Pengamatan:
Di gerbang tujuan wisata ini sudah banyak terdapat kolom batuan yang
mungkin adalah di bawa dari atas. Salah satu gejala yang berarti disini
adanya mataair yang dinamakan Jaman, di mana di zaman dulu waktu G.
Padang ini adalah suatu tempat keramat, orang harus membersihkan diri
dengan air disini. Anak-anak tangga ke arah situs ini seluruhnya terdiri
dari kolom batuan dengan ukuran diameter kurang dari 30 cm, dan Panjang
1 sampai 1,5 m. Beberapa kolom kelihatan berdiri tegak, mungkin
ditancapkan oleh manusia. Di teras yang ke-1 kolom-2 batuan ini
kelihatan berserakan bergelimpangan, walaupun banyak pula kolom2 yang
berdiri atau miring. Memang terdapat pemusatan dari gelimpangan kolom
batuan ini, khususnya seperti dipagari oleh kolom yang berdiri, yang
pada umumnya kurang dari 1 m tingginya. Memerlukan imaginasi yang kuat
atau pengetahuan arkeologi untuk melihat keberadaan suatu pola atau
aturan dalam kolom-kolom batuan yang berserakan ini, sebagaimana
ditunjukkan oleh para guide lokal. Penampang kolom ini tidak selalu segi
lima, tetapi banyak yang segi empat, bahkan banyak juga yang segi tiga.
Selain itu juga diameter dari kolom kebanyakan tidak rata, bahkan ada
yang menggelembung di tengah-tengahnya. Juga cukup banya kolom batuan
yang bengkok-bengkok. Juga banyak pula yang bagian atasnya tersopak
seperti bamboo runcing. Insting geologi saya menyatakan bahwa ini adalah
“columnar joints”, tidak banyak keteraturan sebagai mana kita harapkan
dari buatan manusia. Tetapi ada sesuatu yang menarik, pada setiap kolom
batuan ini selalu ada coak, seolah-olah ditatah manusia, lubang yang
oval. Selain itu juga diketemukan lubang-lubang dangkal sebesar telunjuk
yang memanjang. Bahkan saya ada juga ada yang menyerupai telapak kaki
manusia yang cukup dalam. Seorang pengunjung rajin memotreti gejala ini
dan dia berteori bahwa cowakan2 ini ada semacam huruf atau tanda huruf.
Mengingat bahwa jenis batuan dan bentuknya (kolom-kolom) ini sangat
seragam kesan saya adalah bahwa kolom-kolom batuan ini adalah asalnya in
situ, tetapi telah banyak digeser-geser manusia (displaced secara alami
maupun oleh manusia), sehingga agak beraturan, terutama dengan
menancapkannya dalam posisi vertikal. Namun setelah mencapai teras yang
terakhir di puncak terdapat 3 batu yang adalah ”out of place”, yaitu
pada tempat pemujaan utama atau juga disebut menhir (sebetulnya banyak
kolom2 batuan ini juga yang dinyatakan sebagai menhir). Dua lempeng
batuan yang berdampingan ini adalah pipih (dolmen?), sedangkan pada sisi
utaranya adalah batuan yang relatif besar, sekitar 60 cm lebih yang
lonjong. Ke-3 batu ini bukan merupakan kolom batuan seperti yang
lainnya. Seorang guid lokal mendemonstrasikan bagaimana seseorang yang
bersemedi ini duduk pada lempengan batuan itu dan bersandar pada batu
yang agak besar ini dan menghadap ke utara, ke G. Gede. Batua senderan
ini sekarang berada dalam keadaan rebah. Ini saya kira merupakan batu2
yang bukan bagian dari columnar joints, tetapi mungkin diangkut dari
tempat lain. Pada teras teratas ini banyak pula kolom2 batuan yang
tersusun antara lain berdiri dan dianggpa batu menhir dalam istilah
arkeologi. Saya tanya pada Budi apakah di sungai di bawah ini ada
singkapan batuan. Menurut Budi di sungai itu hanya diketemukan
kolom-kolom batuan yang sama seperti di atas, dalam keadaan berserakan,
jadi sudah tidak in situ. Juga di sekitar daerah ini belum pernah
diketemukan singkapan dengan columar joints.
Kami tentu kembali lewat jalan yang mudah dan rasa-rasanya hanya
memerlukan kurang dari setengah jam saja. Sesaat sampai ke gerbang situs
ini saya sempat ketermu dengan Bp Andi Arief dari staff kepresidenan.
Beliau menyapa dan menyatakan senang bertemu dengan saya karena selama
ini beliau hanya kenal nama saya saja (dari membaca tulisan saya?). Kami
tidak sempat berbicara soal piramid, karena beliau sedang sibuk
mempersiapkan suatu acara pada malam hari di puncak G. Padang dengan
tokoh setempat. Juga mungkin mempersiapkan kujungan Ibu Ani ke sini.
