Rekan,
Permisi numpang ikut meramaikan topik.

Kebijakan untuk meningkatkan nilai raw material sebelum diekspor rasanya masuk 
akal dan jika dijalankan secara optimal akan memberi keuntungan lebih baik -at 
least- dari sisi pendapatan negara maupun penciptaan lapangan kerja. Tidak 
perlu jago di bidang finansial, ekonomi mikro/makro, atau apapunlah namanya 
untuk mengerti hal ini.

Protes yang dilakukan asosiasi Spartan -yang meng highlight layoff 
besar-besaran- pun bagi saya rasanya terlalu dibuat-buat.

Setuju dengan Abah.., OK lah akan ada layoff di sektor hulu (pertambangan). 
Namun pihak Spartan sepertinya tidak sadar (atau pura-pura tidak sadar?), 
dengan adanya usaha pemurnian dan pengolahan dalam negeri, bukankah logikanya 
akan semakin banyak industri terkait yang dibuka dan ujung-ujungnya akan 
menyerap banyak lapangan kerja di dalam negeri. Katakanlah ada lay-off di 
sektor hulu 10,000 (200,000 kok rasanya terlalu dibuat yah), namun jika optimal 
nantinya akan membuka lapangan kerja 50,000 di sektor lain. 

Kira-kira DPR dan Pemerintah pilih mana..?


salam,
Andi.

--- On Fri, 6/29/12, [email protected] <[email protected]> wrote:

> From: [email protected] <[email protected]>
> Subject: Re: [iagi-net-l] Layoffs at Indonesia mines could hit 3m
> To: [email protected]
> Date: Friday, June 29, 2012, 10:01 PM
> Sebetulnya masalah ini sudah cukup
> lama ada dan sudah dapat
> diantisipasi jauh jauh hari.Dalam UU Minerba 2009 sdh sangat
> jelas disebutkan untuk
> melakukan pengolahan  dan pemurnian di dalam negeri
> untuk
> meningkatkan nilai tambah komodisti tambang yg selama ini
> secara besar besar langsung di bawa keluar dalam bentuk raw
> mineral yg diberi waktu selambat lambatnya 5 tahun sejak UU
> ini
> berlaku ( 2014 ), kemudian UU ini ditindak lanjuti dg PP
> no.23
> tahun 2010 kemudian teknisnya diatur melalui Permen 07 tsb.
> Kenapa dulu nggak dimasalahkan pada waktu mencantumkan
> pasal
> pada UU tsb. Memang kontribusi dari sektor tambang selama
> ini
> kecil sekali tidak nyampai 10% dari sektor migas , padahal
> daerah yg di kelupas / dikeruk sudah tidak bisa dihitung
> lagi
> dg ribuan IUP yg sdh diterbitkan yg tdk terkontrol lagi
> karena
> para kep daerah kayaknya berlomba lomba ngeluarkan IUP tsb.
> Mungkin solusinya merger saja antar IUP untuk bikin unit
> pengolahannya
> ISM
> 
> 
> 
> > Rekan 
> >
> > Kalau akibat dari PerMen akan menyebakan adanya "lay
> off" ,
> > saya kira itu sudah diperkirakan , mengenai jumlahnya
> ,
> > mungkin perlu direkonfirmasi. Akan tetapi ini adalah
> contoh
> > yang sangat gamblang bahwa untuk memperbaiki atau
> mengoreksi
> > kebijakan yang salah ,(dalam hal ini adalah
> "kebebasan"
> > melakukan bisnis ekstraksi SDA tanpa kontrol} akan
> > mengakibatkan persoalan lain timbul.
> >
> > Tentu saja harus ada solusinya , akan tetapi solusinya
> TENTU
> > bukan- nya mencabut PerMEn yang merupakan koreksi atas
> > kebijakan "ngawur" dalam ekstraksi SDA .
> >
> > si Abah  
> >
> >
> > ________________________________
> > From: Bandono Salim <[email protected]>
> > To: Iagi <[email protected]>
> > Sent: Saturday, June 30, 2012 6:46 AM
> > Subject: Re: [iagi-net-l] Layoffs at Indonesia mines
> could
> > hit 3m
> >
> >
> > Kalau begitu, sudah sesuai dgn UUD pak. Daripada
> "dijual ke
> > investor", dikelola oleh negara, akan lebih baik (asal
> tidak
> > di korupsi dan pelaksanaannya benar-benar untuk
> > kesejahteraan rAkyat). Swasta sebagai konsultan,
> maupun
> > operator, tetapa dapat hidup,  memang tidak perlu
> menjadi
> > pemilik lahan. Kalau jadi pemilik lahan hehehe sudah
> tidak
> > ada negara KESATUAN RI lagi. Semoga lebih baik.
> > Salam.
> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> > ________________________________
> >
> > From:  "S. (Daru) Prihatmoko" <[email protected]>
> > Date: Fri, 29 Jun 2012 19:07:57 +0700
> > To: [email protected]<[email protected]>;
> > <[email protected]>
> ReplyTo:
> > <[email protected]>
> > Subject: [iagi-net-l] Layoffs at Indonesia mines could
> hit
> > 3m
> >
> > Mas Adji dkk MGEI-IAGI,
> >
> > Walau agak terlambat me-reply, saya rasa berita
> > memprihatinkan ini perlu kita cermati. Nampaknya (yg
> saya
> > dengar dr sumber lain) berita ini bersumber dari
> adanya
> > pertemuan antara Spartan (Solidaritas Para Pekerja
> Tambang
> > Nasional) dng Komisi 9 DPR RI pada 25 Juni lalu. 
> >
> > Pada acara tsb Spartan menyerahkan data terkait
> dengan
> > 235.823 pekerja tambang yang mengalami Pemutusan
> Hubungan
> > Kerja (PHK) di 499 perusahaan yang tersebar di enam
> provinsi
> > yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi
> Selatan,
> > Kalimantan Timur, Maluku, dan Nanggroe Aceh
> Darussalam.
> > Pihak Spartan menyebutkan kegiatan tsb meeupakan
> "gelar
> > data" terkait dng implikasi Permen ESDM No 07 serta
> revisi
> > No. 11 tahun 2012 beserta Peraturan Menteri Keuangan
> (PMK)
> > Bea Ekspor 20 persen yang secara tiba-tiba memutuskan
> untuk
> > melarang perusahaan tambang melakukan ekspor bahan
> mentah
> > mineral per 6 Mei 2012 yang akibatnya, ribuan pekerja
> > tambang harus menghadapi PHK massal. Dari data yang
> dihimpun
> > sentral informasi Spartan, saat ini sudah terdapat 499
> > perusahaan yang telah mem-PHK pekerja tambang sebanyak
> > 235.823 orang. Berdasarkan data tersebut, pihak
> Spartan
> > mengklaim kerugian diperkirakan mencapai Rp4,7 triliun
> lebih
> > dari 499 perusahaan yang telah mem-PHK
> > karyawannya tersebut. Selain itu, kerugian juga
> menimpa
> > masyarakat yang memiliki usaha rumah kos serta warung
> makan
> > di kawasan sekitar perusahaan.  
> > Kegiatan tsb nampaknya luput dari pemberitaan media
> (atau
> > berita spt ini memang tidak seksi untuk ditayangkan
> ??).
> > Adakah yg tahu kontak person Spartan? Mungkin kita
> MGEI-IAGI
> > dpt saling bahu membahu mencari solusi permasalahan
> ini,
> > sekalian cross check ttg data-data yg ditampilkan
> Spartan.
> > Isu lain yg juga sedang merebak adalah beredarnya draft
> RUU
> > Minerba yg nampaknya dimaksudkan sbg pengganti UU No.
> 4/
> > 2009. Agak aneh rasanya, karena UU No. 4 saja belum
> > diimplementasikan (terutama berkaitan dng sistem lelang
> IUP
> > baru yg regulasinya masih digodog  - dan tidak
> mateng2
