GEMPA YOGYA 6 TAHUN YANG LALU Enam tahun yang lalu sekitar jam 5.30 terjadi gempa yang sangat mengerikan di Yogya. Gempa Yogya dan Jawa tengah dengan magnitud 5,9 skala Richter mengakibatkan banyak korban meninggal lebih dari 5000 orang, luka-luka puluhan ribu orang dan telah menghancurkan ribuan rumah serta ribuan orang menjadi tidak punya rumah. Banyak orang di Indonesia menanyakan kenapa di Yogya ada gempa sebesar itu. Kata beberapa orang tua di zaman Jepang tahun 1943 dan menurut Kepala badan Geologi Bandung tahun 1867 pernah terjadi gempa besar melebihi dari gempa yang ada sekarang ini. Kerusakan parah terutama pada jalur gempa di sepanjang K.Opak (Pleret-Piyungan-Prambanan-Gantiwarno Klaten) yang dikenal dengan Patahan Opak dan dataran Bantul mengarah ke barat. Kerusakan di dataran Bantul ini disebabkan karena lapisan tanah di bawahnya didominasi lapisan aluvial yang tidak terkonsolidasi dengan baik sehingga gelombang gempa mengalami amplifikasi Energi gelombang gempa sangat tergantung media yang dilewatinya, kalau melewati media lapisan batuan frekuensi lebih banyak tapi amplitudo kecil sehingga energi kecil, sebalikanya kalau melewati endapan aluvial maka amplitudo akan membesar sehingga energi gempa juga besar. Saat gempa di Yogya th 2006 sebagian besar melewati endapan aluvial sehingga energi yang terjadi sangat besar dan merusakkan ribuan bangunan di Bantul.
Gempa Yogya juga menimbulkan kepanikan massal akibat isu tsunami. Hal ini disebabkan oleh (1) sedikitnya pengetahuan tentang gempa dan tsunami yang dimiliki masyarakat, sehingga mereka lebih percaya ISU daripada ILMU (2) kita diajari bahwa segala bencana itu peringatan dan ujian bagi kita agar lebih mendekat pada Allah (pasrah saja, “wis wayahe”) dan selama ini kita juga diajari atau tepatnya ditakut takuti “jangan ngomong itu (gempa) nanti terjadi sungguhan”, dan (4) penayangan dahsyatnya TSUNAMI Aceh secara terus menrus oleh hampir semua media televisi, kesemuanya mempengaruhi persepsi hampir seluruh rakyat Indonesia sehingga saat terjadi isu ada tsunami 4 jam setelah gempa maka terjadi kepanikan massal di yogya. Peringatan polisi dan ilmuwan tidak digubris, semuanya bergerak ke utara termasuk dalam kondisi luka parahpun ikut panik. Lesson learned Kita semua, masyarakat Indonesia harus sadar bahwa kita hidup di kawasan getektonik yang aktif karena adanya tumbukan lempeng yang bergerak dengan kecepatan rata 2 – 10 cm/tahun. Batas tumbukan Lempeng Samudara Hindia-Australia dan Lempeng Benua Eurasi berada sekitar 300 km dari pantai selatan Jawa dan membentuk palung yang dikenal dengan Palung Jawa. Palung Jawa, panjang total sekitar 5600 km, terbentang mulai dari kepulauan Andaman-Nicobar di barat sampai ke Sumba di timur. Pada batas lempeng ini terjadi akumulasi energi dan bila terlepas akan terjadi gempa bumi. Gempa ini bisa terjadi tiap tahun, bisa tiap 10 tahun, bahkan bisa 100 tahun atau lebih.Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan goncangan (ground shaking) dan pergeseran (displacement). Gempa (lindu) akan menyebabkan hancurnya bangunan-bangunan dan infrastruktur lainnya serta sering sekali dapat memicu longsor, likuifaksi, dan gelombang pasang tsunami Kita semua, masyarakat Indonesia harus belajar dan mengenal gempa dan tsunami dengan baik dan benar sehingga saat terjadi gempa kita tidak panik, tahu tata cara menyelamatkan diri dan kita tahu/bisa menyelamatkan orang lain. Anak saya yang terlahir dan besar di Surabaya juga harus tahu itu dan harapnnya kalau sedang travelling di pantai selatan tahu tentang tsunami. Salah satu contoh adalah seorang anak Inggris bernama Tilli Smith yang bisa menyelamatkan banyak orang karena dia tahu tentang tsunami yang diperoleh waktu di sekolah dasar, padahal semua orang tahu Inggris belum pernah terkena tsunami. Tilli Smith tahu dan bisa menyelamatkan orang. Kita semua, masyarakat Indonesia masih UNTUNG, karena gempa dan tsunami yang beberapa tahun ini terjadi pada saat belum jam istirahat, bukan terjadi pada saat jam sibuk, jam masuk sekolah dan masuk kerja. Andai terjadi pada jam kerja dan jam sekolah maka korbannya akan sangat banyak dan mengerikan. Ribuan gedung sekolahan dan kantor rusak berat saat terjadi gempa Yogya dan Jawa Tengah, sehingga bisa dibayangkan kalau terjadi pada saat jam sekolah dan jam kerja. Ingatlah bahwa Gusti Allah masih menyayangi kita, masih menyentil kita, berfikirlah, berbenahlah untuk masa depan lebih baik. Kita semua, khususnya yang bermukim di kawasan pantai selatan yang rawan gempa dan tsunami, mulailah belajar gempa dan tsunami sehingga kita bisa selamat karenanya. Kalau kita amati bangunan yang ada sebagian masih banyak bangunan yang ”un-engenered” (boto ditumpuk, tanpa tulangan) baik itu rumah tinggal, sekolahan dan kantor sangat rentan terkena gempa. Apalagi berita terakhir ada bangunan sekolah yang roboh dengan sendirinya. Kita semua, masyarakat yang berpengetahuan lebih mempunyai tanggung jawab moral memberi dan meningkatkan kapasitas masyarakat yang ada di sekitar kita di semua tingkatan termasuk juga para birokrasi. Pernahkah kita terpikir melatih masyarakat difable, bagaimana melatih masyarakat tuna netra, tuna wicara dan lain lain. Mestinya akan sangat baik kalau juga dilakukan penelitian terkait dengan gempa dan tsunami. Amien Widoido

