FYI
 

----- Forwarded Message -----
From: Morry Infra <[email protected]>
To: [email protected] 
Cc: Muhammad Napoleon Ghozali <[email protected]> 
Sent: Tuesday, 18 September 2012, 10:44
Subject: Re: [IATMI-ME] Pernyataan Wamen ESDM Tentang Pertamina dan terkait 
Blok Mahakam
 

Pak Napoleon... tolong di-broadcast tanggapan Pak Wamen ini...
 
Semoga menghilangkan ke"suudzon"-an kita masing2 kalau ada.
 
Salam,
Morry Infra
---------- Forwarded message ----------
From: Rudi Rubiandini <[email protected]>
Date: 2012/9/14
Subject: Re: Pernyataan Wamen ESDM Tentang Pertamina dan terkait Blok Mahakam

Temens,



Membaca komentar  di millis mengenai kasus Blok Mahakam, saya tersenyum 
sendiri, sampai istri saya penasaran, disangkanya saya dapet emeil dari 
seseorang yang dia pantas "cemburui".

Walaupun saya menyadari sepenuhnya bahwa kita ini sangat bervariasi masa 
lalunya, kecenderungan untuk "melihat" SIAPA bukan APA yang dibicarakan masih 
melekat, tentu kedepan harus diperbaiki, sehingga kita bisa lebih terfokus pada 
esensi dan tidak terlalu banyak hilang waktu untuk membicarakan personifikasi, 
yang bisa terjerumus pada su'udzon.     
 
Saya masih percaya bahwa :
1. Kehadiran KKKS asing adalah KETERPAKSAAN dan bukan keinginan siapapun di 
negeri Indonesia yang merdeka ini.
2. Negara bukan pemerintah bukan pula Pertamina, artinya cinta negara adalah 
berfikir dan berfihak pada kebaikan negara jangka panjang, tidak selalu baik 
pada pemerintahan saat ini (yang kadang mengedepankan jangka pendek), tidak 
juga selalu menguntungkan BUMN dalam hal ini, bisa saja kita punya beberapa 
BUMN yang bergerak di bidang migas, tidak harus dipaksakan pertamina as it is.
3. Faktor Modal, adalah kendala terdepan dan menjadi penghadang yang menjadikan 
tidak seluruh lahan migas saat ini dikelola sendiri sejak awal.
4. Faktor Data, adalah kendala berikutnya dalam pengembangan lapangan, terutama 
untuk proyek baru yang sangat prospek. Terutama data reservoir dan data bawah 
tanah lainnya, dengan sangat ketat KKKS menyimpan "data kunci" dengan rapat. 
kita bukan bicara Peraturan atau keharusan ideal, kita lihat fakta. Sebagai 
contoh, dimana yang memegang data penting tadi lapangan Siak yang akan habis 
tahun depan ? bagaimana dg lapangan Arun, bagaimana dengan Lapangan Natuna, dan 
bagimana dengan data 20 lapangan yang akan habis masa kontraknya dalam waktu 
dekat ini ?

Maka pelajarannya :
1. Contohlah Keberhasilan PHE-ONWJ, pengambilalihan dilakukan dengan soft 
landing, sebelum kontrak berakhir pertamina "berkorban" masuk kedalam system BP 
dengan membeli sharenya, sehingga pada saat kontrak habis tinggal take off 
dengan enak.
2. Janganlah contoh cara PHE-WMO menunggu sampai akhir kontrak, karena berharap 
dapat 100%, malah jadi bancakan berbagai pihak, yang korban negara, karena 
produksinya turun diakhir kontrak dan lambat diawal kontrak.
3. Kasus BOB-BSP terlalu dominan kedaerahannya mengalahkan Pertamina sehingga 
sistem manajemennya tidak bisa lari.
4. Kasus Cepu yang sudah mundur lebih dari 4 tahun dari rencana, berapa banyak 
kesempatan negara untuk mendapatkan revenue hilang selama 4 tahun tsb, karena 
Pertamina (BUMN) bukan sebagai operator dan bagian daerah tergadaikan pada 
pemodal asing.