Di tempat pelataran gerbang situs G. Padang ini saya sempat
mewawancarai guide resmi disini yang ternyata telah jadi PNS dari Balai
Purbakala. Setelah agak di interogasi dia mengakui bahwa sebelum G.
Padang ini resmi menjadi tujuan wisata, bahwa situs ini dulunya adalah
dianggap tempat keramat, dan banyak orang mengunjunginya untuk
menginginkan sesuatu, dan ayahnya sendiri adalah kuncen-nya dan
sebetulnya diwariskan ke kakaknya. Orang yang ingin berkunjung itu
biasanya harus membersihkan diri (bebersih) di mata air yang dinamai
Jaman itu (sekarang sudah dalam bentuk sumur berbentuk pesegi yang
sangat dangkal). Banyak orang yang telah mengunjungi situs keramat ini
kemudian menjadi mampu untuk naik haji ke Mekah. Syncretisme antara
animisme dengan Islam kelihatannya juga terjadi disini. Hal ini diiyakan
juga oleh Pak Sapta, yang telah berumur 82 tahun yang sering
mundar-mandir ke situs megalitik ini (wah ada juga yang lebih tua dari
saya yang sering naik ke puncak, terpukul juga egoku). Dia katakan pada
zaman ”normal”pun jauh sebelum perang dunia ke-2 situs ini sudah banyak
dikunjungi ”peziarah”.
Saya tahu bahwa situs megalith itu sudah diketahui oleh Oudheidkundige
Dienst jauh sebelum Perang Dunia ke-2. Saya duga bahwa sejak dulu disini
telah ada perkebunan teh dan karet, dan mungkin sekali situs keramat
diketahui oleh Administratur Perkebunan (onderneming) dan dilaporkan ke
Oudheidkundige Dienst (Jawatan Purbakala Hindia Belanda) dan kemudian
diteliti.
Apakah disini pernah ada suatu peradaban dengan sistim pemerintahan
yang berhubungan dengan Pajajaran? Saya condong untuk meragukannya.
Sebelum Islam masuk di Jawa Barat orang Sunda di pedalaman pada umumnya
adalah beragama animisme walaun condong monotheistis. Dalam hal ini
mungkin G. Gede yang dipuja. Keberadaan suatu kebudayaan megalith tidak
memerlukan adanya peradaban. Bahkan keberadaan suatu agamapun dengan
kuilnya dapat terjadi pada waktu orangnya masih nomad, paling tidak
sudah bercocok tanam, sebagai mana telah terbukti dengan penermuan situs
arkeologi di Turki baru-baru ini (Majalah National Geographic). Banyak
situs-situs keramat di Jawa bahkan di Nusantara ini berlangsung dari
zaman batu sampai masa kini, dan terjadilah syncretisme dengan Islam.
Mungkin sekali orang Sunda di daerah ini secara kebetulan menemukan
batuan dengan ”columnar joints” berserakan di puncak G. Padang , hal
mana tentu menakjubkan dan dianggapnya tentu ada sesuatu yang ajaib
disini. Dengan sedikit menggeserkan bahkan nancapkan kolom batuan ini
terjadilah suatu tempat pemujaan.
Apakah di bawahnya ada piramide yang terkubur? Dengan segala hormat
kepada para pendukung piramid, bentuk morfologinya saja tidak mendukung
itu, karena sangat asymetris. Ini adalah kesan-kesan saya saja,
pengetahuaan arkeologiku yang sangat minim. Kalau pun orang penasaran
untuk membuktikannya, mengapa harus membor atau exkavasi di puncaknya
sehingga dapat mengganggu kelestarian situ?. Mungkin kalaupun ada pintu
ke dalam tempat yang paling mungkin itu adalah pada dasar lereng selatan
yang terjal. Bahkan kalau punya dana yang besar bisa membuat terowongan
atau pemboran kesamping sehingga tidak mengganggu kerusakan pada
situsnya sendiri. Saya sendiri gatel untuk menelusuri sungai2 yang ada
di sekelilingnya itu untuk mencari outcrop dan memetakannya secara
detail. Dari peta topografi terlihat ada 2 sungei yang mengapit G.
Padang ini, yaitu yang melewati Cimanggu di timur, dan yang melewati
Cipagulaan di bara. Namun apa boleh buat, umur sudah tidak dapat
dipungkiri lagi.
Photo-photo setempat akan menyusul, karena menguploadnya ini ternyata
memakan waktu
Wassalam
RPK
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman
abstrak 28 Februari 2012.
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------