Menarik mas, bisa dapatkan materi kulihanya di mana? Apa bisa minta ke UGM atau lewat internet saja melaui iagi? Salam Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: "naslin lainda" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: 12 Jun 2012 12:13:52 To: <[email protected]> Reply-To: <[email protected]> Subject: Re: [iagi-net-l] SHALE GAS Dear Pak Anggoro, Salam kenal sebelumnya. Sekedar sharing aja, bulan maret lalu sy mengisi kuliah tamu ttg shale gas di UGM, ternyata peminatnya sangat banyak sampai panitia harus menolak pendaftaran krn kapasitas ruangan tidak bs melebihi 100 orang. Saya setuju dengan pak Anggoro bahwa mahasiswa perlu diberi lbh banyak pencerahan ttg unconventional resource ini krn sepertinya belum masuk dalam kurikulum resmi di kampus (mata kuliah geologi minyak bumi masih berbicara ttg conventional resource) Saya memang bukan ahli di shale gas, tp dari real case yg sedang sy analisa beberapa sumur shale gas di US (eagleford, marcellus, dan haynesville) dan di australi (cooper basin), setidaknya bs sy sharing ke mereka waktu itu karakteristik reservoirnya dari sisi geokimia, petrofisika dan geomekanika. Mudah2an bs membantu membuka wawasan para energi masa depan indonesia: MAHASISWA Naslin From: "Anggoro Dradjat"[email protected] Sent:Tue, 12 Jun 2012 12:32:14 +0530 To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Re: SHALE GAS Dear All, > >Mungkin harus kita pikirkan, atau harus kita kerjakan terhadap lingkungan >bekerja terdekat kita kususnya bagi GGRe yang MUDA-MUDA baik yang dikampus, >diperusahaan2, yang ditempat penelitian agar PIT IAGI 2013 sudah bermunculan >paper-paper tentang shale fracture reservoir. > >Mungkin harus lebih membuka diri terhadap ilmu pengetahuan yang berkaitan >dengan Shale fracture reservoir, semisal geokimia, geomekanika dan >petrofisika; walaupun tidak tidak secara formal diajarkan akan tetapi >bahan-bahanya dapat diperoleh dari internet dengan mudah. > >Coba memanfaatkan data yang ada, seandainya kita bekerja pada lapangan >sandstone reservoir, pada waktu luang gunakan untuk penelitian pribadi; jika >kita jadi supervisor berikan kesempatan pada subordinate kita ataupun kita >bantu adik-adik mahasiswa thesis gunakan shale sebagai bahan penelitian. > >Kalau kita bertugas di kampus harus dipikirkan apakah kurikulum kita cukup >flexibel mengatasai perubahan dimasa depan, kalau kurikulum sulit untuk diubah >maka maka yang perlu dilakukan adalah membuat mata kuliah pilihan. > >Kalau perusahaan berkeberatan dengan penggunaan data untuk dipublikasi, >mungkin kita harus bisa menerima methodologi ataupun teknologi saja didalam >penelitian deangan konsekwensi nama sumur, nama formasi harus dihilangkan. > >Selalu bersemangat sebab shale fracture reservoir adalah harapan dan tantangan >bagi yang MUDA-MUDA dimasa depan. > > > >Salam >Anggoro Dradjat > > > >2012/6/11 Ruskamto <[email protected]> > Ya ya ya Pak Wikan.. Betul itu Proppant material pengisi setelah > frac. >Terimakasih.. >RUSFrom: [email protected] Date: Mon, 11 Jun 2012 09:53:26 +0000To: ><[email protected]>ReplyTo: <[email protected]> Subject: Re: >[iagi-net-l] Re: SHALE GAS >Mas Rus ysh, > >Sedikit komentar mengenai terminologi "propan" dalam kaitan shale >gas. Ada dua istilah yang berbeda di sini. Tentunya mas Rus juga sudah >mengetahui. > >Propan pertama adalah 'proppant' dari istilah prop the door - ganjalan >pintu agar masih menyisakan celah saat pintu ditutup. Dalam operasi perekahan, >merupakan material pasir silika atau keramik untuk menahan hasil perekahan >tidak menutup kembali. > >Propan kedua adalah gas propana (prophane), yang sekarang menjadi alternatif >pengganti water-based fluid saat memasukkan proppant untuk mengisi rekahan. >Gas LPG ini dengan tekanan tertentu diubah menjadi gel dan diinjeksikan >membawa proppant mengisi rekahan. LPG dinilai lebih ramah lingkungan dan >sedikit biaya untuk managemen waste. Lebih efektif, dan dengan proses >pemisahan bisa digunakan lagi untuk perekahan sumur berikutnya. > >Shale gas bukanlah pure shale ataupun massive shale. Shale gas reservoir sweet >spot adalah siliceous atau calcareous mudrock, yang berada di antara >(interbedded) organic rich shale. Sejauh ini clay mineral shale dominated >(>70%) interval bukan menjadi pilihan sebagai sweet spot. Untuk tersiary >source rock di sini, tentunya akan banyak ditemui non-pure shale interval. >Karena variasi proses sedimentasi yang terjadi, sehingga sangat menarik >dilakukan sebuah studi high resolution sequence stratigraphy untuk source rock >deposition. > >Sebaiknya selain SEM juga dilakukan studi mineralogy untuk mengkarakterisasi >kandungan brittle mineral seperti kuarsa dan karbonat, selain mengetahui jenis >clay mineralnya (termasuk yang reaktif atau stabil). > >Untuk tipe porositas, rekan-rekan di lab petrologi bisa mengamati lebih dari 9 >jenis micro-meso porosity di shale/mudrock. > >Salam, >Wikan >Powered by Telkomsel BlackBerry®From: "Ruskamto Soeripto" ><[email protected]> Date: Fri, 8 Jun 2012 18:27:33 +0700To: ><[email protected]>; <[email protected]> ReplyTo: ><[email protected]> Subject: RE: [iagi-net-l] Re: SHALE GAS > Pak RDP, Saya bukan ahli SEM, tapi nampaknya yang disebut Shale disini > banyak sekali v fine detritalnya baik dari calc/dol cangkang, seperti Green > River FM (Cret) juga dolomitic shale yang kaya organic dan umumnya adalah > berumur Ordovician atau Missipian. Dari SEM tsb, tidak heran kalau bisa di > fract dan di-isi propan dan bisa mengalirkan gas ya. Tantangannya, apakah > tertiary source rocks tanah air yang “Pure” shale bisa difract dan mampu > mengalirkan gas at commercial rate terhadap ongkos bgebor yang disononya saja > $ 10 MM, kalau di Indonesia bisa-bisa mencapai $20 MM/well. Terimakasih > update tentang shale gas, dari sono, nunggu update yang dari sini. > Ruskamto-1061 From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[email protected]] > Sent: 08 Juni 2012 10:43 > To: IAGI; [email protected] > Subject: [iagi-net-l] Re: SHALE GAS Maaf tadi gambar ketinggalan > 2012/6/8 Rovicky Dwi Putrohari <[email protected]> just a teaser > > Menurut SEM dan analisa petrografi (Gale et al, 2007; Curtis et al, 2010; > Passey et al, 2010; Quirein et al, 2010; Sondergeld et al, 2010), serpih / > shale memiliki tiga sistem pori yang berbeda gas-wet organik porosity, a > primarily water-wet inorganic porosity, dan natural fractures (retakan). > > Shale akhirnya menjadi reservoir gas unik karena : Pertama, shale ini > akan bertindak baik sebagai batuan induk dan batuan reservoir. Ini > berbeda dari reservoir gas konvensional, dimana gas terperangkap setelah > bermigrasi dari sumber. Kedua, gas serpih memiliki sifat penyimpanan > gas unik. Gas disimpan dalam volume pori matriks, seperti reservoir > konvensional, dan selain dalam matrik juga gas teradsorpsi pada luas > permukaan pori-pori, mirip dengan reservoir CBM. Kapasitas adsorpsi gas > dalam shale/serpih ini dapat dimodelkan, mirip dengan gas metan batubara > (CBM). Itulah sebabnya shale gas ini mungkin lebih lebih menarik dalam > satu sisi dibandingkan CBM. > > Biaya untuk melakukan pengeboran produksi shale gas ini bisa mencapai antara > 7-10 juta US$ persumur. Karena sumur ini semestinya berupa sumur horizontal. > Unsur terpenting mendapatkan keberhasilan eksplorasi shale gas adalah > kemampuan untuk secara efektif membuat retakan pada batuan ini, Retakan ini > akan mengeluarkan gas yg terjebak pada retakan naturalnya. Dengan turunnya > pressure akibat diproduksikan gas dalam retakan ini menyebabkan gas yang > terikat pada water wet dan gas-wet akhirnya juga akan terambil. > > salam week end > > RDP > -- > "Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari" > > -- > "Sejarah itu tidak pernah usang untuk terus dipelajari" >