Maka beberapa skenario yang menguntungkan negara harus diambil dalam kasus 
Mahakan, antara lain pilihan :
1. Bila punya uang, Lakukan seperti PHE-ONWJ saat ini, sehingga ada waktu 5 
tahun sebelum menjadi Operator. Setelah 2017 Pertamina pemilik 100%, karena 
pemerintah punya kewenangan untuk memberikan kepada BUMN. 
2. Bila TIDAK punya uang, Kerjasama dg operator lama dengan dominasi share di 
BUMN sejak kontrak habis 2017, beri waktu 5 tahun kontraktor asing untuk 
mengoperasikan maka sisa kontraknya bisa BUMN yang mengoperasikan.

Perkembangan yang saya tahu adalah :
1. TEPI dengan Pertamina sudah menjalin hubungan B2B yang harmonis, dan memilih 
versi-2, dimana Domestik dapet 51% dan asing 49%, sehingga Pertamina 51%, 
kemudian Total 24,5% serta Inpex 24,5%.
2. Karena muncul daerah harus dapet 10%, maka total/inpex beranggapan termasuk 
dalam domestik, sehingga pertamina 41%, daerah10% karena sesama domestik. 
sedangkan pertamina meminta yang daerah dianggap beban baru sehingga harus 
dibagi dua, yaitu menjadi Pertamina 46%, total 22%, inpex 22%, daerah 10%. 
permasalahan ini belum tuntas sedang dilakukan Negosiasi.
3. Karena saat kontrak berakhir seluruh fasilitas milik negara, bisa saja 
Negara menghibahkan kepada Pertamina dan daerah sehingga akan sangat ringan 
atau malah gratis dalam permodalan, sedangkan total/inpex tentunya harus 
memasukan modal segar.

Tiba-tiba humas pertamina "berkoar" siap mengambil alih 100% blok mahakam saat 
berakhir kontrak TITIK tanpa ba-bu. Maka wartawan bereaksi, yang tentunya harus 
saya jawab :
1. Pertamina jangan jalan sendiri, sebaiknya bergandengn dengan kontraktor lama 
(kita sudah pilih versi-2 karena keterbatsan modal).
2. kalau hanya mengoperasikan lapangan lama yang sekarang sudah mulai terjun 
bebas produksinya, maka bagaimana mungkin negara bisa diuntungkan dengan 
harapan naiknya produksi ?  maka prospek lapangan baru dan lead baru yang ada 
di saku KKKS harus bisa dimanfaatkan negara dengan mengawinkan pertamina dengan 
operator lama, karena kita akan sangat sulit mendapat data (benar-benar 
usefull) untuk pengembangan lead baru tersebut. Namun sebaliknya bila sudah ada 
kepastian maka sisa 5 tahun bisa langsung dipakai untuk memulai lead baru 
tersebut dikembangkan. 
Kalau kita berbicara fakta, tinggalkan dalam fikiran kita bahwa dengan 
peraturan dan orang di pemerintahan kita bisa"mendapatkan" data penting 
dimaksud, mungkin jumlahnya tidak sampe 1% tapi sangat penting, yang 99% nya 
diberikan kepada pemerintah.
3. Cerita Pertamina menjadi produser ke-3 adalah topik yang berbeda, saya 
jelaskan kepada wartawan saat KESDM raker seminggu lalu yang menampilkan tabel 
susunan produser migas, dimana posisi pertamina adalah ketiga. 
4. untuk no(3) tsb, Challange diberikan kepada pertamina untuk menjadi nomor 
SATU, karena memiliki WK yang paling luas, bisa saja setiap DOH (SBU) adalah 
satu PSC sendiri sehingga punya 5-7 Pertamina yang ramping dan bersaing satu 
sama lain, atau sesuai permen 06/2010 lepaskan lapangan yang dianggap tidak 
produktif dan tidak mau dikembangkan, istilahnya " jangan dikangkangi aja tapi 
tidak dibor, karena akan marah mertua ".

Nah wartawan mengemasnya seperti itu, he. . he. .he. . kalau saya sih sudah 
biasa diplintir-plintir, sejak jaman Lapindo (seperti mas Azwah dan mas Rusdi 
perhatikan).

Hati-hati dengan nasionalisme buta mengatasnamakan Cinta Negara.

Salam Semangat Selalu,
RRR    
Rudi Rubiandini R.S. 
Petroleum Engineering ITB


>  
>__,_._,___-- 
>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
>IATMI Middle East (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Komisariat Timur 
>Tengah)
> 
>Website:
>http://www.iatmi.or.id/iatmi/komisariat.php?id=12
>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
IATMI Middle East (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Komisariat Timur 
Tengah)
 
Website:
http://www.iatmi.or.id/iatmi/komisariat.php?id=12
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke