Ini email balasan dari Benyamin Safiie DR yg salah kamar ke PP-IAGI aku kopi paste ke sini, duduh pak DR pagi2 kok ya udah ngantuk toh. Peace bro
Secara umum pendekatan interpretasi bisa dua2nya dalam science. Bisa berdasarkan hipotesa sehingga sudah mengarah pada pembuktian mengikuti model tertentu. Science juga bisa menginterpretasi yang lebih bebas dengan tujuan mentes banyak kemungkinan. Satu persatu interpretasinya dites utk mendapatkan hal yang lebih non-bias. Keburukannya metoda ini bisa sangat panjang dan rumit dibandingkan yang pendekatan hipotesa. Utk suatu science yang sudah banyak modelnya dan lebih pasti seperti xray tulang pendekatan hipotesa akan lebih tepat karena kita sudah banyak kasus dan model yang bisa digunakan utk menginterpretasi. Bagi saya interpretasi adalah sesuatu yg hrs dibuktikan kebenarannya jadi tergantung pada siapa dan apa (hipotesa dan asumsi) yg akan dicari. Seandainya sama sekalai tidak dikenali ya susah membuat interpretasi. Ini yang saya kira dumaksud oleh Cak Noor. Ya Geologist kalau image dari otak nanti interpretasinya hidrocarbon. Dalam kasus Gn. Padang misalnya hasil georadar menunjukan object yang mempunyai sudut tajam seperti kotak, piramida dll. Kan wajar saja berhipotesa bahwa ini tidak alami karena agak sulit atau sangat jarang alam membuat sesuatu yang sangat perfect. Ya, hrs dibuktikan.. Seperti lead tadi.. Banyak interpretasi akan sangat baik krn akan memdapat banyak hipotesa yg hrs dibuktikan, ya kalau sdh pasti tidak diperlukan scientist utk membuktikan. Walaupun geologi tidak bisa seperti hukum matematika, rupa seperti monyet, bentuk seperti monyet, jalan seperti monyet ini pasti monyet. Mungkin geologist lain akan mengatakan bisa enggak ya beruang? Teman2 saya kira kita sebagai scientist harus open minded dan skeptist biar mempunyai banyak inovasi dan kreativitas.. Kerennya out of the box thinking... As long as not too far from the box. Sekedar sumbangan... Just my cent contribution.. Salam, BS 2012/9/5 <[email protected]> > Apa yang bikin bingung ya ? > Interpretasi DATA bisa salah tapi ga sama dengan Hipotesis. > Baik dan akuratnya interpretasi sangat tgt dari seberapa baik data, > processingnya, dan keahlian serta pengalaman si interpreter, juga seberapa > komplek obyeknya. Konteks tentu saja penting. > Apabila tidak mungkin diinterpretasi tunggal (ada dua atau lebih > kemungkinannya), ya itulah hasilnya. Tentu si interpreter bisa mengemukakan > yg mana yang dianggap paling mungkin. > Tapi kalo image-nya sudah sangat jelas (karena hi-res dan obyeknya > 'simpel') ya interpretasinya juga straight forward, seperti interpretasi > tulang patah dari xray atau struktur besi yang bengkok di dalam beton > dilihar dari hi-res GPR. > > DHN > Danny Hilman Natawidjaja > LabEarth (Laboratory for Earth Hazards) > Geoteknologi - LIPI > ------------------------------ > *From: * [email protected] > *Date: *Wed, 5 Sep 2012 07:53:20 +0000 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * <[email protected]> > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Mohon Pencerahan Mengenai Ilmu Georadar dan > Geolistrik > > Your point exactly... > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * noor syarifuddin <[email protected]> > *Date: *Wed, 5 Sep 2012 00:49:56 -0700 (PDT) > *To: *[email protected]<[email protected]> > *ReplyTo: * <[email protected]> > *Subject: *Re: [iagi-net-l] Mohon Pencerahan Mengenai Ilmu Georadar dan > Geolistrik > > uppsss... > saya malah jadi bingung.... saya rasa pembacaan citra geofisika (georadar, > geolistrik maupun seismik) itu memang sifatnya interpretatif/tafsiran... > makanya sangat tergantung kontek dan hipotesis yang dipakai dalam > prosesnya.... > interpretasi seismik di daerah delta dan turbidit laut dalam, tentu sangat > dipengaruhi konteknya... kalau sama sekali nggak tahu settingya, ya bisa > ketukar-tukar.. > > > salam, > > *From:* Danny Hilman Natawidjaja <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Wednesday, September 5, 2012 12:26 PM > *Subject:* RE: [iagi-net-l] Mohon Pencerahan Mengenai Ilmu Georadar dan > Geolistrik > > Rekan Bob, > “Kalimat” itu khusus ditujukan untuk meluruskan bahwa ‘INTERPRETASI’ bukan > ‘HIPOTESIS’. Itu poinnya. > Menurut hemat saya pemindaian geofisik (georadar, geolistrik, seisik dll) > bisa dianalogikan dengan pemindaian/imaging dalam dunia kedokteran seperti > ultrasonografi dan x-ray. Tentu kejelasan hasil image terantung dari > resolusi, obyek dll. Georadar dengan frekuensi tinggi (misalnya lebih dari > 1GHz) biasa dipakai untuk mendeteksi/melihat adanya ‘tulang’ beton yang > patah atau bengkok atau retakan pada struktur di dalam suatu bangunan > sehingga ahli sipil dapat memperbaikinya dengan tepat sasaran tanpa harus > bongkar-bongkar dulu, sama seperti dokter yang mendiagnosa tangan anda > dengan x-ray untuk mengobatinya bukan? > Georadar dengan frekuensi yang lebih rendah dapat dipakai untuk melihat > struktur dan stratigrafi detil dari lapisan tanah/batuan sama halnya > seperti survey seismik refeksi dengan frekuensi tinggi. Limitasi nya makin > tinggi frekuensi yang dipakai (untuk menajamkan resolusinya) akan makin > dangkal penetrasinya atau “skin-depth”nya. Jadi harus menentukan optimum > desain-nya sesuai target. Banyak cara untuk membuat hasil pemindaian > menjadi lebih jelas, seperti membuat 3-D survey atau mengaplikasikan > prinsip tomografi. Singkatnya detil-teknis dari berbagai teknik pemindaian > tentu beda tapi fungsi dan tujuannya bisa dianalogikan. > > Salam > DHN > > *From:* bob yuris [mailto:[email protected]] > *Sent:* 04 September 2012 20:02 > *To:* [email protected] > *Subject:* [iagi-net-l] Mohon Pencerahan Mengenai Ilmu Georadar dan > Geolistrik > > Mohon Pencerahan Mengenai Ilmu “Georadar & Geolistrik” > Yth Bapak / Ibu Geologist, > Saya belum pernah sekalipun membaca hasil penelitian ilmiah mengenai > Piramida atau Punden Berundak di Gunung Padang dari sumber manapun. Saya > hanya membaca laporan utama Tempo Edisi 27 Agu – 2 Sep 2012 dengan judul > sampul: Mimpi Emas di Gunung Padang. Tempo memaparkannya secara menarik dan > berimbang, baik dari sisi tim peneliti terpadu maupun dari pihak yang tidak > sepaham. > Tempo edisi 3-9 September 2012, memuat surat pembaca dari Bapak DR. > Danny Hilman Natawidjaja. Isinya kurang lebih tanggapan Bapak Danny atas > tulisan Prof Mundardjito dan Junus S. Atmodjo pada Tempo edisi G Padang. > Ada bagian kalimat tanggapan dari Pak Danny yang saya kutipkan disini: > *“ Interpretasi georadar dan geolistrik oleh geolog sama dengan imaji > ultrasonografi atau sinar-X oleh dokter”.* > Saya sepenuhnya tidak paham apa itu interpretasi georadar dan > geolistrik, hanya kalau sinar-X, saya bingung juga kalau dikatakan hasilnya > “Interpretasi”. Saya punya pengalaman disinar-X karena patah tulang ruas > telapak tangan, hasil rontgennya diperlihatkan oleh dokter kepada saya. > Saya lihat betul bahwa ruas tangan saya patah dan tidak perlu lagi > pembuktian dengan pembedahan untuk meyakinkan bahwa ruas tulang tangan saya > benar-benar patah. > Pertanyaan saya, apa yang dimaksud dengan “interpretasi Georadar dan > Geolistrik” ?. Apakah produknya seperti gambaran patah tulang ruas tangan > yang tidak perlu lagi pembuktian dengan pembedahan ? > Mohon pencerahan Bapak Danny dan atau juga Bapak/Ibu Geolog yang paham > dengan Georadar / Geolistrik. > Salam Pencerahan, > Bob Yuris Chandra > *Palynologist Partikelir* > > > > > >

