah yang menghubungkan Pulau Sumatera-Jawa dan Bali. 

Pusat pelabuhan dagang bukan diletakkan di Jawa, tapi disepanjang 
pesisir Sumatera Utara- Kalimantan-Sulawesi, Sukarno mempersiapkan 
rangkaian pelabuhan yang ia sebut sebagai "Zona Tapal Kuda". Wilayah 
Jawa dan Bali dijadikan pusat lumbung pangan. 

Kota-kota baru 
dibangun, pilot project-nya adalah Palangkaraya dan Sampit, setelah itu 
Djakarta juga dibangun untuk display ruang atau model kota modern, 
Jakarta tetap dijadikan pusat kota jasa Internasional sementara 
Palangkaraya menjadi pusat pemerintahan dan pertahanam militer udara, 
Biak di Irian Barat jadi pertahanan militer laut dan Bandung jadi Pusat 
Pertahanan militer darat. 

Seluruh jalan Palangkaraya dibuat 
lurus-lurus dan menuju satu bunderan besar, bila perang dengan Inggris 
beneran terjadi maka jalan-jalan itu diperlebar sampai empat belas jalur
 untuk pendaratan pesawat Mig21 yang diborong dari Sovjet Uni. Rencana 
tata kota sampai dengan tahun 1975. Rafinerij atau tambang-tambang 
minyak milik asing akan diambil alih dan diberikan pada serikat-serikat 
buruh penguasaan saham diatasnamakan negara dan uangnya untuk 
pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umum. Pangdam Kaltim di 
pertengahan tahun 1960-an Brigjen Hario Ketjik adalah salah satu fanatik
 Sukarnois yang menerapkan rencana ini di Kalimantan Timur. 

Pembangunan tata ruang kota Palangkaraya diatur amat teliti, sampai 
sekarang tata ruang kota Palangkaraya paling rapi di Indonesia. Visi 
Sukarno, di tahun 1975 Indonesia akan jadi bangsa terkuat di Asia dan 
menjadi salah satu negara adikuasa dunia dalam konteks the big five : 
Amerika Serikat, Inggris, Sovjet Uni dan Jepang, 

Jepang dan 
Cina menurut Sukarno masih bisa dibawah Indonesia. Dan Indonesia jadi 
negara terkuat di Asia memimpin tiga zona wilayah. (Asia Tenggara, Asia 
Selatan dan Asia Timur). 

Setelah Bung Karno kalah duluan sama
 Suharto dalam penguasaan keadaan saat Gestapu 1965, Bung Karno 
diinternir, Suharto amat takut dengan bentuk persebaran kekuatan 
wilayah, ia bertindak seperti Amangkurat I yang paranoid terhadap 
kekuatan pesisir, ia tarik seluruh kekuatan modal dan manusia ke satu 
pusat yaitu : Jawa. 

Padahal Jawa disiapkan Sukarno sebagai 
pulau yang khusus lumbung pangan dan pariwisata, pulau peristirahatan, 
sekarang Jawa adalah pusat segala-galanya, menjadi pulau paling padat 
sedunia dan tidak memiliki kenyamanan sebagai sebuah 'surga 
khatulistiwa' sementara Kalimantan dibiarkan kosong melompong. 

Andai saja akademisi kita tidak ikut-ikutan mengotori dirinya seperti 
comberan mulut politikus, ada baiknya menggali "rencana-rencana Sukarno"
 ini ketimbang mengomentari dan mengamati 'Para Maling main politik'. 

Bersiaplah kaum muda untuk kembali ke peradaban Sukarno...Peradaban penuh 
daulat dan kehormatan!!..........


Anton DH Nugrahanto


M a l i a n t o


PT Prima Energy Utama Jaya
e_mail : [email protected]
phone : 085255367915

Kirim email ke