Ndang

Kok 14 Oktober 2012 ?

si Abah


________________________________
 From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, August 15, 2012 10:50 AM
Subject: [iagi-net-l] BENCANA
 
BUMI YANG TIDAK BERBOHONG DAN KITA YANG TIDAK MEMBACA*)

(kebangsaan, peradaban, dan masa depan: perspektif geologi – sastra seni bumi)

*) Renungan 67th Merdeka!

Andang Bachtiar

Geologist Merdeka, Arema, Dewan Penasehat IAGI, Tim Katastrofi Purba

Bagian Kedua: Bencana

Kapan disini akan ada gempa lagi? Sampai dimana nanti tsunami menerjang kampung 
kami? Kapan itu tsunami akan terjadi? Kapan Merapi meletus lagi? Apakah Gunung 
Talang juga akan menyemburkan api? Apakah investasi kami aman terhadap gerakan 
tanah, longsoran, gempa, dan tsunami? Berapa lama siklus ulang kejadiannya? 
Bisakah gempa diprediksi? Tolong kasi tau kapan gempa terjadi jadi kita bisa 
siap-siap mengungsi! Itu dia pertanyaan-pertanyaan umum yang biasanya keluar 
dari masyarakat Indonesia yang meskipun secara tradisional nenek moyang kita 
punya banyak kearifan lokal untuk diteladani tapi karena pergeseran sistim 
budaya dan pengaruh modernisasi kemungkinan daya tahan, pengetahuan dan aspek 
mitigasi bencana kebumian kita tidak begitu menancap kuat di budaya masa kini.

Para ahli bumi Indonesia bukan hanya dituntut untuk mengetahui, menemukan dan 
mengelola potensi anugrah sumberdaya bumi, tetapi juga potensi bencananya yang 
perlu dimitigasi. Tidak terlalu banyak yang bergerak di bidang ini. Nama-nama 
seperti Dr Danny Hilman Natawijaya, Dr Hamzah Latief, Dr Irwan Meilano, Dr 
Dwikorita Karnawati, Dr Surono, Dr Totok Hendrasto, dan beberapa lagi yang 
tidak tersebutkan di sini, mereka adalah para peneliti bumi yang sepi dari 
hura-hura temuan-temuan kekayaan bumi. Mereka mengawal anugrah bumi yang 
ditemukan itu dengan mitigasi bencana, dengan pengetahuan-pengetahuan tentang 
potensi kebencanaan bumi, untuk diterapkan pada prosedur, tata ruang dan 
rencana tanggap darurat. Kita masih perlu banyak ahli-ahli seperti mereka, dan 
seharusnyalah industri ekstraksi kebumian seperti perusahaan tambang emas, 
tembaga, mineral, migas, geothermal dan sejenisnya itu semuanya mengambil 
manfaat dan bekerjasama dengan tokoh-tokoh bumi itu
 sedemikian rupa sehingga nikmat anugrah yang mereka tangani dapat dinikmati 
oleh Indonesia tanpa harus tiba-tiba hancur, hilang, musnah hanya karena 
mitigasi yang tidak dilakukan dan prosedur kedaruratan yang tidak dijalankan. 
Ada sisi anugrah, ada sisi bencana, bumi geologi Indonesia.

Dan seharusnya juga kita bisa menarik ke belakang kejadian-kejadian bencana 
luar biasa dekade terakhir ini, dan menyimpulkan dengan gamblang bahwa 
Indonesia adalah ajang instabilitas bumi dengan 129 gunung api, separoh dari 95 
ribu km pantainya rawan terjangan tsunami, belasan ribu kilometer daratannya 
disayat-sayat patahan aktif siap bergerak setiap saat. Tidak ada satupun 
kawasan berpenghuni berpenduduk berdaulat seperti Indonesia ini yang punya 
ancaman bencana begitu banyak dan bervariasi.  Kalau memang seperti itu 
karakterisasinya, apakah ini hanya baru terjadi akhir-akhir ini? Tentu saja 
tidak. Umur penunjaman lempeng-lempeng, pembentukan patahan-patahan besar dan 
pembentukan gunung-gunung api di Indonesia bukan hanya baru-baru ini. Mereka 
paling tidak sudah terjadi sejak 45 Juta tahun lalu mulai kala Eosen, 
berlangsung dengan puncak-puncak katastrofi di kala Oligosen – penggenangan 
laut 30-23 juta tahun yang lalu, kemudian letusan-letusan gunung
 api dan pengangkatan-pengangkatan daratan pada Miosen 15 juta tahun yang lalu, 
silih berganti hingga ketika manusia dianggap mulai ada 1,5 juta tahun yang 
lalu (Pleistosen), 150 ribu tahun yang lalu (fossil-fossil Sangiran), letusan 
super-volcano Toba 75 ribu tahun yang lalu yang memusnahkan hampir 95% spesies 
di bumi, banjir besar 11-10 ribu tahun yang lalu, letusan Krakatau 
berkali-kali, Tambora, Rinjani di masa sejarah, kesemuanya menunjukkan bahwa 
dari dahulu kala sampai sekarang, kejadian-kejadian itu adalah keniscayaan, 
sunatullah, proses geologi biasa. Karena ada kita, manusia, maka itu semua kita 
anggap sebagai bencana.  

Implikasinya adalah: Indonesia, Nusantara, Zamrud Khatulistiwa kita, yang konon 
dari bagian pertama pidato ini tadi ternyata punya potensi luarbiasa sumberdaya 
buminya, ternyata juga menyimpan cerita tentang bencana-bencana yang 
berulang-ulang kejadiannya. Pertanyaannya: lalu kenapa sejarah modern 
(tertulis) peradaban kita baru dimulai abad ke-4 Masehi? Kerajaan Kalingga, 
Mulawarman dan sesudahnya: itulah paling jauh nenek moyang yang bisa kita runut 
asal usulnya dalam tulisan-tulisan sejarah kita. Lalu pada waktu Yesus atau 
Nabi Isa berkiprah di dunia abad ke 0, ada apakah di Indonesia? Ketika Plato 
berfilsafat ria abad 8 sebelum Masehi, apakah tidak ada catatan apapun tentang 
dan di negeri super potensi kita ini? Waktu raja-raja Firaun membangun 
piramida-piramida megah 3000 tahun lalu di tempat yang susah-susah di padang 
pasir sana, apakah nenek moyang kita leyeh-leyehan saja tinggal di gua-gua dan 
tidak melakukan apa-apa?

Bagi saya yang mengerti sedikit tentang ilmu bumi, kemungkinan jawabannya 
adalah: “Kita punya masalalu yang harusnya sama atau lebih hebat dari masa lalu 
bangsa-bangsa lain di dunia karena keunggulan potensi alam kita. Tetapi karena 
sifat siklus kebencanaan yang ada maka catatan-catatan dan 
peninggalan-peninggalan masalalu itu terhapus, terkubur, terpendam oleh letusan 
gunung api, terjangan tsunami, goyangan gempa dan gelontoran kuburan lumpur 
longsoran gerakan tanah di mana-mana” . Setiap kali kebudayaan kita maju, ada 
bencana yang menghancurkannya, kemudian kita mulai mengulangi segalanya dari 
mula, dari nol, tanpa apa-apa. Tergantung siapa yang survive pada saat bencana 
itu. Kalau yang selamat pada waktu kebudayaan tinggi kita dilanda bencana itu 
adalah tukang rumput, maka kebudayaan kita pasca bencana adalah kebudayaan 
tukang rumput. Kalau yang selamat dari bencana-bencana itu adalah orang-orang 
yang bersembunyi di gua-gua, maka kebudayaan kita
 berulang menjadi kebudayaan manusia gua. Dan seterusnya.  Kemungkinan juga 
ketika Merapi meletus 1000 tahun yang lalu pada tahun 1006 dan mengubur candi 
Borobudur, kebanyakan arsitek, insinyur sipil dan para perencana yang 
pintar-pintar juga terkubur semua bersamaan dengan katastrofi purba itu. Yang 
selamat mungkin tukang bikin cobek yang kebetulan pergi ke Semarang untuk 
kunjungan ke sanak jauh. Maka ketika dia kembali ke sekitar candi didapatinya 
semua kehidupan musnah. Maka dimulailah kebudayaan baru Borobudur dari awal, 
dari membuat ukir-ukiran, cobek, dan patung-patung batu. Tak ada lagi 
insinyur-insinyur Gunadharma, terkubur semuanya oleh bencana.

Maka perlu juga direnungkan untuk maju ke depan. Apakah memang sebenarnya dari 
dulu bangsa Indonesia itu sempat berkembang maju beradab berteknologi tinggi 
tapi kemudian dihapus berulang-ulang catatannya oleh bencana, ataukah memang 
masa lalu kita adalah: manusia-manusia gua, manusia-manusia jaman batu, bahkan 
ketika di Mesir orang-orang sudah berlomba membuat bangunan-bangunan megah??

Tugas kita bersama untuk mengurai masa lalu peradaban kita. Tugas para ahli 
bumi juga, termasuk mengurai bencana-bencana apa saja yang menyebabkan masa 
lalu kita terkubur di bawah sana atau hangus menguap seperti sia-sia. Pada saat 
kapan saja bencana-bencana itu terjadi dan di lokas-lokasi mana: data-data itu 
semua akan sangat bermanfaat bagi penyusunan kerangka mitigasi keberulangan – 
periodisitas dan juga magnitude bencana yang bisa dipakai untuk 
mengantisipasinya ke depan, demi masa depan bangsa yang lebih cerah.


Jakarta, 14 Oktober 2012

ADB

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kirim email ke