> > hehehe), eh....ini sudah keluar lagi draft UU utk
> > menggantikannya. Saya sempat baca selintas draft UU
> tsb, yg
> > intinya semua kegiatan usaha pertambangan hanya akan
> dapat
> > dilaksanakan oleh BUMN dan BUMD. Peran perusahaan
> swasta
> > baik asing maupun nasional hanya akan sebatas sbg
> kontraktor
> > saja. Idenya mungkin bagus, yakni untuk mengembalikan
> SDA
> > Indonesia sepenuhnya kedalam "kekuasaan" negara (yg
> > diharapkan diwakili oleh BUMN dan BUMD). Bisa
> dibayangkan
> > kalau system ini dijalankan, berapa ratus ribu lagi
> pekerja
> > tambang terutama yg swasta akan kehilangan
> > pekerjaan....wah...  Alternatifnya bisa saja kawan2
> tsb
> > berduyun-duyun masuk ke BUMN/ BUMD - tapi seberapa
> banyak
> > bisa tertampung? Atau dengan terpaksa pindah ladang ke
> > negeri seberang yg tentunya tidak gampang. Menyikapi
> hal
> > ini, saya rasa tidak ada cara lain bagi kita-kita
> pelaku
> > eksplorasi tambang untuk tetap rajin meningkatkan
> kemampuan
> > teknis dan keprofesian masing2 melalui berbagai cara.
> MGEI
> > sendiri akan coba semaksimal mungkin menghadirkan
> program
> > pengembangan profesi yg bisa diikuti oleh para
> anggotanya.
> > Dan bagi kawan2 yg memiliki "power" di lingkungan
> masing2
> > akan baik sekali kalau bisa mendorong dan
> memfasilitasi
> > geologistnya untuk berkembang dng mengikuti kursus,
> > training, workshop dll. Salam akhir pekan,
> > Daru
> > Sent from my mobile device 2
> >
> > On Jun 28, 2012, at 11:59 AM, Adji Prihananto
> > <[email protected]>
> wrote:
> >
> >
> > Ini akurat nggak ya beritanya..? 
> >>Ada yg bisa confirm?
> >> 
> >> 
> >>Published June 27, 2012
> >>Layoffs at Indonesia mines could hit 3m
> >>print |email this article
> >>South-east Asia's largest economy is home to some of
> the
> >>world's richest mineral deposits, and its
> fast-growing
> >>mining sector contributes about 12 per cent of GDP,
> drawing
> >>nearly a fifth of foreign direct investment in the
> first
> >>quarter - AFP [JAKARTA] Mining companies in
> Indonesia have
> >>laid off more than 200,000 workers since a
> government ruling
> >>in May halted exports of some minerals, and total
> dismissals
> >>could swell to more than three million, a leading
> union said
> >>yesterday, providing fresh evidence of disruption in
> the
> >>major metals supplier. South-east Asia's largest
> economy is
> >>home to some of the world's richest mineral
> deposits, and
> >>its fast-growing mining sector contributes about 12
> per cent
> >>of GDP, drawing nearly a fifth of foreign direct
> investment
> >>in the first quarter. Last month, in a move designed
> to
> >>boost its share of mineral revenue, Indonesia
> imposed
> >>regulations and a tax of 20 per cent on ore exports,
> and
> >>told miners to submit plans to build local smelters
> or
> >>process ore domestically by 2014. Workers have been
> laid off
> >>in nickel, gold, iron and copper mines in six
> provinces on
> >>resource-rich Kalimantan and Sulawesi islands, data
> gathered
> >>by the union from mining companies shows. "They
> (mining
> >>firms) have lost their financial potential . . .
> because
> >>they've stopped exporting since the mining ministry
> >>regulations and the 20 per cent export tax came
> into
> >>effect,"Juanforti Silahahi, spokesman of the
> National Mining
> >>Workers Union (Spartan), told Reuters. - Reuters
> > Sent from my mobile device 2
> 
> 
> 
> ___________________________________________________________
> indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id
> 
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------------------
> PP-IAGI 2011-2014:
> Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
> Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
> --------------------------------------------------------------------------------
> Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20
> September 2012.
> Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas
> akhir pengiriman abstrak 28 Februari 2012.
> --------------------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to:
> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to:
> iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> For topics not directly related to Geology, users are
> advised to post the email to: [email protected]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
> DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to
> information posted on its mailing lists, whether posted by
> IAGI or others. In no event shall IAGI or its members be
> liable for any, including but not limited to direct or
> indirect damages, or damages of any kind whatsoever,
> resulting from loss of use, data or profits, arising out of
> or in connection with the use of any information posted on
> IAGI mailing list.
> ---------------------------------------------------------------------
> 
>

--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
Kirim abstrak ke email: pit.iagi.2012[at]gmail.com. Batas akhir pengiriman 
abstrak 28 Februari 2012.
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke