Logika saya , binatang berkaki empat yang hidup di pegunungan akn cenderung 
untuk memiliki kaki depan lebih pendek (apa iya ya ?) , jadi apakah ada alasan 
ilmiah mengapa anoa seperti itu hidup difataran  rendah ?

si Abah


________________________________
 From: Awang Satyana <[email protected]>
To: IAGI <[email protected]> 
Sent: Thursday, September 13, 2012 1:15 AM
Subject: Bls: Re: [iagi-net-l] SULAWESI: WHERE TWO WORLDS COLLIDED
 

Ya Pak Bandono, monyet hitam di Minahasa Sultra (Macaca nigra) itu adalah 
bentuk paling terspesialkan karena isolasi paling tinggi dari "sepupunya" di 
Sulawesi Selatan yang lebih umum, Macaca maura, atau bentuk paling umumnya 
seperti di Sumatara dan Jawa (Macaca nemestrina). Dalam kasus sebaran monyet 
hitam, kita bisa melihat efek isolasi pulau terhadap variasi jenis (teori 
island biogeography E.O. Wilson 1989). Dan anoa yang Pak Bandono temukan di 
Sultra adalah anoa dataran rendah (Bubalus depresicionis) yang badannya sedikit 
lebih besar dibandingkan dengan anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) yang hanya 
hidup di pegunungan2 Sulawesi Barat.

Salam,
Awang 



________________________________
 From:  Bandono Salim <[email protected]>; 
To:  Iagi <[email protected]>; 
Subject:  Re: [iagi-net-l] SULAWESI: WHERE TWO WORLDS COLLIDED 
Sent:  Wed, Sep 12, 2012 5:37:12 PM 
 

Terimakasih, yang pernah saya jumpai di hutan sultra, anoa sama monyet hitam 
ekor pendek. 
Waktu ekspedisi sultra dgn pertamina th 1969 bersama Abah Yanto.
Salam.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  Awang Satyana <[email protected]> 
Date: Thu, 13 Sep 2012 01:14:32 +0800 (SGT)
To: IAGI<[email protected]>; Forum HAGI<[email protected]>; Geo 
Unpad<[email protected]>; Eksplorasi 
BPMIGAS<[email protected]>
ReplyTo:  <[email protected]> 
Subject: [iagi-net-l] SULAWESI: WHERE TWO WORLDS COLLIDED



Bulan lalu, Pak Rovicky, Presiden IAGI, meminta saya untuk membantu kawan-kawan 
dari Ekspedisi Cincin Api Kompas dalam melakukan ekspedisinya di Sulawesi. 
Kawan2 Kompas tersebut telah beberapa kali menghubungi saya menanyakan hal-hal 
terkait geologi dan tektonik Sulawesi, terutama tentang wilayah yang terkenal 
bernama Wallacea dan yang terkait.

Judul di atas adalah judul utama makalah saya yang dipublikasi dan 
dipresentasikan di pertemuan ilmiah tahunan IAGI dan HAGI tahun 2011 di 
Makassar, dengan subjudul "Geologic Controls on Biogeographic Wallace's Line". 
Beberapa tahun sebelumnya, tema ini pernah menjadi tema yang diangkat Research 
Group of SE Asia di bawah Prof. Robert Hall yang mengadakan seminarnya di 
Inggris, sehingga
 yang datang ke sana tak banyak dari kita.  Di sana pada waktu itu berkumpul 
para ahli geologi, biologi
 dan yang terkait membicarakan wilayah Indonesia yang sangat menarik ini. Saya 
sendiri tak datang ke pertemuan itu walaupun diundang. Saya pikir saya lebih 
baik mempresentasikannya di Indonesia, di Sulawesi, di Makassar dan didengarkan 
banyak orang Indonesia. Dan sekarang saya ingin menuliskan ringkasannya agar 
banyak teman terinformasikan. Makalah lengkapnya ada di proceedings pertemuan 
JCM - Joint Convention Makassar 2011 (Satyana, 2011, Sulawesi: Where Two Worlds 
Collided-Geologic Controls on Biogeographic Wallace's Line).

Semua orang tahu yang disebut dengan Garis Wallace, yaitu garis khayal yang 
berada memanjang utara-selatan dari Selat Makassar ke Selat Lombok, berperan 
sebagai garis pembatas penyebaran fauna. Ke sebelah barat dari garis Wallace 
fauna didominasi oleh tipe2 Oriental (Asia), ke sebelah timur dari garis ini 
fauna didominasi oleh tipe2 Australian. Garis Wallace ini pertama disebut tahun 
1863, namanya tentu tak asing lagi
 berasal dari Alfred Russel Wallace, seorang naturalis besar Inggris  yang 
pernah menjelajah Nusantara pada 1854-1862.

Garis Wallace adalah garis biologi atau lebih tepatnya biogeografi, tetapi 
sejak awal Raffles memikirkan bahwa penyebab garis ini adalah geologi. Dalam 
suatu pertemuan di Linnean Society di London pada 3 November 1859, Wallace 
mengajukan sebuah paper berjudul "On the Zoological Geography of the Malay 
Archipelago", dan dia berkata soal biodiversity Indonesia ini punya hubungan 
dengan geologi. "Facts such as these (biological diversity) can only be 
explained by a bold acceptance of vast changes in the surface of the earth".  
Apa yang ditulis Wallace ini kita tahu sekarang berhubungan dengan terbentuknya 
Kepulauan Indonesia sendiri sebagai akibat amalgamasi, penyusunan oleh bagian 
dari Indonesia Barat yang kemudian bertemu dengan bagian dari Indonesia Timur 
sejak Neogen.

"Wallacea"
 adalah nama yang diberikan untuk
 wilayah di Indonesia bagian tengah yang meliputi Sulawesi, sebagian Nusa 
Tenggara dan Halmahera, tempat fauna (dan flora) bertransisi dari tipe Asiatic 
ke Australian, dan sebaliknya. Daerah Wallacea dibatasi di sebelah barat oleh 
Garis Wallace, dan di sebelah timur oleh Garis Lydekker. Sementara garis Weber 
adalah garis kesetimbangan fauna, tempat fauna Asiatik dan Australian sama 
proporsinya, yaitu  50 : 50. Garis Weber terdapat di tengah anatara Haris 
Wallace dan Garis Lydekker. Ketiga garis ini mempunyai arti geologi. Saat ini, 
Garis Wallace sejajar dengan akhir batas Kuarter Sundaland di sebelah timur, 
sedangkan Garis Lydekker mengikuti batas barat Sahul Land.

Sekarang kita lihat Sulawesi. Sulawesi secara tektonik merupakan wilayah yang 
disusun oleh benturan dua 'dunia' atau massa kerak benua yaitu : Sundaland, 
yang menyusun Sulawesi Barat dan Australoid, yang menyusun sebagian Sulawesi 
sebelah timur (Banggai-Sula)  dan tenggara
 (Buton). Terjepit di tengahnya adalah kerak oseanik yang kini menjadi ofiolit. 
Pola-pola tektonik benturan, distribusi daratan dan lautan akibat proses 
amalgamasi Sulawesi ini akan memengaruhi penghunian Sulawesi oleh fauna asal 
Asia dan asal Australia.

Biota Sulawesi beragam mencerminkan afinitas dengan Asia dan Australia (Whitten 
et al, 2002), seperti terjadi dua benturan fauna dari Asia dan Australia 
seperti juga dicerminkan pada proses pembentukan Sulawesi. Semua mamalia 
Sulawesi yang berplasenta betasalmdari Sundaic, sedangkan yang 
berkantung/marsupiala berasal dari afinitas Australia. Tetapi variasi jenis 
fauna di Sulawesi kalah dengan variasi jenis di tempat2 asalnya yaitu di 
Sundaland dan Australia atau Papua New Guinea. Yang khas dari Sulawesi adalah 
tingkat endemisme (kekhasan, hanya ada di tempat itu) yang tinggi karena pulau 
ini terisolasi dari benua pemasok utamanya. Dari semua mamalia  di Sulawesi, 62 
% merupakan spesies
 endemik. 19 dari 25 spesies amfibi, 13 dari 40 spesies kadal, 15 dari 64 
spesies ular adalah endemik dengan genus monotypic, juga seperempat dari 328 
spesies burung adalah endemik (Whitten et al., 2002).

Di samping itu, island dwarfism juga adalah efek isolasi Sulawesi yang 
menyebabkan pengerdilan hewan2 yang semula besar dari pemasok benua, contohnya 
adalah anoa yang diperkirakan berasal dari kerbau yang biasa kita lihatvdi 
Jawa. Contoh lain pada masa lalu adalah pengerdilan gajah menjadi stegodon yang 
fosilnya ditemukan di area Cabenge, Sulawesi Selatan.

Demikian, di Sulawesi kita temukan perbenturan antara dua massa kerak bumi 
antara Sundaland dan Australoid, juga perbenturan dua dunia fauna antara fauna 
Asiatik dan fauna Australian. Mengapa kedua hal itu bisa terjadi, sebab fauna 
Asiatik adalah penumpang massa kerak Sundaland, sementara fauna Australia 
adalah penumpang massa kerak Australoid. Setelah itu, mereka mengalami
 endemisme tersendiri di tempatnya sekarang. Maka Sulawesi adalah: where two 
geologic and faunal worlds collided.

Salam,
Awang

Kirim email ke